
Bima tersungkur dilantai rumah Nora, dengan warga yang mulai kepo dan mengintai dari balik pintu rumah.
Ia masih merunduk dan tidak berani menatap wajah Ningrum, sebab warga yang menonton kejadian ini lumayan banyak.
"Heei, Breeengsek..!! Katakan dimana uang hasil penjualan rumah, Ningrum!" hardik Yamink yang sembari mencengkram kerah pakaian Bima.
Bima mencoba menepis cengkraman tangan Yamink, namun Yamink tak ingin melepaskannya. Rasanya Ia ingin melayangkan tinjunya ke wajah Bima saat ini juga. Namun Rendy mencegahnya "Jangan gegabah, Ia bisa justru berbalik membuatmu jadi tersangka penganiyaan" ucap Rendy mengingatkan, sehingga Yamink mengurungkan niatnya, jika tidak wajah Bima sudah bonyok dibuatnya.
Ningrum tak sabar, Ia melayangkan tamparannya ke wajah Bima.
plaaaaaaaak...
"Aaaaaaarrrggh... Wajah Bima meringis kesakitan karena tamparan tangan Ningrum yang sangat keras.
"Breengsek..!! Kembalikan uangku!!" ucap Ningrum dengan wajah kesal dan penuh amarah. Diam hanya terdiam, lalu..
Plaaaaaak..
Sekali lagi Ningrum menampar wajah Bima, dan karena Bima hanya terdiam saja, Ia menjambak rambut Bima dengan kasar.
Lalu Bima mendorong tubuh Ningrum hingga mundur kebelakang dan hampir terjatuh, namun Andini mencoba menahannya.
Warga masih menduga jika peristiwa ini adalah kasus perselingkuhan, sebab Nora selrang janda dan Bima berada dikamar saat ditemukan.
Bima beranjak bangkit dan menuju kamar Nora. Ningrum ingin mengejarnya, namun Andini menahannya. Ia mengambil uang sebesar 150 juta, dan memberikannya kepada Ningrum.
"Ini sisa uangnya 150 juta, dan sisanya akan aku ganti" ucap Bima seenaknya.
"Dasaar bajingaan!! Itu rumahku seharga 1 milyar kau jual setengahnya dan kini kau berikan aku 150 juta?! Dasar manusia laknat!!" ucap Ningrum kesal, dan memukul dada Bima.
Rasanya Ia ingin mencincang tubuh Bima dengan cincangan kecil dan memberikannya pada buaya.
Bagaimana mungkin Ia mengganti uang Ningrum, sedangkan hutang-hutangnya yang kecil saja Ia tidak mau membayarnya.
__ADS_1
Ningrum ingin kembali mengambil rumah dengan cara membelinya, Namun Julian tidak akan semudah itu melepaskannya.
Julian melepasnya jika Ningrum membayarnya seharga 1.5 Milyar, dan itu tiga kali lipat dari harga yang dijual oleh Bima. Ingin membawa ke pengadilanpun juga percuma, sebab Julian memiliki relasi diberbagai orang pemerintahan dan tentunya Ningrum akann sulit melawannya.
Ningrum sangat kesal, hancur dan juga sangat sakit hati. Bahkan Bima Ia temukan dirumah seorang janda setelah menjual rumahnya.
Ternyata Bima banyak berselingkuh dibelakangnya.
"Apa kau fikir aku percaya dengan segala ucapanmu?! Kau itu hanya segumpal toxid yang menajdi racun dalam darah dan daging!" ucap Ningrum yang penuh emosi.
Namun Bima seolah sudah hilang rasa malunya, bagaikan muka tembok yang tak pernah malus meski dilempar kotoran ataupun najis.
"Ceraikan aku sekarang juga! Jikapun kau tak ingin mencetaikanku, maka aku yang akan datang ke kepengadilan agama untuk menunutut cerai!!" ucap Ningrum dengan emosi.
Bima menatap tajam pada Ningrum, dengan senyum sinis dan penuh ejekan Iya menatap dengan tatapan yang sadis.
"Oke..!! Aku ceraikan kamu talak tiga!! Lagipula kamu itu mandul dan tidak akan pernah punya keturunan, buat apa juga saya nikah sama kamu!!" ucap Bima yang sangat menyakitkan hati Ningrum, apalagi warga banyak yang menyaksikannya, dan...
Sebuah tinju melayang menghantam bibir Bima yang dilayangkan oleh Yamink yang sudah tidak dapat mengintrol lagi emosinya.
