
Nora memotret uang tersebut dan kembali mengunggah diakun media sosialnya dengan caption "Lihat, ini.. Semenjak menikah denganku, Ia rajin beri uang.. Makanya suami itu diservise, biar menuruti apa kata istrinya" tulis Nora di akun media sosialnya.
Ningrum yang tanpa sengaja melihat unggahn tersebut mengerutkan keningnya. Apakah selama ini Ia yang terlalu baik atau terlalu bodoh sehingga mudahnya dipororti oleh Bima dan keluarganya.
Ningrum menghela nafasnya, Ia masih mengingat bagaimana Ia menjadi seorang penurut saat Bima dan keluarganya yang memoroti uangnya dengan mudah, bahkan rumahnya juga habis terjual sia-sia.
Tetapi Ia merasa senang, sebab Sang Rabb telah mempercepat memutus hubungannya dengan Bima, hingga segala yang dimilikinya tak sempat ludes diporoti.
Namun Ningrum mencoba mengikhlaskannya, sebab Ia yakin jika semakin sering orang menipunua, maka Allah akan menggantinya dengan jalan yang lain, dan sipenipu akan mengalami kerugian yang berlipat suatu saat nanti, dan itu cepat atau lambat akan berbalas.
Caption sindiran yang ditujukan oleh Nora kepadanya tak membuatnya sakit hati, Ia hanya tersenyum tipis dan merasa jika itu hanyalah angin lalu.
Ditempat lain, seorang pemuda membaca unggahan tersebut. Ia yang sudah sangat sakau dan membutuhkan uang merencanakan sesuatu yang sangat licik.
****
Bima sudah selesai berbelanja, dan Ia membelikan satu buah dress untuk Jenny agar gadis itu luluh padanya.
Lalu mereka keluar dari Mall dan menuju kos tempat Jenny yang merupakan padat pendudk. Masyarakat kota tak begitu perduli dengan kehidupan orang lain, yang penting bagi mereka adalah tidak saling senggol satu sama lainnya.
Bima dan Jenny memasukkan motor ke dalam rumah kosnya yang terbilang sempit, namun karena rawan maling terpaksa motor itu dimasukkan ke rumah kosnya.
Jenny yang sudah lama tidak disentuh oleh Bima, bergelayut manja dan rasanya sudah sangat gatal untuk segera bercinta.
Sedangkan Nora masih sibuk dengan unggahan dan membalas komentar para deterjen yang memberikan komentar nyinyir dan juga ada yang mendukung.
Nora merasakan kini jika Bima sudah berada dalam genggamannya, lalu mengumbar foto dirinya dan juga Bima yang bermesraan saat liburan waktu itu, seolah-olah mereka adalah pasangan yang paling romantis sejagad raya.
Jenny yang sudah tak sabar ingin dicoblos layaknya seorang ca- leg saat ingin mendapatkan kursi ternyamannya, begitu juga dengan Jenny yang kini sudah duduk dipangkuan Bima.
Tanpa menunggu lama keduanya sudah tanpa sehelai benangpun, lalu mengarungi lautan dosa terlarang dengan bermandikan peluh yang membasahi keduanya.
Sura rintihan dan lenguham Jenny memenuhi ruangan rumah kosnya, dan Bima kembali lagi dengan kebiasaannya.
Sementara itu, Pemuda yang otaknya sudah setengah tidak normal itu membawa sepeda motor ibunya, lalu mengendarainya menuju rumah Bima.
__ADS_1
Sesampainya didepan rumah kontrakan itu, Ia melihat pintu rumah terbuka, sebab Bima tidak menguncinya saat akan hendak pergi tadi.
Lalu Ia mengendap-endap masuk dengan tidak menimbulkan suara apapun.
Ia memakai penutup wajah, lalu melihat ke kamar yang mana Nora juga tidak menutupnya. Dengan gerakan cepat, Pemuda itu masuk ke kamar dan menyergap Nora sembari menodongkan senjata tajam berupa pisau dapur yang dibawanya dari rumah.
Nora yang saat itu sibuk membalas komentar diunggahannya tak sempat berteriak ataupun melawan. Wanita itu hanya tersentak kaget karena kejadiannya begitu cepat dan juga tidak terduga.
Pemuda itu menyumpal mulut Nora dengan bra yang berada dikeranjang pakaian kotor yang tak jauh dari tempatnya berada, lalu mengikat tangan Nora kebelakang menggunakan underware berenda milik Nora.
