
Ningrum kini sudah sah bercerai dari Bima. Surat keputusan dari pengadilan agama sudah Ia terima sejak seminggu yang lalu, dan Ia kini aka menjalani kehidupannya sebagai janda lagi.
Keluarganya yang berada dikampung halaman merasa terkejut atas apa yang menimpa dirinya. Rada malu pada keluarganya karena pernikahan keduanya hanya seumur jagung, membuatnya untuk tidak mudik dulu ke kampung halamannya. Sebab Ia tahu jika tetangga dan kerabatnya pasti akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang akan membuatnya bertambah sakit.
Ningrum melihat jam diphonselnya dan hampir sudah Isya. Ningrum bergegas berwudhu dan adzan berkumandang dengan mengalun merdu.
Ningrum mengerjakan kewajibannya dan selesai shalat Isya, Ia segera berias seadanya karena malam ini Ia bejanji akan makan malam dengan dengan Luccy.
Terdengar suara klakson dari depan halaman salonnya. Kamar Ningrum yang kini berada dibagian lantai dua yang terhubung dengan balkon, memudahkannya untuk mengintai siapa saja dari kamarnya.
Ningrum menyingkap tirai jendela, dan ternyata mobil Gibran sudah menunggunya didepan sana, dan tampak kepala bocah berparas cantik itu melongok dari kaca pintu mobil.
Ningrum melambaikan tangannya, lalu menutup kembali tirai jendelanya, dan bergegas turun kebawah.
sesampainya didepan mobil, Gibran membuka pintu depan, namun Luccy merengek meminta Ningrum agar naik dijok tengah menenaminya,.dan Ningrum tentu dengan senang hati menuruti keinganan bocah itu.
Lalu Ningrum duduk bersama dengan Luccy, dan akhirnya Gibran harus mengalah karena kalah saing dengan Luccy. Ternyata pesona Luccy lebih memikat hati Ningrum ketimbang dirinya.
Selama perjalanan menuju Cafe, dua wanita beda generasi itu terus bercengkrama dan tampaknya Ningrum sedikit melupakan serpihan hatinya dengan kehadiran Luccy.
Sementara itu, Nora tampak mual-mual. Sepertinya Ia sudah telat datang bulan. Ia membeli tespack di apotik dan ternyata hasilnya positif dan Ia sedang mengandung.
Nora memperlihatkannya kepada Bima, pria itu memotretnya dengan camera phonsel dan mengunggahnya ke akun media sosialnya dengan caption [topceer, Cuuuy.. Kalau ketemu dengan yang subur langsung jadi..]
Caption yang ditulisnya sepertinya sebuah sindirin yang ditujukan kepada seseorang untuk memanas-manasin.
Setelah mengunggahnya, Nora merengek meminta untuk dibelikan seafood asam manis. meskipun terpaksa, akhirnya Bima menurutinya.
Ternyata Nora telah pergi keseorang dukun untuk menundukkan Bima agar mematuhinya.
Gibran memarkirkan mobilnya didepan halaman sebuah cafe. Lalu mengajak Ningrum dan Luccy agar segera turun dari mobil.
__ADS_1
Lalu mereka memasuki Cafe dan memilih meja lesehan yang yang terdapat dibagian sudut cafe.
Luccy tampaknya terus saja menempel pada Ningrum, dan tak memberi kesempatan pada Gibran untuk sekedar mengobrol.
Pramusaji datang dengan membawa daftar menu. Lalu mereka memilih menu apa yang yang sesuai selera Mereka. Luccy memilih menu ayam pop dengan kentang goreng, sedangkan Ningrum sepertinya hanya memilih spaghetty dengan saus bologgnees, sedangkan Gibran memilih kepiting saus tiram, dan minuman yang sama, juice lemon.
Mereka menunggu pesanan datang, dan tampak Luccy masih mendominasi dengan Gibran hanya menjadi penonton..
Tiba-tiba saja Luccy melontarkan kalimat yang membuat Gibran dan Ningrum salah tingkah.
"Tante.. Tante mau tidak jadi Mama Luccy?" tanya gadis kecil itu yang membuat Ningrum dan Gibran saling terlihat kikuk.
Ningrum terperangah dan tak mampu menjawab pertanyaan dari gadis kecil tersebut, sebab itu pertanyaan yang sangat sulit. Apa kata keluarganya nanti jika Ia barus saja gagal membina pernikahannya dan hanya dalam hitungan sebulan sudah ingin membina rumah tangga lagi.
