SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-76


__ADS_3

Gibran melirik Ningrum yang masih tampak gelisah menatap gang depan yang mana Bima tak juga tampak batang hidungnya.


Tak berselang lama, akhirnya muncul juga si pria brengsek semabri berjalan menghi-sap rokoknya.


Ningrum mendenguskan nafasnya dengan kesal. Lalu tampak Bkma berjalan menghampirinya dan duduk dikursi tamu.


Sesaat mata Gibran dan juga Bima saling beradu "Pak Gibran? Datang kemari juga?" tanya Bima dengan raut wajah terkejut.


Gibran tersenyum tipis "Ya.. Ternyata kamu suami Ningrum?" ucap Gibran dengan nada sedikit sinis.


Bagaimana tidak Ia merasa sinis, jika Bima adalah pria pengkhianat yang Ia lihat sedang masuk ke rumah janda yang merupakan pelayan kantin Mbak Raini.


"Wah kebetulan sekali kita ketemu disini ya, Pak? Bapak mengenal istri saya, ya?" ucap Bima hang seakan tak percaya.


"Ya.. Dia teman sekampus saya saat masih kuliah" jawab Gibran sembari melirik Ningrum yang masih berusaha mendengarkan percakapan keduanya.


"Kamu kenal dengan suami saya?" tanya Ningrum penasaran.


"Ya.. Dia kan mengambil proyek ditempat saya bekerja" jawab Gibran.


Ningrum menganggukkan kepalanya mencoba mengerti.


"Ya, sudah.. Saya duluan, Ya.. Oh ya Ningrum, besok jangan lupa ya decor ulang tahun puteri saya" ucap Bima sebelum beranjak dari meja tamu.


Ningrum tersenyum smrik dan menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati dijalan, pak" ucap Bima bersikap sok akrab.


"Ya.. Kamu juga, jangan banyak-banyak merokok, apalagi sampai salah rokok" ledek Gibran dengan nada sinis. Lalu Ia beranjak pergi dengan hati yang sangat kesal.


Entah mengapa Ia merasakn jika Ningrum sangat begitu miris hidupnya mendapatkan pria seperti Bima yang mengkhianatinya dengan wanita pelayan kantin.


"Awas saja, jika aku melihatnya lagi berselingkuh, maka bersiaplah kehancuranmu, Bima! Aku tidak rela jika Ningrum harus jatuh ke tangan orang sepertimu!" ucap Gibran dengan penuh amarah.


Ia merasa tidak rela jika Ningrum harus dikhianati oleh pria seperti Bima.

__ADS_1


Gibran menuju halaman rumah Nora yang mana banyak tamu undangan menumpang parkir deoan halaman rumahnya. Gibran menaiki mobilnya, lalu melaju pergi.


Sementara itu, Ningrum tampak masih kesal dengan Bima yang katanya membeli rokok namun begitu sangat lama.


"Kamu beli rokoknya di Jepang ya, Mas? Sampai segitu lamanya?" tanya Ningrum dengan kesal.


Bima tersentak mendengar ucapan Ningrum "Emmm.. Anu, Sayang.. Tadi Mas duduk diwarung itu sembari merokok" jawab Bima berbohong.


Ningrum mendenguskan nafas kesalnya.


"Jangan marah dong, Sayang.. Kamu tambah cantik kalau marah" ucap Bima dengan segala kata manisnya.


Ningrum melirik Bima dengan malas "Sudahlah, kita pulang saja!" ucap Ningrum beranjak bangkit yang diikuti oleh Bima. Ningrum kembali menemui Andini dan Rendy yang masih melayani para tamu undangannya.


"Ndin.. Mbak pulang, Ya.. Soalnya ada urusan kerjaan buat besok"


"Iya, Mbak.. Makasih sudah mau semptkan datang, Ya" jawab Andini dengan senyum bahagiannya.


"Sama-sama.. Jangan terlalu capek, ya! Kasihan dede bayinya" ucap Ningrum mengingatkan.


Andini menganggukkan kepalanya, Lalu Ningrum berpamitan pulang dan diekori oleh Bima.


Sesampainya didepan salon, Bima turun dari mobil dan memasuki mobilnya, sedangkan Ningrum memasuki salon. Ia ingin mempersiapkan cake ulang tahun untuk puterinya Gibran.


