
Ningrum menghela nafasnya dengan berat. Ia membaca notif bank-ing yang baru saja diterimanya.
Siapapun pasti akan senang mendapatkam notif tersebut, begitu juga dengannya.
Namun entah mengapa ia merasakan sebuah kekhawatiran yang teramat dalam. Ia tidak dapat membayangkan andai Andy telah menikah dan dan istrinya mengetahui hal tentang Andy yang selalu mengirimkannya uang, tentu hal yang sangat menyakitkan bagi seorang wanita jika suaminya mengirimkan uang itu pada wanita lain.
Ningrum terdiam menatap layar phonselnya. seperti biasanya. Tidak ada ungkapan terimakasih yang dikirimkannya kepada Andy, sebab ia tahu nomor phonsel Andy tidak dapat dihubungi setelah mengirimkan uang kepadanya.
Tak berselang lama, tampak Luccy sudah selesai mandi dan ia terlihat begitu sangat mandiri saat ini.
"Ma.. Mau Luccy masakin apa?" tanyanya, sembari mengenakan pakaian ganti.
Ningrum menggelengkan kepalanya. "Kita makan diluar, Ya Sayang." jawab Ningrum.
"Horeee..!" Luccy bersorak ria dengan wajah penuh sumringah.
Keduanya bergegas turun ke lantai dasar. Tampak Sary dan dua pekerja lainnya sudah sekesai membersihkan pecahan kaca etalase yang tadi berserakan.
"Kita tutup cepat hari inj. Ini uang saku untuk kalian!" ucap Ningrum, sembari membagikan selembar uang ratusan ribu kepada ketiga karyawannya.
Mereka menatap Ningrum dengan bingung. Sebenarnya mereka tidak tega untuk menerima uang tersebut, sebab Ningrum selaku majikan mereka sedang dilanda musibah perampokan, dan kehilangan lima juta uang tunai dari hasil salon hari ini dan penjualan barang kosmetik.
Namun tampaknya Ningrum begitu santai dan akan peristiwa tersebut dan tidak ada tanda-tanda untuk melaporkan peristiwa tersebut.
Ketiga karyawan itu berpamitan untuk pulang, sebab Ningrum dan Luccy akan keluar untuk menyenangkan diri mereka dan melupakan semua masalah yang pernah ada.
Ningrum menutup salon yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Ia dan Luccy menaiki mobil menuju sebuah tempat yang akan menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan akhir pekan.
Jalanan masih terlihat lengang dan keduanya singgah di minimarket untuk membeli makanan dan minuman ringan menuju sebuah lokasi wisata alam yang menyediakan penginapan seperti tempat berkemah.
Malam ini mereka ingin menginap ditempat tersebut, dan menghabiskan malam dengan bersantai.
Saat berada dimini market, keduanya mengambil keranjang untuk mengisi camilan mereka saat berada diperjalanan dan juga dipenginapan tersebut.
Tanpa sengaja Ningrum menubrak seseorang yang sedang menggendong seorang bayi. Ia tersentak kaget, saat melihat siapa yang ditabraknya tanpa sengaja.
Ningrum memutar bola malas, dan wanita itu menatap dengan sinis. Saat bersamaan, Luccy datang membawa keranjang penuh berisi snack dan sebagainya.
Wanita yang tak lain adalah Nora melirik isi dalam keranjang tersebut dengan tatapan tak suka. Sedangkan ia masih menenteng satu bungkus deterjen yang dipegangnya.
"Ma.. Kita sudah selesai!" ucap Luccy dengan manja.
Seketika Nora mencebikkan bibirnya, kemudian tersenyum dengan sinis.
"Ciiih.. Wanita mandul sepertinya mana mungkin punya anak, kasihan sekali jika ia harus memungut anak demi untuk diakui memiliki keturunan. Sungguh kasihan sekali hidupnya." sindir Nora, sembari mengusap kepala anaknya.
Ningrum yang mendengar ucapan itu, tentu merasakan sakit dilubuk hatinya. Namun ia tidak ingin membalasnya, sebab orang seperti Nora tidak ada gunanya untuk dilayani.
Ia memilih untuk menjauh dan menuju lemari pendingin untuk mengambil susu evarposi sebagai minuman favoritenya.
Setelah merasa yang ia butuhkan sudah cukup, maka ia menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Ningrum mebawa keranjang yang terasa mulai berat.
"Ayo, Sayang!" ajak Ningrum yang melihat Luccy memasukkan satu batang coklat sebagai tambahan ke dalam keranjang tersebut.
