
Sesampainya dilokasi tersebut, tentu saja Bima tanpa basi-basi langsung menggarap si Mbak Jamu. Entah sudah berapa wanita yang Ia coba dan Ia rasakan, namun sepertinya Ia tak pernah menemukan rasa cukup dan selalu ingin mencoba mencari wanita lainnya.
Sementara itu, Ningrum masih sibuk dengan membuat cake pesanan dari Gibran.
Cake blackforest dengan tiga tingkat dan ukuran yang berbeda serta decor seorang puteri salju membuat karya buatannya sangat indah.
Lelah?! Ya.. Tentu saja itu sangat melelahkan. Sebab Ningrum harus menguras tenaga dan fikirannya untuk melukis cake itu agar sesempurnah yang diinginkan oleh sang pemesan.
Saat Ningrum berjibaku dengan pekerjaannya, maka Bima sibuk dengan para wanitanya. Maka itu adalah sebuah ketidak adilan yang harus didapatkannya. Bahkan hasil keringatnya harus menghilang begitu saja saat uangnya diporoti oleh Bima tanpa sadar.
Mobil Bima terus berguncang saat Ia dan si Mbak Jamu sedang berolah raga yang membuat keduanya bermadikan peluh.
"Waah.. Ternyata beneran, Mas sungguh tangguh" ucap Mbak Jamu memujinya Bima.
Bima seketika makin bersemangat saat si mbak Jamu terus merintih dan memujinya.
Sedangkan Ningrum masih menggerakkan tangannya untuk melukis cake pesananan Gibran dengan begitu bersemangat dan mencoba menuangkan imajinasinya yang terus keluar dari akal dan perasaannya.
Ia sudah selesai mendekor cake tersebut. Ia merasa lega dan esok adalah hari tempat dimana hasil decor cake nya akan nikmati oleh si pemasan.
Ningrum membersihkan seluruh peralatannya saat membuat cake.
Ningrum melirik jam diphonselnya dan menunjukkan waktu pukul 5 sore, Ia ingin pulang dan beristirahat.
Ningrum melihat Jenny dan karyawan lainnya sudah bersiap hendak pulang dan ini adalah hari minggu, maka Salon tidak sampai malam.
Ningrum memeriksa keuangan, lalu Ia memberikan uang tips setiap hari minggu bagi karyawannya yang masuk kerja.
Setelah salon ditutup, maka Ningrum menuju loket transfer tempat langganannya. Ningrum tidak lagi ingin membuat kesalahan dengan kehilangan uang 5 jutanya yang sampai saat ini masih misteri.
Sesampainya dirumah, ia mencium aroma ayam goreng sambal cabe ijo, dan Ia bisa menebak jika itu adalah masakan Ady.
Ia menghampiri dapur dan tampak Ady baru selesai memasak "Waah.. Enak kelihatannya" Puji Ningrum kepada Ady.
"Eh, Mbak Ningrum sudah pulang. Mari makan, Mbak" ajak Ady yang selalu mawas diri karena sadar menumpang hidup dirumah orang.
__ADS_1
"Boleh, yuk sekalian makan" ucap Ady, lalu menyediakan piring kosong dan sendok kepada Ningrum.
"Ini, Mbak" sembari menyodorkan piring kosong kepada Ningrum.
"Makasih ya, Dy. Ayo makan sekalian!"
"iya, Mbak.."
Lalu Ningrum menyendokkan nasi putih dan juga ayam goreng sambal cabe hijau dan tumis cah kangkung.
Saat keduanya sedang makan, Yudi keluar dari kamar. Tampaknya Ia seperti uring-uringan dan gelisah. Namun Ningrum sangat malas untuk memandang pemuda tersebut. Ia melanjutkan makannya bersama Ady.
Yudi keluar dari rumah Ningrum dan berjalan kaki menuju keluar dari komplek.
Ia menuju ke gang sebelah untuk menuju rumah ibunya. Sudah beberapa hari Ia tidak memakai barang jaram berupa sabu, dan hal ini membuatnya terlihat sangat sakau.
Ia harus mencemukan barang itu secepatnya, karena saat ini Ia sudah tidak dapat menahan tuntutan akan barang tersebut.
Ia berjalan menyusuri jalanan menuju rumah orangtuanya. Ingin mencuri dirumah Ningrum, kamr Ningrum terkunci rapat dan Ia tidak membukanya.
