
Nora menghentikan sejenak pertengkarannya dengan Bima, ia mendengar suara Feny yang memanggilnya dari arah luar.
Semabri menatap tajam pada Bima karena perdebatan mereka yang belum usai, ia melangkah keluar rumah dengan wajah masam.
"Ada apa Fen..? Tanya Nora datar.
Itu, tadi aku baru pulang nganterin Susi ke sekolah, dan aku lihat si Reza lagi berantem sama temennya, hidungnya berdarah, dan ia sedang dibawa ke kantor sekolah," ucap Feny menjelaskan.
Nora mengerutkan keningnya, sebab seingatnya ia belum mengantarkan Reza, lalu mengapa bocah itu sudah sampai disekolah? Nora merasa aneh.
"Aku belum ada mengantarnya ke sekolah, lalu ia pergi dengan siapa?" tanya Nora dengan bingung.
"Lha.. Koq-tanya saya, kan situ emaknya.. Makanya jangan asyik bertengkar mulu, jauh rezeki-tau!!" omel Feny dengan nada juteknya.
Nora baru tersadar jika anaknya telah membuatnya kalut. Ia mengeluarkan sepeda motor bebeknya, yang sudah tampak usang. Bahkan body motor tersebut sudah banyak yang rusak dan warnanya juga sudah memudar.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan rambutnya yang belum.ia sisir dan mirip dengan rambut singa, ia menghidupkan mesin motor dengan cara mengengkolnya, namun mesin itu tampak seperti sudah sangat jarang digunakan, sehingga tidak juga mau menyala.
Berulang kali ia terus mengengkolnya, dan tidak ada tanda-tanda mesin akan menyala, sehingga rasa kesal mulai menjalar didalam tubuhnya.
"Motor siaaalan!!" makinya dengan kesal, lalu menjatuhkannya begitu saja, sehingga motor tua itu menjadi sasaran amukan amarahnya.
Ia masuk kedalam kamar, menghampiri Bima. "Eh, Bima.. Coba kau hidupkan mesin motor itu, anakmu Reza sedang mendapatkan masalah, jangan main phonsel saja kerjaaamu!!" Norak semakin mengomel.
Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sangat pusing dengan segala ucapan Nora.
Ia bergegas keluar dari kamar, namun saat ia melintasi Nora, wanita itu menarik kerah baju kemehanta, kemudian mero-goh saku celana Bima, dan mengambil sejumlah uang secara acak.
Akhirnya Bima mengalah, dan segera memperbaiki motor tersebut.
Tak berselang lama, motor itu akhirnya hidup juga.
__ADS_1
Ia sudah tak sabar untuk menikinya. Nora bergegas keluar daari kamarnya, kemudian mengampiri motoe bebeknya dan bergegas mengemudikannya, menuju sekolah..
Sesampainya disekolah, ia menemui kepala sekolah, dan ternyata mereka telah menunggu lama kehadirannya.
"Wah, ini ibunya Reza, apakah ibu sudah tau jika anak ibu terlibat perlelahian, dan Ia melemparkan tas ranselnya yang berisi buku ke temannya.," ucap kepala sekolah dengan nada menjelaskan.
Nora melihat Reza tertunduk diseberang ruangan . dan yang dapat ditebak, jika bocah itu mengalami ketidak senagannya.
Reza! sini kamu!" hardik Nora yang terlihat sedang terbakar emosi.
Reza dengan wajah ketakutan berjalan sangat lambat menuju tempat ibu dan kepala sekolahnya.
Ia tampak masih merundukkan kepalanya, dan kini tiba disisi Niran tang terbakar emosinya yang meledak-ledak.
"IMengapa kamu melemparkan tas ransel ke temanmu?" tanya Nora dengan nada kesal.
__ADS_1
"Dia mengejekku, maka aku lempar saja dia dengan tas ransel seperti yang dilakukan ayah Bima jika marah. Ia akan merusak barang, dan hampir saja aku merusak wajahnya," jawab Reza santai.
Seketika semua yang ada diruangan kantor terperangah mendengar apa yang diucapkan oleh Reza. Ia melakukan semua kekerasan itu karena melihat semua yang terjadi oada kedua orang tuanya.