SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode135


__ADS_3

Luccy diam termangu menatap pada tubuh papanya yang tampak diam membeku.


Para tim yang datang membantu membawa tubuh Gibran yang sudah tidak lagi bergerak ke posko penanganan bencana.


Ningrum tak mampu menjelaskan apapun kepada gadis kecil yang tampak seperti syok.


Ningrum mendekap erat tubuh Luccy yang mana kini hatinya hancur bagaikan butiran salju.


"Papa..."ucapnya lirih, dengan tatapan kosong. Ningrum mendekapnya dan memberikan tempat bersandar untuk gadis kecil tersebut.


"Andai Luccy tau papa akakn kedinginan, Luccy tidak akan memaksa papa untuk bermain ski..." ucapnya dengan nada penuh penyesalan.


Ningrum berulangkali mengecup erat ujung kepala gadis itu untuk terus menenangkan hati yang rapuh.


Saat ini Ningrum tak kalah terpukul hatinya dengan Luccy, namun ia harus bersikap tegar untuk gadis itu. Jika ia juga lemah, bagaimana dengan Luccy. Dimana saat imi mereka hanya tinggal berdua saja, dinegara yang asing dan tanpa siapapun yang mereka kenal.


Ningrum beranjak meminta bantuan kepada para pengelola untuk membantu membawa jasad Gibran ke dalam mobil yang mereka sewa. Kemudian Ningrum mengemudikan mobil itu bersama jasad Gibran dan Luccy memuju resor. Kemudian ia melaporkannya ke pihak kedutaan untuk dapat membawa jasad Gibran kembali ke dalam negeri.


"Papa," isak Luccy yang tampak wajah penuh penyesalan. Air matanya terus mengalir dari sudut pipinya. Ia merasa sangat kesepian dan kehilangan ditambah lagi ia tidak mengenal sanak saudara dari keluarga papa dan mamanya, sebab ia tahu jika papa dan mamanya adalah anak tunggal dan tidak memiliki saudara.


Ia menatap pada Ningrum yang tampak sibuk menghubungi pihak imigrasi dan nuga kedutaan untuk mengurus ke pulangan jasad papanya.


Ia kini mengharapkan pada Ningrum, wanita yang ia pilih sebagai ibu sambungnya, akankah wanita itu mau merawatnya? Untuk menjadikannya sebagai anaknya sendiri?


Ningrum tampak memutuskan panggilan telefonnya. Kemudian ia menghampiri Luccy yang saat ini sedang menatap jasad sang papa.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja!" ucap Ningrum sembari memeluk tubuh mungil Luccy. Ia melirik jasad Gibran. Ia harus segera secepatnya membawa jasad itu untuk disemayamkan dan disempurnakan fardhu kifayahnya.


"Mengapa kebahagiaan ini begitu cepat berlalu, Mas.. Baru saja aku merasakan indahnya pernikahan ini, tetapi kau begitu cepat pergi dariku!" Guman Ningrum lirih ia begitu rapuh, hancur, namun berusaha tegar, demi Luccy yang kini menjadi yatim piatu dalam usia yang masih begitu kecil.


*****


Ningrum dan juga Luccy, serta jasad Gibran telah tiba di kediaman Gibran. Andini, Rendy dan Yamink ikut menyambut kepulangan mereka.


Sahabatnya itu sudah mengurus segala keperluan fardhu kifayah untuk Gibran para karyawan diperusahaan juga banyak hadir setelah mendengar kepergian Gibran, dimana Gibran merupakan orang penting diperusahaan.


Para keluarga yang berkaitan juga tampak hadir untuk berbelasungkawa.


Andini memeluk Ningrum yang mana matanya telah sembab dan tubuhnya juga tampak lelah. "Yang sabar ya Mbak.." ucap Andini yang disambut isak tangis Ningrum yang menangis dalam dekapan Andini. Akhirnya ia meledakkan juga tangisannya yang selama ini Ia pendam sejak dari kepergian Gibran dilembah bersalju Victoria-Australia.


"Mengapa nasib percintaan mbak Ningrum selalu begini, Mas? baru saja ia merasakan indahnya pernikahan, sudah harus terenggut dengan begitu cepat," ucap Andini lirih sembari membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk fardhu kifayah.


