
Ningrum memanggil para tukang untuk mengubah salonnya menjadi salon sekaligus tempat tinggalnya. Ia merancang sendiri desainnya dan menambah satu lantai lagi diatas karena luas tanah yang tidak memungkinkan untuk ditambah kesamping atau ke belakang.
Untuk sementara, Ningrum meliburkan salon, hingga sampau renovasi salonnya berhasil.
Beberapa barang yang tidak mungkin dapat Ia masukkan kedalam kediamannya Ia bagikan kepada Andini dan juga Yamink seperti sofa yang terlalu besar, maka sebagian Ia ambil, sebagian Ia berikan kepada Andini dan kang Yamink.
Dua lemari kristal untuk hias yang berukuran besar dan tidak muat di rumah barunya juga Ia bagikan kepada Andini dan juga Kang Yamink, Ia hanya memilih barang yang sesuai dengan kondisi rumahnya saat ini, hanya saja Ia menjual ranjangnya, sebab Ia melihat ranjang itu dijadikan tempat untuk bercinta Jenny dan Bima saat Ningrum tanpa sengaja melihat foto diaplikasi chat Jenny dan itu sangat menjijikkan.
Setelah berhasil menjual ranjang itu, Ningrum memilih memberikan uang hasil penjualan ranjang itu kepada para pengemis dan fakir miskin.
Ternyata selama ini aroma parfum yang menempel dispreinya waktu itu adalah milik Jenny yang menempel saat Bima dan Jenny bergumul.
Hatinya berdenyut sakit saat membayangkan hal tersebut, dan Ningrum lebih memilih membeli ranjang baru.
Sesaat hatinya merasakan luka menganga itu kembali lagi terbuka, sebuah goresan hati yang bagaikan tersayat tajamnya sembilu, membuat Ningrum menggigit bibirnya, mencoba menahan butiran bening yang akan jatuh membasahi pipi halusnya.
Saat bersamaan, Gibran datang tanpa memberi kabar. Ternyata Ia lagi sedang ada perjalanan keluar kantor, lalu mencoba singgah ke salon Ningrum yang tampaknya sedang mengalami renovasi.
Sebuah panggilan masuk ke dalam phonsel Ningrum, lalu Ia melihat satu nama 'Gibran' .
Ningrum menggeser tombol hijau, lalu menjawab panggilan tersebut "Ya, Hallo" ucap Ningrum yang saat ini sedang berada dilantai dua bersama para tukang untuk menjelaskan desain yang Ia inginkan.
"Bisa ngobrol sebentar? Aku lagi dibawah" ucap Gibran.
Karena penasaran, Ningrum melongok dari jendela kaca dan melihatvGibra melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Lalu Ningrum beranjak turun dan memutuskan panggilan masuknya.
Setelah sampai didepan mobil Gibran, Ningrum masih berdiri mematung.
"Masuklah, kita cari tempat untuk mengobrol sebentar" ucap Gibran menawarkan.
Ningrum mengerutkan keningnya "Emm.. Kita ngobrol didepan saja, diwarung nasi Padang itu" ucap Ningrum menyarankan.
Saat ini Ia lagi badmood, namun Ia juga butuh teman curhat dan tempat berbagi kesedihannya.
Gibran menganggukkan kepalanya, Ia lagi tidak ingin menambah kesedihan Ningrum dan menuruti saja apa yang akan inginkan oleh wanita yang sedang patah hati itu.
__ADS_1
Gibran turun dari mobilnya dan mengikuti Ningrum yang sedang menyeberangi jalan.
Sesampainya diwarung nasi Padangboinggir jalan itu, Ningrum memesan juice buah naga plus susu sedangkan Gibran memesan kopi hitam.
"Kamu mau makan apa?" tanya Gibran.
Ningrum.menggelengkan kepalanya, sepertinya Ia sedang tak berselera makan.
Gibran memesan satu porsi nasi Padang dengan daging balado.
"Makanlah, karena setiap perjuangan itu butuh tenaga, dan jangan sampai orang yang telah membuatmu jatuh melihatmu sakit apalagi sampai masuk rumah sakit, dan ini sangat membuatnya senang dan bertepuk tangan atas keterpurukanmu!" uca Gibran memberikan peringatan dan membuat Ningrum terperangah.
Benar adanya apa yang dikatakan oleh Gibran. Jika orang yang mencoba membuat kita hancur akan senang dan bertepuk tangan saatvmelihat kehancuran kita.
