
Andini dan Rendy masih merancangkan apa yang akan dirnovasi dan sesuai dengan keinginanjya untuk membuka toko phonsel.
Setelah saling memberikan pendapatnya, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk merubah warna cat, lantai dan platfom yang sudah tampak hancur.
Kemudian keduanya beranjak pulang untuk merincikan material dan juga dana yang akan dikeluarkan.
Sementara itu, Gibran yang baru saja tiba dikantor terburu-buru memasuki ruang meeting. Untungnya dia sempat makan siang dengan olehan daging dendeng balado masakan sang istri, sehingga Ia tidak oleng saat menjadi tutor dalam meeting tersebut.
Para kontraktor banyak yang berkumpul dan akan mengajukan tender untuk proyek baru mereka. Wajah Gibran tampak berseri karena baru saja mendapatkan jatahnya dari sang istri barunya sehingga Ia begitu sangat lancar dalam menyampaikan apa yang menjadi topik meeting saat ini.
Di tempat lain, Bima dan juga Nora sedang menemui penjual mobil yang mereka hubungi waktu itu. Setelah melakukan pertemuan dan negosiasi, akhirnya mendapatkan kesepakatan untuk membeli mobil tersebut, dan akhirnya Nora memiliki mobil secound yang standart dengan harganya.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nora membuat vedeo siaran langsung tentang mobil yang baru dibelinya dengan caption "Pemborong proyek itu harus bisa beli mobil, baru bisa dikatakan berhasil" tulis Nora seeolah sedang menyindir seseorang.
Ia begitu tampak sangat bangga dan mengoceh sembari mengkamera wajahnya dan juga wajah Bima yang sedang menyetir.
Lalu bermunculan komentar-komentar baru yang meramaikan unggahan Nora tersebut. Berbagai ragam komentar memenuhi laman vedeonya.
"Woii.. Bayar hutangmu!! Beli mobil bisa hutang arusan gak dibayar sudah setahun lamanya" tulis komentar salah satu akun yang tampaknya seorang owner arisan.
Nora merasa kesal dengan akun tersebut, lalu memblokirnya. Nora mengakhiri siaran langsungnya. Ia merasa sangat bangga dengan mobil yang baru dibelinya.
Seaampainya dirumah. Dua pekerjanya yang sedari tadi sudah menunggunya bergegas menghampiri Bima.
"Pak Bima. Tolong keluarkan pinjaman gaji kami, karena kami butuh untuk makan dan bayar kontrakan dan juga susu anak.
Nora yang baru saja turun dari mobil merasa sangat kesal dengan ke dua pekerja itu.
"Kalian ini, Ya! orang baru saja sampai dam masih capek sudah menagih uang gaji, apa gak bisa nunggu bentar rupanya?!" Hardik Nora dengan kesal.
"Mbak-nya capek pulang dari jalan-jalan. Tapi kami capek menahan lapar! Mana anak nangis minta susu, coba Mbak fikirkan?!" jaab salah seorang dari mereka.
Nora membolakan matanya dan sangat kesal dengan jawaban dari tetangga sekaligus pekerjanya itu.
__ADS_1
Bima menghampiri keduanya dan memberikan uang tiga ratus ribu rupiah kepada keduanya.
"Ini mana cukup untuk membeli keperluan dapur dan juga kebutuhan anak! Mana token listrik juga sudah menyanyi" Ucap Seorang diantaranya.
"Kalian ini, Ya.. Sudah mending diaksih pekerjaan dan pinjaman uang tapi banyak protes" sergah Nora dengan kesal.
Keduanya menatap tak suka pada Nora yang ikut campur dengan urusan mereka pada Bima.
"Saya tambah seratus lagi. Kalian cukup-cukupkan saja dulu, Ya!" ucap Bima kepada keduanya.
Kedua pekerja itu mendenguskan nafas kesal karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Lalu mereka beranjak pergi meninggalkan Bima dengan hati yang kecewa.
Seaaat terdengar suara panggilan masuk dari Anton yang menjadi pemodal bagi proyeknya dan seharusnya pembagian persen dari proyek yang sudah di kerjakannya.
