SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 62


__ADS_3

"Bilang saja kamu takut jika aku tidak bayar kan?!" ucap Bima dengan nada geram.


Rendy terdiam. Namun mencoba tidak untuk terpancing emosinya. Ia masih berusaha untuk sabar.


Melihat Rendy yang masih diam, Bima kembali menendang kawat las tersebut dan tanpa sengaja kotak berisi kawat las tersebut menyentuh sepatu safety Rendy. Seketika para pekerja itu ada yang terpancing emosinya dan meletakkan stang lasnya dan ingin melayangkan tinjunya kepada Bima.


Lalu Rendy beranjak bangkit dari tempatnya dan berdiri menghalangi weldernya yang sudah terpancing emosi.


"Pergilah.. Aku sedang bekerja dan jangan membuat keributan disini" ucap Rendy dengan nada penuh penekanan.


"Breengsek, Loe !!" Maki Bima dengan kesal.


Seketika Rendy menarik kerah pakaian Bima "Sudah ku katakan tinggalkan tempat ini dan jangan memancing kesabaran seseorang" ucap Rendy dengan sorot mata sarkas.


Lalu Bima sedikit gentar dan menepiskan tangan Rendy yang mencengkram kerah kemejanya. Lalu beranjak pergi dan meninggalkan lokasi pekerjaan Rendy.


Ady kembali membawa tabung gas tersebut dan menuju ke lokasi proyek mereka.


Bima berjalan dengan kesal dan merasakan kepalanya kembali pusing. Jika sampai pengelasan terhenti, maka pekerjaannya akan kembali tersendat dan waktu terbuang percuma.


"sebaiknya kita memiliki stok tabung cadangan, Bang. Tabung gas minimal 3 tabung dan juga begitu dengan tabung gas" ucap Ady menyarankan.


Bima menoleh ke arah Ady. Saran Ady ada benarnya, namun itu membutuhkan modal. Jika meminta kepada Ningrum, pasti tidak akan dapat karena mereka baru saja bertengkar.


Bima harus memutar otaknya untuk mencari uang agar dapat membeli peralatan kerjanya.


Ia menatap kepada para pekerjanya "Hari ini pulang tengah hari saja, esok akan kita lanjutkan lagi..!" ucapnya dengan nada kesal. Lalu para pekerjanya bersiap dan mengumpulkan semua peralatan dan menyimpannya dalam peti dan beranjak pulang.


Bima bersama dua adiknya bergegas pulang, mereka menuju rumah Ningrum, sedangkan wanita itu masih berada di salon.


Setelah sampai dirumah. Bima bergegas menuju kamar dan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan.


Ia menuju laci nakas dimana Ia kemarin melihat satu ikat uang milik Ningrum yang diletakkan disana.


Namun Ia tak menemukannya lagi. Ia mengerutkan keningnya dan mencoba mencarinya didalam lemari, namun tak juga ditemukan.

__ADS_1


"Kemana Ningrum menyimpan uangnya? Apakah Ia sudah mengambilnya?" guman Bima dengan penasaran.


Ingin meminta uang kepada Ningrum tentu hal yang mustahil, maka Ia akan mencari cara untuk mendapatkannya.


Ia teringat kepada seseorang, pastinya orang itu akan dapat ditaklukkannya.


Ia meraih phonselnya, lalu mencari satu nama dari seorang Tionghoa yang pernah menjadi rekan bisnisnya.


Ia menatap foto profil WA dari orang tersebut dan mengeluarkan benda pipih berwarna logam kuningan itu dan merafalkan mantra yang hanya Ia sendiri yang mengetahuinya dan membuat orang yang ditujunya akan mematuhi apa yang dimintanya.


Dengan memejamkan matanya, Kemudian membayangkan wajah Pria itu dengan menyebutkan nama orang yang ditujunya.


Lama Ia dalam keheningan, dan sesaat membuka matanya. Lalu mulai menekan tombol panggilan suara dan ternyata terhubung.


"Hallo.." Suara seorang pria Tionghoa dari seberang telefon.


Dengan pandangan dan senyum licik, Ia menyambut suara tersebut.


"Hallo, Ko.. Apa kabar?" Jawab Bima seolah berlagak ramah.


"Begini, Ko.. Saya lagi butuh uang buat dana proyek, nanti kalau sudah pencairan akan saya ganti secepatnya" ucap Bima dengan segala janjinya yang begitu manis.


