
Ningrum bergegas ke dapur. Ia mempersiapkan bahan yang akan dimasaknya untuk makan malam mereka. ia akan membuat Luccy merasa dihargai usahanya selama ini.
Saat ia sibuk dengan aktifitasnya, sebuah notif masuk ke dalam kotak pesan di phonselnya. Ningrum mencoba membukanya, dan ternyata Bank-ing dari nomor rekening transfer yang telah dikenalnya.
"Andy.." gumannya lirih. Ia menatap nanar pada pesan teks yang dikirim oleh salah satu nama bank terkemuka.
Sembukan tahun berlalu, dan ia hampir melupakan pria itu, kini ia tiba-tiba datang hanya dengan memberikan transferan saja.
Ningrum mencari nomor pria tersebut, tidak ada, sebab ia sudah menghapusnya, namun anehnya ia masih menghafal nomor itu dengan baik.
Ningrum mengetik nomor yang dihafalnya, namun tidak tersambung, dan berada diluar jangkauan. Ningrum mengacak rambutnya, berkacak pinggang, dengan fikirannya yang kalut.
Ia terus mencoba menghubungi nomor pria tersebut, namun tak juga dapat tersambung, dan pihak operator mengatakan jika nomor diluar jangkauan.
"Andy... Dimana kamu? Mengapa kau melakukan ini padaku?!" Ningrum bersandar didinding dapur, sembari menengadahkan kepalanya, ia mencoba mengingat wajah pria yang penuh dengan misteri tersebut, namun bayangan itu tak dapat menampilkan wajah sang pria.
Ningrum kembali menekan tombol hijau untuk nomor tersebut, namun tak juga tersambung. Ningrum menghela nafasnya dengan kasar.
Sementara itu, pria nun jauh disana, menatap layar phonselnya, menghapus jejak transaksinya, dan menonaktifkan phonselnya, lalu menyimpannya dalam sebuah tas sandang miliknya yang terbuat dari kulit asli.
Kemudian ia meraih phonsel lainnya, dan berselancar didunia maya.
Bersamaan dengan hal itu, tampak seorang wanita masuk ke dalam kamarnya, tempat dimana ia sedang beristirahat, karena baru saja pulang dari pertambangan, sebab mendengar kabar jika ibunya sedang sakit parah.
"Mas... Makan siang untukmu sudah ku persiapkan," ucapnya lirih.
Pria yang tak lain adalah Andy menganggukkan kepalanya. "Keluarlah terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul," titahnya kepada wanita tersebut.
Wanita itu mematuhi ucapannya, dan bergegas keluar, tak ada bantahan darinya, ia terlalu penurut. Namun wanita yang sudah menjadi istrinya sejah 5 tahun yang lalu itu, merasakan jika ia hanyalah sebatas istri diatas kertas dan juga ranjang, sebab sorot mata pria bukanlah untuknya, dimana ketika raga bersamanya, namun jiwanya pada wanita.lain, entah siapa..
Ningrum terisak dalam tangisnya. Ia tidak tahu dengan perasaannya. Sejujurnya Andy adalah cinta yang tidak dapat dilupakannya hingga kini, namun sepertinya takdir berkata lain padanya.
"Jangan lakukan ini, ku mohon.. Andai kau sudah menikah, bahagiakanlah dia.. Jangan pernah sakiti hatinya dengan cara mentransfer uang padaku, ini sama halnya kau melukainya. Doakan saja aku memiliki tubuh yang sehat, agar tetap dapat mencari nafkah, tanpa harus kamu kirimkan uang," keluh Ningrum yang mengetiknya dengan sangat cepat, dan akan mengirimkan pesan teks tersebut, berharap jika phonsel pria itu aktif akan masuk pesan tersebut.
Namun Ningrum terdiam sejenak. Bagaimana jika benar Andy sudah menikah, dan tanpa sengaja istrinya yang mengkatifkan phonsel itu dan membaca pesan darinya? Bukankah itu akan bertambah melukai wanita yang kini menjadi istrinya? Ningrum dilema.
Perlahan ia menghapus kembali pesan teks yang sudah ia ketik dengan terburu-buru tersebut, lalu membatalkannya.
Sementara itu, Andy keluar dari kamarnya. Ruang kosong didalam hatinya, hanya terisi sebuah nama yang tak lekang oleh waktu, 'Ningrum'.
