SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 50


__ADS_3

Seminggu kemudian...


"Dik.. Ayo, kita lihat rumah yang akan beli" ucap Rendy kepada Andini yang saat ini sedang libur bekerja.


"Hari ini, Mas? Beneran Nih? Gak bohongkan.." tanya Andini tak percaya.


Rendy menganggukkan kepalanya "Apa Mas pernah bohong sama kamu?" jawab Rendy yang sudah merapikan pakaiannya.


Andini beranjak dari ranjangnya menghampiri sang suami dengan hanya memakai cardigen dan hijab instannya, lalu memoleskan lipstik seadanya.


Andini adalah type wanita yang kurang suka berias dan bersyukurnya Rendy orang yang menerima Andini apa adanya tanpa menuntut harus ini dan itu.


Keduanya keluar dari rumah dan berboncengan sepeda motor matic. Rendy belum dapat membeli mobil, sebab baginya Ia harus membeli rumah yang lebih utama untuk sebagai tempat tinggal dan mobil bisa menyusul berikutnya.


Kita ke arah mana, Mas?" tanya Andini penasaran.


"Ada tiga yang menjadi pilihan, Mas dapat dari para temen dan satu lagi dari aplikasi jual beli" jawab Rendy.


Andini hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Suaminya, lalu mengeratkan dekapannya di pinggang Rendy.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba disatu tempat yang paling terdekat.


Rendy membawa Andini dirumah pertama yang ingin dijual. Setelah memeriksa kondisi rumah dan tawar menawar harga, namun tidak ditemukan kesepakatan, akhirnya mereka meninggalkan lokasi dan menuju ke dua pilihan lagi.


"Kamu suka rumah yang pertama atau bagaimana, Dik?" tanya Rendy kepada Andini.


"Kalau uangnya tidak cukup tak apa, Mas.. Lagi pula kita belum melihat rumah yang kedua dan yang ketiga. Kita survei dulu saja" jawab Andini kepada Rendy.


Ia bukan tidak ingin membantu Rendy mengeluarkan uangnya untuk membeli rumah, Namun Ia ingin membeli baramg-barang yang akan mengisi rumahnya kelak, atau setidaknya melakukan renovasi jika kelak rumah itu ada yang mengalami ke rusakan.


"Mas.. Singgah ke minimarket beli minuman yang dingin, yuk?" ucap Andini yang merasa kehausan karena hari sudah mengarah ke siang.


"Iya, Dik" jawab Rendy, lalu Ia mencari mini market untuk membeli minuman dingin yang diinginkan istrinya.


Sesampainya di minimarket, Andini dan Rendy turun dari motornya dan memasuki toko waralaba tersebut untuk membeli minuman dingin. Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka membayarnya dikasir dan kembali keluar.


Saat bersamaan, Bima ternyata memarkirkan mobilnya di dekat motor Rendy.

__ADS_1


Ia turun dari mobilnya dan tersenyum mencibir melihat Rendy dan juga Andini yang sedang menggunakan helm untuk melanjutkan perjalanannya mencari rumah yang akan mereka survei.


"Heei.. Bro. Masa iya pemborong proyek cuma naik motor matic, beli mobil donk biar gak kepanasan dan kehujanan.." cibir Bima dengan nada sombongnya.


Rendy hanya membalas dengan senyum tipis, tak ada niat ingin menanggapi ucapan Bima.


Andini yang mendengar ucapan Bima seketika terperangah dan rasanya ingin melempar mulut Bima yang jelas-jelas sudah merendahkan suaminya.


Andai saja tidak mengingat itu suami sahabatnya, rasanya ingin Ia tenggelamkan mulut pria tersebut kedalam comberan.


Rendy yang melihat perubahan raut wajah Andini, dengan segera menggenggam pergelangan tangan Andini.


"Ayo, Dik.. Kita segera lanjutin perjalanannya" ucap Rendy mencoba menenangkan hati sang istri yang tampak sudah terpancing emosinya.


Jika bukan karena Rendy dan juga memandang Ningrum sebagai sahabat sekaligus dianggap kakaknya, entahlah.. Mungkin Andini sudah terpancing emosi melihat Bima.


Akhirnya Andini menuruti ucapan Rendy dan naik keatas boncengan, lalu melanjutkan perjalanan mereka.


