SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 60


__ADS_3

Andy mengusap wajah sedih itu. Ia hanya dapat memberikan sebatas bentuk perhatian yang mungkin hanya akan menjadi angin lalu bagi Ningrum.


"Sudah dulu ya, Aku harus lanjut kerja, jika kamu butuh sesuatu, telfon saja aku.." ucap Andy dengan begitu lembut, lalu mengakhiri panggilan telefonnya, dan seperti biasanya, setiap kali habis menelefon, akan ada notif banking bukti transfer masuk dan kali ini Andy mengiriminya uang 15 juta rupiah, lalu menghilang kembali.


Ningrum menatap notif tersebut, Ia tidak memahami mengapa Andy selalu melakukan itu, dan akan menghilang untuk beberapa waktu, hingga nanti Ia yang akan menghubunginya kembali.


Ningrum menghapus air matanya, lalu mera- ba pipinya yang masih terasa begitu sakit dan rasa sakit bukan hanya dipipinya, namun juga dihatinya.


Ningrum meraih cermin yang terdapat di dalam bedak padatnya, dan merias wajahnya.


Ia menggunakan kacamata hitam dan bergegas turun ke lantai dasar. Tampak Jenny dan juga Sary sudah datang dan mulai bekerja. Tanpa menyapa ke duanya, Ia pergi balik ke rumah untuk mengambil uangnya yang Ia tinggalkan di laci nakas. Ia melihat jam di phonselnya, dan memastikan jika Bima sudah pergi bekerja.


Ia melajukan mobilnya dan dari kejauhan Ia mencoba melirik pagar rumahnya yang mana mobil yang dibelikannya untuk Bima sudah tidak ada diperkarangan rumah, itu tandanya jika Bima sudah berangkat bekerja.


Ningrum memarkirkan mobilnya hanya didepan pagar saja. Ia membuka pintu dan melihat asisten rumah tangganya sudah datang membersihkan kekacauan yang diciptakan oleh Bima.


Ningrum segera menapaki anak tangga dan menuju ke kamarnya. Ia membuka kunci pintu kamar dan bergegas menuju laci nakasnya. Ia melihat masih ada satu ikat uang yang diletakkannya disana, dan tanpa menghitungnya Ia membawanya dan kembali keluar dari kamar dan mengunci pintunya kembali.


Ningrum mengemudikan mobilnya menuju sebuah toko perhiasan langgannanya. Ia membeli perhiasan yang sangat mahal, dan uang yang dikirim oleh Andy dan juga hasil perkebunan kelapa sawit serta uang rumah kontrakan yang disimpannya akan Ia belikan perhiasan.


Ningrum telah mewasiatkan kepada orangtuanya tentang aset-aset yang dimilikinya dan kunci loker safe deposit box nya juga sudah Ia beritahukan kepada kedua orangtuanya.


Ningrum menanyakan harga perhiasan yang menjadi pilihannya. Ningrum menggunakan uang tunai yang ada ditangannya dan kekurangannya akan menggunakan kartu Debitnya.


Saat menghitung uang yang ada dalam gengamannya, Ia merasa terkejut saat mengetahui jika uangnya hilang 2 lembar ratusan ribu . Ningrum mengerutkan keningnya, dan Ia sangat bingung, sebab Ia merasa jika semalam uang itu sudah dihitungnya, dan Ia mengingat jika tidak ada menggunakannya.


"Kemana uangku? Mengapa hilang dua lembar?" guman Ningrum dalam hati, dan Ia merasa bingung.


"Mbak.. Bagaimana dengan perhiasannya? Kadi beli apa tidak?" tanya Cici pemilik toko perhiasan.

__ADS_1


Ningrum tersenyum miris "Jadi, Ci..sisanya pakai ini" jawab Ningrum, sembari menyerahkan karyu debitnya.


Ningrum masih penasaran siapa pencuri uangnya. Ia mengingat jika Ia semalam langsung pergi ke taman dan meninggalkan uang tersebut dilaci nakas begitu saja.


"Kata sandinya, Mbak"ucap Cici pemilik tokonkepada Ningrum.


Ningrum lalu menekan kata sandinya dan meraih kembali kartu Debitnya dan menyimpannya didalam dompetnya.


Pemilik toko lalu menyerah struk pembelian, dan surat berharganya beserta perhiasan yang dibelinya.


Setelah membeli perhiasan tersebut, Ia menuju kantor perbank-kan tempat Andini bekerja. Ia kembali menemui layanan costumer dan ingin membuka lokernya dan memasukkan perhiasannya ke dalam loker yang sudah dipesannya tersebut.


