SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-140


__ADS_3

Pria bernama Anton itu berlalu dari hadapan Bima. Ia tidak akan main-main dengan ancamannya.


Bima memandang kepergian Anton, hingga mobilnya menghilang menuju dermaga.


ia bernafas lega. Setidaknya Anton belum terlalu memaksa, akan tetapi ini membuatnya harus waspada, sebab ia tau Anton jika akan melakukan sesuatu maka akan totalitas.


Pernah terdengar kabar jika Anton membuat seseorang patah kakinya dan benar-benar patah hingga diamputasi karena melanggar kontrak perjanjian dengannya.


Bima berjalan menuju rua CEO. Tampak beberapa kontraktor sudah berkumpul, dan termasuk Rendy, akan tetapi CEO pengganti belum juga tampak tanda-tanda kehadirannya.


CEO yang baru berbeda dengan Gibran yang selalu datang tepat waktu. Sedangkan untuk saat ini, CEO pengganti masih juga belum datang.


Bima melirik ke arah Rendy yang sedari tadi bermain phonsel dan sesekali tersenyum saat membaca sebuah balasan dari istrinya.


"Baru satu istri saja sudah bangga, aku yang sudah nikah tiga kali saja gak segitunya!" guman Bima dalam hatinya.


Tak berselang lama, phonselnya berdering, dan satu panggilan nama dari Nora. Bima mengangkatnya. "Ya, Hallo.. Ada apa sayang?" ucap Bima seolah agar didengar yang lainnya, termasuk Rendy.


"Bang.. Aku tidak mau Si Elly adikmu numpang dirumah kita, ya! Kakau dia tidak pergi dari rumah, biar aku yang pergi!" ucap Nora dengan nada tinggi dan penuh ancaman.


Telinga Bima hingga pengang mendengar suara keras dari Nora. Ia merasa hari ini terlalu sial karena hampir semuanya memberikan ancaman.


Bima menarik nafasnya dengan berat. Speaker yang tadinya sengaja ia buka, kini dengan cepat ia tutup agar tidak didengar oleh orang lain yang mana mereka mentertawakannya karena sempat mendengar omelan Nora yang bernada tinggi.


Sementara itu, Elly yang mendengar Nora menghubungi Bima dan mengancam ingin pergi hanya duduk santai dan memandang Nora seolah tidak memilki masalah.


Hal tersebut semakin membuat Nora semakin kesal dan rasanya ingin menjambak rambut Elly yang bersikap sangat mengesalkan.


"Heeei.. Kamu itu sudah menumpang tau diri, Donk! Masak atau bersihin rumah, kek!" ucap Nora yang semakin kesal karena Reza menangis dan perutnya juga perih karena belum sarapan.


"Enak saja pakai perintah orang sembarangan. Emangnya aku ini pembantumu, hah?!" jawab Elly tak mau kalah.

__ADS_1


"Tapi kamu menumpang diruamhku? Jadi wajar aku menyuruhmu!"


"Apa..?! Rumahmu! Masih ngontrak saja belagu, lagipula yang bayar kontrakannnya abangku, kamu mah makan tidur dirumah!" jawab Elly seenaknya.


Wanita itu beranjak bangkit dari duduknya. Ingin rasanya ia menonjok wajah Nora, namun ia masih berfikir karena wanita itu sedang menggendong Reza mungil, jika tidak mungkin ia sudah melampiaskannya.


Elly pergi ke dapur. Ia melihat ada sebungkus mie instan, kemudian memasaknya dan ia makan sebungkus mie tersebut seorang diri.


Nora semakin frustasi melihat sikap dan kelakuan Elly yang sangat membuatnya pusing. "Jika lama-lama ia berada dirumahku, aku bisa kena baby blues!" Nora berguman kesal dalam hatinya.


Sungguh ia membuat Elly segera pergi dari rumahnya. Ia tidak tahan menghadapi sikap aduk iparnya tersebut.


Nora mencium aroma dari mie instan seketika cacing diperutnya berteriak meminta diberi makan. Ia meletakkan Reza dalam buaian, dan berjalan ke dapur untuk melihat Elly yang tadi memasak mie instan.


Alangkah terkejutnya ia saat mendapati kenyataan jika Elly hanya memasak satu bungkus mie instan saja dan itupun ia memakannya sendiri tanpa memberi sedikitpun untuknya.


"Oh, Tuhan! Cobaan apa yang Kau berikan padaku? Mengapa Kau kirimkan manusia tidak memiliki otak seperti Elly?" Nora menggerutu dalam hatinya.


