SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 21


__ADS_3

Ningrum menghela nafasnya dengan berat. Bagaimana mungkin Bima melamarnya dengan uang berhutang, bahkan kini Ia yang harus membayarnya.


Namun anehnya, ia tak sanggup untuk marah kepada pria itu, dan lagi-lagi Ia harus mengalah.


Ningrum kembali ke lantai dua tempat ruang ternyamannya.


Saat akan menapaki anak tangga, Ia berpapasan dengan Jenny yang tampaknya baru dari atas gudang mengambil stok untuk spa.


Namun akhir-akhir ini Jenny tampak selalu menghindari tatapannya dan tak seramah dulu. Namun Ningrum mencoba tak menggubrisnya, karena Ia sudah sangat lelah dengan ulah Bima yang kini harus menguras isi dompetnya.


Ningrum memasuki ruang kerjanya. Baru saja Ia duduk dikursinya, Andini datang dengan nyelonong saja yang membuatnya tersentak kaget.


"Ya ampuun.. Ndin.. Kamu ini ngagetin tau.." omel Ningrum yang tampak sekali wajahnya kusut.


"Koq bisa, Mbak? Biasanya orang yang kaget itu karena kebanyakan melamun atau sedang memikirkan sesuatu" jawab Andini sekenanya, lalu duduk dikursi depan meja kerja Ningrum.


Ningrum hanya mendenguskan nafasnya dengan berat.


"Ada masalah apa sih, Mbak?" Tanya Andini dengan penuh penasaran.


Seketika Ningrum tergagap. Tidak mungkin juga Ia mengatakan hal memalukan jika Bima melamarnya dengan uang hasil berhutang dan kini hutang itu Ia yang membayarnya.


"Tidak apa-apa.. Hanya sedikit tidak enak badan saja" Jawab Ningrum berbohong.


Andini melihat raut wajah sahabatnya tampak sangat penuh beban, namun Andini tidak mungkin juga akan memaksa seseorang untuk membuka rahasia pribadinya, karena setiap orang memiliki rahasia hidup yamg orang lain tidak perlu tau meskipun itu orang terdekatnya.


"Jaga.kesehatan, Mbak" ucap Andini lirih. Sebenarnya ingin Ia ungkapkan bagaimana kelakuan busuk Bima dibelakang sahabatnya, namun Rendy melarangnya, dan Ia tak berani melanggarnya, sebab Ia takutnya jika nanti Ningrum tidak mempercayai apa yang dilihatnya dan lebih mempercayai Bima, yang ada persahabatan mereka yang rusak.


Ningrum menganggukkan kepalanya "Iya.. makasih atas perhatian kamu, Ya." jawab Ningrum sembari senyum yang dipaksakan.


"Mbak.. Aku kemari mau pesan decor pelaminan yang sederhana saja, namun ya gak murahan juga. Sebab kami berencana uang dari lamaran Mas Rendy untuk membeli rumah bersubsidi biar gak ngontrak terus, Mbak.. Namanya juga sudah menikah, gak enak juga numpang dirumah orang tua" ucap Andini dengan jujur.


Ningrum menganggukkan kepalanya "Untukmu Mbak kasih diskon dan satu pakaian adat yang masih segel yang belum dipakai oleh pengantin manapun" jawab Ningrum yang akan memakaikan baju adat minangkabau yang berwarna hijau botol yang dipesannya kepada Yamink tempo hari.


"Wah.. Makasih banget, Mbak.. Kamu banget deh.. Dikasih diskon double juga aku gak nolak" jawab Andini penuh semangat"

__ADS_1


"Hadeew.. dasar Nih, anak.." omel Ningrum sembari melirik tangan Andini yang tak biasanya karena tidak membawa camilan.


Andini hanya cengengesan saja menanggapi omelan Ningrum.


"Heemm.. Ada yang beda" sindir Ningrum.


"Apaan..?"


"Gak bawa camilan" Ucap Ningrum.


Andini nyengir "Diet, Mbak.." jawab Andini.


Ningrum memanyunkan bibirnya "gayamu mau diet" ledek Ningrum.


Dan obrolan mereka terhenti saat phonsel Andini berdering dan satu panggilan masuk dari Rendy.


Andini mengangkatnya "Iya, Yank.. Ada apa?" tanya Andini dari seberang telefon.


"Mas sudah didepan salon Mbak Ningrum, buruan, katanya mau cari seblak pedas" jawab dari seberang telefon.


Percakapan itu tanpa sengaja didengar oleh Ningrum dan membuat Ningrum membolakan matanya.


