SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
epidode-128


__ADS_3

Ningrum dan Luccy tampak begitu menikmati liburan mereka. Gibran sengaja memesan kamar untuk mereka bermalam, sebab mereka ingin menikmati suasana malam pantai melalui balkon dan jendela kamar hotel yang menghadap langsung ke pantai.


"Ma.. Sudah lama Luccy tidak liburan. malam ini sangat begitu menyenangkan dan Luccy ingin jika papa ada cuti lagi kita bisa menginap lagi ditempat ini," ucap Lucy sembari memeluk pinggang Ningrum.


Dengan lembut Ningrum membelai ujung kepala Luccy dan membalas dekapannya.


"Semoga kita selalu bersama, Sayang!" ucap Ningrum, sembari mengecup lembut ujung kepala gadis kecil tersebut.


Lalu keduanya berjalan menuju tepi pantai, menatap rembulan yang malam itu sedang bulat penuh dan bersinar dengan terang.


Juta bintang dilangit menambah keindahan di malam ini, dengan lampu hias yang menghiasi pantai menambah kesan yang tak terlupakan.


"Eheem.." suara Gibran berdehem sari arah belakang keduanya.


Dengan cepat kedua wanita beda usia menoleh ke arah belakang. " Papa.." seru Luccy kepada Gibra yang saat ini membawa beberapa camilan dan juga minuman ringan.


"Sepertinya ada yang diabaikan!" ucap Gibran menyindir keduanya.


Luccy melepaskan dekapannya dari Ningrum dan mengecup pipi Gibran. "Jangan su'udzon, Pa.." ucap Luccy menepis dugaan papanya.


Seketika Gibran tersenyum mendengar celoteh puterinya. Justru Gibran merasa senang jjka akhirnya Luccy merasa bahagia karena menemukan sosok Ibu dalam Ningrum. Ia bahkan bersyukur jika keduanya bisa saling menerima satu sama lainnya.


Lalu ke tiganya menuju ke pondok santai yang disediakan oleh pengelola, dan mereka menikmati keindahan malam dengan saling bercengkrama.


Tak berselang lama, Luccy merasa mengantuk dan tertidur dipangkuan Ningrum. Entah apa yang membuat hati gadis itu tak ingin lepas dari Ningrum, Ia seolah seperti terikat hubungan bathin dengan Ningrum, sehingga selalu merasakan kenyamanan yang membuat hatinya begitu tenang.


"Aku bawa Luccy ke kamar hotel dulu, Ya.. Kamu tunggu disini dulu," ucap Gibran, sembari menggendong tubuh mungil puteri kecilnya masuk ke dalam kamar hotel.


Setelah merebahkan tubuh Luccy diatas ranjang, tak lupa Ia memberikan kecupan penuh kasih sayang dikening puterinya, lalu menyelimutinya dan menyelimutinya, lalu beranjak pergi dan kembali menemui Ningrum di pondok santai didepan kamar hotel.


Tampak Ningrum memandang nanar ke pantai. Dari sorot matanya seolah Ia sedang memikirkan sesuatu.


"Hai.." sapa Gibran yang membuyarkan lamunan Ningrum.


Ningrum menoleh ke arah Gibrannyang kini duduk disisi kanannya.


"Ya.." jawab Ningrum lirih, sembari mendenguskan nafasnya yang berat.

__ADS_1


Gibran melirik wajah ayu dengan penuh kesederhanaan dalam setiap kesehariannya. "Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Gibran dengan setenang mungkin.


Ningrum masih menatap ombak pantai yang bergulung. "Aku hanya masih merenungi nasibku yang sangat memperihatinkan," jawab Ningrum dengan nada miris.


Gibran mengerutkan keningnya. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh ucapan Ningrum barusan.


"Maksud kamu apa? Kamu menyesal menikah denganku?" cecar Gibran.


Ningrum menggelengkan kepalanya. Masih tetap memandang pantai.


"Lalu apa?" tanya Gibran semakin penasaran.


"Sudah tiga kali aku menikah, dan belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Apakah aku yang memang mandul dan tidak diberi amanah oleh Rabb-Ku untuk memiliki keturunan? Apa salahku?" ucap Ningrum dengan nada miris dan masih terus menatap pantai dengan ombak yang bergulung.


Seketika Gibran meraih jemari tangan Ningrum dan menggenggamnya erat. "Anak adalah titipan. Maka kita harus amanah. Jika Allah tidak memberikan kita titipan, maka kita tidak akan dimintai pertanggung jawaban kelak tentang apa yang dititipkan. Ambil hikmahnya saja. Dan anggaplah Luccy sebagai anak kandungmu." ucap Gibran yang meraih dagu Ningrum agar menatapnya.


