SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 41


__ADS_3

Rendy menatap pekerjanya yang ikut dalam pembicaraannya.


Namun sepertinya pekerja itu taka mengerti dari tatapan yang diberikan oleh Rendy kepadanya.


"Iya, Pak.. Ada beberapa tetangga saya sedang membutuhkan pekerjaan, Pak." ucap pekerja itu terus nyerocos.


Lalu Rendy beranjak bangkit dari duduknya dan meninggalkan percakapan antara Bima dan juga pekerjanya itu.


"Jika mereka memang mencari pekerjaan, katakan pada mereka untuk melengkapi berkas sebagai syarat pembuatan kartu masuk perusahaan" ucap Bima kepada pekerja tersebut.


"Baik, Pak.. Nanti saya sampaikan" jawab Pekerja itu sumringah.


Lalu Bima meninggalkan lokasi kerja Rendy dan kembali menuju lokasi proyeknya yang masih terbengkalai.


Setelah kepergian Bima, Rendy mendenguskan nafasnya dengan kesal, namun Ia tak ingin terlibat dalam hal tersebut.


Rendy memulai kembali pekerjaannya, dan berusaha sebaik mungkin agar menyelesaikan tepat waktu dan mendapatkan kembali proyek baru.


Ningrum dan Andini sudah sampai di depan salon. Andini segera turun dan mengucapkan terimakasih kepada Ningrum atas traktirannya hari ini.


"Makasih ya, Mbak.. Udah ditraktir hari ini" ucap Andini sembari berpamitan.


Ningrum hanya mengangukkan kepalanya dan tersenyum tipis, lalu memarkirkan mobilnya, sedangkan Andini menyeberangi jalan dan menuju ke kantor tempatnya bekerja.


Ningrum memasuki salon, dan melihat banyak antrian.


Ia menapaki anak tangga untuk menuju ruang kerjanya, dan berniat untuk mengerjakan sejenak pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


Waktu memperlihatkan pukul 5 sore. Ningrum berniat hendak pulang dan membereskan pekerjaannya.


Setelah selesai, Ia turun ke lantai dasar, lalu membaca buku jurnal pendapatan hari ini, dan mengambil uang tersebut, lalu pergi mencari jasa transfer pada toko langganannya.


Setalah mentransfer uang dari penghasilannya hari ini, Ningrum bergegas pulang dan mengendarai mobilnya dengan santai.


Sesampainya di rumah, Ia memasuki rumah dengan tubuh yang sangat lelah.


Aroma asap rokok menyeruak diruangan keluarga saat Ningrum memasuki rumahnya.


Saat akan menaiki anak tangga, Ia melihat Yudi sedang menonton televisi dengan santai sembari merokok dan menguyah camilan seolah Ia adalah pemilik rumah ini.


Bahkan tampak puntung rokok berserakan sembarangan dan juga bungkus camilan.

__ADS_1


Ningrum menggelengkan kepalanya. Namun hendak mengomel Ia tak memilki banyak waktu karena Ia sangat lelah dan ingin segera mandi.


Sesampainya dikamar, Ia merebahkan sejenak tubuhnya yang sangat lelah, lalu beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Ia merendamkan tubuhnya pada buthtub yang berisi air hangat dan juga sabun caii aroma theraphy. Ia mencoba mencari ketenangan dalam aroma theraphy tersebut.


Ningrum memejamkan kedua matanya dan menyandarkan kepalanya disandaran buthub, Ia ingin menghilangkan sejenak rasa lelahnya.


Setelah beberapa menit berendam, Ia akhirnya menyudahi ritual mandinya dan beranjak dari kamar mandi lalu memakai pakaian tidurnya yang berbahan satin.


Setelah selesai, Ia menuju ranjang dan duduk santai sembari menyandarkan tubuhnya disandaran ranjangnya, lalu berseluncur di akun media sosialnya.


Tak berselang lama, Bima kembali pulang dan menghampiri Ningrum yang sudah wangi dan bersandaran diranjang.


Pria itu masih dengan sikap manis nan romantisnya, namun Ningrum tampak biasa saja.


Bima menuju kamar mandi dan memebersihkan dirinya. Setelah selesai, Ia menyalin pakaiannya dengan pakaian santai dan duduk menghampiri Ningrum.


"Sayang.." ucap Bima semanis mungkin.


"Heeem.." jawab Ningrum dengan nada datar, Ia sangat begitu malas untuk menanggapi Bima saat ini.