Bima terdiam mematung saat melihat panggilan tersebut. Ia merasa ini adalah bencana jika sampai Anton mengetahui perihal diirinya yang baru saja membeli mobil baru.
Bima meriject panggilan tersebut dan berpura-pura sedang sibuk.
Perlahan Ia mematikan phonselnya agar Anton tak dapat menghubunginya. lalu Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan merasakan sangat lelah dan juga kesal karena terus-menerus ditagih oleh mereka yang merasa punya tagihan hutang kepada Bima.
"Bim.. Bima!" teriak Sumi dari luar dan tak menghiarukan Nora yang menatapnya dengan wajah tak senang.
Bima yang mendengar suara ibunya kembali ke luar teras dan menemui ibunya "Ada apa, Bu?!" tanya Bima yang menuju kursi teras.
Sumi mengekori Bima dan duduk diteras rumah dan duduk dengan kondisi yang masih merasa sangat terpukul.
"Sebenarnya ada masalah apa, Bu?" tanya Bima penasaran.
"Yudi ,Bim.. Yudi" ucap Sumi terbata.
"Iya.. Yudi mengapa?" tanya Bima dengan tak sabar.
"Dia menggadaikan surat rumah kepada pemasok barang haram itu!" ucap Sumi terbata.
__ADS_1
Seketika Bima membolakan matanya dan merasa tak percaya atas apanyang dilakukan oleh Yudi kali ini dan sangat keterlaluan. Mungkin Bima juga lupa jika Ia menjual rumah Ningrum secara diam-diam. Namun kali ini orang tuannya yang menuai karma dari segala perbuatannya.
"Sekarang anak itu dimana, bu?" Tanya Bima tak sabar.
"Masih dirumah, sedang tertidur" jawab Sumi masih dengan nafas tersedu.
Bima beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah dan mencari kunci motornya.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Ia bergegas mengendarai motornya dan menuju ke rumahnya.
Sumi mengikuti Bima dari arah belakang dan dugaannya benar, jika Bima menuju rumah dan memasukinya dan dengan emosi Ia mendobrak kamar yang menjadi tempat Yudi tertidur.
Dialam kamar tampak Yudi sedang sakau dan tak perlu menunggu lama, Bima melayangkan tinjunya kepada Yudi.
Buuuuugh..
Suara tinju dari Bima tepat diwajah Yudi dengan sangat kuat sehingga membuat Yudi sempoyongan.
"Dasar, breengssekk!! Kau gadaikan rumah ini dan jika sampai rumah ini tidak dapat ditebus dengan uang, kalian kau tidur dimana, Haah?!" hardik Bima kesal.
"Haalah, lebay sekali..!! Kalau ditarik ya tinggal tidur dirumah kamulah!" jawab Yudi Santai dan membuat Bima semakin kesal.
"Enak saja, Kamu!! Cepat ambil surat itu, atau ku patahakan lehermu!!" ucap Bima penuh penekanan.
Bukannya menggubris ucapan Bima, Yudi semakin tertawa tak jelas.
Bima menyeretnya dikamar mandi dan mengguyur Yudi dengan air. lalu Ia meninggalkan kamar mandi dan menuju keluar rumah.
Ia mencari tau tentang keberadaan bos pemasok barang haram yang sedang memegang surat kepemilikan surat rumah ibunya.
setelah mendapatkan lokasi pria tersebut, Bima bergegas mengejar bos Yudi.
Sesampainya dilokasi yang dituju, ternyata pria itu sudah pergi dan telah menjual rumah tersebut kepada pembeli lain yang membuat Bima harus gigit jari karana malang.
__ADS_1
"Siaaaall!!" maki Bima dengan kesal. Jika rumah itu sudah dijual pada pemilik yang baru, Maka mereka harus siap jika kapan saja pemiliknya ingin meminta mereka pergi.
Bima merasakan jiak ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan jika sampai Sumi, Yudi dan ayahnya tinggal dirumah kontrakannya sebab Nora tidak akan menerima kehadiran mereka semuahnya.