SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 58


__ADS_3

Ningrum terbangun saat hari sudah menjelang sore. Ia menggeliatkan tubuhnya, tampak Sary dan juga yang lainnya sedang membersihkan salon dari sisa-sisa potongan rambut dan lainnya.


Ningrum beranjak dari duduknya dan menuju pembukuan salon untuk melihat pendapatan dan pengeluaran dari salon hari ini.


Setelah melihatnya, pendapatan hari ini tampak sepi, namanya juga ya ada passang surutnya layaknya sebuah ombak dilautan, tidak selamanya selalu ramai atau beruntung.


Ningrum memasukkan penghasilannya hari ini kedalam dompet khususnya untuk pendapatan salon.


Ia bergegas pulang dan dan ingin segera membersihkan dirinya. Saat ini merasa sangat pusing dengan berbagai permasalahan yang ada.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan membeli makan malamnya lalu kembali ke rumah.


Sesampainya dirumah, Ia segera menuju kamar amndi dan membersihkan dirinya. Ia tidak menyimpan uang pendapatan salon pada rekeningnya, karena Ia berniat untuk mentransfernya saja esok hari bersama pendapatan esok.


Ia menyimpan uang tersebut didalam laci nakasnya, dan turun ke lantai dasar untuk menikmati makan malambya yang tadi dibelinya saat arah pulang.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Ia berniat hendak keluar untuk berjalan-jalan sore dan mengjilangkan segala kepenatan beban fikirannya yang saat ini begitu membebaninya.


Ia menuju mobilnya yang terparkir dihalaman rumahnya. Ia mengemudikannya, lalu mematikan phonselnya terlebih dahulu dan melajukan mobilnya menuju pusat kota untuk sekedar menik- mati suasana keindahan kota saat malam hari.


Ia menuju taman dan tempat pusat kuliner yang banyak menjajakan berbagai macam makanan minuman yang bisa didapatkan ditempat itu dengan harga yang terjangkau dan pastinya dengan rasa yang memu- askan pula.


Ningrum memesan minuman untuk dirinya sendiri, dan setelah mendapatkannya, Ia duduk disebuah bangku yang menghadap arena bermain untuk anak-anak.


Tanpa sengaja pandangannnya tertuju pada sosok Riffky yang saat ini sedang membawa tiga orang anak sambungnya sedang mencoba berbagai permainan di arena bermain tersebut.


Ningrum merasa jika Riffky begitu sangat bahagia meskipun itu hanya anak sambungnya, namun Ia menyayanginya sepenuh hati, dan tampak istrinya yang sedang mengandung besar duduk disebuah bangku semabri memperhatikan Riffky yang dengan begitu sabarnya mengasuh ketiga anak sambungnya.


Sakit.. tentu saja ada rasa sakit dihatinya, saat mengingat wanita itu telah merebut orang yang Ia cintai dengan begitu mudahnya.


Namun haruskah Ia menyalahkan wanita itu jika saja Riffky tak tergoda, maka itu semua tidak aka n terjadi.


Ningrum menghela nafasnya dengan berat, dan membuang pandangannya ke tempat lain, Ia tidak ingin melihat pemandangan yang begitu menyayat hatinya.

__ADS_1


Saat Ia membuang pandangannya ke tempat lain, tampak olehnya Andini dan juga Rendy yang sedang berboncengan menggunakan sepeda motor maticnya. Andini tampak mengeratkan dekapan dipinggang sang suami yang tampak membuat mereka begitu romantisnya.


Rendy memarkirkan motornya, lalu mereka berjalan menyusuri penjual kuliner dan memesan sesuai dengan selera Andini.


Tampaknya Rendy selu mengikuti apa saja yang diinginkan oleh Andini, baik itu makanan atau apapun itu.


Sepanjang mereka menyusuri penjual kuliner, tangan Rendy selalu menggenggam pergelangan tangan Andini kemanapun mereka melangkah.


Dan saat yang bersamaan, Yamink bertemu dengan Andini yang juga sedang berburu kuliner bersama istrinya.


Mereka semua tampak bahagia, lalu mengapa Ia kini sendiri dalam kesepian, dan juga kesedihan.