Ia bagaikan sosok seekor burung yang memiliki sayap patah, berusaha sebisa mungkin melupakan tiap bayangan wanita tersebut, namun semakin ia melupakannya, semakin dalam perasaannya, dan ia tak dapat terbang jauh, meski berusaha untuk terus mencoba mengepakkan sayapnya, tetap saja ia tak mampu.
__ADS_1
Ia menyadari sebuah kesalahan besar dengan menikahi Arumi yang mana atas permintaan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan, agar ia segera menikah, karena sang ibu menginginkan seorang cucu.
Ia tak dapat lagi menghindari takdirnya, saat perjodohan terjadi, sebab semua demi sang ibu.
Namun dosa yang ia sadari karena telah mengabaikan perasaan wanita yang kini telah setia mendampinginya dengan penuh kesabaran, karena ada cinta yang belum usai.
"Tuhan... Jika ia bukan jodohku, mengapa perasaan ini begitu kuat? Mengapa harus ada cinta yang tumbuh, sedangkan ia bukan tulang rusukku," gumannya lirih dalam hati.
Ia menghela nafasnya yang dengan lemah. Rasa sesak bergelayut didadanya. Bayangan wajah wanita yang telah mengikatnya dalam sebuah angan yang tak sampai.
Perlahan ia baranjak dari ranjangnya, menuju pintu dengan langkah lemah. "Mungkin kita tidak akan pernah bersatu dalam raga, namun biarkan aku menjaga rasa ini tetap ada didalam relung hatiku, tersimpan dipalung terdalam, sehingga tak dapat sesiapapun menyelaminya, hanya aku yang tahu, seberapa dalam perasaan ini padamu," gumannya lirih dalam hati yang tak terperih.
Saat Andy membuka pintu kamarnya. Seorang bocah perempuan usia empat tahun berlari ke arahnya, ia sudah sedari tadi menunggu pria itu datang ke meja makan, dan berusaha menahan laparnya, demi untuk makan bersama dengan pria yang ia sebut papa.
"Papa..." teriaknya. Kemudian mengulurkan tangannya ke arah pria tersebut, meminta untuk disambut dalam dekapannya.
Andy menyambutnya, membawa dalam dekapannya, dan siapa sangka, jika wajah bocah perempuan tersebut, mirip dengan seorang wanita bernama Ningrum, dan hal itu terjadi karena setiap kali ia bercinta, selalu membayangkan wajah Ningrum dalam imajinasinya.
Jahat? Apakah kata itu pantas disematkan untuknya? Ya... Namun sebuah perasaan tidak dapat dipaksakan, biarkan saja ia mengalir, dan bersama waktu semua itu akan ada jawabannya.
Mungkin ia jahat sebagai suami, tetapi ia ayah baik bagi puterinya. Ia jahat dalam perasaannya, namun semua kebutuhan istrinya terpenuhi dengan baik.
"Papa lama sekali, Alicia sudah lapar!" rengek bocah perempuan itu setelah berada didalam dekapan Andy.
"Maafin papa, Sayang," ucapnya tenang, lalu mengecup lembut pipi Alicia yang menjadi buah pernikahannya.
Sementara itu, Ningrum meringkuk disudut ruangan dapur. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Andy bagaikan sosok angin yang datang dan pergi sesuka hatinya.
"Andy.. Mengapa kau melakukan ini padaku..? Ini tidak benar! Jika Kau sudah menikah, katakanlah! Dan jangan pernah lagi mengirimkan uang untukku! Bahagialah dengannya disana," rintih Ningrum dengan hati begitu hampa.
Ia menopangkan dagunya diatas kedua lututnya. Isakan tangisnya begitu sangat memilukan.
Saat bersamaan, Sary masuk ke dalam ruqng dapur. Ia ingin memberitahu jika Yamink datang mengantarkan pesanananya. Dimana pria itu bukan hanya sebagai pemasok kosmetik saja, tetapi Syahfitri juga sudah membuka gerai makanan dan minuman yang menggugah selera.
Yamink membawa 6 cup salad buah, juice buah, serta seblak aneka topping dengan pedas level dower yang menjadi pesanan Ningrum.
