SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 69


__ADS_3

Entah mengapa Andini merasa dongkol hatinya saat mengetahui jika Bima kembali berselingkuh dengan wanita lainnya. Rasanya Ia pengen ngulek si Bima menggunakan ulekan sambal dan ngarungin pria itu ke laut.


Sesampainya dirumah, Ia masih membawa rasa kesalnya itu hingga rasanya ingin sekali lagi merekam pria itu jika sampai terlihatnya lagi berselingkuh dibelakang Ningrum.


"Kenapa ya, Mas.. Orang seperti Bima itu diberi umur panjang? Kenapa gak cepat dicabut nyawanya saja?!" ucap Andini kesal.


"Husss..!! Ngomong apaan, sih? Nyawa itu rahasia Allah, hanya dia yang tau kapan hamba-Nya akan pergi menghadapnya, dan manusia diberi pengetahuan sedikit saja tentangnya, misalnya tanda-tanda kematian seseorang" jawab Rendy mencoba menenangkan hati Andini yang tampaknya sangat panas sekali.


Andini mendengus kesal. Ia tidak dapat membayangkan betapa hancurnya hati Ningrum sahabatnya jika sampai mengetahui suamijya adalah seorang yang sangat brengsek.


Sementara itu, Bima merasa jika Ia harus berhati-hati dan jangan sampai Andini membocorkan tentangvapa yang dilihatnya barusan.


Bima segera pulang ker rumah dan sepanjang perjalanan terus merafalkan mantra pengasih untuk Ningrum agar hati wanita itu tetap percaya padanya dan merasa tunduk padanya.


Sesampainya dirumah, Ia melihat mobil Ningrum sudah terparkir didalam garasi. Itu tandanya Ningrum sudah berada dirumah, apalagi ini sudah pukul 10 malam, dan tidak mungkin Ningrum berkeliaran diluar rumah.


Bima memarkirkan mobil digarasi. Ia bergegas menuju ke lantai 2 untuk ke kamar. Saat Ia membuka pintu kamar, tampak Ningrum sudah tertidur lelap diranjang. Bima bernafas lega.


Pria itu segera menyalin pakaiannya dan meletakkan diranjang kotor. Setelah itu naik ke atas ranjang dan tertidur dengan lelap.


Ningrum yang saat ini berbaring dalam posisi miring dan membelakangi Bima, mencoba mengerjapkan matanya, Ia hanya berpura-pura tidur saja saat mendengar Bima membuka pintu kamar.


Ia melirik jam diphonselnya, dan menunjukkan pukul 10 malam. Entah apa yang dikerjakan oleh Bima hingga pulang selarut ini. Ningrum sangat begitu penasaran, namun Ia seperti begitu lemah jika berhadapan dengan pria itu, Ia bagaiakan kerbau yang dicocok hidungnya dan menuruti apa saja yang diinginkan oleh pria itu.


Terkadang Ia merasa lelah, namun saat berhadapan dengan Bima, hatinya seketika luluh lantak dan tak dapat lari.

__ADS_1


Sebuah notif masuk kedalam pesan WA-nya. Satu nomor baru, dan Ningrum mencoba membukanya, sebuah pesan teks dari seseorang, yang tak lain adalah Gibran.


Dalam pesan itu, Gibran meminta Ningrum untuk mendecor acara ulang tahunnya yang akan digelar 3 hari lagi.


Gibran mengirimkan alamat rumahnya. Dan entah mengapa Ningrum menyanggupinya, karena ini memang bisnis yang dilakoninya.


Pria single parent itu memesan decor yang super mewah, sepertinya Ia memiliki banyak uang dan mungkin juga menjadi orang sukses.


Selain itu, Ningrum memiliki keahlian dalam membuat cake ulang tahun dan juga cake pernikahan. Maka Gibran sekaligus memesan satu paket lengkap dengan cake ulang tahun yang indah.


Ningrum menyanggupinya, dan itu adalah awal mereka berkomunikasi.


Setelah saling balas chat, Ningrum merasa mengantuk dan mengakhiri chatnya, lalu tertidur pulas.


Keesokan paginya, Ningrum terbangun dari tidurnya. Ia bergegas ke kamar mandi dan melihat Bima masih tertidur lelap. Ingin rasanya Ia menanyakan tentang masalah mobil yang digadaikan oleh Bima seharga 10 juta rupiah, namun entah mengapa mulutnya terasa terkunci, dan Ia tidak tahu mengapa.


