SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 72


__ADS_3

Pagi menjelang. Dikediaman rumah baru Andini dan juga Rendy sudah tampak ramai oleh keluarga terdekat.


Mereka membantu untuk memasak menyambut tamu yang nantinya datang untuk memberikan doa terbaik mereka untuk keberkahan rumah mereka.


"Jangan capek-capek, Ya Sayang. Kamu lagi hamil muda, jangan angkat barang-barang yang berat dan kalau butuh sesuatu panggil Mas saja " Rendy mencoba mengingatkan.


Rumi, Ibunda Andini yang tak sengaja mendengar ucapan menantu laki-lakinya sangat terharu. Ia tak pernah menduga jika menantunya yang terlihat pendiam itu ternyata memperlakukan anak perempuannya dengan begitu baik.


Air mata kebahagiaan tanpa terasa mengalir dari sudut matanya. Ia kini merasa lega meskipun harus merelakan Andini yang merupakan anak perempuan satu-satunya diboyong oleh Rendy pindah dari kediamannya.


Ia menyeka air matanya, dan beranjak dari tempatnya untuk membantu para keluarga dan tetangga yang kini sedang sibuk didapur.


"Iya, Mas.. Ini juga masih istirahat" jawab Andini dengan lirih.


Lalu Ia meraih kotak susu formula bagi ibu hamil, sebab Ia mengalami morning sicknes dan ini jam dimana Ia akan muntah dan perutnya akan mual hingga membuatnya lemah.


"Mas.. Bisa bantu buatin susu ini, pakai air hangat saja, perutku mulai mual deh" keluh Andini yang merasakan mencium aroma masakan dari dapur yang langsung serasa mengaduk-aduk isi perutnya.


Rendy menganggukkan kepalanya, lalu meraih kotak susu formula tersebut dan menuju dapur untuk membuat susu formula sang istri.


Segala bentuk perbuatan dan sikap Rendy membuat Andini merasa sangat beruntung menemukan Rendy yang begitu sangat baik dan hampir sempurna bagi seorang pria dan sekaligus suami.


Meski saat ini Rendy bukanlah pria yang kaya raya, namun ketulusan cinta yang diberikannya membuat Andini merasakan sebuah kenyamanan.


Nora kebetulan adalah seseorang yang akan menjadi tetangga mereka kelak. Meskipun Andini mengetahui kebusukan wanita itu, tetapi mereka tetap mengundangnya, dan masalah perbuatannya, semoga kelak biar sang Rabb yang memperlihatkannya kepada Ningrum, sahabatnya.


Janda itu juga berada didapur bersama yang lainnya untuk membantu memasak dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara hari ini.


Sebenarnya janda itu merasa kaget sebab Rendy yang merupakan salah satu pelanggan mereka dikantin ternyata akan menjadi tetangganya.


Nora memperhatikan sikap Rendy yang sedang menyeduh susu formula ibu hamil dalam sebuah gelas. "Jika diperhatikan, Pak Rendy ini tampan juga, hidung bangir dengan wajah tirus dan bibir bawah sedikit tebal, hanya sedikit pendek saja dari Bima. Namun Ia terlalu pendiam dan sulit didekati" guman Nora dalam hatinya.

__ADS_1


Baru saja Ia sedang memikirkan hal tentang Rendy, sebuah panggilan masuk dari Bima dan membuatnya sedikit kelabakan. Ia pergi dari dapur dan mencari tempat aman untuk menelefon.


"Ada apa, Mas?" tanya Nora dengan lembut yang selalu merasa gatal jika Bima sedang menghubunginya.


"Kamu dimana, Sayang?" ucap Bima mencoba selembut mungkin, karena bagaimanapun Nora adalah wanita yang selalu menyediakan rokok dan tubuh gratis untuknya.


"Aku hari ini gak masuk kantin, Mas. Aku diundang bantu-bantu dirumah Pak Rendy yang kontraktor itu, ternyata nantinya aku akan jadi tetangganya" jawab Nora dengan nada bicara yang pelan agar tak ada yang mendengarnya.


"Eh. Aku beritahu, Ya. Andini istrinya Rendy itu teman dekat istriku, maka kamu jangan sembarangan dengannya, ntar kalau sampai mulutnya bocor dan memberitahu hubungan kita, bisa bahaya!"


