SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-143


__ADS_3

Ningrum masih terlihat sibuk dengan adonan tepung didalam wadah mixer. Ia baru saja menyelesaikan beberapa puluh cup cake yang akan ia bagikan kepada panti asuhan yang menjadi salah satu tempat ia menyisihkan sedikit hartanya untuk membantu para anak-anak yang kurang beruntung.


Luccy menghampirinya dan membawa sebuah keranjang kosong kepada Ningrum. "Wah.. Banyak banget cup cake-nya, Ma," tanyanya dengan sangat penasaran.


Ningrum menoleh sejenak, dengan senyum tipisnya. "Coba kamu cicipi, bagaimana rasanya," pinta Ningrum sembari menuangkan adonan ke dalam cup.


Luccy menganggukkan kepalanya, meraih satu cup cake berlumur coklat fla yang tentunya sangat disukai oleh anak-anak.


Gadis kecil itu memejamkan kedua matanya, saat cake dengan tekstur lembut dan coklat lumer bersentuhan dengan lidahnya. "Emmm... Ini enak banget, Ma..!" puji Luccy dengan bersungguh. Ia memang jatuh cinta dengan Luccy saat pertama kali wanita itu membuat cake untuknya saat ulang tahun waktu itu.


"Benarkah?" wajah Ningrum berbinar saat mendengar pujian dari Sang gadis kecilnya.


"Iya, Ma.. Ini enak banget.!" Luccy kembali meyakinkan Ningrum dengan apa yang ia rasakan.


Kemudian wanita itu tersenyum sumringah, sembari melanjutkan pekerjaannya yang menunggu panggangan cup cake yang sebentar lagi akan matang.


"Ayo, bantu mama masukin cake ini ke dalam keranjang!" pinta Ningrum kepada Luccy.


Gadis itu menganggukkan kepalanya dan membantu menata cup cake itu dengan penuh semangat.


"Mau dibawa kemana cup1 cake ini semua, Ma?" tanyanya lagi.


"Ada deh, nanti kamu juga tau!" jawab Ningrum yang seolah memberikan teka-teki kepada Luccy yang semakin membuat rasa penasaran itu semakin kuat.


Luccy memanyunkan bibirnya, sebab ia harus menebak-nebak apa yang sedang disembunyikan oleh Ningrum darinya.


Saat keduanya masih terdiam dalam tebak-tebakannya, terdengar suara pengatur waktu dari open tersebut berbunyi, yang mana menujukkan jika cup cake tersebut sudah matang.


Ningrum menghentikan pekerjaannya. "Kamu lanjutkan ya, Sayang. Mama mau lihat cake yang di oven," titah Ningrum kepada gadis kecilnya.


Luccy dengan sigap dan cekatan memasukkan semua cup cake yang diperintahkan oleh Mamanya.


Selama bersama Ningrum, ia mulai terbiasa untuk membantu pekerjaan mamanya, meskipun selama hidup dengan papanya ia adalah anak yang tidak pernah mengerti tentang apapun, sebab semua dikerjakan oleh para asisiten rumah tangga dan juga tukang kebun.


Namun ia tidak mengeluh, dan mencoba menik-mati semua apa yang diperintahkan oleh Ningrum, sebab ia merasa suatu saat nanti semua akan berguna baginya.


Bahkan pernah waktu itu Ningrum memintanya untuk menanak nasi di magic com dan membuat omelet telur. Perlahan ia mulai mengetahui cara menggunakan peralatan dapur dan juga make up.


Siapa sangka jika diusianya yang masih sekecil itu, ia sudah pandai memasak dan terkadang djam-diam mencoba merias wajahnya dengan mengingat berbagai alat make up yang sering digunakan Ningrum saat merias pengantin.


****


Ningrum melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Ia menuju ke sebuah rumah panti asuhan yang banyak dihuni anak balita yang terlantar dan terkadang sengaja dibuang oleh orangtuanya.


Luccy tidak berani bertanya lagi kepada Ningrum, sebab wanita itu sudah terlihat sangat lelah sejak tadi, dan ia juga sudah diberitahu akan ada kejutan untuknya.


Saat Ningrum menepikan mobilnya disebuah halaman bangunan sederhana, tampak tertulis disebuang plang yang terletak diatas rabung bangungan itu 'Panti Asuhan Kasih Bunda'.


Luccy mengerutkan keningnya. Ia masih belum berani bertanya dan masih menduga-duga.


"Ayo, Sayang.. Kita sudah sampai," ucap Ningrum, sembari melangkah keluar dari mobil.


Luccy mengekorinya, dan Ningrum mengeluarkan keranjang berisi cup cake dan menyerahkannya kepada Luccy untuk dibawa ke dalam panti. Sedangkan ia membawa beberapa bahan sembako dan makanan ringan yang dibelinya di minimarket, sebab anak-anak itu pada dasarnya doyan jajanan.


