
Setelah acara seserahan diterima, kini Gibran dipanggil wali hakim dan begitu juga Latif untuk menghadap, sebab pernikahan akan dimulai.
Keduanya saling berhadapan untuk melakukan akad nikah dan bertujuan menghalalkan Ningrum.
Sementara Ningrum duduk dipelaminan menunggu acara akad selesai baru Ia akan dipanggil menghadap.
Setelah acara akad nikah selesai, kini keduanya dinyatakan sah menjadi suami istri dan duduk dipelaminan.
Luccy adalah orang paling bahagia dalam acara ini. Ia tidak menduga jika Papanya akan memberiakn kejutan terindah setelah Ia menunggu lama menantikan Ningrum menjadi mamanya.
Andini yang sedari tadi sudah datang memenuhi undangan Ningrum-sahabatnya, naik ke pelaminan bersama Rendy dan mengucapkan doa terbaiknya bagi pasangan yang sedang berbahagia tersebut.
"Selamat ya, Mbak.. Semoga sakinah, mawaddah dan warrahmah" ucap Andini sembati memberikan cipika cipikinya di pipi Ningru.
"Makasih ya, Ndin sudah datang sejak pagi tadi. Kamu sudah makan apa belum? Jangan capek--capek ya, Say" ucap Ningrum dengan senyum manisnya.
Andini menganggukkan kepalanya dan menjabat tangan Gibran serta menyalim tangan Altif dan Syarifah.
Lalu Ia berpamitan kepada Ningrum dan Rendy mengekorinya dari arah belakang.
Rendy menuntun Andini saat menuruni anak tangga karena Ia sedang mengandung dan Rendy takut jika Andini terpeleset.
Begitu haknya Andini. Kang Yamink juga datang memberikan doa terbaiknya.
Sementara itu, Bima merasa bingung untuk hadir atau ke acara pernikahan Gibran yang saat ini sedang berlangung.
"Kamu kenapa, Bang? Dari tadi gelisah terus mondar-mandir gak jelas.." ucap Nora dengan nada ketusnya.
Mendengar omelan dari Nora, Bima berhenti dan menatap pada istrinya.
"Abang dapat undangan nikahan" jawab Bima.
Nora mengerutkan keningnya "Jadibkalau dapat undangan ya ngapain mondar-mandir gak jelas, Gitu?! Ya kan tinggal undangan saja!" jawab Nora kesal.
__ADS_1
Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal "Ini yang Nikah Ningrum dengan pak Gibran! Mau datang gimana, gak datang pak Gibran orang penting dipabrik dan penawaran kerja serta BA dia yang tandatangani" jawab Bima dengan kesal.
Nora terperangah "Haah! Ningrum dapat Pak Gibran? Koq bisa? Bapak CEO itu kan?" tanya Nora memastikan.
Bima menganggukkan kepalanya dan masih berdiri dengan sikap bingung.
"Wah.. Pakai pelet apa si Ningrum itu bisa menggaet hati pak Gibran? Udah tampan, tajir, punya kedudukan penting diperusahaan lagi" ucap Nora tak percaya.
Bima menoleh ke arah Nora" Terus? Kamu menyesal menikah denganku gitu?" tanya Bima dengan ketus.
Nora menatap pada Bima "Yaelah, gitu saja marah! Kan aku ngomong sebenarnya..!" ucap Nora dengan cepat.
Bima mendengus kesal "Sialan..!!!secara gak langsung dia sudah merendahkanku!" Guman Bima dalam hatinya.
"Ya sudah, kalau mau pergi undangan ya pergi, Aku mau ikut!! Sekalian pen lihat mantanmu dipelaminan keq-apa!!" ucap Nora kesal.
Setelah mempertimbangkan banyak kemungkinanannya, akhirnya Bima berangkat juga untuk menghadiri acara resepsi tersebut.
Sesampainya didepan salo, tampak mobil-mobil mewah sedang berparkir sebentar, dan mobil milik karyawan yang memiliki jabatan penting diperusahaan dan membuat Nora tercengang.
Ia turun dari boncengan motor Bima. Meskipun resepsinya tidak semewah bintang lima, namun tamu undangan yamg datang termasuk orang penting didalamnya.
Setelah memasuki tempat resepsi, Nora menggandeng tangan Bima seolah pasangan paling epic sejagat raya.
