SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-85


__ADS_3

Andini mengusap lembut punggung sahabatnya Ia memberikan waktu untuk Ningrum mengontrol emosinya dan membuat hatinya tenang.


Setelah tangisannya mereda, Ningrum mulai bercerita tentang semuanya, semua yang telah dilakukan Bima san pengkhianatan Bima yang dilakukannya dibelakangmya selama ini, dan ini sungguh sangat menyakitkannya.


Ibarat sebuah pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah masib Ningrum saat ini.


Andini merasakan kepedihan yang dialami Ningrum saat ini. Namun Ia juga merasa sedikit lega, sebab doanya selama ini agar sang Rabb membukakan petunjuk untuk Ningrum dapat mengungkap kebusukan Bima selama ini akhirnya terbuka dengan perlahan.


Andini menggenggam jemari sahabatnya, menatap dengan penuh kasih "Jika Mbak sudah lelah dan tidak lagi mampu bertahan, maka lepaskanlah" ucap Andini setenang mungkin, dan hanya itu yang dapat Ia katakan.


Ningrum menatap sahabatnya dan menganggukkan kepalanya.


Lalu Andini membelai lembut ujung kepala Ningrum untuk memberikan rasa nyaman dan kedamaian pada hati sahabatnya yang sedang gundah.


Karena kelelahan berfikir akan nasibnya, akhirnya Ningrum tertidur disofa, lalu Andini mengambil selimut dan menutupi tubuh Ningrum hingga sampai pundak.


Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 6 sore, dan Ningrum selelap itu sehingga tak menyadari hari sudah senja.


Ningrum tersadar saat suara Rendy memberi salam dan baru pulang bekerja.


Ningrum mengerjapkan kedua matanya dan beranjak bangkit "Eh, Rendy, sudah balik kerja" ucap Ningrum dengan matanya yang masih sembab.


Rendy menganggukkan kepalanya, lalu "Iya, Mbak"


Rendy inhin memyampaikan musibah yang menimpah proyek Bima, namun Ia mengurungkannya karena melihat mata Ningrum yang sembab dan Ia memastikan jika Ningrum sedang ada masalah, sehingga Ia mengurungkan niatnya.


Andini keluar dari dapur dan membawa dua gelas teh manis.


"Ayo, Mbak.. Minum dulu tehnya" ucap Andini menawarkan segelas teh manis panas.


Ningrum menganggukkan kepala dan menyeruputnya.


Sedangkan Rendy menuju kamar untuk membersihkan dirinya.


"Setelah menegjk setengah gelas tehnya, Ningrum melirok jam diphoselnya dan hampir pukul setengah tujuh malam.


"Mbak pulang dulu, Ndin.. Oh iya, Ndin.. ini nomor kontak Ayah, Mbak, andai terjadi sesuatu sama mbak tolong hubungi keluarga Mbaka, Ya" ucap Nkngrum sembari mengirimkan nomor contak Ayahnya ke pada Nomor phonsel Andini. Sebab Ningrum di kota ini merantau sendirian setelah menikah dengan Riffky dan diboyong ke kota ini lalu menetap.

__ADS_1


"Huusss.. Ngomong apaan, sih? Jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau takut pulang kerumah nginap di sini saja" omel Andini yang merasa jika sahabatnya itu mulai kacau.


Ningrum menghela nafasnya "Ya kita-kan gak tau, Ndin.. Bisa saja Bima nekad dan melakukan hal diluar kendali. Lihat saja berita-berita yang beredar tentang pembunuhan suami terhadap istri" ucap Ningrum dengan lirih.


Andini terperangah mendengarnya "Sudah! Jangan katakan itu lagi, semua akan baik-baik saja!" ucap Andini yang mulai khawatir dengan kondisi sahabatnya.


Ningrum kembali meneteskan air matanya, lalu mencoba menggigit bibirnya agar air mata itu tak lagi jatuh.


"Ntar kalau ada apa-apa jangan pergi kemanapun, datanglah kerumah ini, pintu ini terbuka buat Mbak" ucap Andini memberikan kekuatan kepada Ningrum.


Lalu Ningrum menganggukkan kepalanya dan menyeka air matanya. Lalu Ia berpamitan untuk pulang ke rumahnya.


Ningrum melajukan mobilnya untuk sampai dirumahnya. Namun Ia merasakan suatu kejanggalan saat memasuki jalanan komplek rumahnya, sebab ada beberapa mobil yang berparkir didepan pintu pagar rumahnya.


