
Rendy pulang lebih awal dari biasanya. Saat ini Ia masih tinggal dengan mertuanya yaitu orangtua Andini, sebab rumah yang mereka inginkan belum tercapai karena masih kurang dananya, dan saat itu uang untuk membeli rumah tepakai modal proyek untuk menggaji anggota.
Kedua orangtua Andini jika saat jam begini masih berada ditoko pakaiannya yang ada disalah satu pasar dikota ini.
Rendy segera membersihkan diri karena pakaiannya sedikit kotor terkena percikan abu pupuk yang berterbangan.
Rendy sudah selesai berbersih, dan Ia menyeduh satu gelas kopi creamer sebagai minuman favoritnya. Rendy membawa secangkir kopi panas itu ke depan teras rumah dan menikmati waktu istirahatnya.
Tak berselang lama Andini pulang bekerja, sebab hari ini jadwal mereka hanya sampai pukul 3 sore saja.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Andini yang tak biasa melihat Rendy pulang cepat.
Rendy tersenyum menyambut kepulangan sang istri "Iya, Dik.. Pekerjaannya sudah selesai, esok mau urus proyek baru lagi" jawab Rendy dengan sangat lembut.
Pria itu selain memiliki sikap yang sangat baik, Ia juga memiliki tata bahasa yang begitu sangat sopan tanpa dibuat-buat dan sungguh tulus dari hatinya, sama seperti cintanya terhadap sang istri.
Andini menghampiri Suaminya, lalu duduk dikursi teras disisi kanan Rendy.
Andini menyeruput kopi sang suami, dan itu adalah kebiasaannya.
"Dik.. Keluar dana proyek nanti kita pindah dari rumah ibu" ucap Rendy kepada Andini.
Andini menatap terperangah "Benarkah? Tetapi Jangan jauh-jauh dari tempat kerja Dini Ya, Mas" pinta Andini dengan senyum manja.
Rendy menganggukkan kepalanya.. "Iya.. Tapi kita sesuaikak budget ya.. Biar sederhana dulu, pelan-pelan nanti kita renovasi" ucap Rendy.
Andini tersenyum manis, lalu meletakkan kepalanya dipundak Sang suami yang kini membelainya dengan sangat lembut.
Rendy merasa sangat bersyukur mendapatkan Andini, sebab wanita itu tak pernah menuntut apapun yang berada diluar kemampuannya.
Andini sudah tak sabar rasanya ingin pindah rumah sendiri. Meskipun orangtuanya tidak mempermasalahkan mereka berada dirumah ini, namun setelah menikah Ia ingin merasakan hidup berumah tangga dengan mandiri tanpa dibawah ketiak orang tua.
Rendy melirik kopi digelasnya sudah hampir habis karena Andini menyeruputnya dengan setengahnya.
__ADS_1
"Masuk, Yuk" ajak Rendy kepada Andini yang mana hari hampir memasuki waktu Ashar.
Andini menganggukkan kepalanya dan beranjak dari tempatnya memasuki rumah, lalu menuju kamar.
Andini membersihkan dirinya dikamar mandi dan akam shalat Ashar berjamaah bersama Rendy dikamar. Kebahagiaan rumah tangga mereka tampak begitu sangat kentara karena tidak ada pertengkaran yang berarti. Mereka selalu saling menjaga hati dan hal itu yang mengokohkan cinta mereka.
Sementara itu, Ningrum menelefon para pekerja dibagian decor. Ia meminta para pekerjanya untuk mengeluarkan mobil truck miliknya yang mana Bima tak pernah tau jika Ia memiliki truck coldiesel yang berfungsi untuk mengangkut peralatan decor dan juga disewakannya bagi yang membutuhkan jasa sewa tersebut.
3 orang pria dibagian decor dan juga peralatan cathring akan mengurus ke titik lokasi acara resepsi untuk lusa, dan mereka harus bekerja mulai hari ini.
Lalu seorang pekerja wanita yang merupakan Tim dari decor menemui Ningrum yang kini berada diruang kerjanya.
"Sore, Mbak.. Apakah pakaian pengantinnya sudah disiapkan?" tanya wanita berusia 25 tahun itu kepada Ningrum.
Ningrum Menganggukkan kepalanya, lalu menunjuk beberpa boks plastik besar yang berfungsi menyimpan pakaian pengantin, aksesoris dan keperluan decor lainnya.