Setelah menyelesaikan apa yang diinginkannya, Ia melirik Andini yang tampak sibuk melayani nasabah, dan ini ja. Kerja, Ia tidak ingin mengganggu jam kerja sahabatnya. Lalu Ia segera pergi dan menuju salonnya.


Ningrum kembali menapaki anak tangga dan menuju ruang kerjanya. Ia masih memikirkan dua lembar uangnya yang hilang begitu saja. Bukan seberapa nilainya, namun Ia seolah sedang memelihara pencuri dirumahnya.


bukan hanya sekali ini Ia kehilangan uangnya, namun sudah berulang kali. Mulai dari perhiasan, peralatan dapur dan Ia tidak tahu akan kehilangan apalagi selanjutnya.


Kedua orangtuanya saja tidak pernah menamparnya, lalu siapa Bima yang seenaknya menamparnya dengan begitu mudahnya.


Air matanya kembali jatuh saat mengenang kejadian pagi tadi.


Ia mera-ba pipinya yang masih terasa sakit karena tamparan tangan kekar Bima. Dan itu sungguh melukai hatinya. Ia mengabaikan panggilan dari Bima dan tak ingin berbicara dengan pria itu untuk saat ini.


Hingga sepuluh kali panggilan itu berlangsung, namun Ningrum masih diam membisu.


Sementara itu, Bima gelisah tak menentu dan Ia sangat takut jika sampai Ningrum meminta cerai kepadanya, dan ini akan membuatnya kehilangan semua fasilitas yang membuatnya merasa nyaman.


Bima kembali memasuki mobilnya, lalu mengeluarkan benda pipih berwarna kuning tembaga dan menyebut nama Ningrum berulang kali, lalu membayangkan wajah Ningrum dan fokus dengan ritual yang sedang dilakukannya.

__ADS_1


Ia tidak ingin Ningrum membencinya, Ia harus meluluhkan hati wanita lagi.


Setelah merasa cukup, Ia keluar dari mobilnya, lalu menuju kantin Mbak Raini. Ia mencari pemilik kantin yang saat itu sedang berada di meja kasir.


Dengan tergesah-gesah Ia berjalan menghampiri pemilik kantin yang kini tidak menyadari kehadiran Bima.


"Mbak..!! Saya tidak senang, Ya jika masalah hutang saya sampai, Mbak laporin ke istri saya..!! Sebab karena laporan Mbak saya dan istri saya jadi berantem" ucap Bima dengan nada penuh amarah.


Mbak Raini yang tersentak karena kaget mendengar ucapan Bima yang tiba-tiba saja mengomel didepannya, membuatnya merasa kesal.


"Eh.. Kang Bima..!! makanya kalau punya hutang itu dibayar, ditagih balik marah.. Seharusnya saya yang marah..!!" jawab Mbak Raini balik mengomel.


Bima membolakan matanya "Saya sudah bilang kalau uang proyek keluar saya bayar..!! Kenapa gak sabaran?!" ucap Bima kesal.


"Saya butuh perputaran modal, Kang.. Mulai saat ini jangan lagi mengutang dikantin saya" ucap Mbak Raini dengan kesal.


Bima semakin kesal dan mengeraskan rahangnya.


Rendy yang masih membeli minuman dingin untuk pekerjanya, berpura-pura tidak melihat kejadian itu, Ia menunggu Bima beranjak pergi, lalu membayar pesanannya.


"Eh.. Mas, Rendy.. Kamu emang paling baik deh, gak pernah ngutang diakntin Saya" ucap Mbak Raini yang sepertinya masih tampak kesal kepada Bima.


Rendy hanya nyengir menanggapi ucapan Mbak Raini. Lagipula jika Ia bisa membayarnya mengapa harus mengutang? Mungkin seperti yang menjadi motto Rendy.


"Kenapa ngomel mulu, sih Mbak ?" ucap seorang mandor cleaning service.


"Gimana gak ngomel, itu si Bima kerjanya ngutang mulu, bayar kagak. Eeh.. Giliran ditagih dia yang marahnya.


"Ya ammpuun, Mbak.. Si Bima dikasih ngutang, bakal susah bayar, dan bahkan gak dibayar.. Yang sabar ya, Mbak" ucap Mandor cleaning yang membuat Mbak Raini semakin dag dig dug.

__ADS_1


"Koq kamu tau, Kang?" tanya Mbak Raini dengan penasaran.


"Karena aku pernah jadi korbannya" jawab Mandor cleaning sembari tertawa ngakak. Ia tertawa karena merasa sangat miris saja.


__ADS_2