Ningrum masih terus berselancar di akun media sosialnya, Ia mencoba mengalihkan semua pandangannya dari Bima.


Ningrum masih diam, rasanya Ia meledak saja saat ini setelah Bima menyinggung masalah uang.


"Sayang.." rengek Bima.


Ningrum mematikan phonselnya dan mendenguskan nafas kesal.


"Bisa gak sih, Mas.. Kamu itu gak bicara soal uang terus setiap saat? Kamu tau gak sudah berapa banyak yang aku keluarkan hari ini untukmu bahkan keluargamu juga aku yang harus menanggungnya..!!" ungkit Ningrum dengan nada kesal.


Seketika Bima membolakan matanya, Ia tampak tersinggung dengan ucapan Ningrum barusan.


"Apa..? Kamu bilang apa barusan? Kamu mengungkit ceritanya?" ucap Bima dengan nada yang kalah tinggi.


"Iya.. Kenapa? Kamu gak senang?" jawab Ningrum mulai emosi.


Bima menyunggingkan senyum sinisny.


"Beraninya kamu mengungkit semuanya?" Bima mulai gelap mata, lalu beranjak dari ranjangnya dan merih lampu tidur yang ada di meja nakas dan membantingnya hingga hancur tak berbentuk.

__ADS_1


Ningrum membolakan matanya "Heei.. Kamu jangan coba-coba menghancurkan barang yang aku beli dengan uangku..!!" ucap Ningrum dengan kesal.


Seketika Bima menatap tajam pada Ningrum "Jangankan lampu ini, kamu juga bisa aku banting" ucapnya dengan kasar.


Ningrum membolakan matanya, Ia tidak terima dengan ucapan Bima.


"Keluar kamu dari kamar ini, cepaaat..!!" teriak Ningrum yang sudah tak tahan lagi dengan emosinya.


Bima menatap sinis, lalu beranjak keluar dari kamar dan membanting pintu dengan sangat kuat hingga terdengar sampai ke lantai dasar.


Ady yang mendengar suara keributan itu, menjadi serba salah dan memilih untuk masuk kedalam kamar.


Sedangkan Yudi merasa masa bodoh dengan apa yang terjadi barusan.


Bima keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ia menghubungi Jenny dan memintanya untuk menunggu ditempat biasa mereka bertemu.


Sesampainya ditempat yang dituju, Jenny masuk kedalam mobil, dan Bima membawanya ke sebuah tempat yang biasa mereka melakukan hal terlarang.


Bima menyalurkan hasratnya untuk menghilangkan rasa jengkelnya kepada Ningrum.


Setelah seleselai mendapatkan pelepasannya, Ia menyulut rokoknya dan menyesap zat beracun itu dengan dalam.


Ia tidak tahu mengapa Ningrum tiba-tiba memberontaknya.


Setelah merasa cukup, Ia kembali memulangkan Jenny ke pinggir jalan tempat mereka bertemu.


Setelah itu, Bima melanjutkan perjalanannya yang tak bertujuan. Ia menghentikan mobilnya ditepi trotoar, lalu mengambil benda pipih bergambar semar dan berwarna kuningan tersebut.


"Sepertinya sudah lama kamu tidak merasakan benda ini" guman Bima dengan tatapan yang sangat misterius.


Bima memejamkan kedua matanya, menyebut nama Ningrum dan merafalkan mantra yang hanya ia yang tau apa yang rafalkan.


Mulutnya terus berkomat-kamit dalam membayangkan dan menyebut nama Ningrum dalam setiap rafalan mantranya.


Seketika Ningrum yang berada didalam kamar dengan hati kesal mulai gelisah.


Ia sangat bingung dengan perasaannya. Bukankah saat tadi Ia sangat marah? Namun mengapa saat ini hatinya justru berbalik merasa menyesali atas apa yang telah diucapakannya saat tadi bertengkar bersama Bima.


Namun terkadang logikanya tak dapat menerima atas apa yang sudah diperbuat Bima dan keluarganya, Ia merasa lelah, namun hatinya selalu bertentangan dan mencoba menerima Bima kembali.

__ADS_1


Setelah merasa cukup, Bima menyimpan kembali benda pipih tersebut dan Ia kembali mengendarai mobilnya dan menuju pulang. Pria itu sudah memastikan jika hati Ningrum saat ini sudah luluh kembali.


__ADS_2