
Ningrum masih berada di ruang kerjanya. Saat itu Yamink datang menemuinya. Ia membawa satu cup isi es campur dan juga bakso esktra pedas.
Kantor Andini dan salon Ningrum hanya berseberangan jalan, maka sangat begitu dekat untuk Yamink tinggal menyeberang saja.
Tok..Tok..tok..
"Ya.. Masuk.." ucap Ningrum..
Lalu kepala Yamink menyembul dari balik pintu dengan membawa satu cup es campur dan juga bakso mercon milik Andini.
Ningrum mengerutkan keningnya, tidak biasanya sahabatnya bertingkah seperti ini, karena setahunya hanya Andini yang punya kebiasaan bawa camilan jika berkunjung ke salonnya.
"Gak biasanya bawa makanan camilan beginian" uvap Ningrum yang mencomot pentol bakso tersebut.
"Lagi pengen, istri yang telat datang datang bulan kenapa Aku yang ngidam, Ya?" ucap Yamink keceplosan.
Ningrum terperangah "Waaah.. Jadi mbak Syahfitry sudah positif hamil ya, Kang? Selamat Ya?" ucap Ningrum sumringah.
"Iya, Mbak.. Baru juga seminggu" jawab Yamink yang menghabiskan sisa baksonya.
"Iya.. Semoga sehat dan lancar hingga lahiran.. Aaminn" ucap Ningrum tulus.
"Amiin.. Makasih doanya, Ya Mbak"jawab Yamink, lalu membuang sampah plastik baksonya kedalam tong sampah.
Yamink meletakkan tas koper yang dibawanya diatas meja sofa, lalu membukanya "Mbak.. Ini pesanannya waktu itu, maaf baru bisa antar karena beberapa hari ini ke luar kota ada pesanan barang dari pelanggan lain" ucap Yamink menjelaskan.
Ningrum beranjak dari kursinya dan menuju ke sofa.
"Bahan face tonik dan lainnya juga sudah menipis untuk Facial ku, Kang. Akhir-akhir ini banyak pelanggan melakukan perawatan wajah, maka stok bahan hampir habis" ucap Ningrum menjelaskan.
Yamink menganggukkan kepalanya, dan menatap sahabatnya "Syukurlah.. Semoga salonnya lancar dan kamu banyak uang.. Lalu bisa beli pesawat terbang" ucap Yamink berkelakar.
__ADS_1
Seketika Ningrum terdiam mendengar ucapan sahabatnya. Sebab selama menikah dengan Bima, semua hasil dari usahanya selama ini selalu terkuras habis, bagaimana bisa untuk membeli pesawat terbang, jika untuk membeli sesuatu yang diinginkannya seperti perhiasan saja karena waktu itu Andy mengiriminya uang.
Yamink terdiam menatap sang sahabat "Ada apa, Mbak? Ada yang salah dengan ucapan saya, Ya?" ucap Yamink merasa bersalah.
Niangrum menoleh ke arah sahabatnya "Tidak, Kang.. Hanya ada sedikit masalah saja.. Maaf.." jawab Ningrum cepat, lalu segera memilah bahan yang dibawah sahabatnya dan memanggil melalui panggilan telephone kepada Jenny untuk ke ruangan kerjanya dan membawa uang salon hari ini sebagai pembayarannya.
Jenny segera memasuki ruangan kerja Ningrum dan membawakan sejumlah uang yang diminta sang majikan.
Saat Jenny memasuki ruangan kerja, Ningrum mencium aroma parfum milik pekerjanya yang selalu membuatnya merasa mengingatkan pada sesuatu yang sangat mengganggu fikirannya.
Setelah memberikan uang tersebut, Ia berlalu pergi "Ada apa, Mbak?" tanya Yamink penasaran.
"Kenapa ya, Kang.. Setiap aku mrncium aroma parfum Jenny seperti aku merasakan ada sesuatu yang janggal" ungkap Ningrum, mencoba terbuka kali ini dengan masalahnya.
Yamink terdiam sejenak, Ia pernah memergoki Bima menjemput Jenny dipinggir jalan dan menuju entah kemana.
"Mungkin perasaan, Mbak saja.. Coba berfikir positif saja, tetapi jika negatif yang terus datang, maka waspadalah, karena biasanya itu adalah insting yang kuat dari dalam diri kita jika ada sesuatu yang akan terjadi" ucap Yamink mencoba mengingatkan.