Lalu pemuda itu mengikat kaki Nora dan membiarkannya diatas ranjang.
Pemuda mengambil uang tersebut sedapatnya saja. Mungkin sekitar 5 jutaan dan bergegas pergi sebelum Bima memergokinya.
Nora merasakan sakit ditubuhnya diikat seperti itu, sebab rasa terkilirnya saat dibegal waktu itu belum begitu sembuh dan kini harus menderita lagi.
Nora merasa kesal dengan pencuri tersebut. Namun Ia masih merasa beruntung karena pencuri itu tidak mengambil seluruh uangnya.
Sementara itu, Bima masih asyik dengan Jenny dan mengayuh percintaan mereka sampai tenaganya terkuras habis.
"Pak Bima memang sangat tangguh, dan ini yang membuat aku tidak dapat melupakan bapak" ucap Jenny saat terkapar lemah dalam pelukan Bima dan bermandikan peluh.
Hari menjelang Sore, pemuda yang tak lain adalah Yudi, membawa uang tersebut untuk membeli barang haram berupa sabu.
Ia membelinya untuk dikonsumsi dan juga Ia edarkan kembali dan begitulah hidupnya yang tak berguna terus berulang.
Bima yang telah selasai mencangkul sawah Jenny, akhirnya pulang setelah hari hampir senja. Ia bersiul karena mendapatkan santapan Jenny tanpa terduga.
Bima memasukan motor barunya ke dalam teras dan bergegas masuk kedalam rumah, dan menyembunyikan barang belanjaannya terlebih dahulu dengan membuang harga bandrol yang tertera didalam merk tersebut.
Saat Ia membuka pintu kamar, Ia tersentak karena kaget melihat Nora sedang dalam kondisi mengenaskan dan terikat.
"Sayang.. Kamu kenapa?!!" ucap Bima yang bergegas membuka ikatan di tangan dan juga kaki Nora, lalu membuka sumpalan dimulut istrinya.
"Abang kemana saja, Sih?! Jam segini baru balik.!!" omel Nora yang merasakan sakit disekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Maafin abang sayang. Tadi lagi temuin temen bahas kerjaan!" ucap Bima.
Norw menangis seseunggukan.
"Uang Nora diambil maling..!!" ucapnya dengan tangisan yang sesenggukan .
Bima memunguti kembali uang tersebut dan menghitungnya. Ia mendapati uang tersebut berkurang 5 juta.
"Uangnya diambli 5 juta, sudahlah.. Mau bagaimana lagi, makanya kamu itu jangan sembarangan letakin uangnya. Seharusnya kamu simpan ditempat yang aman" omel Bima.
"Aku laper, belum makan..!! belikan makanan!" ucap Nora dengan kesal karena kehilangan uangnya.
Dengan cepat Bima menganggukkan kepalanya dan bergegas keluar mencari makanan yang diminta oleh Nora.
Saat akan mengeluarkan motornya, Ia melihat jejak sendql dan juga ban sepeda motor yang terakhir datang ke rumahnya, dan menggerutu kesal.
"Breengsekkk.!! Yudi.!!" makinya dan Ia segera mengemudikan motornya mencari keberadaan Yudi.
Ia menuju rumah ibunya, lalu melihat motor ibunya terparkir didepan teras rumah.
Ia masuk dengan kondisi marah. "Yid.. Yudi..! Keluar kamu..!!" ucapnya dengan geram.
Ia mendobrak pintu kamar dan melihat pemuda itu sedang menghisap barang haram tersebut dengan menggunakan bong yang dirancangnya sendiri.
Buuuugh..
Bima melayangkan tinjunya ke wajah Yudi dan Sumi yang mendengar keributan itu bergegas menghampirinya.
Yudi terkapar dilantai kamar sembari tertawa.
"Bima..!! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Sumi mencoba melerai keduanya dengan menarik ujung pakaian Bima.
"Dia sudah mencuri uang yang ku berikan pada Nora, Bu..!! Dan menggunakannya untuk membeli sabu" jawab Bima dengan nada tinggi.
Sumi menghela nafasnya, lalu melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
Ia tak tahu harus mengatakan apapun, sebab yang manapun tak dapat Ia bela. Yang satu semakin pelit, yang satunya semakin menjadi pencuri dan pemalas.
Sumi memilih meninggalkan keduanya dan pergi ke dapur untuk melanjutkan memasaknya.