SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 57


__ADS_3

Ningrum menghela nafasnya dengan berat dan memandang punggung ibu mertuanya yang keluar dari salonnya.


Ia tak tahu lagi harus mengatakan apa, namun saat ini Ia begitu sangat galau dan tak tahu harus berbuat apa.


Ia meraih phonselnya, mencoba menghubungi Bima, namun tidak tersambung. Ia ingin menanyakan kepada Bima tentang kebenaran yang telah dijabarkan oleh Mbak Raini yang tentang hutang kantin yang sangat menumpuk seperti itu.


Ningrum memandang phonselnya. Ia merasa sangat badmood dan merasa malas untuk melakukan apapun saat ini.


Ia berseluncur didunia maya, mencoba menghilangkan segala kegalaunnya. Tanpa sengaja Ia melihat sebuah unggahan siaran langsung dari akun Riffky sang mantan suaminya.


Tampak dalam unggahan itu jika Riffky sedang mengadakan acara syukuran tujuh bulanan atas kehamilan istri barunya.


Ia memutar tayangan tersebut dan melihat raut kebahagiaan mantan suaminya saat merangkul pundak sang istri yang kini sedang dalam prosesi doa selamat.


Ningrum memandangnya dengan perasaan yang tak dapat digambarkannya. Ia berfikir jika seandainya Ia mengandung dan memilki seorang anak, mungkin Riffky tidak akan meninggalkannya.


Jika dibanding dengan Bima, sebenarnya Riffky adalah pria yang baik. Bahkan selama mereka mengarungi biduk rumah tangga, Rifdky selalu mencukupi kebutuhannya bahkan dengan harta yang melimpah dan tidak pernah ada masalah apapun.


Hanya dengan mengenal janda beranak 3 tersebut Ia tiba-tiba berpaling dalam sekejab dan memutuskan untuk menceraikannya dan menikahi sang janda.


Kini Ia tampak begitu bahagia, bahkan dengan ketiga anak sambungnya itu Ia tampak sangat menyayanginya, sungguh miris jika dikenang.


Ningrum menghela nafasnya dengan berat, lalu Ia memijat keningnya yang terasa berde-nyut karena memikirkan permasalahan hidupnya yang penuh dengan ujian dan langkah yang dilaluinya bagaikan kerikil tajam yang menggores setiap tapak kakinya, berdarah, perih, namun Ia harus tetap berjalan meski harus terseok-seok.


Rasanya Ia ingin hidup sendiri saja menjadi seorang janda mungkin lebih baik. Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya, Ia tidak mengerti mengapa sang Rabb mencobanya dengan begitu banyak kepedihan dan air mata.


"Apa salahku, Ya Rabb? Mengapa aku harus terus menderita dan selalu menemui kepedihan? Tidakkah Aku dapat merasakan manisnya hidup meski hanya sekejap saja?" gumannya lirih dalam hati. Ia begitu merasakan rasa sakit yang tak terperikan.


Rumah tangga yang Ia kira menjadi obat, ternyata menjadi racun yang tanpa Ia sadari semakin lama dapat membunuhnya dengan perlahan ataupun secara cepat.

__ADS_1


Dari balik dinding kaca salonnya, Ia melihat motor Rendy suami dari sahabatnya Andini sedang berparkir disana. Ia tampak menenteng satu cup es campur yang mungkin pesanan Andini.


Ia melihat jika Andini benar-benar mendapatkan suami idaman yang bertanggungjawab serta begitu sangat memanjakan istrinya.


Ningrum tersenyum bahagia, melihat kebahagiaan sahabatnya. Meskipun dalam hal materi Rendy belum semapan pada pria lainnya,namun kegigihannya dalam mewujudkan kebahagiaan sang istri begitu sangat tampak kentara.


Selama beberapa bulan menikah, Bima belum pernah memberikan nafkah kepadanya, tetapi Ia yang justru harus berkorban uang yang jika diperhitungkan dari mulai membeli mobil, hutang lamaran dan ini itu sebagainya hampir mencapai setengah milyar.


Bukankah itu sebuah kenyataan yang sangat miris? Namun anehnya Ia mengapa terus saja bertahan dengan kehidupan rumah tangganya yang sangat dramatis tersebut?