Maka tujuannya kali ini adalah rumah ibunya, Ia ongin meminta uang kepada Ibunya, sebab gaji pinjamannya dari Bima belum diberikan, karena Bima belum juga pulang hingga saat ini.
"Abangmu, belum pulang, Dy?" tanya Ningrum tiba-tiba.
"Belum, Mbak.. Mungkin dia balik ke proyek urus Berita Acara proyeknya yang baru selesai" jawab Ady dengan polosnya.
"Ooo.. Ada proyeknya yang sudah selesai?" tanya Ningrum penasaran.
"Ada, Mbak.. Mungkin 3 hari lagi akan pencairan" jawab Ady sembari menyuapkan makan sorenya.
Ningrum menganggukkan kepalanya, Ia ingin melihat apakah Bima akan memberinya pembagian hasil dari proyek yang akan dicairkan, sebab selama ini Ia sudah banyak mengeluarkan dana untuk mengurus pembuatan CV yang baru.
Bahkan Ningrum mendanai modal pertama yang hilang lenyap begitu saja. Maka Ia harus mendapatkan hak nya.
Ningrum sudah selesai makan, dan Ia meletakkan piring kotor diwashtafel, lalu mencucinya.
__ADS_1
"Mbak duluan ya, Dy.. Mau mandi, sudah gerah" ucap Ningrum, lalu beranjak meninggalkan meja makan dan menuju lantai dua kamarnya.
Sesampainya dikamar, Ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ningrum berendam didalam buthtub dengan menggunakan air hangat dan juga susu khusus untuk kecantikan, sehingga membuat kulitnya tetap halus dan lembut.
Ningrum memejamkan matanya, mencoba merileksasikan tubuhnya yang sangat penat dan lelah. Ia teringat akan puterinya Gibran, kira-kira Ia akan kado apa esok untuk hadiah ulang tahun sang bocah.
Namun karena kelamaan berfikir, Ningrum sampai tertidur didalam buthub.
Sementara itu, Bima dan si mbak jamu baru selasai berolah raga. Wanita itu merapikan pakaiannya yang berserakan didalam mobil.
"Wah, makasih ya, Mas.. Kamu benar-benar hebat, Mas.. Buat saya jadi candu" ucap Si Mbak jamu memuji ketangkasan Bima dalam hal urusan ranjang.
Bima tersenyum bangga, lagi-lagi wanita yang bercinta dengannya memujinya.
"Kan sudah saya katakan, kalau saya masih sanggup dua ronde lagi" jawab Bima yang menaikkan resletingnya.
Si mbak Jamu lalu membenahi bakul jamunya.
"Turunkan saya ditempat tadi ya, Mas" pinta si mbak Jamu.
"Baik, Mbak.. Makasih juga buat service apemnya ya, punya mbak enak juga" jawab Bima yang tak lupa memuji si mbak jamu.
Wanita itu tersenyum malu-malu, dan merundukkan kepalanya.
Lalu Bima mengemudikan mobilnya dan melaju kencang menuju lokasi dimana Ia tadi menemukan si mbak jamu.
Setelah mengantarkan si mbak jamu, Ia kembali pulang menuju rumah Ningrum.
Namun saat akan melintasi gang kerumahnya, Ia dihadang oleh Yudi yang sudah sangat sakau.
Bima mengerem mendadak "Apaan sih, kamu.. Kalau tertabrak tadi mati kamu!!" omel Bima dengan kesal.
Yudi memaksa membuka pintu depan mobil dan masuk kedalam mobil "Aku butuh uang, mana uang gaji pinjamanku?" desak Yudi yang sudah tak tahan lagi untuk segera mengonsumsi barang tersebut.
Bima melihat pandangan Yudi sudah sangat berbeda, dan adiknya itu dalam kondisi sakau. Bima merogoh saku celananya, lalu mengambil uang 2 lembar ratusan ribu rupiah dan memberikannya kepada Yudi.
__ADS_1
"Nih.. Buruan turun!!" titah Bima, sembari menyodorkan uang tersebut kepada Yudi.
Pemuda itu segera merampasnya dan turun dari mobil. Lalu Bima melajukan mobilnya menuju rumah Ningrum, sedangkan Yudi tampak menghubungi seseorang untuk memesan barang yang diinginkannya.