"Eh, Mbak. Sudah bangun. Ini sarapannya sudah siap" ucap Ady dengan sopan.


Sepertinya Ia mawas diri dengan hidup menumpang dirumah orang. Ia berinisiatif membuat sarapan telur sambal balado dengan kentang goreng, dan tampaknya sangat menggugah selera.


Ningrum mengambil piring kosong, dan mulai mengambil sarapannya. Ia mencicipi sambal buatan Ady, dan rasanya pas dilidah.


"Enak.. Kamu ternyata pintar masak juga" ucap Ningrum mencoba memuji masakan Ady.


"Ah, Mbak bisa saja. Saya minta ijin bawa bekal untuk makan siang, Mbak" ucap Ady.

__ADS_1


Ningrum menganggukkan kepalanya. Ia berinisiatif untuk berbelanja kebutuhan pokok, dan Ia yakin jika Ady orang yang rajin masak dan setidaknya Ady membantunya mengurangi pekerjaan memasak.


"Nanti Mbak akan berbelanja, kalau kamu rajin masak silahkan masak saja, tapi porsinya sesuaikan saja, ya. Biar jangan mubazir" ujar Ningrum.


Ady menganggukkan kepalanya. Lalu keduanya sarapan bersama.


Tak berselang lama, Bima turun dari lantai dua dan menuju meja makan. Ia bergabung untuk sarapan. Ningrum ingin mempertanyakan masalah pegadaian mobil tersebut. Namun anehnya mulutnya seakan terkunci dan tak dapat mengungkapkan apa yang sekarang ada dalam benak dan hatinya.


Bima menatapnya dengan dalam, membuat Ningrum semakin terkunci.


"Enak sarapannya, Sayang?" tanya Bima dengan seromantis mungkin. Ia tampaknya sedang menutupi sebuah kemunafikan yang sedang Ia sembunyikan.


Ningrum hanya menganggukkan kepalanya, dan tak sanggup menatap sorot mata Bima yang begitu menembus retinanya.


Ady beranjak dari meja makan dan membereskan piring kotor miliknya dan juga milik Ningrum, lalu mencucinya.


Setelah itu Ia mengambil tempat bekal dan mengisi bekal makan siangnya. Lalu mengisi botol kosong air mineral untuk dibawa pergi ke proyek.


Ningrum bangkit dari duduknya, Ia tak ingin berlama berhadapan dengan Bima. "Aku duluaan ke salon Mas, ada pekerjaan yang harus kerjakan" ucap Ningrum dengan datar lalu bergegas meraih kunci mobil dan juga dompetnya.


Saat akan keluar dari pintu penghubung, Ia berpapasan dengan Yudi. pemuda itu baru saja bangun tidur dan membuatnya merasa kesal setiap kali berpapasan dengan pemuda itu.


Ningrum mendenguskan nafas kesalnya kepada pemuda itu.


Ningrum menuju garasi, dan Ia mengemudikan mobilnya, dan saat berada di depan gapura kompleks, tanpa sengaja Ia melihat ibu mertuanya sedang menaiki motor maticnya menuju kearah rumahnya, namun Ningrum merasa acuh tak acuh dan segera melajukan mobilnya menuju ke salon untuk menyelesaikan pesanan jasa dari Gibran yang tinggal dua hari lagi.

__ADS_1


Sesampainya di salon, Ia bergegas menuju ruang kerjanya. Ia melihat Sari dan Jenny sudah membersihkan salon. Sesampainya di ruang kerja, Ia teringat jiak esok akan menghadiri undangan syukuran ke rumah baru Andini dan Ia berinisiatif untuk membuat cake sebagai buah tangan dan juga memberikan beberapa hadiah sebagai bentuk rasa turut senang kepada sahabatnya yang sudah mampu membeli rumah diusia pernikahan mereka yang baru saja mereka tapaki.


Ia melihat jika sahabatnya itu sangatlah beruntung mendapatkan suami seperti Rendy. Meskipun sedikit pendiam, namun pria itu adalah suami yang bertanggung jawab dan sangat mencintai Andini dengan penuh ketulusan tanpa banyak bicara, namun sebuah tindakan nyata.


__ADS_2