Ningrum juga bingung mengapa Ia begitu sangat patuh dan terkadang tak bisa membantah apapun dari semua keinginan Bima.


Terkadang hati dan juga akalnya selalu bertentangan dan tidak singkron satu sama lainnya.


Karena lelah berfikir, akhirnya Ningrum tertidur di sofa dengan begitu lelapnya.


Sementara itu, Rendy menemui Andini, dan membawakan satu cup es campur yang diminta oleh Andini.


"Ntar Andin kalau pulang hubungi, Mas" ucapnya, yang saat ini sedang melayani nasabah.


Rendy menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang tempat istrinya bekerja.


Rendy mengendari motor maticnya menuju pulang kerumah.


Sesampai dirumah, Ia mengambil dua lembar kertas HVS dan sebuah pena serta penggaris.


Ia mulai menggambar sebuah sketsa cut elevator yang akan menjadi proyek baru berikutnya. Ia mulai menghitung jumlah bahan yang akan dibutuhkan sebagai penawaran harga dan nego dari perusahaan. Satu pekerjaan barunya baru keluar surat perintah operasional, Ia sudah mendapatkan penawaran untuk diajukan berikutnya.


Tampaknya perusahaan menyukai hasil pekerjaannya dan mempercayakan kepada Rendy sebagai pemborong proyek tersebut untuk dibagian plant 2.

__ADS_1


Setelah memperhitungakan materialnya, Ia akhirnya membuat perkiraan harga yang akan diajukannya.


Sementara itu, Bima masih sibuk mengawasi pekerjanya, dan Ia masih merasa kesal karena sudah menambah jumlah anggota pekerja, namun tetap saja pekerjaannya begitu sangat lamban.


Ia merasa jika para pekerjanya itu tidak dapat diandalkan. Bahkan melakukan pengelasan saja harus memakan waktu hingga seminggu lamanya.


Bima semakin frustasi melihat pekerjaannya yang sangat bertele-tele dan ini merugikannya sebagai pemborong proyek.


"Mengapa kalian begitu sangat lamban? Tidak bisakah kalian bekerja sedikit cepat? Ini sangat merugikan saya" ucap Bima dengan kesal.


"Bos.. Kami juga manusia.. Coba kalau bos beri service ya minimal kopi, kan kami jadi semangat kerjanya" ucap seorang welder yang merasa kesal karena diomelin Bima.


Apalagi lokasi kerja saat ini berada dilantai tujuh yang tentunya sinar mentari yang menyengat dan membuat suasana ruangan lokasi bekerja sangat gerah dan ditambah lagi dengan omelan dari Bima membuat pekerja itu semakin gerah.


"Haalaah.. Dasar kalian yang sangat lamban bekerja" gerutu Bima kembali.


Sang Welder tampak memerah telinganya mendengar ocehan dari Bima.


"Kalau begitu kerjakan sendiri saja, Bos.." ucap sang welder yang terbakar emosi karena ucapan Bima yang sudah merendahkannya.


Bima menatap tajam sang welder "Jadi maumu apa sekarang?" tantang Bima yang juga tersulut emosinya.


Seketika Welder teesebut melemparkan stang lasnya ke lantai plant yang terbuat dari gretting dan menimbulkan suaran dentingan.


Sesaat suasana memanas. Lalu pekerja lainnya menghentikan pekerjaannya, dan menatap pada Bima dan sang Welder yang tampak saling menantang.


Welder tersebut menghampiri Bima yang amna tubuh Bima tentu lebih kekar darinya, namun Ia tidak merasa takut sedikirpun.


Lalu welder itu melayangkan tinjunya ke arah wajah Bima, dan andai saja Bima tidak cepat mengelak, maka dipastikan wajah Bima sudah membiru terkena bogem mentah dari welder tersebut.

__ADS_1


"Awas, kamu ya..!!" ancam welder itu dengan kesal dan meludaah ke lantai gretting dengan kasar, lalu menatap dengan tatapan menantang dan penuh dendam, lalu beranjak pergi meninggalkan lantai tujuh dan bergegas pulang.


Bima mengontrol nafasnya yang tersengal dan Ia bingung mengapa welder itu sangat berani menantangnya, selama ini tidak ada yang berani membantah ucapannya, namun ini untuk pertama kalinya.


__ADS_2