
Nora semakin gencar memotret motor tersebut dan mengunggahnya kembali di akun media sosialnya, berharap jika Ningrum akam membalas komentar diunggahannya atau setidak melihat postingannya tersebut. "Ayank Beb, memang bisa saja buat kejutan untuk istrinya tercinta" caption di unggahannya.
Dan unggahan tersebut ternyata dilihat oleh ibunya Bima "Wah.. sudah beli motor baru saja si Bima, berarti Dia memiliki banyak uang, dan aku harus menemuinya, aku lebih baik meminta uang kepada Bima saja, daripada dengan si Nora.
Sumi menaiki sepeda motornya dan menuju ke rumah kontrakan milik Bima.
Mobil showroom sudah pergi, dan motor itu kini terparkir di depan teras rumah kontrakan Bima.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara meain motor berhenti didepan rumah, dan Nora yang masih berjalan tertatih mencoba keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Yaelah.. Ne orang gercep banget kalau liat anaknya ada uang dikit saja" guman Nora kesal dalam hatinya.
"Assallammualaikum, Bim.. Bima" ucap Sumi dari teras. Nora yang berada dibalik tirai jendela berdiri sembari melipat kedua tangannya di deoan dada.
Tak berselang lama, Bima ke luar dari kamar mandi dan mendengar namanya berulang kali dipanggil.
Bima menghampiri ke arah teras "Eh, Ibu.. Masuk, Bu..! Aku ganti pakaian dulu" seru Bima kepada Ibunya.
"Sudah.. Ibu disini saja" Jawab Sumi.
Bima menganggukkan kepalanya, dan Ia melihat Nora sedang berdiri mengintai didepn jelndela, namun tak mengajak ibunya masuk ke dalam rumah, Bima hanya mendenguskan nafasnya, lalu menuju kamar dan menyalin pakaian.
Setelah selesai bersalin pakaian, Ia kembali menemui ibunya yang masih duduk diteras. "Dik.. Buatkan teh manis dua gelas, bawa ke teras, ya" Titah Bima kepada Mora.
Nora membolakan matanya "Apaan sih, Bang.. ! Gak lihat apa kalau aku masih sakit, lagian itu ibu abang ngapain juga kemari sih? Sudah tau kita baru saja tertimpa musibah, bukannya bersimpati tetapi menambah beban saja.!" omel Nora yang merasa kesal dan sengaja meninggikan nada suaranya, Ia berharap jika Sumi mendengarnya.
Bima tercengang mendengar ucapan Nora. Ia tidak menduga jika Istrinya itu begitu tega melontarkan kalimah pedas kepada ibunya.
__ADS_1
Bima berjalan menuju teras dan menemui Sumi, Ibunya. "Ibu sendirian saja kemari?" tanya Bima berbasa- basi.
Sumi yang mendengar ocehan dari Nora merasakan goresan dihatinya sangat begitu sakit. Ia tak menduga jika Nora lidahnya sangat tajam, setajam silet.
"Bim.. Ibu ada keperluan untuk membayar angsuran bank keliling setiap minggu, tolongin ibu, Bim.. Ayahmu akhir- akhir ini berjudi terus dan sudah dua hari tidak pulang, sedangkan Yudi kerjanya hanya tidur tanpa mau bekerja" ucap Nora mengeluhkan nasibnya yang saat ini sedang begitu terpuruk.
Bima memandang ibunya, Ia mengeluarkan dompetnya dan menghitung 5 lembar uang ratusan ribu dan untuk diberikan kepada Sumi.
Nora yang melihat hal itu tentu tidak terima, sebab Ia saja belum diberi uang belanja dari Bima, dan ini seenaknya saja Sumi sang ibu mertuanya memoroti Bima.
Dengan berjalan tertatih, Nora menghampiri keduanyanya yang kini sedang berada diteras.
Nora merampas uang tersebut dari tangan Bima dengan wajah penuh amarah.
"Kamu ini ya, Bang..!! Aku saja belum kamu beri uang untuk belanja, ehhh..! Ini Ibu kamu sudah kamu beri uang terlebih dulu.!! Apa kamu gak lihat aku ini masih sakit karena kita dibegal kemarin, belanja dirumah belum ada, ini Ibu kamu sudah datang saja, dan menyusahkan saja!!" omel Nora dengan nada sengit.
