SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-115


__ADS_3

Bima berjalan menapaki anak tangga menuju lantai 8. Kakinya masih terasa sakit, dan dua orang pekerjanya mengikuti dari arah belakang membawa alat-alat yang akan dibawanya.


"Aduuh, Pak.. Capek banget!" keluh salah satu pekerjanya bernama Hendro karena menyeret tabung gas elpiji seberat 50 kg. Nafasnya tersengal karena kelelahan.


"Ya, mau gimna lagi? Hoist Cranenya lagi rusak belum diperbaiki, kalau menungu itu bisa sampai seminggu baru ngerjain proyek ini!" jawab Bima dengan kesal yang mana nafasnya juga tersengal karena terpaksa ikut menyeret kabel dan juga travo Las.


"Koq bisa sial gini nasib kita? Yang ada belum juga kerja nafas sudah ngos-ngosan dan tenaga habis buat naik ke lanta 8 doank" Guman Jali dengan nafasnya yang tersengal sembati menyeret tabung oksigen untuk memotong besi.


Seketika Bima memutar tubuhnya dan menatap ke pada keduanya dengan tatapan kesal.


"Kalian bisa diam gak, Sih?! Apa kalian fikir kalian saja yang capek?! Saya juga!! Ngeluh terus kerjanya!!" sergah Bima yang wajahnya sudah memerah karena kesal dan juga kelelahan.


"Ini semua karena Rendy. Dia terus-menerus yang menggunakan hoist Crane selama 15 hari ini, samapai rusak tu barang!!" umpat Bima yang sudah memerah wajahnya.


Umpatannya didengar oleh salah satu karyawan perusahaan yang saat itu sedang mengawasi lantai 8 karena masuk shif pagi ini.


"Apanya yang rusak, Pak?" tanya pengawas itu.


Bima tersentak kaget saat mendengar seseorang menanggapi umpatannya.


"Emm..itu, hoist cranenya rusak dan tidak dapat digunakan, jadi kami kesulitan dan memakan waktu mengangkut semua peralatan ini ke atas, dan ini karena dipakai terus menerus oleh kontrakto bernama Rendy itu!!" jawab Bima dengan senyum miris.


Pengawas itu mengerutkan keningnya dan memandang bingung pada Bima.


"Kerusakan Hoist Crane bukan disebabkan oleh saudara Rendy. Sebab setiap plant ada hoist crane-nya sendiri. Dan bapak mengapa mengangkut alat-alat ini dengan cara seperti itu? Bukankah disudut sana ada katrol 15 ton yang fungsinya jika hoist crane rusak, maka dapat menggunakan katrol sebagai gantinya" Pengawas itu menjelaskan.


Seketika Bima tercengang, dan alangkah bodohnyanya Ia yang sudah menyeret alat kerjanya itu dengan susah payah hingga menghabiskan energi dan waktunya.

__ADS_1


"Mengapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya?" ucap Bima dengan kesal dan juga menutupi rasa malunya karena pastinya dua pekerjanya akan membaganggapnya tolol.


"Memangnya Bapak tidak baca sticker yang tertempel dilantai dasar tentang alat-alat kerja yang disediakan oleh perusahaan untuk para kontraktor?" tanya pengawas tersebut.


Bima menggelengkan kepalanya dan menatap lelah pada pengawas itu.


"Makanya pak, kerja itu pakai otak, jangan pakai otot doank!" ucap pengawas itu dengan nada mencibir.


Bima membolakan matanya. Rasanya ingin Ia telan saja itu pengawas bulat-bulat karena sudah mempermalukannya di depan pekerjanya.


Kedua pekerja tersebut terkulai lemah di atas lantai yang terbuat dari plat grating dilantai 8 akibat kebodohan pemborongnya yang mengaku sebagai fitter hebat.


Lutut mereka seakan ingin lepas dari engselnya saking lelahnya dan tak dapat berkata apapun.


Bima yang juga merasakn kakinya masih terkilir kini tak lagi dapat berbicara dan Ia-pun ikut terkapar di lantai dengan tenaganya yang juga habis terkuras.