Seketika Ningrum menggelengkan kepalanya atas kelakuan Andini.


Tak berselang lama, Bima datang ke salon dan menuju ruang kerja Ningrum. Saat menapaki anak tangga, Bima berpapasan dengan Jenny.


Melihat situasi sepi, Ia menyempatkan menggengam buah melon Jenny sembari mengedipkan sebelah matanya dan bergegas menaiki anak tangga, lalu memasuki ruang kerja Ningrum yang tampak sedang memilah pakaian pengantin yang akan digunakan oleh Andini diacara resepsinya nanti.


"Hai, Cantikku" sapa Bima dengan segala keromantisan dan juga gayanya merasa paling mencintai.


Ia mendekap Ningrum dari arah belakang, sembari memberikan kecupan mautnya yang membuat Ningrum melupakan masalah pagi tadi saat Ia harus menguras dompetnya untuk menutupi hutang Bima.


"Bagaimana hasil meeting dengan CEO pagi tadi Mas?" tanya Ningrum penuh harap.


"Aman, Sayang.. Mas sudah mendapatkan proyek untuk memperbaiki dan mengganti kerusakan compeor diperusahaan tersebut. Namun masih dalam penawaran harga dan dalam satu minggu akan keluar hasilnya" jawab Bima dengan meyakinkan hati Ningrum.

__ADS_1


Wanita itu menganggukkan kepalanya, dan berharap Bima benar-benar dalam ucapannya.


"Syukurlah.. Semoga menjadi berkah.." jawab Ningrum dengan tulus.


Bima kembali menyesap bibir sang wanita yang membuat Ningrum merasa Bima begitu mencintainya.


"Emm.. Sayang.. Mas boleh minta sesuatu gak?" tanya Bima setelah melepaskan sesapan bibirnya.


Ningrum mengerutkan keningnya "Minta apa, Mas?" tanya Ningrum dengan penasaran.


"Emmm... Kan seminggu lagi Mas mau dapat proyek. Trus kamunya juga ada pekerjaan. Mas mau minta tolong belikan mobil untuk tranportasi. Jadi kamu tidak terganggu jika ada job pekerjaan decor pelaminan, dan Mas juga bisa fokus bekerja" ucap Bima dengan tatapan yang dalam menembus kedua retina Ningrum dan lagi-lagi Ningrum luluh.


"Tapi keuangan Ningrum sudah menipis, Mas" jawab Ningrum jujur.


Bima memutar otaknya dan Ia harus dapat merayu Ningrum untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kamu jual saja kebun kelapa sawit kamu 2 hektar , Sayang.. Kan cukup untuk membeli mobil. Lagian kebun kamu juga masih sisa banyak" ucap Bima mulai memepengaruhi Ningrum.


Seketika Ningrum membolakan matanya atas saran yang diberikan oleh Bima.


"Wah.. Ayah bisa marah, Mas.. Sebab kebun kelapa sawit itu tidak boleh dijual, dan pastinya ayah gak ngijinin" jawab Ningrum menjelaskan.


"Itukan kebun kelapa sawit milik kamu, kenapa Ayahmu harus melarangmu?" ucap Bima dengan segala tipu dayanya.


Ningrum terdiam dan merasa sangat dilema.


"Ayolah, Cantikku, Sayangku.. Masa Iya sih Kamu tega melihatku harus naik motor pulang pergi minjam mobil kamu terus" rengek Bima yang terus-menerus mempengaruhi Ningrum.


Sesaat Ningrum menjadi goyah. Ia mencoba menawarkan mobil secound saja kepada Bima. Namun dengan tegas Bima menolak. Ia tidak ingin mobil secound. Ia inginkan mobil baru yang benar-benar keluar dari toko.


Semua itu tak lepas dari keinginan untuk menunjang gayanya yang agar selalu terlihat staylis dan juga terkesan macho.


"Nantilah, Mas...saya akan coba bujuk ayah agar mengijinkannya untuk menjual dia hektar kebun kelapa sawit dengan tidak menyebutkan untuk membeli mobil, melainkan untuk tambahan modal usaha salonnya.


Seketika Bima tersenyum sumringah. Ia merasa kali ini Ningrum akan mengabulkan keinginannya.

__ADS_1


"Terimakasih, ya Sayang.. Mas makin cinta deh sama kamu" ucap Bima, yang hanya sebuah bualan belaka.


Ningrum mencoba menuruti segala permintaan Bima, sebab Ia juga perlahan mencintai pria tersebut dan hal itu yang membuatnya tak lepas dari rasa hati yang langsuung lemah menghadapi Bima Anggara.


__ADS_2