Setelah melihat pelaminan dan Ningrum menggunakan gaun indah tersebut, Nora tercengang melihat ke anggunan Ningrum ya g sangat memukau (Author gak mau katakan nominal gaun pengantin hingga ratusan juta dan milyaran, sebab setelah Author selidiki, gaji CEO itu hanya sebatas 150-250 juta/bulannya, gak seperti khayalan yang disebutkan dalam cerita fiksi lainnya yang menyebutkan hingga milyaran, kecuali pemilik perusahaan atau disebut presedir perusahaan, maka yang wajar-wajar sajalah ya.. Hahaha)
Setelah melihat keanggunan Ningrum, kini Ia dicengangkan dengan chatering yang menunya pastinya sangat enak sekali.
Nora melihat seorang bocah perempuan yang duduk di kursi pelaminan sisi sebelah kanan, dan pastinya itu Luccy anak Gibran.
"Yaelah.. Baru Nikah sudah ngurusi anak orang, itu akibatnya kalau jadi perempuan mandul" cibir Nora dalam hatinya "Lihat Nih, Aku, gitu coblos langsung jadi" Gumannya dalam hati sembari membelai perutnya yang membuncit.
Keduanya pergi ke prasmanan lalu mengambil makanan dan menyantab makananannya dengan lahab. Setelah itu naik kepelaminan dengan Nora yang tetap menggandeng tangan Bima seolah paling bangga menjadi istri Bima dengan cara merampasnya dari Ningrum, namun bagi Ningrum itu tidaklah penting.
__ADS_1
Saat akan menjabat tangan Syarifah dan Latif, Bima sedikit ragu namun tidak mungkin juga Ia lewati begitu saja.
Seketika wajah Syarifah dan latif berubah drasti saat melihat Bima hadir ke acara resepsi pernikahan puterinya.
Andai ini bukan acara sakral puterinya, sudah tentu mungkin Syarifah akan mencakar wajah Bima yang tak tahu malu karena sudah menjual rumah puterinya dan menikahi wanita tak tahu diri itu.
Bima menjabat tangan wanita senja itu, namu Syarifah menepisnya, Ia terlalu sakit hati, dan rasanya ingin muntah melihat wajah Bima.
Melihat hal itu, Nora memasang wajah sisnis dan tak ingin menjabat tangan Syarifah maupun Latif dan berlalu begitu saja.
Bima menjabat tangan Ningrum dengan gugup dan Ningrum sangat terkejut saat melihat kehadiran Bima, sebab Ia merasa tidak ada mengundang mantan sialannya itu.
Namun Gibran cepat mencairkan suasana tersebut "Eh, Akhirnya datang juga, Pak Bima.. !" ucap Gibran dengan basa-basi.
"Iya, Pak.. Selamat, Ya!" ucap Bima gugup dan beranjak berpamitan.
Seketika Ningrum mengerti jika Gibran yang mengundangnya.
Ada terbesit rasa iri dihati Nora melihat resepsi pernikahan Ningrum, sebab Ia dinikahi oleh Bkma hanya nikah sirri tanpa acara lamaran ataupun resepsi.
Ia berlalu begitu saja tanpa menjabat tangan Ningrum dengan wajah sinisnya.
Saat menuruni anak tangga pelaminan, kaki Nora keseleo akibat menggunakan highless dan Ia meringis kesakitan.
"Awww.. Sakit, Mas" ucap Nora dan menjadi pusat perhatian tamu lainnya.
Bima mencoba memapah tubuh berat Nora karena Nora memiliki tinggi badan 175 cm dan bobot 80 kg merupakan ukuran yang tinggi untuk seorang wanita Asia.
Nora berjalan terpincang karena menahan sakit dipergelangan kakinya dan membuatnya merasa sangat memalukan menjadi pusat perhatian.
Sesampainya diparkiran, Nora menggerutu mengapa nasibnya sialnya hari ini dan menenteng highlessnya dengan perasaan kesal.
Ia naik ke atas boncengan motor sembari mengomel sepanjang perjalanan dan Ia masih tidak percaya jika Ningrum mendapatkan pasangan seperti Gibran dan Bima hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak memungkiri jika Ningrum sangatlah cantik hari ini.
__ADS_1