Saat ia menuju kasir, tampak Nora dan kasir minimarket sedang berdebat. Sebab Nora memgambil deterjen yang harga 10 ribu rupiah, tetapi hanya membawa uang 8 ribu saja dan ia ngotot minta diskon 2 ribu kepada kasir tersebut.
Tentu saja hal tersebut membuat kegaduhan karena kasir menyarankan agar Nora mengambil deterjen yang harganya 5 ribu saja sesuai uang yang ia miliki, namun Nora menolaknya.
Ningrum menghela nafasnya, kemudian karena tidak ingin mengantri lama, ia pidah ke kasir sebelahnya dan meletakkan uang 100 ribu diatangan bayi Nora.
"Ihhh.. Gemesnya!" ucap Ningrum kepada bayi tersebut, meskipun ia kesal dengan Nora, namun ia tidak tega juga melihat bayi Reza yang tampak mulai menangis karena ibunya terlalu lama berdebat.
Nora ingin marah melihat ulah Ningrum yang menyentuh bayinya, namun saat melihat uang selembar seratus ribu ditangan Reza, ia mengurungkan niatnya.
Ningrum sudah selesai dengan pembayarannya, dan bergegas pergi. Sedangkan Nora mengintai Ningrum yang sudah pergi dengan mobilnya.
Dengan terburu-buru ia membayar uang deterjen tersebut dengan menggunakan uang pemberian dari Ningrum yang diletakkan ditangan Reza.
Rasa gengsi tak lagi dapat ditahannya, dan ia harus sedikit menahan egonya hari ini, sebab ia tidak memiliki uang.
Ningrum dan Luccy melanjutkan perjalanan mereka menuju lokasi wisata yang akan mereka jadikan tempat menginap.
Ia masih bingung dengan apa yang baru saja ia lihat barusan. Apakah Bima sesusah itu? Hingga untuk membeli sebungkus deterjen saja istrinya tidak memiliki uang.
__ADS_1
Sementara itu, Nora sudah sampai dirumahnya. Ia membawa satu bungkus detergen dan beberapa belanjaan lainnya. ternyata ia menggunakan uang pemberian Ningrum untuk membeli kebutuhan dapur yang lainnya.
Baru saja ia memasuki rumah, terdengar suara wanita yang sangat nyaring memanggilnya.
"Nora.. Keluar kamu!" teriak wanita itu dengan begitu sangat keras.
Nora keluar dari pintu rumahnya dan menemui wanita yang berteriak memanggil namanya tersebut.
Ia melihat ibu pemilik kontrakan yang berdiri diambang pintu sembari mengacakkan pinggangnya dengan tatapan garang seolah singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Eh, buk Lany. Ada apa, Bu?" tanya Nora dengan senyum datarnya.
Wanita yang dipanggil Lany itu adalah pemilik rumah kontrakan yang mana tempat Nora dan Bima mengontrak saat ini.
"Ada apa! Ada apa kepala gundulmu!" Sergah Lany dengan nada penuh emosi.
Nora tersentak kaget mendengar sergahan Bu Lany yang tampak emosi.
"Siapa yang gundul, saya kan ada rambut, bu?!" sela Nora tak mau kalah.
Lany membolakan matanya pertanda tak suka. "Heeei, Nora! Mana uang kontrakan? Sudah dua bulan kalian tifak membayarnya!" ucap Lany dengan nada yang tampak emosi.
Nora tersentak kaget mendengar ucapan Mbak Lany yang terlihat sangat begitu marah padanya.
"Sabar, Bu.. Suami saya belum ada pencairan dari proyeknya!" jawab Nora mencoba meminta keringanan dari wanita pemilik rumah kontrakan tersebut.
Lany semakin emosi mendengarnya. "Saya tidak perduli sudah keluar apa belum uang proyek, yang terpenting kalian membayar uang itu sore ini, saya beri tangguh waktu hingga esok siang, jika tidak mampu membayar, maka silahkan angkat kaki dari rumah saya!". Ucap Lany dengan nada tinggi.
"Ya jangan gitu, Bu.. Itu sangat mendesak sekali dan kami tidak tahu apakah dapat mencari uang tersebut," Nora mencoba negosiasi.
"Hellooo... Beli mobil bisa, tetapi bayar rumah tidak bisa. Makanya hidup itu sesuaikan dengan isi kantong jangan menurutkan gengsi, Dong!!" cibir Bu Lany yang tampak dengan kesal melihat ulah para pengontrak rumahnya.
Mendengar keributan yang terjadi, para penghuni kontrakan lainnya keluar dari rumah dan menyaksikan perdebatan keduanya.
Bagi yang memiliki tunggakan, segera melipir untuk menggunakan jurus menghilang sebeum kena serangan omelan daei bu Lany.