Luccy membawa keranjang itu meski sedikit kepayahan, tetapi ia tetap membawanya dengan penuh suka cita, sebab saat ini hanya Ningrum tempatnya meminta kasih sayang, setelah kedua orangtuanya tidak lagi bersamanya.


keduanya disambut oleh pemilik panti dengan sangat suka cita. Saat Luccy dan Ningrum memasuki ruangan tersebut, terdengar suara riuh dari anak balita. Baik tawa, tangis dan juga candaan. Semuanya berbaur menjadi satu. Begitu tampak repotnya para pengasuh panti dalam mengasuh mereka.


Luccy tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat ada bayi berumur dua tahun yang menangis karena meminta susu, dan juga yang saling berebutan.


Ia masih bingung dengan apa yang dilihatnya. Sebenarnya itu anak-anak siapa dan mereka yang berjumlah puluhan itu berada dalam satu ruangan dan diawasi oleh dua orang saja.


"Ayo, Sayang.. Kita bagikan cup cake dan snack ini kepada mereka. Satu orang mendapatkan 1 cup cake, satu kotak susu, dan satu bungkus snack, jangan kurang dan jangan lebih, harus adil dan merata." titah Ningrum.


Luccy menganggukkan kepalanya, meskipun masih ada banyak pertanyaan yang bergelayut dibenaknya, namun ia masih menyimpannya untuk nanti saja ia tanyakan saat mereka pulang nanti.


Tampak wajah-wajah ceria dari penghuni panti saat menerima oleh-oleh dari mereka, dan selebihnya mereka serahkan kepada pemilik panti untuk nanti dibagikan saat jam berikutnya.


Setelah selesai, keduanya berpamitan kepada pemilik panti tersebut, dan tampak Ningrum memberikan sebuah amplop coklat, yang diyakini Luccy adalah uang kepada pengurus panti tersebut.


Keduanya berpamitan, yerdengar suara tawa dari anak-anak panti. Bayi berusia dua tahun yang tadinya menangis, kini tertawa sembari menyeruput susu cair instan dalam kotak berukuran sedang.


Luccy merasakan hatinya terenyuh melihat pemandangan itu, meskipun ia masih sangat kecil, tetapi ia sudah dapat memahami, jika mereka sangat membutuhkan bahan pangan dan juga snack.


Setelah keduanya didalam mobil, Luccy mencoba memepertanyakan kepada Ningrum tentang semuanya. Ia sudah sangat penasaran tentang siapa anak-anak tersebut.


"Ma.. Mereka itu anak-anak siapa?" tanya Luccy.

__ADS_1


"Mereka anak-anak terlantar yang sengaja di buang oleh kedua orangtuanya karena tidak menginginkannya." jawab Ningrum.


Luccy tercengang mendengar penuturan dari Ningrum. "Bagaimana orangtua bisa menelantarkan mereka yang begitu sangat kecil?" cecarnya dengan sangat resah.


"Yang terpenting kamu aman bersama mama, dan kewajiban untuk kita juga memberikan sedikit harta yang kita miliki untuk mereka, dan Rabb akan menggantinya dengan yang lebih besar dan berlipat ganda." jawab Ningrum mencoba menjelaskannya kepada Luccy.


Gadia kecil itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti dan memahami apa yang diucapkan oleh mamanya.


Kini mereka telah sampai didepan salon. Keduanya turun dari dalam mobil, tampak lengang dan juga sunyi.


Ningrum merasakan sesuatu yang sangat aneh dan mencurigakan, ada apa dengan salonnya, dan apa yang sedang terjadi?


Wanita itu merentangkan satu tangannya untuk menghalangi jalan Luccy, ia menggiringgadis itu untuk berada dibelakangnya, sebab ia merasa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.


"Ada apa, Ma?" tanya Luccy penasaran.


Ningrum meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Luccy, meminta gadis itu untuk diam.


Dengan perlahan Ningrum membuka pintu salon, tidak terlihat Sary dan juga dua karyawan lainnya.


"Kemana mereka?" guman Ningrum dalam hati. Ia mulai merasakan was-was dan ada sesuatu yang tidak beres. Tampak atap etalase pecah berantakan, sepertinya digebrak oleh seseorang.


"Emmmm...eeemmmm..!" terdengar suara erangan dari sudut meja laci kasir. Ningrum mempercepat langkahnya untuk melihat apa yang terjadi, dan..


"Astaghfirullah..!!"


Ningrum tersentak kaget saat melihat apa yang terjadi pada Sary dan dua karyawan lainnya.


Mereka diikat dan mulut mereka di lakban agar tidak berteriak.