Sekitar 12 boks plastik berukuran jumbo itu sudah dipilahnya sesuai permintaan penyewa jasanya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk mengangkut semua barang tersebut dengan dibantu dua orang pekerja pria yang merupakan satu Tim dengannya.
Setelah menyelesaikan satu tugasnya, Ningrum merasa lega. Kini sedang mempersiapkan yang lainnya untuk 3 hari berikutnya ditempat yang berbeda.
Saat Ia tengah mempersiapkan semuanya, Bima menelfonnya, dan Ningrum mengangkatnya "Iya, Mas.. Ada apa?" tanya Ningrum dengan nada yang sudah melunak.
"tidak ada, Sayang.. Hanya kangen kamu saja" jawab Bima dengan gombalannya.
Ningrum mengjela nafasnya, namun Ia tersenyum sumringah saat Bima mengatakan hal tersebut. Ia tidka tahu harus mengatakan apa, jika Bima sudah merangkai kata gombalaan yang membuatnya begitu mempercayai pria brengseek tersebut.
"Kirain ada apaan? Mas sudah pulang kerja?" tanya Ningrum dengan lembut.
"Bentar lagi, Sayang.. sudah dulu, Ya.. Mas lagi meninjau proyek agar segera selesai" ucap Bima seolah orang paling sibuk sejagad raya.
"Iya, Mas." balas Ningrum..
__ADS_1
"Daaah.. Sayaang..." ucap Bima dengan begitu romantisnya, seolah Ningrum adalah wanita satu-satunya yang ada didalam kehidupannya.
Lalu panggilan terputus. Sesaat Bima memasuki toilet umum perusahaan. Nora sudah menunggunya sedari tadi dan merasa jengkel karena Bima terlalu lama menelefon.
Bima celingukan, memastikan tidak ada yang melihatnya. Nora sudah bersiap sedari tadi dengan menanggalkan pakaiannya dan meminta Bima melahabnya.
Bima selalu mendapatkan santapan gratis mana mungkin menolaknya. Ia segera menggarap Nora yang tampak sangat kecanduan setelah kejadian malam itu.
Bima menghidupkan keran air agar sura lenguhan manja Nora tidak terdengar sampai keluar toilet.
Sementara itu, Ningrum sudah bersiap-siap untuk pulang setelah memilah barang decor untuk hari berikutnya.
Ningrum menuruni anak tangga dan bergegas pulang. Ia ingin memasak makan malam untuk menyambut Bima sebagai pertanda sudah membaiknya hubungan mereka.
Setelah sampai dilantai dasar, seperti biasajya, Ningrum memeriksa buku pendapatan salon hari ini dan juga penveluarannya.
Setelah selesai, Ia mentranfernya melalui agen yang menjadi langganannya.
Setelah selesai, Ningrum berbelanja disebuah mini market untuk membuat menu makan malam ini.
Ningrum memilih memasak capcay brokoli dengan wortel dan jangung muda, serta ayam goreng dan sambal terasi.
Setelah mendapatkan bahan yang diinginkannya, ia pun kembali dengan perasaan yang sangat bahagia.
Sementara itu, Bima baru saja selesai menggarap Nora ditoilet dan beranjak meninjau proyeknya lalu melirik jam diphonselnya yang menunjukkan pukul 5 sore. Ia memerintahkan kepada para pekerjanya untuk segera membereskan peralatan kerja dan menyimpannya dalam sebuah peti khusus dan akan segera pulang.
Setelah memastikan semua aman, Bima memerintahkam untuk pekerjanya pulang, dan kembali lagi esok.
Lalu Bima berjalan keluar dari plant 4 dan melintasi plant 2 tempat Rendy mendapat proyek. Ia membolakan matanya dan saat melihat pekerjaan milik Rendy telah finishing.
"Siaal..!! Pekerjaannya sudah kelar duluan.. Aku tidak ingin Dia menyaingiku" guman Bima dalam hatinya. Lalu bergegas mebinggalkan lokasi perusahaan dan menuju pulang.
Ia menuju parkiran dan mengendarai mobilnya menuju pulang dengan kecepatan yang tinggi, Ia tidak menduga sebelumnya, jika pekerjaan Rendy benar-benar telah finish, Ia merasa akan kalah bersaing.
__ADS_1