Nora mencebikkan bibirnya."Buk.. Mau beli mobil itu urusan saya, kenapa ibuk yang repot?" jawab Nora kesal.
"Ya.. Itu tidak akan menjadi urusan saya, jika kalian membayar kontrakan rumah tepat waktu. Dan saya tidak akan pernah mengurus hidup siapapun!" Jangan karena kalian menurutkan gaya hidup, tetapi hak saya kalian tahan!" sergah bu Lany semakin emosi mendengar jawaban Nora.
Sementara itu. Ningrum dan juga Luccy sudah tiba dilokasi wisata yang mereka inginkan, dan suasananya tampak sangat ramai.
Ningrum membawa snack dalam plastik kresek yang mudah didaur ulang ditangan kirinya, dan tangan kanannya memegang pergelangan tangan Nora.
Ia menuju pintu ticket masuk dan memesan penginapan tersebut untuk satu malam.
Setelah itu mereka mendapatkan ticket masuk dan menuju tempat yang menjadi lokasi mereka menginap.
Sebuah aliran sungai berair jernih dengan didpan-dipan yang mengalir dengan tenang membuat suasana begitu syahdu dan menenangkan.
Tenda-tenda menginap membuat pengalaman menginap yang tidak terlupakan bagi Luccy.
Waaah.. Ini sangat asyik, Ma..!" pekik Luccy kegirangan.
Ia tak henti-hentinya memandangi panorama alam yang begitu memanjakan mata.
Tampak pengunjung lain yang juga bersantai didipan menanti waktu senja sembari menikmati keindahan alam semesta.
Luccy bersandar dipundak Ningrum, sembari menyeruput susu cair dalam kotak.
"Ma.. Kenapa sih orang-orang selalu jahat dengan kita!" tanyanya dengan tatapan nanar menatapa sunset yang mulai tampak meredup dibalik awan jingga.
Ningrum menghelakan nafasnya. "Biarkan saja mereka berbuat sesuka hati mereka, sebab semuanya akan ada balasannya yang sesuai dengan apa yang ada didalam hati dan niat mereka."
"Kita tidak perlu untuk membalasnya, biarkan Rabb yang memberikan balasan itu, kita cukup mendoakan yang terbaik bagi mereka, agar tidak mengulangi semuanya." jawab Ningrum, sembari membelai lembut ujung kepala gadis kecilnya.
Hari mulai senja, dan sebentar lagi waktu maghrib akan tiba.
"Kita masuk ke tenda, waktu hampir maghrib, tidak baik maghrib diluaran!" ajak Ningrum.
Tanpa bantahan apapun, Luccy mengikuti Mamanya masuk ke dalam tenda dan keduanya akan shalat maghrib di mushallah yang telah disediakan oleh pihak pengelola wisata.
sementara itu, Lany keluar dari teras kontrakan Nora dengan wajah sangat kesal. Ia ingin menyambangi rumah kontrakan lainnya, namun waktu tidak memungkinkan, dan ia memilih untuk pulang.
__ADS_1
Melihat Lany sudah pergi, Nora mendenguskan nafasnya dengan berat. Ia merasa lega karena akhirnya Lany masih memberikannya waktu dua hari lagi.
Tak berselang lama, mobil Bima tampak dari kejauhan dan terparkir didepan teras rumah.
Bima memasuki rumah. Ia sangat pusing dan juga lelah, sebab Anton terus menagih uang yang ia janjikan. Bahkan Anton mengancam akan membawa Bima ke jalur hukum jika sampai berniat menipunya.
"Bang! Tadi bu Lany datang marah-marah meminta uang kontrakan dan kita diberi tempo 2 hari saja!" ucap Nora tanpa memberi jeda waktu untuk Bima menarik nafasnya yang kelelahan setelah pulang dari proyek, sebab hati pekerjaaannya sangat berat.
Bima hanya melirik pada Nora yang tampak mengomel, kemudian duduk dikursi tamu dan memejamkan matanya.
Melihat Bima tidak mengindahkan ucapannya, seketika ia meledakkan emosinya karena ia juga sudah lelah diomelin ileh bu Lany, ditambah lagi dengan unggahan Bu Lany barusan diakun media sosialnya yang menyidir dengan kalimat 'Besar pasak dari pada tiang, ya pecahlah!' .
Sindiran itu membuat Nora semakin kesal dan ditambah lagi Bima yang tampak mengacuhkannya.
"Bang.. Kamu ini dengar gak sih, apa yang aku ucapkan?" sergah Nora dengan nada yang semakin tinggi dan membuat Bima semakin pusing.