Pesanan Gibran datang. Lalu Ia menyuapkannya ke mulutnya.
Namun Ia mengetahui jika Ningrum saat ini sedang memperhatikanya dan Ia mencoba menyuapkannya kepada Ningrum.
Tanpa sadar Ningrum menerimanya, lalu mengunyahnya.. Sepertinya saat ini Ningrum benar-benar tidak fokus sehingga begitu menurutnya saat Gibran menyuapinya.
"eemmm.. Maaf, aku gak sadar!" ucap Ningrun menyadari dirinya yang sudah menghabiskan makansiang milik Gibran.
Gibran tersenyum senang "Sadarpun akan kuberikan, apalagi tidak sadar" jawab Gibran.
"Biar aku pesan lagi buat gantinya " ucap Ningrum tak enak hati.
Lalu Gibran mencegahnya, menggenggam jemari tangan dan menatap kedua mata wanita yang masih tampak sembab itu.
Ningrum terdiam. Ia tahu apa dibalik tatapan Gibran. Namun bukan semudah dan segampang itu Ia akan membuka hatinya pads pria lain.
Bukan sekali, tetapi sudah ke dua kalinya Ia mendapatkan pengkhianatan yang berujung pada luka yang kembali menganga dan berdarah.
Ningrum menarik genggaman tangan Gibran, Ia menyeruput juice buah naganya, dan Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Gibran.
Seketika keduanya hening tanpa berbicara satu sama lain.
Ningrum menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
"Aku ingin merasakan dan menik-mati kesendirianku dahulu" ucap Njngrum tanpa menoleh ke arah Gibran .
Gibran memahaminya. "Ya.. Aku mengerti.. Aku akan menjaga jarak untukmu, hingga waktu dapat menyembuhkan lukamu. Ingatlah! Kenanga pahitmu akan hilang setelah ada yang membantumu membuang kenangan buruk itu" Gibran mencoba memberikan ungkapan kepada Ninrum.
Wanita itu hanya masih memandang pada jalanan. Tatapannya nanar dan penuh kesedihan. Ia masih mencoba untuk menguatkan hatinya agar tidak sampai stress.
Gibran membayar pesanan mereka, lalu mengajak Ningrum untuk beranjak dari warung tesebut.
Sesaampainya didepan salon, Gibran berpamitan karena akan melanjutkan pekerjaan diluar kota.
Ningrum menganggukkan kepalanya dan mobil milik Gibran melaju pergi meninggalkan salon Ningrum.
Ningrum kembali naik ke lantai dua memeriksa pekerjaan para tukang yang kini sedang merenovasi ruangannya.
Saat bersamaan, sebuah pesan masuk dari seorang pelanggan yang ingin memakai jasa decor WO-nya.
Untuk menghilangkan rasa gunda gulananya, Ia menerima pekerjaan tersebut. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihannya.
Sang pelanggan sudah berada didepan salon dan membuat Ningrum kembali turun ke alntai dasar.
Seorang wanita paruh baya serta calon pengantin yang akan memilih decor mana yang akan Ia pilih.
Ningrum membawa sebuah album foto yang berisi berbagai foto weeding yang dimulai dari harga termurah hingga harga VVIP.
Calon pengantin mulai memilih dan mengamati berbagai contoh foto pada decor pelaminannya.
Sebuah kelas VVIP yang bernuasa kalem dengan berwana salem.
Setelah melakukan harga tawaran yang akhirnya ditemukan harga kesepakatan dan calon pengantin memberikan uang DP sebagai harga kepastian.
Lalu Ningrum mmeberikan kwitansi tentang uang muka yang dibayarkan. Lalu calon pengantin itu berpamitan dan beranjak pergi. Ningrum kembali naim ke lantai dua untuk meninjau kondisi para tukang tersebut.
Sesampainya di lantai dua, ternyata para tukang sudah mengerjakan pekerjaan itu dan hampir mendekati rampung.
Ningrum meminta salah satu kenek itu untuk membeli minuman ringan dan gorengan. Ningrum memberikan selembar uang ratusan ribu kepada kenekitu untuk membeli makanan ringan mereka.
Dengan senang hati Kenek itu bergegas menyambar tersebut lalu beranjak turun kelantai dasar akan membeli yang diperintahakan kepadanya.
__ADS_1