Sesampainya dirumah kedua. Mereka mulai memeriksa kondisi rumah, tampak baik dan tidak ada kurang apapun, namun lokasinya rawan banjir, dan hal ini akan membuat Andini kerepotan.


Akhirnya mereka memutuskan untuk melihat rumah yang ketiga.


"Ada apa, Dik?" tanya Rendy penasaran.


"Itu kan mobil Bima, Mas" ucap Andini dengan cepat.


Rendy meliriknya, dan tampak Nira keluar dari rumah yang menyambut Bima dengan cepat.


Andini membolakan matanya "Siaalaan..!! Bima berselingkuh..!!" ucap Andini dengan kesal.


Ia mengambil phonsel dan merekamnya, lalu menyimpannya dengan segera.


"Dik.. Jangan sembarang memberikan rekamanmu kepada sahabatmu. Biarkan Ia mengetahuinya sendiri, jangan dari kamu" pinta Rendy kepada Andini.


Andini mendenguskan nafasnya, rasa kesal kepada Bima semakin menjadi.


Ia sangat tidak terima jika Bima mempermainkan pernikahan sahabatnya dengan perselingkuhan yang sangat sering dilakukannya.

__ADS_1


Andini menarik nafasnya dengan berat, dan mencoba menghelanya dengan kasar.


Andini tahu jika saat ini Ningrum sedang berada dilokasi resepsi perniakahan untuk jasa make up.


"Apakah laki-laki semuanya seperti itu?" ucap Andini dengan lirih. Hatinya benar-benar sakit melihat sahabatnya diselingkuhi seperti itu.


Sedangkan sahabatnya itu bekerja dengan begitu berat, tetapi Bima bersenang-senang dengan wanita lain.


"Tidak semua laki-laki seperti itu, Dik" jawab Rendy sembari memarkirkan motor maticnya didepan sebuah rumah minimalis dan tampak tidak mewah, tetapi semua dalam kondisi layak, hanya dibagian dapur saja yang perlu renovasi sedikit.


Setelah melakukan negosiasi, akhirnya mereka menemukan kesepakatan dan membeli rumah tersebut.


Lalu terjadi akad jual beli dan kini Rendy merasa lega karena akhirnya Ia memiliki rumah yang akan Ia tinggali bersama Andini dan keluarga kecilnya kelak.


Andini mendekap Rendy dengan senyum termanisnya "Kamu suka dengan rumahnya?" tanya Rendy.


Andini menganggukkan kepalanya, dengan tatapan berbinar.


"Maafin Mas belum dapat membuatkan rumah mewah untuk kamu" ucap Rendy sembari mengecup ujung kepala Andini.


"Ini juga sudah sangat bersyukur, Mas." jawab Andini tulus.


"Kapan Kita berbenah dan pindahan?" tanya Rendy.


"Kita cat saja dulu rumahnya, dan dapurnya direnovasi dikit" jawab Andini.


Seketika Rendy terdiam "Tapi Uang Mas sudah tidak ada lagi, ini ada untuk menggaji pekerja dan tidak mungkin Mas mengambil hak mereka untuk kepentingan pribadi kita" ucap Rendy dengan tatapan sendu.


Andini tersenyum "Tenang saja, pakai uang Dini saja, Mas.." jawab Andini dengan tulus.


Rendy mentap sang istri dengan senyum sumringah "Baiklah, Mas pinjam.. Ntar kalau proyek yang baru kelar, uangnya Mas ganti" jawab Rendy.


Andini menghela nafasnya "Ya ampuuun, Mas. Kenapa mesti diganti, gak perlu koq" jawab Andini menolak.


"Itu uang kamu, Dik.. Mas gak punya hak buat memakainya, kecuali kamu ikhlas. Namun apapun itu Mas akan tetap menggantinya.." janji Rendy.


Andini rasanya semakin mencintai sang Suami yang begitu sangat pengertian dan juga memiliki hati yang penuh cinta.

__ADS_1


Lalu keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada irangtua Andini, sebab mereka sebentar lagi akan pindahan dan hidup mandiri.


Saat sedang mereka menuju pulang dan melintasi rumah Nora, Ia masih melihat mobil Bima terparkir disana. Andini mendenguskan nafas kesal dan merutuki Bima dalam hatinya.


__ADS_2