Mendengar ucapan Nora yang bernada tinggi, dengan wajah yang penuh emosi, ia beranjak bangkit dan menghampiri Nora, ia sudah mengangkat tangannya untuk menampar Nora.
Namun melihat Nora yang membolakan matanya, ia sedikit takut untuk menampar wanita itu. Lalu dengan emosi yang yang menggelayuti hatinya, Bima menuju meja TV LED, kemudian mengangkat dengan satu tangannya dan melemparkannya ke dinding hingga hancur berderai tak berbentuk.
Nora bengong dengan apa yang dialkakukan oleh Bima barusan, itu TV belum lunas angsurannya tetapi sudah hancur berderai.
"Dasar bodoooh kamu, Bang! Mengapa kau hancurkan TV itu?!" teriak Nora geram.
Bima membolakan matanya menatap pada Nora.
"Sekali lagi kamu ngomel, ku pecahkan bibirmu!" jawab Bima, kemudian menendang sisa pecahan televisi dan pergi keluar maghrib itu juga.
Nora tidak berani untuk mencegahnya, meskipun tinggi badan mereka hampir seimbang, namun ia juga masih menciut jika Bima sampai benar-bemar menonjoknya.
Bima pergi mengemudikan mobilnya dan membelah jalanan kota.
kepalanya sangat pusing untuk semua masalah yang dihadapinya.
Ia membuka aplikasi yang menawarkan tentang sesuatu yang menguntungkan juga kenik-matan.
Ia menawarkan jasa untuk layanan plus-plus dengan tarif yang dituliskannya.
Tak berselang lama, tampak sebuah pesan masuk dan berani untuk membayarnya, lalu meminta bertemu janji disebuah lokasi yang ditentukan oleh wanita yang akan membayar layanan jasa plush-plushnya.
Bima tak dapat lagi berfikir panjang. Ia harus mendapatkan uang untuk membayar kontrakan dan juga membeli kebutuhan hidup mereka.
Bima melajukan mobilnya menuju lokasi yang dikirimkan oleh wanita tersebut.
Sesampainya ditempat sebuah lokasi wisata alam yang sedang viral, akhirnya Bima bertemu dengan wanita yang bersedia membayarnya.
Seorang wanita berusia taksiran 55 tahun dengan gaya dan tampilan yang masih terlihat sangat staylis sedang menantinya.
Wanita itu tersenyum menyambut kedatangan Bima. Lalu keduanya cipika cipiki dan tanpa sengaja Ningrum yang baru saja selesau shalat maghrib dimushallah melihat hal tersebut.
Ningrum terperangah melihat Bima yang tampak sedang memeluk pinggang wanita itu. Saat keduanya akan melintas dari hadapan Ningrum, wanita itu dengan cepat memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Bima.
Setelah keduanya berlalu, Ningrum melirik kearah keduanya yang mana ia menatap punggung pasangan insan yang tentunya akan memadu.kasih ditempat wisata ini, dan pastinya akan menginap dipenginapan yang lebih nayaman.
Ningrum menghela nafasnya dengan berat, ia menggelengkan kepalanya dan meraih pundak Luccy untuk masuk ke dalam tenda mereka.
"Kita cari makanan yang enak yuk, Sayang!" ucap Ningrum kepada Luccy setelah keduanya meletakkan mukena didalam tenda.
"Yuuuk, Ma!" jawab Luccy, lalu keduanya bergandengan tangan.
Mereka menuju cafe yang ada ditempat loaksi wisata, memesan makan malam mereka, sembari menikmati keindahan alam semesta.
Hampir pukul 9 malam keduanya menikmati segala hal yang membuat mereka begitu merasa bahagia, meskipun kini mereka hanya berdua saja.
Keduanya menuju tenda untuk beristirahat. Saat itu tanpa sengaja Ningrum melihat wanita berusia paruh baya itu memberikan amplop coklat berisi uang kepada Bima. "Terimakasih atas layananmu yang memuaskan ya, Sayang!" ucap wanita itu dengan nada yang terdengar menggelikan bagi Ningrum.
Bkma tersenyum sumringah mendengar pengakuan wanita itu. "Tentu, Sayang, jika nanti butuh lagi, panggil saja saya la..." ucapannya tercekat saat melihat Ningrum berjalan melintasinya, dan ia tidak menyangka jika mantan istrinya itu juga berada ditempat yang sama dengannya.
Wajahnya bersemu.merah, sebab ia kepergok menjadi seorang pria penyedia layanan plus-plus.
Ningrum berpura-pura tidak melihat Bima, baginya pria itu tidaklah penting, dan ia menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk dikenang.
Bima masih dengan wajah terperangah, sebab Ningrum semakin hari semakin cantik dan memukau.
__ADS_1