Nora terdiam mendengar ucapan Bima "Lho, iyakah? Maaf saya gak tau, Mas"


"Makanya jangan kamu sembarangan. Ntar saya undangan kesitu bareng istri, kamu pura-pura kita gak kenal saat ketemu nanti, Ya" titah Bima kepada Nora.


Janda itu merasakan jika hubungannya dengan Bima sebatas sebagai pemenuhan hasrat saja, namun mau bagaimana lagi, Ia sudah kecanduan senjata Bima, maka mau tidak mau Ia harus sadar diri jika dirinya hanya sebatas pelampiasan saja.


"Iya, Sayang. Aku mengerti" jawab Nora sedimit merasa cemburu mendengar Bima datang undangan bersama denagn istrinya.


Terdengar suara Andini yang muntah. Rendy bergegas menuju kamar dengan membawa segelas susu formula untuk istrinya.


Sesampainya didalam kamar, Ia melihat Andini sedang berada dikamar mandi dan memegangi perutnya yang kram karena terus menerus mual dan muntah.


Rendy meraih botol minyak kayu putih dan membalurkannya pada punggung Andini. Setelah mengeluarkan isi perutnya dan juga cairan kuning yang rasanya sangat pahit ditenggorokan, barulah Andini berhenti dari mualnya.


Tubuhnya berkeringat dan kepalanya merasa pusing, sehingga Ia merasa lemah.


Rendy masih membalurkan minyak kayu putih dipunggung istrinya dan sedikit menggosoknya.


"Mas.."


"Ya.."

__ADS_1


"Kepalaku pusing banget, dan terasa lemah" ucap Andini lirih.


Dengan sigap Rendy menggendongnya dari kamar mandi, dan tubuh ringan Andini membuatnya begitu mudah menggendonya.


Ah, rasanya dunia begitu indah bagi Andini mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami.


Rendy meletakkan tubuh ramping Andini ditepian ranjang "Bagaimana mualnya? Masih terasa? Ini susu anti mualnya, diminum ya, Sayang" ucap Rendy lembut.


Andini menganggukkan kepalanya, lalu meraih gelas yang disodorkan oleh suaminya.


Rendy menatap bola mata sang istri dengan penuh kekahawatiran. Ia mengecup lembut ujung kepala Andini, dan membelainya.


"Sayang.. Kalau mau berhenti bekerja, Mas juga gak larang. Tetapi semua keputusan ada pada kamu" ucap Rendy menyarankan. Ia tak tega jika istrinya bekerja dengan kondisi seperti ini.


Andini terdiam "Gak apa, Mas. Mungkin ambil cuti beberapa hari saja" jawab Andini dengan setenang mungkin, sebab Ia masih belum rela jika harus meninggalkan pekerjaannya.


"Mas tidak memaksa, semua pilihan ada pada kamu. Tetapi jika kamu tidak sanggup bekerja, maka berhentilah. Mas masih sanggup kalau hanya memenuhi kebutuhan hidup kamu" ucap Rendy meyakinkan hati Andini jika Ia adalah sosok suami yang bertanggungjawab.


Andini mengerjapkan kedua matanya "Nanti Andin fikirkan, Mas.."


Rendy menganggukkan kepalanya "Ya, sudah.. Nanti kalau ada keperluan apapun, panggil Mas, saja. Mas mau coba bantu mempersiapkan keperluan acara hari ini" ucap Rendy dengan lembut.


Andini mengerjapkan kedua matanya, lalu menghabiskan susu formula anti mualnya dan ingin beristirahat sejenak sebelum acara dimulai siang nanti.


Rendy ikut membantu mempersiapkan keperluan acaranya. Ia bergabung dengan para pria dan orang tua yang membantu acaranya.


Untuk memberikan semangat kepada mereka, Ia menyediakan rokok dan juga kopi yang membuat mereka bersemangat membantu menyelesaikan persiapan acara syukurannya.


Sementara itu, setelah meminum susu formula tersebut, Andini merasa sedikit mulai membaik.


Ia mencoba memikirkan apa yang dikatakan Rendy barusan kepadanya. Apakah Ia tetap lanjut bekerja atau resign mungkin juga memilih cuti untuk beberapa waktu. Ia harus memikirkan semua timbal baliknya demi kelangsungan pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2