Sary terheran-heran melihat majikannya yang tampak begitu memprihatinkan dengan isakan yang kentara dengan guncangan dibahunya.
Sary terdiam sejenak, lalu memilih keluar dari ruangan dapur.
Ningrum tersentak, saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menengadahkan kepalanya, tampak Andini sudah berada didepannya, bersama Yamink.
__ADS_1
Andini mengulurkan tangannya, meraih bahu wanita tersebut, lalu membantunya untuk berdiri tegak.
Andini menggiringnya ke kursi makan, lalu menariknya, agar Ningrum duduk dan menenangkan diri.
Namun ia justru mendekap tubuh Andini. Ia menangis dan menumpahkan segala rasa resahbdan gelisahnya. Andini membelai punggung sahabatnya, ia tidak tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi, namun yang pastinya, sahabatnya itu butuh bahu untuk bersandar.
Andini memberikan waktu untuk sahabatnya mengontrol emosinya, ia tidak dapat memaksa Ningrum untuk mengatakan apa yang menjadi permasalahannya saat ini.
Setelah ia mengontrol emosinya, Ningrum melepaskan dekapannya, kemudian menyeka air matanya, dan duduk dikursi makan, meski derai air matanya masih berlinang.
Yamink dan Andini juga duduk dikursi makan, keduanya masih terdiam, menatap sahabatnya yang tampak berusaha menenangkan emosi dirinya.
"A-Andy... Ia sudah menikah.." isaknya kembali pecah.
Seketika Andini dan juga Yamink saling pandang. Keduanya hanya mendengar cerita dari Ningrum, jika pria bernama Andy selalu mengirimkan uang kepada sahabat mereka. Namun mereka sendiri tidak pernah tau seperti apa rupa Andy yang sesuangguhya, sebab pria itu mirip seperti dongeng sebelum tidur.
Sebab sosoknya sangat berbeda jauh pada pria lainnya. Pria itu mencintai dengan caranya yang berbeda.
Keduanya masih terdiam, mencoba untuk mendengarkan semua penjelasan dari Ningrum.
"Apakah Mbak masih menyimpan rasa yang sama?" tanya Andini dengan penuh selidik.
Ningrum terdiam. Ia tak dapat memungkiri hati dan perasaannya, jika ia masih memiliki rasa itu. Namun ia tidak ingin semuanya menjadi boomerang bagi dirinya.
ia mencoba mengangguk dengan lemah. Ia sendiri tidak tahu jika perasaannya itu sesuatu yang salah.
"Apakah aku salah jika menyimpan perasaan itu?" tanyanya dengan hati yang sangat merintih. Tatapannya terlihat begitu sayu, yang terlihat jelas menggambarkan hatinya yang rapuh.
"Perasaan itu tidak salah, namun jika Mbak dapat melawannya dan mencoba melupakannya, bersama seiring waktu, semuanya akan menghilang!" ujar Andini.
"Aku sudah mencoba melupakannya, menghapus nomornya, namun siaalnya, aku masih saja menghafal nomornya diingatanku. Bahkan sembilan tahun berlalu, aku berusaha untuk tidak mengungatnya, namun ia justru datang dan pergi sesuka hatinya," ungkap Ningrum dengan penuh kejujuran.
"saya bingung untuk memberikan pendapat apa jika berurusan dengan perasaan, namun satu hal yang harus kita ingat ialah, ada wanita sah yang mendampingi hidupnya!" Yamink menimpali ucapan Andini.
"Justru karena itu, aku berusaha untuk melupakannya, namun semakin jauh aku mencoba berlari dari semua bayang-bayangnya, aku justru terjerat dalam kenangan yang seharusnya tidak lagi aku mengingatnya," jawab Ningrum.
Andini dan Yamink mencoba memahami tentang apa yang dihadapi oleh sahabatnya.
"Sudahlah, Mbak.. Mari makan salad buahnya, sayang tuh, mayonisenya sudah meleleh dan juicnya sudah hilang esnya," sela Andini.
Ningrum baru tersadar jika ia tadi memesan makanan dan minuman dari Yamink sahabatnya.
__ADS_1
"Emm.. M-maaf, Kang.. Aku terlalu larut dalam masalahku, sehingga lupa dengan yang ku pesan," ucap Ningrum, sembari menyeka air matanya.