Dengam cepat Ningrum membuka lakban dan juga tali pengikat ditubuh mereka.


Nafas ketiganya tersengal dan mereka menghirup oksigen sebanyaknya dengan begitu cepat.


Ningrum membawa mereka duduk disofa untuk tempat menunggu bagi tamu. Ia memberikan kesempatan kepada ketiganya untuk menenangkan diri karena terlihat sangat syok akan peristiwa yang baru saja mereka alami.


Setelah ketiganya tampak tenang, Ningrum mulai bertanya kepada mereka karena rasa penasaran yang sangat kuat.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Ningrum dengan hati-hati.


"K-kiita kerampokan, Bu!" ucap Sary dengan terbata.


Ningrum tersentak kaget, ia menelan salivanya, sebab kabar itu sangat mengejutkan baginya.


"Uang kasir dibawa dan alat-alat kosmetic juga dibawa!" salah satu karyawan menimpali.


Ningrum menatap kepada para karyawannya satu persatu. Rasa sedih, ya tentu saja. Sebab ia harus menanggung kergian. Namun ia harus ikhlas, sebab itu semua adalah titipan dan ia tidak dapat mengelak dari apa yang sudah ditakdirkan.


"Ya sudahlah, yang terpenting kalian tidak dilukai, apalagi sampai mencelakai kalian hingga sesuatu yang fatal." jawab Ningrum.


Ketiganya terperangah. Bagaimana mungkin Ningrum sesantai itu kehilangan uang yang begitu banyak dan sepertinya juga tidak melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.


"Kita buat laporan saja, Bu!" usul Sary.


"Iya, Bu.. Kan ada cctv!" yang lain menimpali.


Ningrum hanya tersenyum tipis. "Tidak usah. Ribet urusannya, dan harus begini begitu. Jika semua yang hilang rezeki saya, maka akan kembali dalam bentuk dan jalan yang lain!" tukas Ningrum.


Ketiga karyawannya saling pandang. Mereka tidak mempercayai dengan sikap majikannya yang sesantai itu.


"Ya, sudah.. Bersihkan pecahan kaca etalase, pakai sarung tangan jangan sampai tangan kalian terluka, saya mau istirahat dikamar." titah Ningrum.


ketiganya menganggukkan kepalanya. Luccy yang sedari tadi mendengarkan semua percakapan itu mengekori Ningrum dari arah belakang.


Sesampainya dikamar, Ningrum mengganti pakain santai dan berbaring diatas ranjang empuknya.


Luccy menghampiri mamanya, ia masih ingin menanyakan sesuatu yang sedari tadi menghinggapi hatinya.


Ia duduk ditepian ranjang dan menatap sang mama yang masih bermain phonsel.


"Ma.."


"Ya.." jawab Ningrum, sembari menggulir layar phonselnya untuk melihat unggahan yang lewat diberanda akun media sosialnya.


"Mama tadi barusan bilang jika kita rajin bersedekah, maka Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda. Tetapi mengapa mama justru kehilangan uang dalam waktu yang bersamaan?" tanya Luccy dengan penasaran.


Ningrum menutup layar phonselnya dan memandang Luccy yang tampak kritis akan sesuatu hal yang membuatnya begitu penasaran.

__ADS_1


Wanita itu merubah posisinya, ia duduk bersandar disandaran ranjangnya.


"Kemarilah, mendekat dengan mama, akan mama jelaskan semuanya."


Luccy mematuhi ucapan mamanya dan mendekati wanita tersebut.


Ningrum meraih tubuh gadis kecil itu dan meletakkan tubuh itu dipangkuannya.


"Dengar ya, Sayang.. Harta yang kita miliki itu adalha titipan, dan jika yang pemilik harta mengambilnya, maka kita tidak boleh marah jika diambilnya."


"Misalnya, teman Luccy nitipin pensil, janji besok diamblinya, karena ia akan berpergian keluar kota. Maka dari itu, Luccy hanya sebagai tempat penitipan, dan jika esok teman Luccy ingin mengambilnya, maka mau tidak mau Luccy harus mengembalikanny, meskipun Luccy menyukai barang titipan tersebut. Dan saat melihat barangnya kamu jaga dengan baik, ia sudah menyiapkan oleh-oleh yang lebih besar untuk diberikan kepada kamu." Ningrum memberikan penjelasan kepada puteri kecilnya dengan bahasa yang mudah dimengertinya.


Luccy perlahan mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Ningrum. Saat bersamaan, phonsel Njngrum berdering, satu nama 'Andy'.


Pria itu bagaikan sebuah misteri. Datang dan pergi sesuka hatinya, tidak terdeteksi.


Ningrum menggeser tombol hijau dan menyambut panggilan tersebut.


