SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-105


__ADS_3

Luccy tampak mulai cerah dan suhu tubuhnya mulai turun. Selera makannya juga suxah membaik. Ia kini merasakan sangat bahagia saat mengetahui Ningrum menemaninya berada dirumah sakit.


Ningrum juga tak merasa keberatan untuk merawatnya.


"Besok tante ada pekerjaan, maka tante harus pulang dan kamu lekas sembbuh, Ya?" pinta Ningrum kepada gadis kecil itu.


Luccy menganggukkan kepalanya, dan meyakinkan Ningrum jika Ia akan semangat untuk segera sembuh.


"Gadis pintar.. Nanti Tante akan sering temuin kamu, kita bisa main bareng.. Ok?" Ningrum menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran.


"OK, Tante.." jawab Luccy penuh semangat.


Lalu Ningrum memberi makan siang gadis itu dan menyuapinya, dan tampak sang gadis mulai lahab memakannya.


Ditempat lain, Bima keluar dari ruang CEO dengan perasaan geram dan juga kesal.


Ia memaksakan dirinya datang ke kantor dengan harapan untuk mendapatkan tanda tangan tersebut, namun akhirnya harus menunggu dua hari lagi. Sementara itu, pekerjaan yang sedang terbengaklai tidak ada pekerja satupun yang datang.


Ya.. Iya hanya masih menggantung gaji mereka dan itu membuat para pekerja itu ngambek dan tak ingin melanjutkannya kembali.


Dengan langkah terseok, Bima menuju proyeknya. Saat melintasi plant-2, Ia melihat pekerjaan Rendy sudah melakukan finishing dan hampir mencapai 90% pengerjaan, dan pengelasan tampaknya sedikit lagi, bahkan sudah dicat.


"Sial..!! Mengapa Ia sudah secepat itu pengerjaannya?" Bima menggerutu didalm hatinya.


Lalu melanjutkan perjalanannya menuju plant-4 lokasi proyeknya. Sesampainya di sana, Terlihat sepi hanya cleaning service dan beberapa karyawan yang sedang melihat produksi berlangsung dan mengawasi para cleaning bagian pengangkut pupuk yang berceceran dan bertumpuk dihampir setiap tempat.


Tak berselang lama, tampak seorang pengawas lapangan datang menghampiri Bima ya g masih berdiri didepan pintu plant.


"Bim.. Bagaimana ini? Pekerjaan lama kamu terbengakalai dan kamu tidak mengerjakannya? Mana orang-orangmu?" cecar pengawas tersebut dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Emm.. Mereka sedang libur pak, alias mudik, sebab baru dapat gaji" jawab Bima asal.


"Yanv benar saja, Kamu? Pekerjaan masih gantung begini tetapi mikirin mudik... Itu bukan urusan saya, jika sampai 3 hari ini kamu tidak mengerjakan proyek dan mangkrak, maka jangan salahkan saya jika kamu mendapat SP-1 dan skorsing 2 bulan tidak dapat mengerjakan apapun" ucap Pengawas tersebut dan membuat Bima semakin frustasi.


Pengawas iti langsung pergi dan menuju plant-plant lainnya tempat para pekerja proyek berlangsung.


Setelah kepergian pengawas tersebut, Ia mencoba menghubungi Ady. Ia ingin meminta tolong agar Ady segera pulang dari kota sebelah dan membantunya bekerja.


Namun phonsel Ady juga tidak aktif dan ini semakin membuat Bima merasa pusing. Ia mematikan phonselnya dan memilih pulang.


Sesampainya dirumah, Ia mssih berjalan terseok dengan kakinya yang membengkak karena dipaksakan untuk berjalan.


Nora yang melihat Bima pulang lebih cepat mengerutkan keninganya. "Cepat kali pulangnya, Bang?" tanya Nora yang masih bersantai karena alasan sedang hamil muda.


"Iya.. Tadi sudah ketemu Gibran, dan katanya tunggu 2 hari lagi baru tanda tangan. dan Masalah pekerjaan proyek yang mangkrak, harus segera diselesaikan untuk dua hari ini, kemana harus dicari pekerja dalam waktu dua hari?" ucap Bima yang berjalan ke ruang terasnya.