Ningrum sampai memarkirkan mobilnya didepan pagar rumah tetangganya.


Ia berjalan menuju rumahnya dengan tatapan bingung. Tampak beberapa pria berpakaian preman dan seorang pria tampan berusia sekitar 27 tahun yang berparas keturunan Tionghoa sedang berada di depan teras rumahnya.


Ningrum menduga jika mereka adalah penagih hutang yang diciptakan oleh Bima sehingga datang menagih kepadanya.


"Maaf, ini ada apa ya?" tanya Ningrum dengan perasaan yang sangat berdebar.


Seketika Ningrum tersentak kaget dan terperangah.


"Tidak!! Saya tidak pernah menjual rumah ini kepada siapapun, dan apalagi Anda.!!" ucap Ningrum dengan sengit.


"Tetapi suami Anda yang menjualnya kepada saya dan ini bukti-buktinya" ucap Julian memperlihatkan rekaman vedeo saat Bima menjual rumah tersebut kepadanya.


Mulai saat ini, rumah ini menjadi milik saya, dan saya beri dua hari untuk anda mengosongkan rumah ini dan jika anda merasankni adalah penipuan yang dilakukan oleh suami anda, maka silahkan berurusan dengan suami anda, dan saya tidak terlibat!!" ucap Julian dengan nada penuh penekannan.


Seketika Ningrum merasakan lututnya sangat lemah. Ia sangat begitu lemah. langit bagaikan runtuh dan bumi tak dapat Ia pijak.


Ningrum tak dapat lagi untuk mengatakan apapun, mulutnya bagaikan terkunci.


Ia menghubungi Andini, dan sesaat pandangannha gelap, lalu..


Braaak..

__ADS_1


Ningrum terjatuh tajmk sadarkan diri dan beberpa orang suruhan Julian menangkapnya, dan membawanya masuk ke rumah dan membaringkan tubuh Ningrum disofa.


Tak berselang lama, Rendy datang bersama Andini. Lalu Andini menghubungi Yamink untuk meminta bantuan.


Mereka membawa Ningrum ke rumah Andini dan setelah mendapat informasi dari Julian tentang sebab tak sadarkan dirinyanya Ningrum.


Seketika darah Andini dan juga Yamink merasa seakan mendidih.


Lalu mereka membawa Ningrum ke rumah Andini. Dan membaringkannya di kamar sebelah.


Setelah Ningrum tersadar, Ia melihat jika para sahabatnya sudah berada disisinya, dan menatap penuh prihatin kepada nasib Ningrum.


"Mbak maunya seperti apa? Jika ingin berpisah maka lakukanlah, sebelum aset yang mbak miliki habis ludes tak bersisa" ucap Andini dengan nada kesal.


Ningrum menangis tersedu.


"Sudah.!! Bukan waktunya menangis, saat ini kami tau dimana keberadaan Bima, sebaiknya kita labrak saja Dia saat ini!" ucap Yamink dengan nada kesal.


Ningrum terperangah "Dimana, Dia?!" tanya Ningrum penasaran.


"Ayo, mbak..! Sebelum dia kabur!!" ucap Andini dan menarik pergelangan tangan Ningrum.


Wanita itu hanya manut saja.


Lalu mereka berjalan menyusuri gang dan menuju sebuah rumah yang berada dipinggir jalan utama.


"Bima..!! Keluar kamu, Brenggseek!!" ucap Yamink yang menggedor pintu rumah Nora dengan kasar.


Karena pintu rumahnya digedor-gedor, akhirnya Nora membuka pintunya, dan warga yang penasaran tampak berkumpul.


"Ada apa ini? Mengapa ramai-ramai ke rumah saya?"


"Mana Bima?! Suruh keluar cepat pengecut itu!!" ucap Yamink yang sudah merasa eneg dengan kelakuan pria brengsek itu selama ini.


Yamink memasuki kamar dan memeriksanya, ternyata Bima ngumpet dikolong ranjang. Ia menarim paksa pria bertubuh kekar dan tinggi itu.


Lalu dengan penuh emosi menyeret Bima dan mengahapkannya pada Ningrum.

__ADS_1


Melihat banyaknya orang yang berkerumun, membuat Bima sedikit merasa ciut.


"Mana uang hasil penjualan rumah Mbak Ningrum?!, serahkan sekarang juga!!" hardik Yamink dengan nada tinggi, sedangkan Rendy masih berdiri dan memasang badan andai Bima nekad melakukan hal buruk terhadap Ningrum.


__ADS_2