"Ya, Hallo.." jawab Ningrum. Nada suaranya lirih, ia tidak tahu harus mengatakan apa, sebab ia tidak dapat berharap pada pria tersebut, namun jujur, pria itu adalah mantan terindah yang pernah bertahta didalam hatinya.


"Hai.. Apa kabar," suara lembut nan syahdu terdengar dari seberang sana, tanpa vedeo call. Bahkan untuk melihat wajah pria itu saja ia tidak bisa, entah rahasia apa yang disembunyikannya.


Berulangkali pria itu memintanya untuk datang ke Kalimantan dan ia akan menikahi Ningrum di sana. Namun entah mengapa langkah Ningrum begitu berat untuk melangkah.


"Tidak begitu baik!" jawab Ningrum lirih.


"Apa yang terjadi padamu?!" tanya Andy terdengar panik.


Ningrum menghela nafasnya.


"Suamiku baru saja meninggal dunia," jawab Ningrum dengan nada yang hampir tidak terdengar.


Andy terdiam, sepertinya ia sedang tersentak kaget dan mencoba merangkai kata untuk wanita tersebut.


"Maaf, aku tidak tahu. Semoga beliau husnul khatimah" ucapnya lirih.


"Ya.. Makasih untuk doanya!"


Beberapa saat mereka dalam kebisuan, tak ada yang terdengar kalimat apapun, kecuali nafas mereka yang sama menderunya.


"Kamu pasti sangat terpukul dengan peristiwa ini," Andy memulai pembicaraan, menyibak kebisuan yang sedari tadi terus mewarnai komunikasi mereka.


"Ya.. Sebab ia hanya sebentar singgah dihidupku, dan tidak pernah menorehkan luka sedikitpun, tentu aku merasa sangat sedih!" Ningrum menghela nafasnya dengan berat. Bulir beming seakan ingin jatuh dari sudut matanya. Namun ia berusaha untuk menahannya agar tidak terjatuh, sebab ia akan terlihat semakin lemah.


"Datanglah... Aku menunggumu. Tidak akan ada air mata yang mengalir jika kau bersamaku!" ucap Andy tiba-tiba saja.


"Mengapa harus aku? Mengapa bukan Kau saja yang datang?!" cecar Ningrum. Ia tidak dapat menjadi munafik, jika ia juga mengharapkan Andy selama ini, namun sepertinya takdir selalu saja tidak berpihak padanya.


"Ada alasan yang tidak dapat ku jelaskan!" sela Andy cepat.


"Alasan apa yang tidak dapat kau jelaskan? Apakah kau sudah menikah? Katakan padaku, agar aku tidak berharap jauh, sebab aku tidak ingin menjadi perusak dalam kebahagiaan seorang wanita lain." cecar Ningrum.


Andy terdiam dalam waktu yang lama. Keheningan mewarnai komunikasi mereka.


"Sudah dulu, Ya.. Lain kali kita sambung.. Aku masih ada pekerjaan," ucap Andy tiba-tiba.


"Tunggu! Aku hanya ingin mengatakan sesuatu. "Andai Kau benar sudah menikah, jangan pernah hubungi aku lagi, apalagi sampai mengirimkan uang padalu, karena itu akan menyakiti hati wanita yang menjadi pendamping hidupmu, lupakan saja aku!" Ningrum mencoba mengungkapkan isi hatinya, meskipun ia tahu itu tidaklah mudah, sebab ia masih menyimpan rasa dan asa untuk pria itu.


Andy tidak menjawab segala ucapan dari Ningrum, dan ia memutuskan sambungan telefonnya, dan seperti biasanya, dalam hitungan detik, notif bank-ing masuk kedalam phonselnya.


Dana trannfer sebesar 20 juta rupiah masuk kedalam rekeningnya.


Ningrum menghela nafsnya dengan berat. Ia tidak tahu lagi dengan apa mengatakan pada pria misterius tersebut.


"Siapa tadi, Ma?" tanya Luccy penasaran.


Ningrum menoleh ke arah Luccy, bahkan ia baru menyadari jika gadis kecil itu masih berada dipangkuannya.


"Emmm... Dia adalah Malaikat tak bersayap." jawab Ningrum asal.


Luccy ingin bertanya kembali, namun Ningrum menyelanya sebelum gadis itu kembali mengungkapkan unek-uneknya.


"Sudah, sana mandi, sudah mau senja.!" Ningrum mencoba mengalihkan rasa penasaran Luccy yang tergambar jelas diwajah gadis kecil itu.


Tanpa membantah, ia beranjak dari pangkuan mamanya bergegas untuk ke kamar mandi.


Ningrum memandangi punggung sang gadis kecil yang meraih handuk dan meletakkannya diatas bahu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2