"Cari sajalah dari kampung. Keluarga abang-kan banyak dikampung" jawab Nora.


Sesaat Ia teringat akan para tetangganya ada dua orang yang menganggur dan membutuhkan pekerjaan. Bima bermaksud mengajaknya.


"Kalau dari kampung akan banyak biaya. Mana kita harus mikirin ongkos dan juga tempat tinggal serta makan mereka juga transportasi" ucap Bima menjelaskan kepada Nora.


"Lalu siapa yang mau diajak kerja?" tanya Nora dengan nada penasaran.


"Itu, suami Mbak Nisa dan juga suami Mbak Leny, mereka sepertinya sedang mencari pekerjaan" ucap Bima menjekaskan.


Seketika wajah Nora berubah drastis. Dua wanita itu adalah saingannya dalam hal sosialita dan bergaya, jika kedua suami mereka bekerja pada Bima, tentu saja Ia akan menjadi ibu Bos dari suami Mbak Nisa dan juga Mbak Leni, maka dengan sendirinya Ia akan menjadi lebih tinggi statusnya.


Nora semakin merasa jika dirinya adalah ibu dari pemborong proyek yang hebat dan tentunya merasa paling sangat wah!.

__ADS_1


"Oh.. Bagus itu, Bang.. Kalau begitu lebih cepat lebih baik kamu datangi mereka agar tampak dimata mereka jika kita ini benar-benar pemborong yang hebat!" ucap Nora tak sabar.


Bima menganggukkan kepalanya "Ya.. Nanti abang akan coba temui mereka" ucap Bima


"kenapa nanti, sih bang? Sekarang sajalah!!" desak Nora dengan tak sabar.


Bima menghela nafasnya dengan berat. " Kaki abang masih sakit.. Benyat lagi" jawab Bima.


Nora melirik kepada Bima yang duduk dikursi menyandar. "Dasar kalau pemalas itu banyak saja alasannya, dan berjalan kesana cuma 30 meter saja susah banget!" ucap Nora kesal.


Bima menoleh kepada Nora "Kamu gak liat apa kalau kaki abang beneran bengkak?" Ucap Bima mulai kesal.


" Ya lihat.. Tapi kalau dilama-lamain keburu dua orang itu pergi atau mungkin juga dapat peekrjaan lain.." omel Nora.


Bima menyandarkan kepalanya pada sandaran kusri dengan perasaan yang sangat berat dan Ia tidak mengerti mengapa Nora tidak memberinya sedikit saja perhatian. Bahkan Ia sedang sakitpun tak tampak begitu perdeli dan memikirkan egonya.


"coba buatkan abang dulu kopi, abang ini baru pulang dan masih capek" ucap Bima dengan kesal.


Nora menatap malas pada Bima "Kamu itu taunya kopi dan kopi terus saja, Bang.. Tapi solusi dari istri gak pernah didengarkan" jawab Nora sembari menggerutu.


Sementara itu, Gibran masih mengingat ucapan dari Bima tentang tudingannya yang menuduh Ningrum adalah seorang penghasut dan memberikan fitnah yang keji.


"Bisa-bisanya Ningrum pernah menikah dengan orang seperti itu" guman Gibran lirih, sembari memeriksa semua data yang masuk.


Tentu saja harus menunggu sampai dua hari, sebab begitu banyak surat penawaran yang masuk, dan tentunya Ia akan memeriksa dari tumpukan yang paling bawah karena mereka yang lebih dahulu datang mengantarkannya.


Tak berselang lama, tampak Rendy datang dan membawa surat Berita Acara untuk pekerjaannya yang sudah selesai dan kini mengajukan pencairan.


"Kamu bisa meng-claimnya dua hari lagi, Ya. Sebab banyak yang saya kerjakan" ucap Gibran dengan tegas.

__ADS_1


Rendy menganggukkan kepalanya, dan berpamitan keluar, lalu beranjak pergi, sebabb meng-claim pencairan tersebut membutuhkan waktu 2 sampai seminggu hari kerja.


Gibran menatap kepergian Rendy, lalu kembali memeriksa semua berkas yang ada. Kemungkinan Ia akan pulang terlambat dan lembur. Namun Ia bersyukur jika Ningrum mau menjaga Luccy dan membuat gadisnya itu tersenyum.


__ADS_2