Pria bernama Julian itu merasa ragu, namun entah mengapa Ia tak dapat menolak saat Bima yang merayunya dengan begitu manis hingga membuatnya terpedaya.


"Lu, butuh berapa dana rupanya?" tanya Julian dengan hati yang luluh.


Seketika Bima tersenyum menyeringai dan hatinya serasa ingin berlonjak kegirangan.


"Saya butuh 15 juta, Ko.." ucap Bima yang terus-menerus membacakan mantranya.


Julian terdiam sesaat, namun entah mengapa Ia tak dapat menolak keinginan Bima tersebut.


Julian terdengar menghela nafasnya dengan berat "Baiklah, kirimkan nomor rekeningmu, tapi jangan lupa Lu bayar secepatnya jika sudah keluar pencairan proyek kamu" Julian mencoba menekankan.


"Tenang saja, Ko.. Saya akan secepatnya membayarnya" Jawab Bima meyakinkan Julian.

__ADS_1


Lalu Bima memutuskan sambungan telefonnya dan mengirimkan nomor rekeningnya kepada Julian.


Dalam hitungan menit, notif transaksi transfer berhasil telah dikirimkan oleh Julian dan tentunya hal itu membuat Bima bersorak kegirangan.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Bima segera mengirimkan pesan ucapan terimakasih dan berjanji akan membayar secepatnya.


Lalu Bima memesan tabung gas elpiji dan juga tabung oksigen untuk keperluan pekerjaannya.


Kini Ia sedang bersantai dirumah, namun Ia ingin keluar sejenak untuk bersenang-senang dengan berkaraoke ditempat sebuah cafe yang menyediakan karaoeke dan jasa plusplus.


Ia bergegas turun kelantai dasar, lalu menuju perkarangan rumah tempat dimana Ia memarkirkan mobil.


Ia mengendarai mobilnya dan menuju tempat karaoke yang ada disebuah cafe yang tak jauh dari tempatnya berada.


Ditengah perjalanan, Ia singgah ke sebuah mesin ATM dan melakukan penarikan uang sebesar 5 juta rupiah yang mana nantinya sebagian akan Ia bayarkan untuk membeli tabung gas elpiji dan juga tabung oksigen.


Tak berselang lama, Ia telah sampai di cafe yang Ia tuju dan memarkirkan mobilnya, lalu memasuki cafe tersebut dan menuju lokasi karaoke dan ditemani oleh dua orang pemandu lagu yang berpakaian sangat minim.


Bima memesan minuman berakohol, lalu mulai bernyanyi sembari ditemani pemandu lagu yang siap memoroti keuangan Bima.


Sementara itu, Ningrum mengompres matanya yang tampak membengkak karena seharian ini selalu saja menangis jika teringat Bima menamparnya. Ia menggunakan batu es dengan bantuan sebuah kain dan menempelkannya dikedua kelopak matanya.


Entah mengapa Ia tak begitu saja dapat melupakan rasa sakit itu masih membekas dihatinya.


Setelah merasa hatinya sedikit membaik, Ia melirik phonselnya, dan melihat panggilan Bima yang Ia abaikan sedari tadi.


Ningrum menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya. Ia memandang foto pernikahannya dengan Bima yang menjadi latar background phonselnya.


Ingin rasanya Ia mengakhiri pernikahannya yang masih seumuran jagung. Namun Ia merasa seperti ada yang mengikat hatinya dengan begitu kuat.


Ia merasa sakit hati, namun tidak dapat melepaskan pria itu, Ia bagaikan buah siamalakama, Ia sangat dilema.


Sesaat Ningrum merasakan akal dan hatinya kembali berperang. Terkadang semuanya begitu terasa bertentangan dan Ia harus kembali memaafkan, lalu kembali terluka lagi dan begitu seterusnya.


Sementara itu, Bima sedang berpesta dengan dua pemandu lagu yang kini sedang menemaninya. Minuman alkohol yang terus ditenggaknya hingga membuatnya tidak menyadari jika Ia telah menghabiskan uang 5 juta rupiah untuk kedua pemandu karaoke tersebut.

__ADS_1


Disaat Bima sudah terkapar karena mabuk parah, kedua pemandu lagu itu meninggalkannya begitu saja.


__ADS_2