Elly bersikap masa bodoh dengan segala ucapam Nora, ibarat masuk telinga kanan, keluar telinga sebelah kiri.


"Heeii! Apakah kau tuli atau pura-pura tuli, hah!" Nora semakin kesal saat Elly seolah tak mengindahkan ucapannya.


Selesai makan, ia meletakkan begitu saja wadah kotor sisa makannya diatas meja, kemudian melenggang pergi.


Seketikq wajah Nora memerah menahan semua amarah yang bergelayut didalam dadanya.


Saat Elly melitasinya, dengan cepat Nora menarik rambut adik iparnya dengan kuat, dan hal itu membuat Elly kesakitan, lalu kembali berbalik menyerang Nora dengan mencakar wajah kakak iparnya dengan kuat.


Kuku panjangmya sukses membuat goresan dengan membentuk garis vertikal dari dari pelipis mata hingga kebagian bawah dagu.


Garis sebanyak.lima buah itu menimbulkan rasa perih dan juga darah mengalir dari bekas cakaran tersebut dan pastinya akan meninggalkan bekas luka yang merusak wajahnya.

__ADS_1


"Aaaasrrh..."


Nora mengerang kesakitan, kemudian melepaskan jambakan dirambut Elly dan memegangi wajahnya yang perih.


"Breengseek, Kau Elly! Pergi kamu dirumahku, wanita ******!" maki Nora yang sudah semakin tidak terkontrol.


"A-apa? Wanita ******! Helloooo.. Jangan kamubtaunya melihat kudisku, sedangkan kudismu tidak dapat kau melihatnya! Kamu itu mendapatkan kak Bima juga hasil jalangmu yang menggoda bang Bima dibelakang Mbak Ningrum!" jawab Elly yang semakin sengit.


Nora membolakan matanya. Ia semakin kesal dengan apa yang diucapkan oleh Elly.


"Itu karena abangmu yang juga tertarik padaku. Jelas aku lebih menggoda dari Ningrum, sehingga abangmu tertarik padaku!" balas Nora tak mau kalah, sembari memegangi wajahnya yang perih.


"Heeei.. Cantik dari Hongkong! Ngaca, kamu! Ngaca. Jelas Cantik Mbak Ningrum dimana-mana, dan tajir lagi! Daripada kamu, sudah tampang pas-pasan masih belagu!"


"Sialaaan, kamu!! Pergi dari rumahku, sekarang! Atau aku laporin kamu ke polisi atas tindakan tidak menyenangkan dengan membawa bukti visum diwajahku!"


"Coba saja! Aku juga akan menvisum kulit kepalaku, dan aku juga akan menyeretmu ke penjara!" Elly tetap tak mau mengalah.


Pagi hari yang seharusnya menjadi sumber berkah, harus diwarnai pertengkaran yang memicu keributan dan mengganggu ketenangan para penghuni rumah kontrakan lainnya.


Raisa yang menjadi penghuni rumah kontrakan disebelah sisi kiri Nora merasa sangat terganggu, sebab anaknya baru saja tidur dan kembali menangis mendengar pertengkaran dua wanita yang sama-sama memiliki sikap egois.


Raisa menyambangi rumah Nora. Ia sudah sangat kesal karena sepertinya mereka tidak ada tanda-tanda akan berhenti berkelahi.


"Mbak Nora! Bisa berhenti gak sih, bertengkarnya? Atau kalian pindah saja ke hutan, agar bebas mau ribut atau berkelahi! Saya sangat muak mendengar Mbak Nora tiap hari teriak-teriak mulu!" Raisa berkacak pinggang didepan pintu rumah kontrakan Nora.


Nora yang mendengar ucapan daei tetangganya yang kepo itu semakin terbakar emosi. "Eh, Mbak.. Jangan ikut campur urusan saya!" balas Nora sengit.


Tampak penghuni kontrakan lainnya berkerumun didepan rumah Nora. Selama ini mereka sudah jengah dan sangat risih menghadapi tingkah laku Nora yang setiap.haru selalu saja ada yang diributkannya.


Mereka ingin meminta kepada pemilik kontrakan agar menindaklanjuti ulah Nora agar merubah sikapnya atau memberi sanksi kepada wanita itu yang selalu membuat keributan.

__ADS_1


Melihat warga berkerumun didepan rumahnya, akhirnya Nora mencoba menahan emosinya dan ditambah dengan Reza yang menangis karena mendengar suara keributan yang mengganggu tidurnya.


__ADS_2