SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-131


__ADS_3

Ady menjual motor yang baru saja dibelinya. Ia terpaksa melakukan itu karena tidak ingin melihat penderitaan ibunya.


Setelah menempuh perjalanan satu hari penuh, Ia sampai tiba dirumah kakak-nya Bima saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Melihat kedatangan Ady, Nora semakin tampak kesal. Sebab beban hidupnya akan bertambah lagi.


"Oh, Tuhan!! Beban apalagi yang titipkan padaku sebingga hidupku seperti sangat sial seperti ini!" rutuknya dengan nada menyindir.


Mendengar ucapan Nora, Ady baru menyadari jika apa yang diucapkan oleh ibunya benar adanya tentang sikap Nora yang semena-mena. Sungguh sikap yang berbanding terbalik saat Ningrum masih menjadi kakak iparnya, sebab Ningrum selalu baik padanya.


"Bu.. Kita keluar sebentar!" ajak Ady yang sebenarnya saat ini masih sangat lelah sebab baru saja sampai dari perjalanan merantaunya yang memakan waktu seharian. Namun Ia tidak memiliki waktu untuk mengeluh.


"Kekuarlah, dan kalau bisa jangan pernah masuk lagi ke rumah ini!" Nora menyahuti ucapan Yudi yang ditujukan kepada ibunya.


Ady tidak ingin meladeni ucapan Nora, sebab tidak ada gunanya bertengkar dengan wanita yang tidak tahu diri itu.


Ady mengajak Sumi kelura dan mengendarai sepeda motor butut yang masih tersisa dan tidak menjadi korban penjualan oleh Yudi.


Sementara itu, tampak ayahnya masih terlihat santai duduk dikursi teras, dan Ady menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang ayah yang tidak dapat diandalkan.


Ady mengendarai motor tersebut dan Sumi duduk dijok belakang. "Kita mau kemana, Dy?" tanya Sumi penasaran.


"Tenanglah, Bu.. Aku tidak ingin melihat ibu luntang-lantung gak jelas.!" jawab Ady.


Seketika Sumi merasa tenang, sebab Ady pastinya akan mencarikan rumah kontrakan untuknya yang mana Ia tidak akan lagi menumpang serumah dengan Nora yang membuatnya makan hati.


Ady sudah mencari rumah dengan pencarian di marketplace sebuah wadah jual beli online tentang rumah yang akan menjadi tempat tinggal ibunya.


Saat dipertengahan jalan, sepeda motor yang dikendarai oleh Ady mengalami mogok, dan setelah Ady memeriksanya, ternyata mereka kehabisan bahan bakar, sebab Ady tidak sempat memeriksanya karena terburu-buru.


Mereka terpaksa harus mendorongnya untuk menemukan pedagang bahan bakar eceran.


Saat bersamaan, Ningrum melintas dari arah yang sama, dan Ia mengenali sepeda motor itu adalah miliki Sumi sang mertua yang sedang mendorong sepeda motor tersebut bersama Ady.

__ADS_1


Ningrum melambatkan laju mobilnya, Ia ingin memastikan jika itu benar adalah Sumi mertuanya dan juga Ady. Benar saja dugaannya, jika itu adalah Sumi dna Ady. Ia merasa tak tega, bagaimanapun itu adalah mertuanya juga.


~Dalam hukum Islam, ada mantan suami/istri. Tetapi tidak ada mantan mertua meskipun hubungan pernikahan telah berakhir baik cerai hidup ataupun mati. Sebab ketika seseorang setelah menikah dan melakukan hubungan suami istri, maka mertua laki-laki dan perempuan berubah menjadi muhrim hingga akhir hayat.


Rasa iba masih melekat dihati Ningrum. Ia tidak tega juga melihat wanita itu berjalan dengan tertatih.


Ningrum menepikan mobilnya dan keluar dari mobil, lalu Ia menghampiri ke duanya.


Sumi terperangah melihat Ningrum menghampirinya. "Kenapa motornya, Dy?" tanya Ningrum. Sebenarnya Ningrum tidak memiliki masalah apapun dengan Ady, sejak Ia menikah dengan Bima, hubungannya dengan Ady selalu baik-baik saja.


Dan masalah Ia dengan Bima tidak ada sangkut pautnya dengan Ady dan Ningrum tetap.menajga hubungan baik dengan Ady.


