
Andini histeris melihat janinnya tak dapat lagi diselamatkan. Rendy mendekapnya erat. "Istighfar, Sayang.. Percayalah, rencana Allah lebih indah dari rencana manusia!" ucap Rendy mencoba untuk menenangkan hati Andini yang sangat terguncang.
Rendy berulang kali mengecup ujung kepala Andini, sebagai cara untuk menenangkan hati sang istri yang sedang terguncang.
Rendy menghubungi mertuanya dan merekapun segera datang.
Melihat kehadiran sang Mama, Andini segera mekuahkan kesedihannya dan kini sang mama yang yang menghibur dan menenangkannya.
Setelah hampir dua jam menenangkan Andini, akhirnya kondisinya sudah mulai membaik, meskipun sesekali Ia sesenggukan dan kedua orang tuanya mengantarkannya pulang kerumah dengan mobil, sedangkan Rendy mengendarai motornya sendirian.
Sesampainya dirumah. Kedua orang tuanya memutuskan untuk menginap dan merawat Andini sampai pulih.
"Andini masih tampak bersedih dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Rendy membawa janin mereka dengan sebuah wadah toples. sesampainya dirumah, janin itu disucikan dan di bungkus kain putih lalu di kuburkan di area makam dan diberi nama 'Rahman'.
Setelah selesai, Rendy menghampiri Andini, dan memberikan kekuatan kepada sang istri agar tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.
Andini perlahan tertidur karena kelelahan menangis.
"Terimakasih, Ya Bu.. Sudah mau menginap disini" ucap Rendy dengan nada lirih.
"Kamu ini seperti dengan siapa saja. Ibu ini-kan ibunya Andin, ya wajarlah kalau Ibu ikut menjaganya" jawab wanita paruh baya itu.
Rendy tersenyum haru. Ia sangat bersyukur memiliki istri yang menerima Ia apa adanya, dan juga mertua yang sangat baik padanya.
Pagi menjelang. Tampak ibu mertua sudah memasak didapur dan menyiapkan jamu untuk Andini agar darah pasca kegugurannya segera cepat berhenti.
Rendy berjalan mondar-mandir dan tampak sangat gelisah.
__ADS_1
Sang ibu mertua ternyata memperhatikannya sejak tadi.
"Ren.. Kamu kenapa, Nak? Dari tadi koq kelihatannya seperti orang yang sangat bingung" ucap Sang ibu mertua.
Rendy tersentak karena kaget. Ia mencoba menutupi kegugupannya.
"Emm.. Aanu, Ma.. Rendy harus ke proyek hari ini, ada yang harus diurus, Ma. Tetapi tidak tega meninggalkan Andin untuk saat ini" ucap Rendy menjelaskan yang tampak merasa dilema.
Wanita berwaja teduh itu menatapnya, dan tersenyum penuh kesahajaan.
"Pergilah, ada mama disini, dan papamu juga masih ingin libur ke pasar. Kaki akan menjaganya!" ucap ibu mertuanya.
Rendy merasakan jika hidupnya penuh keberuntungan dengan mendaptkan mertua yang begitu peduli padanya.
"Terimakasih, Ya, Ma.. Nitip Andini. Nanti kalau urusan pekerjaan Rendy sudah selesai, Rendy akan cepat pulang." ucap Rendy sembari mengemasu semua berkas-berkas proyeknya.
"Selesaikan saja pekerjaanmu, Andini biar mama yang urus!" jawab sang ibu mertua.
Sementara itu, Nora menggeliatkan tubuhnya. Ia mencium aroma nasi goreng dari arah dapur dan merasakan perutnya sangat lapar.
Ia bernjak dari ranjangnya dan menuju ke dapur sembari membenahi rambutnya yang acak-acakan.
Ia melihat Bima suaminya sudah tidak lagi berada diranjang. Sepertinya sedang berada didapur.
Sesampainya di ambang pintu pembatas dapur dengan ruang tengah, Ia melihat Bima sedang berada dimeja makan menghadap sarapannya dan segelas teh manis panas.
"Soni sarapan sekalian, Nor.." ucap Sumi yang meletakkan piring kosong dan satu mangkuk besar nasi goreng beserta sepiring omelet telur tang dipotong-potong kecil memanjang beserta lalapan timun.