Sedangkan Bima mengendarai mobilnya menuju pulang ke rumah Ningrum.


Sesaat Ningrum teringat sesuatu. Gibran mengenal Bima melalui proyek yang dikerjakannya. Berarti itu menunjukkan jika Gibran merupakan karyawan perusahaan besar tersebut.


Maka dipastikan Gibran mengetahui tentang proyek Bima. Sebab Rendy sudah menyiapkan dua proyek dan kini hampir berjalan tiga, namun proyek Bima satupun tak jua tampak dana yang cair. Namun Ia masih menundanya esok saat bertemu Gibran di acara ulang tahun puterinya.


Sementara itu, Bima merasakan tulang lututnya bagaikan lemah. Bagaimana tidak, subuh bercinta dengan Ningrum, pagi dengan Jenny, siang dengan Nora.


Entah sudah berapa cairan yang Ia buang, hingga Ia merasakan sangat lemah. Ia mencari tukang jamu yang mungkin saja ada lewat dijalanan.


Setelah mencari berkeliling, akhirnya Ia menemukan seorang penjual jamu yang sedang berkeliling dipinggir jalan menjajakan jamunya.

__ADS_1


Ia menepikan mobilnya dan memanggil si Mbak tukang jamu yang sedang berjalan kaki itu.


"Mbak.. Mbak sini, saya mau beli jamunya" ucap Bima kepada si Mbak penjual jamu yang menggunakan pakain pas-body.


Si Mbak penjual jamu segera memutar tubuhnya dan berbalik ke arah Bima.


"Mau beli jamu, Mas?" tanya Si mbak jamu dengan nada genitnya.


"Jamu kuatlah, Mbak! Biar tahan lama. Tangkur putih ada, Gak? Sekalian pakai kuning telor ayam kampungnya " Tanya Bima dengan tatapan genitnya.


Si mbak jamu tersenyum genit. "Ya ada lho, Mas.. Buat tahan lama emangnya tahan berapa ronde toh, Mas.." Tanya Si Mbak Jamu dengan nada genit sembari menyeduh jamu untuk Bima.


"Waaah.. Si mbak ini gak percayaan. Saya satu hari ini udah 8 ronde lho, Mbak.. Bahkan kalau mbaknya penasaran dan pengen cobain saya masih bisa buat dua ronde lagi" ucap Bima, sembari memandang si Mbak jamu dan meminum jamunya hingga habis.


Si Mbak jamu terperangah mendengar ucapan Bima.


"Masa sih, Mas.. Wah ternyata si Mas nya kuat banget, Ya" puji si mbak nya dengan sedikit centil.


Bima tersenyum bangga mendengar pujian dari si Mbak jamu.


"Tentu dong, Mbak.. lelaki itu harus kuat dan tahan lama" balas Bima yang semakin merasa bangga.


Si mbak jamu tersenyum malu-malu "Mas nya bisa saja. Buat saya jadi kepengen saja" balas si mbak jamu.


Bima tersenyum sumringah, karena merasa jebakannya berhasil.


"Kalau mau ya silahkan, Mbak. Tapi jamunya gratis, Ya? Ayo masuk ke mobil, kita cari tempat yang enak buat nyobain.


Tanpa membuang waktu, si mbak jamu langsung naik ke mobil dan membak bakul jamunya.


Bima merasa sangat senang mendapatkan lawan bercinta yang baru, dan tentunya gratis pula.


Bima membawa si mbak jamu ke tempat dimana Ia dan Jenny sering melakukannya.


Si Mbak jamu tampak senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan. Bahkan Ia tak menghiaraukan jika Ia masih memiliki seorang suami, dan ternyata pesona Bima mengalahkan akal sehatnya, bahkan Ia mau diajak bercinta dengan Bima yang baru saja dikenalnya dan bahkan tanpa bayaran.

__ADS_1


Bima menuju sebuah lokasi sepeli yang jarang dilalui orang dan tempat itu selalu dijadikannya tempat bercinta bersama Jenny.


Bagi Bima, jika wanita itu mau bercinta gratis, maka Ia tidak akan menolaknya. Namun jika harus menyewa kamar hotel ataupun wanita itu meminta bayaran, maka Bima akan berfikir dan tentunya Ia tidak akan mau, sebab Ia tidak memiliki uang ataupun karena Ia typikal pelit.


__ADS_2