"Huss..!! Gak boleh ngomong begitu! Segala sesuatunya sudah digariskan, dan kita hanya bisa menerima takdir yang digariskan dan percayalah, segala sesuatunya itu akan ada hikmahnya," Rendy menimpali ucapan Andini.


Andini menghela nafasnya. Ia begitu bersimpati melihat sahabat sekaligus orang yang dianggapnya kakak, sebab Andini anak perempuan satu-satunya dengan 3 saudara laki-laki. Sehingga kehadiran Ningrum dalam hidupnya menjadi seseorang yang begitu dekat dengan hatinya, karena ia merasakan seolah menemukan saudari perempuan.


Gibran dimakamkan dengan iringan tangis Luccy dan Ningrum yang menyayat hati. Luccy seolah kehilangan pegangan untuk menjalani hari-harinya. Ia begitu sangat rapuh, apa jadinya ia tanpa Gibran sang papa.


Dekapan Ningrum yang menghangatkan, sedkit mengurangi kesedihannya. Ia menengadahkan kedua matanya yang sembab, menoleh kearah wanita yang sedari tadi berusaha menguatkannya. Tatapannya menghiba pada wanita itu, seolah ada harapan yang ia sandarkan.


Hari berlalu. Luccy masih dalam suasana berduka. Ia belum ingin kembali ke sekolah. Hingga akhirnya Ningrum terus memberikannya semangat untuk kembali melanjutkan aktifitasnya.

__ADS_1


"Papa...." Guman Luccy lirih. Ia masih tak percaya dengan kepergian Gibran yang mendadak dan sekejab saja.


Ningrum dipanggil pihak perusahaan untuk meng-klaim dana santunan untuk Luccy dan juga santunan BPJS-ketenagakerjaan.


Ningrum mengantarkan Luccy ke sekolah, lalu mengurus segala sesuatunya yang mana nantinya akan disimpan untuk keperluan Luccy sebagai biaya pendidikannya.


Saat berada di kantor, tanpa sengaja ia bertemu dengan Bima. Tampak tatapan Bima begitu merendahkannya.


"Sial banget hidup jadi orang, tiga kali menikah, tetapi tidak ada yang bertahan, terakhir menikah harus meninggal dunia pula!" sindir Bima saat berpapasan dengan Ningrum.


Seketika hati wanita itu bagaikan disayat sembilu yang begitu tajam, ingin rasanya ia membalas ucapan Bima, namun ia tidak ingin mempermalukan dirinya ditempat umum, ia hanya dapat menelan semua kepedihannya dengan kesabaran yang masih tersisa didalam dirinya.


Setelah melewati serangkaian wawancara dengan menyertakan berkas-berkas yang diminta perusahaan, Ningrum akhirnya menyelesaikan semuanya. Ia hanya perlu mendatangi kantor BPJS-ketenagakerjaan untuk meng-klaim pencairan dana santunan pekerja yang ikut dalam program tersebut.


Bima mengemudikan mobilnya menuju pulang. Ia merasa begitu senang dengan mendengar kematian Gibran. Entah mengapa hatinya begitu sangat busuk untuk kehidupan Ningrum yang saat ini tertimpa musibah.


"Ningrum, Ningrum...! Sungguh malang sekali nasibmu. Mungkin takdirmu emang tidak bisa memiliki keturunan, kalau sudah mandul, mau ganti sepuluh suamipun gak bakal punya keturunan!" cibir Bima dengan penuh kebencian.


Sesampainya dirumah, ia melihat Nora sedang menimang bayi mungil mereka yang berjenis laki-laki. Nora melahirkan seminggu setelah Syahfitri istri Yamink melahirkan.


Kini rasa sombong dan congkak bergelayut dihatinya. Sebab ia merasa dapat memiliki keturunan dari Nora, sedangkan Ningrum kehilangan suaminya.


Perasaan Nora semakin bertambah senang dengan berita kematian Gibran. Ia mengunggah foto bayi serta mobilnya dengan menuliskan caption 'Kita nikah dapat anak dan juga mobil, lha.. Dia nikah dapat anak pungut dan suaminya mati pula!" tulis Nora dengan tanpa adab dan juga attitude.


Beragam komentar memenuhi unggahannya yang dianggap tidak berperasaan. Berbagai hujatan ditujukan oleh netizen kepada unggahan Nora. Namun Norw menanggapinya dengan sangat santai dan masa bodoh. Ia merasa puas karena sudah dapat memperolok Ningrum.

__ADS_1


__ADS_2