Gibran merasa jika Luccy terlalu lancar sekali ucapannya, sehingga mmebuatnya gugup dan merasa sesak ingin buang air kecil.
"Emmm..Luccy.. Papa ke toilet bentar" ucap Gibran yang merasakan gugup karena ucapan Luccy dan Ia merasa takut jika Ningrum.tersinggung dan menjauhinya. Sebab Ia sudah berjanji akan menjaga jarak dengan Ningrum dan makan malam ini terjadi atas desakan Luccy, lalu Ningrum menyetujuinya, sehingga membuat Gibran berani menemui Ningrum.
"Ya, Papa, jangan lama-lama" jawab Luccy.
Pramusaji datang membawa pesanan mereka dan meletakkannya dimeja tersebut, lalu Ningrum dan juga Luccy menikmati pesanan mereka.
Saat bersamaan, Bima yang mengendarai sepeda motornya dan berboncengan dengan Nora da memasuki Cafe.
Tanpa sengaja Nora melihat Ningrum sedang berada didalam cafe bersama seorang gadis kecil.
Lalu Nora mencolek lengan Bima dan ekor matanya menujuk ke arah meja lesehan sebelah dan mereka sengaja duduk disisi kanan meja Ningrum.
"Mas.. Kita makan seafood saus asam manis ya, Sayang.. Kan Aku lagi mengidam.. Aku ini subur lho, Sayang." ucap Nora yang sengaja nadanya di ditinggikan agar terdengar oleh Ningrum yang duduk disebelah mereka.
"Tentu dong, Sayang.. Makasih ya, sudah beri aku keturunan.." jawab Bima menyindir.
__ADS_1
Ningrum yang mengenali suara pria yang telah menorehkan luka dihatinya, mencoba melirik kearah sumber suara yang terdengar menyindirnya tersebut.
Dan Alangkah kagetnya Ia saat melihat dua orang tersebut itu adalah Bima dan wanita yang waktu itu menjadi tempat penampungan Bima saat menjual rumahnya.
Tak berselang lama, Gibran datang dari toilet dan Hal ini membuat Bima dan juga Nora merasa kaget sebab Ningrum kini didekati Gibran dan ternyata gadis kec itu adalah puteri Gibran.
"Tante.. Tante mau Ya jadi mama Luccy" Gadis kecil itu kembali mendesaknya.
"Emmm.. Ningrum, maafin Luccy ya, Ia masih kecil jadi belum mengerti apa yang diucapkannya" ucap Gibran dengan wajah memerah.
Ningrum yang merasa sedari tadi di sindir oleh Bima dan Nora, merasa ingin membalas sindiran keduanya.
"Emangnya Luccy mau punya Mama seperti tante?" tanya Ningrum kepada Luccy"
Seketika Gibran terperangah, karena ini tak biasa dan pastinya Ningrum memikul sebuah masalah.
Dan benar saja, saat Gibran mengikuti lirikan ujung mata Ningrum yang mana disisi kiri mereka ternyata terlihat Bima dan Nora.
Gibran menyadari jika saat ini Ningrum sedang bersandiwara, Namun Ia berusaha memahaminya.
"Ya maulah tante.. Tantekan cantik dan juga baik" jawab Luccy dengan jujurnya serta begitu polosnya.
"Kalau begitu bilang sama Papa buat lamar Tante" jawab Ningrum dengan begitu sangat pu-as ingin membalaskan sakit hatinya.
Gibran yang menyadari jika Ningrum mengatakan hal itu hanya karena ingin balas dendam terhadap Bima, mencoba ikut memprovokotori suasana.
"Oh, tentu saja.. Kapan kamu ingin saya lamar, saya bersedia kapanpun kamu mau" jawab Gibran menimpali.
Bima dan Nora saling pandang, lalu kemudian meminta pramusaji untuk membungkus makanan mereka dan segera meninggalkan cafe.
Setelah keduanya pergi, lalu Ningrum menatap Gibran "Sorry.." ucapnya meminta maaf kepada Gibran karena mengatakan sesuatu hal yang mungkin terdengar mengada-ada.
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf, andaipun yang kamu katakan itu benar, aku bersedia mengabulkannya." ucap Gibran dengan bersungguh.
Dan hal itu membuat Ningrum salah tingkah.