Ia hanya mampu tersenyum miris dengan kehidupannya yang sedang Ia jalani. Ia menghela nafasnya dengan sangat berat.


Sementara itu, Bima dan kedua adiknya sudah sampai di rumah Ningrum.


Bima sedikit merasa aneh kerena tidak melihat mobil Ningrum terparkir dihalaman rumah.


"Kemana, Dia? Apakah masih disalon?" guman Bima dengan wajah kesalnya karena masih mengingat pertengkarannya dengan sang welder siang tadi.


Sesampainya dikamar, Ia tak melihat Ningrum, Ia merasa jika Ningrum sedang disalon atau sedang membeli sesuatu diluaran sana.


Bima segera membersihkan tubuhnya, dan menyalin pakaian santainya. Sesaat Ia merasakan mulutnya terasa masam karena rokoknya sudah habis sedari siang tadi karena Yudi juga menghi-sapnya.


Ia membuka dompetnya dan melihat isinya hanya tinggal untuk membeli bahan bakar selama seminggu saja.


Ia berfikir bagaimana caranya agar dapat merokok malam ini. Meminta untuk Ningrum membelikannya wanita itu tak ada dirumah, dan saat dihubungi nomornya ternyata tidak aktif.


Kantin perusahaan sudah tidak ada yang mau dijadikan tempatnya berhutang, Ia merasa galau.


Entah mengapa Ia merasa mencoba untuk mencari uang receh yang mungkin saja ada disimpan Ningrum sisa darinya berbelanja.


Ia membuka pintu lemari kamar dan mencari dibawa lipatan pakaian, tetapi tidak ketemu.

__ADS_1


Entah mengapa firasatnya tertuju pada laci nakas.


Ia membukanya, dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat isi laci nakas ada satu ikat uang yang tersimpan didalamnya.


Bima menariknya dua lembar ratusan ribu dan menganggap jika Ningrum tidak akan menyadarinya jika hanya dua lembar saja.


Lalu Ia bergegas turun ke lantai dasar dan berjalan menuju warung terdekat untuk membeli dua bungkus rokok dan pemantik api.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Ia kembali pulang, dan melihat Ningrum belum juga kembali.


Bima menyingkap tudung saji, dan hanya ada masakan siang tadi, Ia terpaksa memakannya.


Tak berselang lama, Ia mendengar suara deru mesin mobil Ningrum memasuki garasi dan suara Ningrum keluar dari dalam mobil.


Setelah itu Ia menutup pintu pagar dan menguncinya.


Ningrum membuka pintu rumah, dan Ia melihat Bima sedang berada diruang tamu dengan meng- hisap rokoknya.


Ningrum sebenarnya lagi tidak ingin bicara kepada Bima masalah hutang di kantin Mbak Raini, Ia berniat akan membahasnya esok pagi.saja, sebab Ia sangat lelah.


"Dari mana saja, Kamu?" tanya Bima seolah suami paling perhatian.


Ningrum hanya diam saja dan berlalu pergi, membuat Bima semakin kesal karena diabaikan.


Melihat Ningrum menapaki anak tangga dan menuju kamar, Bima mengjela nafasnya.


Terkadang Ia merasa bingung mengapa hari ini orang-orang bertingkah seperti membangkangnya.


Bukankah pengarus dari semar mesem yang bersal dari logam.kuningan pipih itu membuat setiap orang harus tunduk dan patuh pada perintahnya. Tetapi hari ini semua orang Ia anggap menyebalkan.


Ningrum memasuki kamarnya, lalu berbaring di tepian ranjang dan memilih untuk tidur.


Bima mengikutinya dari arah belakang dan melihat Ningrum sudah memejamkan matanya. Ia ingin membangunkannya, namun Ia juga tidak ingin berdebat dengan wanita itu karena bagaimanapun Ningrum adalah mesin ATM-nya dan Ia harus dapat menjaga mesin itu diperbaiki, dan saldo tetap berjalan.

__ADS_1


Bima memilih untuk diam dan menaiki ranjang lalu ikut berbaring diatas ranjang. Namun Ia memilih untuk berselancar di dunia maya dan ber chat ria dengan para wanita yang menurutnya dianggap masuk kriterianya.


__ADS_2