"Emm.. Ini, Mbak.. kehabisan bahan bakar," jawab Ady jujur.


Ningrum mengerutkan keningnya. Jika dari jarak tempat mereka saat ini dengan pedagang bahan bakar eceran masih ada sekitar sekitar 500 meter lagi didepan.


"Ya, sudah.. Tunggu saja disini, biar Mbak belikan baham bakar eceran yang ada didepan!" Ningrum menawarkan.


"Jadi ngerepotin, Mbak!" jawab Ady sungkan.


Ady dan Sumi akhirnya berteduh dibawah pohon ditepi jalan untuk menunggu kedatangan Ningrum, jujur saja Sumi memang sedang lelah, sebab belum sarapan saat Ady membawanya keluar.


Tak berselang lama, tampak mobil Ningrum menyeberangi jalan dan ternyata bensr, Ia membawakan dua botol bahan bakar dalam wadah bekar air mineral. Ia menyerahkannya kepada Ady.


Ady dengan segera meraihnya dan mengisi tanki bahan bakar motornya.


"Terima kasih, ya Mbak," ucap Ady.


"Terimakasih, Ningrum" Sumi merasa sungkan dengan kebaikan Ningrum.


"Sama-sama! Mau kemana emangnya?" tanya Ningrum berusaha ramah, meskipun jika mengingat tentang Bima rasa sakitnya begitu dalam, namun Ia tidak dapat membawa ke dua orang itu dalam masalahnya bersama Bima.


"Mau cari rumah, Mbak.. Kura-kira mbak tau gak ada orang yang menjual rumah karena terdesak? Kira-kira budget 30 juta," ucap Ady dengan penuh pengharapan.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Ningrum penasaran.


"Ady menarik nafasnya berat. "Yudi, Mbak.. Dia menjual rumah ibu dengan diam-diam.!" ucap Ady dengan raut wajah yang nelangsa.


Ningrum melihat raut wajah jujur pada Ady. Ia tahu bagaimana ulah Yudi selama ini, sehingga Ia tidak merasa kaget dengan perbuatan pemuda breengsek tersebut.


Ningrum mengingat jika ada sebuah rumah dipemukiman padat penduduk dan terletak digang sempit serta terbuat dari bahan GRC yang akan dijual, sebab Ia mendapat jasa WO ditempat tersebut.


"Ada, tetapi rumah itu sangat sederhana dan juga tidak terlalu luas. Lagipula ini kota, tidak mungkin ada yang bugdet murah!" jawab Ningrum.


"Tak mengapa, Mbak.. Apakah Mbak bisa bawakan kami kesana?" Ucap Ady tak sabar.


Sumi yang mendengar jika Ady akan membeli rumah, rasanya sangat senang sekali, meskipun bayangan rumah itu sangat kecil, namun setidaknya Ia tidak lagi serumah dengan Nora.


Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu membawa ke duanya ke lokasi yang Ia katakan barusan.


Setelah menempuh perjalanan 20 menit, akhirnya mereka sampai dilokasi yang dimaksud.


Ningrum sampai harus berjalan kaki menuju lokasi gang sempit itu, karena mobil tidak dapat masuk.


"Nah.. Ini rumahnya, Dy.. Kalau ingin jelasnya hubungi saja nomor phonsel yang tertera di papan iklan itu!" Ningrum menyarankan.


Ady menganggukkan kepalanya, lalu menghubungi nomor phonsel tersebut. Setelah sambungan telefon terhubung, Ady memberitahukan jika Ia akan melihat rumah tersebut.


Setelah berkomunikasi, pemiliknya tiba dilokasi, lalu membuka pintu rumah yqng berdinding seng dibagian luarnya dan dilapisi GRC dibagian dalamnya.


Mereka memasuki rumah tersebut. Ada dua kamar yang didalamnya serta ruangan dapur dan juga kamar mandi yang menyatu dengan closed.


"Bagaimana, Bu? Apakah Ibu mau tinggal disini?" tanya Ady kepada Sumi.


Sumi dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Apapun keadaanya, Ibu lebih senang tinggal disini daripada harus hidup seatap bersama Nora" jawab Sumi.

__ADS_1


Ningrum mengerutkan keningnya. Namun Ia tidak ingin mengetahui lebih jauh. Tetapi Ningrum dapat memastikan jika Nora tidak ingin kehidupan rumah tangganya dimasuki oleh ibu mertuanya.


__ADS_2