"Apakah Kau tak kecewa jika aku tidak dapat memberikan keturunan untukmu?" tanya Ningrum dengan nada yang sangat memprihatinkan.


Gibran menggelengkan kepalanya. "Aku akan tetap mencintaimu meski ada anak ataupun tanpa anak sekalipun. Dan hanya maut yang dapat memisahkan cinta kita.." ucap Gibran meyakinkan hati Ningrum.


Ningrum menatap Gibran dan seolah menaruh harapan pada setiap ucapan pria yang kini menjadi suaminya tersebut.


Lalu merangkulkan tangannya di punggung Ningrum dan keduanya diam larut dalam fikiran mereka masing-masing.


Jujur Ningrum menyayangi Luccy seperti anak kandungnya sendiri, namun mengetahui dirinya tidak dapat hamil meski sudah suami ketiga, itu sangat membuatnya terlihat begitu miris.


Ia menganggap dirinya hanya wanita yang tidak dapat dibanggakan karena kekurangannya itu.


Namun ucapan Gibran meyakinkan hatinya jika Gibran benar tulus mencintainya dan membuatnya semakin yakin dalam hubungan rumah tanggannya.


Sementara itu. Andini merasakan perutnya sedikit memulas, dan Ia sangat terkejut ketika melihat ada flek merah di underwarenya.


"Mas.. Mas Rendy" panggil Andini dengan nada lirih menahan rasa sakit.


Rendy yang saat itu berada diruang tengah sedang menggambar sketsa proyek dan perhitungan material untuk melakukan penawaran kerja kepada prusahaan, bergegas bangkit dan masuk ke dalam kamar.


"Ada apa, Dik?" tanya Rendy sembari menghampiri Andini yang memegangi perutnya yang memulas.

__ADS_1


"Gak tau, Mas.. Tiba-tiba saja perut Andin mulas dan ada flek darah gitu," jawab Andini sembari memegangi perutnya.


Ayo kita ke klinik!" ucap Rendy tanpa berfkkir panjang lagi.


Lalu Ia menggendong tubuh Andini, dan meletakkannya di jok motor. "Kamu berdoa terus, Ya Dik.. Semoga tidak ada sesuatu yang tidak diinginnkan," ucap Rendy sembari mengunci pintu rumahnya.


Rendy membawa Andini menuju klinik yang memakan waktu sekitar 10 menit perjalanan, namun karena Andini mengeluh sakit, sehingga Rendy mengurangi laju motornya.


Sesampainya di klinik, Rendy membopong tubuh Andini yang sudah tidak mampu lagi untuk berjalan.


Tampak darah semakin deras mengalir dari sela-sela pa-hanya. Rendy merasakan ke kekhawatiran yang sangat dalam.


"Mas.. Sakit banget.!" rintih Andini dengan wajahnya yang memucat.


"Ada apa, Pak?" tanya Perawat tersebut.


"Istri saya pendarahan, Mbak!" jawab Rendy dengan wajah khawatir.


"Bawa masuk ke dalam, Pak.. Biar kami periksa," ucap perawat tersebut sembari membuka tirai untuk ruang pemeriksaan.


Rendy merebahkan tubuh Andini diatas ranjang pasien, dan melakukan serangkaian pemeriksaan.


Lalu mereka mengecek kondisi pendarahan yang sedang dialami oleh Andini.


Saat baru saja perawat itu memeriksanya, tiba-tiba saja..


"Mas...!" seru Andini yang meringis kesakitan dan dengan cepat Rendy menggenggam jemari tangan Andini.


"Ya, Sayang" ucap Rendy mencoba menguatkan hati sang istri.


"Maas.."


"Aaaaaarrgh..."


Jerit Andini bersamaan dengan meluncurnya segumpal daging yang masih tampak berbentuk seperti gumpalan daging merah dengan beberapa titik warna putih membentuk seperti zigot yang masih menempel digumpalan daging tersebut.


Seketika Andini tak mampu menahan kesedihannya.

__ADS_1


"Mas.. Anak, Kita!" serunya dengan suara tangisan yang yang begitu menyayat hati.


"Sabar, Sayang.. Allab lebih sayang pada anak kita.. Bersabarlah.. Insya Allah akan ada gantinya yang lebih baik!" ucap Rendy mencoba menguatkan hati istrinya meskipun sebenarnya Ia rapuh.


__ADS_2