Ningrum menghela nafasnya, mencoba mencerna apa yang diucapkan sahabatnya, sebab Ia seharusnya berhati-hati dalam setiap hal, karena selama ini Ia menampung iparnya, tetapi Ia sudah beberapa kali kehilangan barang berharganya meskipun Ia belum mengetahui siapa pelakunya.
"Berapa semua, harganya, Kang?" tanya Ningrum.
"satu juta dua ratus ribu, Mbak" ucap Yamink setelah mentotal semua barang yang diambil oleh Ningrum.
Ningrum menghitung uangnya dan membayar belanjaannya "Ini, Kang.." ucap Ningrum sembari menyerahkan uang tersebut.
"Heem.. Gak biasanya gak nawar.." uvap Yamink penasaran.
"Kang Yamink pasti butuh uang buat biaya Mbak Syahfiry yang sedang mengandung" ucap Ningrum sembari tersenyum.
Yamink menatap sang sahabat "Semoga hidup kamu selalu diberkahi oleh Sang Rabb ya, Mbak.." ucap Yamink dengan tulus.
__ADS_1
"Aamiin.. Makasih doanya, Kang.. Doa yang sama buat kamu" jawab Ningrum.
Dalam hati Yamink sangat kasihan melihat sahabatnya yang harus mendapatkan jodoh seperti Bima, semoga saja suatu saat nanti akan ada akhir yang membahagaiakan buat Ningrum, doanya dalam hati.
Yamink mengemasi barangnya, dan memasukkannya dalam koper lalu berpamitan beranjak pergi.
Setelah kepergian Yamink, Ningrum terdiam sesaat, lalu kembali menelphone Jenny untuk mebgambil stok barang dan menatanya di etalase salon.
Jenny kembali datang dan menjalankan perintah Ningrum. Ia menatapi gadis tersebut yang mana tangannya sangat lincah memasukkan barang-barang tersebut ke dalalam keranjang untuk dibawa ke lantai dasar dan ditata di lemari etalase.
Ningrum merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya setiap kali berpapasan dengan Jenny, instingnya begitu kuat dan ingin mengungkapkannya, sebab Ia juga merasakan sikap Jenny akhir-akhir ini juga berubah terhadapnya.
Dimana pekerjanya itu terlihat begitu canggung jika sedang berhadapan dengannya seolah seperti salah tingkah.
Namun Ningrum tidak ingin terburu-buru membuat praduga tak bersalah, Ia harus mencari bukti yang lebih efektif.
Jenny segera beranjak dari ruang kerja Ningrum dan turun ke lantai dasar.
Degub jantunnya terasa bagaikan genderang yang akan perang saat Ningrum terus menatapnya diruang kerja.
Jenny seperti mengalami tremor saat menghadapi Ningrum. Semua itu karena Ia memiliki sebuah kesalahan yang sangat fatal karena bermain api di belakang Ningrum.
Bahkan Ia tak memikirkan masa depannya yang sudah kehilangan mahkotanya yang seharusnya Ia jaga untuk suaminya kelak, bukan Ia berikan secara percuma dan juga Ia obral bagaikan sesuatu yang tidak memiliki harga.
Setelah menyelesaikan pekerjaaannya, Ia kembali menghampiri pelanggan yang masih menggunakan obat rebonding untuk tahap akhir.
Ia kemudian mengerjakan pekerjaannya, meskipun hatinya saat ini sedang gelisah dengan tatapan Ningrum saat diruangan kerja tadi.
Tak berselang lama, Ningrum turun dari lantai dua dan ingin mencari makan siang. Saat berpapasan dengan Jenny, gadis itu seolah-olah tak melihatnya dan membuat Ningrum semakin merasakan kejanggalan dihatinya "Sebenarnya apa yang membuat gadis ini bertingkah aneh?" guman Ningrum dalam hatinya, Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam diri Jenny.
Gadis yang dulunya begitu ceria saat berhadapan dengannya, kini tampak seperti orang yang serba salah.
__ADS_1
Ningrum menghela nafasnya, lalu beranjak pergi meninggalkan salon untuk mencari makan siangnya.
Saat bersamaan, Ia melihat Andini juga keluar dari pintu kantornya, lalu Ningrum mencoba menyeberangi jalan untuk menghampiri Andini dan mengajaknya makan siang bersama.