Bima tersungkur dilantai dengan bibir pecah dan darah mengalir dari bibirnya yang membengkak.
:Eh.. Sialaan!! Setelah habis kau poroti hartanya, seenaknya kau katakan hal itu dengan mulut kotormu! Dasar manusia tidak berguna, mengapa tidak mati saja kau secepatnya !!" maki Yamink dengan geram.
Rendy yang melihat Yamink sudah tidak dapat terkendali, lalu membawa Yamink ke rumahnya dan juga Ningrum dibawa oleh Andini.
Warga mulai membubarkan diri dan kini tinggal Bima dan Nora yang yang saling berpandangan. Tanpa sepengatahuan Ningrum, ternyata Bima menyelipkan uang 70 juta hasil dari penjualan rumah Ningrum.
Sementara itu Yamink yang sudah tak mampu menahan emosinya didudukkan di sofa dan Rendy mengambil air putih dan meminta Yamink meneguknya.
Yamink meraih gelas dan meneguknya dengan cepat. Andai saja Rendy tidak membawanya dari rumah Nora, maka dipastikan Bima sudah habis bonyok ditangannya.
Laku Yamink melirik Ningrum yang masih menangis dalam dekapan Andini.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu cari kiayai deh, Mbak. Kaku itu terkena ilmu pelet deh, sepertinya" ucap Yamink dengan nafas memburu.
Lalu Ningrum menoleh ke arah Yamink dan mencoba menyeka air matanya.
"Kan dari awal sudah saya katakan, Bima itu tidak baik, dan sebaiknya Mbak jauhi, eh! tiba- tiba dah nikah saja dengan tu brenggeseek!!" ucap Yamink dengan geram.
"Sebaiknya Mbak Ningrum tidur disini dulu, esok kita fikirkan apa yang harus dilakukan" ucap Andini mencoba mendinginkan situasi.
Yamink menghela nafasnya dengan berat. "Baiklah, esok kita bahas kagi, dan sebaiknya Mbak Ningrum iatirahat dulu" ucap Yamink. Lalu Ia beranjak berpamitan untuk memberi waktu bagi Ningrum beristirahat.
Andini membuatkan segelas teh manis hangat untuk Ningrum. Ia tidak dapat mengungkapkan perasaan saat ini, namun hatinya juga sakit saat mengetahui jika rumah Ningrum telah dijual secara diam-diam oleh Bima.
Andini sampai membelai perutnya dan mengucapkan istighfar karena takut anaknya kelak memiliki sifat seperti Bima.
Bagaimana mungkin ada manusia sejahat itu, yang begitu tega memoroti harta benda istrinya dengan begitu sangat dzhalimnya.
Setelah menyeruput teh manis hangatnya, Ningrum sedikit merasa mulai dapat mengontrol nafasnya yang tersengal karena menahan emosi yang begitu sangat meluap.
"Ayo, Mbak.. Ke kamar sebelah, istirahat dahulu, esok kita fikirkan jalan apa yang harus kita tempuh" ucap Andini membawa Ningrum kedalam kamar sebelah.
Setelah Ningrum memasuki kamar, Andini keluar dari kamar Ningrum dan menghampiri Rendy.
Ia menyandarkan kepalanya dipundak suaminya. Tanpa terasa air matanya mengalir denga tanpa bisa ditahan.
"Mengapa Nasib Mbak Ningrum begitu sangat mengenaskan, Mas? Begitu jahatnya Bima sebagai seorang manusia!" ucap Andini sembari terseduh.
Andini membayangkan rumah seharga 1 milyar itu dijual dengan seharga setengahnya saja, lalu Ningrum hanya di berikan uang 150 juta saja. Itu sungguh perbuatan kriminal dan sangat menyakitkan.
Rendy hanya bisa membelai rambut Andini. Ia juga tidak menyangka jika Bima sampai setega itu. Ia baru menyadari jika Bima sedang terdesak karena proyeknya yang mendapatkan musibah tersebut. Namun bukan berarti Bima menjual rumah Ningrum.
Sementara itu, Ningrum yang berada didalam kamar tampak menangis tersedu, Ia tidak menduga jika dalam tiga bulan menikah dengan Bima Ia harus kehilangan rumah bahkan uangnya yang sudah entah berapa ratus juta yang hanya untuk menutupi segala hutang piutang yang diciptakan oleh Bima.
Karena kelelahan, Akhirnya Ia tertidur dalam luka hati yang mendalam, apalagi Bima mengatakan jika diirnya adalah wanita mandul yang tak pantas dinikahinya.
__ADS_1