Nora melirik karung beras yang terdapat di bawah kolong meja dapur.
__ADS_1
"Bang Bima, minta uang buat beli beras! Sepertinya beras kita lebih cepat habis dari biasanya, baru saja beli 10 kg beberapa hari yang lalu, ini sudah tinggal setengahnya!" ucap Nora dengan nada ketus, sehingga membuat Sumi yang akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya menjadi urung.
Rasanya tenggorokannya bagaikan berduri untuk menelan sarapannya. Bima melirik ibunya, Ia tahu apa yang sedang kini dirasakan ibunya. Namun berbesa dengan sang ayah yang merasa masa bodoh dengan sikap sang menantu, Ia menghabiskan sarapannya dan segera meninggalkan meja makan, duduk ditersa dan merokok sembari menikmati pagi yang cerah ini.
Sumi mengikuti suaminya ke teras. Rasa laparnya menguap begitu saja, dan Ia duduk diteras.
"Kita harus mencari rumah kontrakan, Bang.. Ku harap kamu mau bekerja. Mengertilah dengan kondisi kita sekarang! Ini semua karena anak sialan itu. Coba saja Ia tidak menjual rumah kita, mungkin hidup kita tidak akan mengenaskan seperti ini!" ujar Sumi dengan nada yang begitu menyesakkan.
Tiba-tiba saja Sumi terbayang akan Ningrum. Ia mengingat saat wanita itu masih menjadi istri Bima. Ningrum tidak pernah berlaku kasar padanya, bahkan uang berpapun yang Ia minta akan dengan mudah diberikan kepadanya, karena Ningrum memiliki banyak uang.
Berbanding dengan Ningrum, jangankan uang untuk Ia mintai, bahkan sesuap nasi saja Nora merasa keberatan untuk Ia nikmati.
"Abang mau kerja apa? Sulit mencari pekerjaan untuk saat ini" jawab pria paruh baya itu dengan santai sembari menghi-sap rokoknya.
Sumi menghela nafasnya dengan berat. "Bukan sulit, tetapi emang abangnya saja yang malas! Abang dan Yudi itu sama saja, sama-sama gak bisa diandalkan. Abang taunya berjudi dan mabuk-mabukkan!" omel Sumi yang semakin lama semakin tidak dapat lagi menahan rasa kesalnya. Ia sudah terlalu lama menahan rasa bersabar atas sikap suami dan dan anaknya Yudi yang selalu saja menyusahkannya.
Bima keluar dari pintu untuk menuju mobilnya dan akan berangkat ke pabrik. Sumi mencegahnya. "Bim.. Tolongin ibu, beri ibu uang untuk mengontrak rumah, setelah itu ibu akan mencari pekerjaan" ucap Sumi dengan wajah menghiba.
Bima merasa bingung, sebab didapur tadi Nora sudah meminta uang belanja, sedangkan proyeknya masih belum kelar dan keuangannya sudah menipis.
"Nanti siang coba Bima carikan pinjaman ya, Bu.. Soalnya uang Bima sudah habis buat beli mobil ini!" jawab Bima.
Sumi menghela nafas putus asa. "Kamu itu, Bim. Seharusnya kamu beli rumah dari pada mobil.
Biar rumah kecil dan gak mewah, tapi rumah sendiri dan tidak mengontrak, daripada beli mobil rumah masih ngontrak, bukankah itu hal aneh dan hanya menuruti gensi semata?!" Sumi mencoba memberikan nasehatnya.
Nora yang mendengar ocehan ibu mertuanya merasa sangat tersinggung, sebab ide membeli mobil adalah sarannya.
"Eeh..Bu.! Baru beberapa hari tinggal dirumah saya sudah jadi provokator. Mau sewa rumah atau beli mobil itu urusan saya dan Bang Bima, jadi ibu jangan ikut campur! Daripada ibu yang hidupnya numpang, ngontrak rumah saja tidak sanggup!!" ucap Nora dengan nada sengit.
__ADS_1
Sumi tercengang mendengar ucapan Nora yang sangat tajam melebihi tajamnya piasu silet. Ia terdiam terpaku dan tak mampu untuk membalas ucapan sang menantu yang begitu sangat menyakitkan hatinya.