Lalu dengan perasaan yang semakin kesal, Nora meberikan selembar seratus ribu rupiah kepada Sumi "Nih, Buat Ibu..! Makanya bapak itu suruh kerja, jangan judi saja kerjanya! Dan satu lagi, Yudi itu jangan kerjanya nyusahin orang terus..!!" Nora mekuapkan amukannya dengan berapi-api.
Sumi yang telinganya merasa panas, memiilih untuk pergi, meskipun hanya seratus ribu yang didapatnya, dan Ia juga kecewa saat Bima hanya diam saja tanpa membelanya.
Sumi pulang mengendarai sepeda motornya dengan perasaan yang hancur, namun apalah dayanya jika Bima saja tak berkutik dengan Nora.
"Sepertinya si Bima itu sudah kena tundukkin oleh si Norak" guman Sumi dalam hatinya.
Setelah ke pulangan Sumi, Bima menatap kepada Nora, namun wanita itu balik menatapnya.
"Mana sisa Uang dari pemodal itu? Serahin sama aku!" ucap Nora kepada Bima.
__ADS_1
Entah apa yang membuat Bima tak mampu melawan apapun ya g diucapkan Nora padanya. Ia mendenguskan nafasnya, dan beranjak dari kursi teras lalu menuju kamar dan mengambil sisa uang modal yang diberikan oleh Anton, nakun menyelipkan sebgiannya.
"Nih.. Jangan dihabisin, itu buat bayar anggota pekerja mingguan!" ucap Bima, sembari meletakkan uang sebesar 20 juta diatas ranjang tidur dan kembali keluar teras untuk menghisap rokoknya.
Nora tersenyum menyeringai, Bagaimana mungkin Bima tidak tunduk padanya, karena Ia telah memberikan darah mens-truasinya yang dicampurkan ke dalam kopi Bima dengan berbagai mantra yang diberikan dukun itu kepdanya {Jangan ditiru ya, Reader, dosamu tidak akan terampuni jika sampai membuat suamimu seperti itu, darah itu najis, dan menundukkan suami gak perlu pakai hal begituan, cukup doakan saja setiap saat agar hatinya berubah.}
Bima menghidupkan mesin motor barunya, dan mulai memanaskannya. Ia memandangi motor itu dengan penuh kebanggan. Ia berkeinginan untuk membeli mobil lagi. Ia tidak perduli jika rumahnya mengontrak, yang penting gaya adalah hal yang utama menjadi prioritas utamanya.
Bima membawa sisa uangnya kedalam jok motor, lalu pergi mengendarai motor barunya sendirian.
Nora tak sempat memanggilnya karena Ia masih sibuk menghitung uang yang diberikan oleh Bima.
Bima menuju loket transfer uang, mmemasukkan sisa uang tersebut dan sisanya akan Ia gunakan untuk membeli pakain mahal bermerk di Mall. Bima adalah orang yang selalu mengutamakan penampilan diatas segalanya, sebab Ia akan terlihat keren jika sudah menggunakan pakaian mahal dan ber-merk.
Bima memasuki Mall. Ia menuju tempat penjualan pakaian dewasa. Disana Ia mencari pakian yang akan diincarnya. Saat sibuk memilih, tanpa sengaja Ia bertabrakan dengan seseorang yang sudah lama tak Ia temui, seseorang itu tak lain adalah Jenny.
Sesaat mata membola. "Jenn.." ucap Bima menyapa gadis itu.
Jenny tersentak kaget saat melihat siapanyang berada dihadapannya.
"Pak, Bima" ucapnya tak percaya.
Bima melancarkan mantranya dan tentu saja Jenny yang tadinya akan marah seketika luluh hatinya.
"Bapak tega ninggalin saya begitu saja" ucap Jenny dengan raut wajah sedih.
"Huus. Siapa yang ninggalin, kamu? Bapak cuma ada masalah saja. Bagaimana kalau kita lanjutin obrolannya di kosan, kamu? Bapak belanja dulu, kamu bapak belikan satu stell dress deh!" ucap Bima mengiming-ngimingin.
__ADS_1