"Hei. Bangun.. Jangan tiduran mulu. Sudah cukup satu jam buat istrihat!" hardik Bima kepada ke duanya.


Hendro dan Jali akhirnya beranjak bangkit setelah merasakan lututnya mulai enakan.


"Kabel sambungnya itu colokkan ke panel yang sana, dan itu semua colokkan pada tempatnya" titah Bima kepada keduanya.


Seketika keduanya saling pandang "Kita mau potong besi yang mana, Pak?" tanya Hendro bingung.


"Ya besi siku sama plat-lah, Dodol..!" ucap Bima kesal.


"Tapi material besi dan plat-kan masih dilantai dasar, Pak? Belum kita pindahkan!" jawab Jali dengan nafas yang masih tersengal.

__ADS_1


Bima terperangah. Ia baru ingat, jika mereka saat ini baru saja memindahkan alat kerja mereka, sedangkan meterialnya masih tertinggal didasar bawah.


Bima terduduk lesu. Ia tidak dapat bekerja hanya dengan tiga orang saja. Setidaknya ada 3 tambahan pekerja lainnya. Namun semuanya sangat sulit mencari pekerja, karena mereka menolak setiap kali Ia menawarkan kerja. Sebab sepertinya hembusan gosip yang menyebar jika Bima sering tidak membayar upah pekerja sudah terdengar ke para pekerja proyek, sehingga berimbas buruk padanya, yang mana semua karena ulahnya.


Sementara itu, Rendy sedang berada diruang CEO untuk menandatangani BA-nya (Berita Acara, atau mereka menyebut surat atau berkas yang menyatakan pekerjaan itu telah sesuai dengan yang dijadwalkan dan memenuhi target" .


Saat Ia memasuki ruangan CEO, tampak wajah Gibran sedang ceria. Rendy menyodorkan berkas BA untuk pencairan proyeknya dan Gibran yang sedang berbahagia hatinya tanpa memeriksanya langsung membubuhkan tandatangan persetujuan. Hal ini membuat Rendy bingung sekaligus senang.


Rendy akan membeli satu ruko yang sedikit jelek dan akan direnovasinya karena dijual dengan harga murah dan kondisi terdesak tepat tak jauh dati salon Ningrum sebagai hadiah untuk Andini.


Sebab Andini ingin membuka toko phonsel karena telah resign dari Bank tempat Ia bekerja.


Dan semua itu sebab karena Andini agar dapat dekat dengan sahabatnya saat siang hari dan Ia tidak kesepian.


Bukannya Rendy tidak ingin membeli mobil, namun Ia ingin memiliki investasi untuk dimasa tuanya saat Ia sudah tidak sanggup lagi bekerja, maka Ia tidak lagi harus mengkais rezeki dengan bersusah payah karena dimasa muda masih bertenaga Ia berusaha dan tidak salah menggunakan penghasilannya.


Rendy tersenyum sumringah dengan nilai nominal yang tertera didalam kolom dua pekerjaannya. Ia ingin memberikan kebahagiaan pada Andini sebatas yang Ia mampu.


"Terimakasih, Pak Gibran, atas kerjasamanya " ucap Rendy dan beranjak dari ruang CEO untuk kembali ke rumah.


"Sama-sama, Pak Rendy.." jawab Gibran yang wajahnya terus dihiasi oleh kebahagiaan.


Rendy tidak mengetahui mengapa Gibran terus merasa bahagia, dan Ia juga tidak ingin mencari tau.


Rendy juga merasa bahagia karena BA-nya lolos begitu saja, sehingga Ia berniat memberi sekarung beras 10 kg dan sembako bagi ke 10 pekerjanya yang sudah membantunya selama ini dalam menyelesaikan pekerjaanya sebagai ungkapan terimakasihnya dan rasa syukurjya juga.


Setelah mendapatkan tanda tangan tersebut, Rendy beranjak keluar dari ruang CEO. Ia akan segera pulang dan Ia ingin membeli smoothies kesukaan Andini untuk ungkapan bahagianya dan rasa syukurnya itu Ia utamakan kepada istrinya terlebih dahulu, sebab Rendy sudah tak memiliki kedua orangtua lagi, maka Andini menjadi prioritasnya dan kedua mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2