
Nora mengerutkan keningnya. Sepertinya ia belum pu-as juga dengan jawaban dari Bima.
"B-bengkel? Bengkel mana?!" cecarnya terus, sehingga membuat Bima merasakan sakit dikepalanya.
Pria itu semakin penuh amarah, sebab ia sudah sangat lelah, dan...
Praaaaaank..
Sebuah gelas diatas meja melayang diudara, lalu membentur dinding, dan jatuh dengan serpihan yang berserakan.
Reza tersentak kaget, lalu ia memilih masuk ke dalam kamar, dan meringkuk disudut ranjang. Hampir setiap saat ia mendengar pertengkaran kedua orangtuanya. Rasanya seperti sebuah neraka yang menyiksa.
Nora membolakan matanya. Ia semakin geram dengan ulah Bima yang jika marah akan merusak barang.
"Apa-apaan kamu, Bang? Enak saja main bantingin barang! Aku tanya itu mobil dibengkel mana? Kenapa kamu justru marah!" ucap Nora dengan hati kesal.
Tanpa menjawab pertanyaan Nora, Ia mengangkat televisi dan juga membantingnya.
Praaaaaank..
Televisi itu ringsek dilantai. Nora semakin kesal dan saat ia akan mengomel lagi, Bima menghampirinya, lalu merampas kunci motor dan belum sempat Nora protes, tampak Bima.berjalan cepqt, saat ia akan menghalangi Bima, pria itu sudah mengenderai motornya dan berlalu pergi.
Nora tercengang dengan apa yang terjadi. Ia niat bertanya, justru menjadi lebih lebih runyam.
Bima melaju mengendarai motornya. Ia sangat geram dan sangat kesal. Semua permasalahan hidupnya, membuat kepalanya seakan meledak.
Ia memutar arah menuju rumah Jenny, ya-hanya wanita itu yang kini menjadi tempat persinggahannya. Ia ingin bersenang-senang, untuk melepaskan rasa sakit dikepalanya.
Tak butuh waktu lama, ia telah tiba didepan rumah Jenny, wanita yang sudah sangat lama tak ia kunjungi.
Ia memarkirkan motornya, kemudian bergegas mengetuk pintu dengan kasar.
Terdengar langkah kaki mendekati pintu, saat pintu terbuka, dan kepala seorang wanita menyembul dibalik pintu, Bima dengan gerakan cepat mendorongnya, kemudian memaksa masuk tanpa ucapan salam.
__ADS_1
Melihat Jenny yang tampak bengong, Bima dengan cepat mendekap wanita tersebut, memberikan cumbuan pa-nasnya dengan rakus dan liar.
Saat bersamaan, dua orang pengendara sepeda motor melintas, melihat sepeda motor terparkir ditepi jalan dengan kunci yang masih tersangkut, maka keduanya saling pandang, dan...
Sementara itu, Bima terus mencumbu rayu wanita tersebut. Ia seolah sangat lapar dan tidak dapat lagi menahan hasratnya yang menggebu.
Sembari mengangkat tubuh Jenny yang mencoba meronta dan memberontak, Bima tidak memperdulikannya, sebab tubuhnya jauh lebih kuat dibanding dengan wanita itu itu.
Ia dengan cepat melucuti pakaian wanita itu, dan...
Pergumulan terjadi dengan cepat, saat ia akan mencapai puncak surgawinya, tiba-tiba pintu dibuka seseorang. Tampak seorang pria berdiri diambang pintu dan dengan wajah geram menatap pada Bima yang sedang bergumul pada wanitanya.
Maka dengan cepat ia menghampiri Bima yang masih memompa wanitanya untuk mencapai pelepasan, dan tidak mengindahkan amarah pria itu, sebab ini sudah sangat tanggung sekali.
Bima dengan cepat terus memompa Jenny, dan ia merasa jika pelepasannya akan segera datang, namun..
Buuuuuk...
Pria yang tak lain adalah suami Jenny, merasa kehormatannya dinodai. Kemudian ia kembali lagi memberikan bogem mentah diwajah Bima, hingga darah mengalir dari sudut bibirnya.
Bima tersungkur dilantai, dengan rudalnya yang masih berdiri tegak. Saat pria itu kembali menghampirinya, ia bergegas bangkit, dan memilih ngacir, sembari membenahi celana je-ansnya dan memaksa rudalnya untuk masuk kembali ke sarungnya, meski sangat ngilu, dan juga ia belum tuntas akan pelampiasannya.
Ia berlari keluar menuju pintu utama. Setelah berhasil keluar dari rymah, ia mendengar suara pertengkaran Jenny dengan pria yang tak lain adalah suaminya.
Sementara itu, Bima bengong melihat motornyantidak lagi ada ditempat parkiran. Hilang entah kemana.
Bima mengerutkan keningnya. Ia menatap nanar kesekelilingnya, dan mencoba mencari dimana keberadaan motornya, namun tidak terlihat jua.
Setelah lama mencari dan tidak ketemu juga. Bima mendengus kesal. "Siaaal...!!.brengseekk... Siapa yang mencuri motorku!" maki Bima dengan kesal, sebab ia sudah tidak memiliki motor lagi, ditambah mobilnya yang sudah dutarik paksa oleh orang suruhan Anton.
Ditambah lagi dengan ia yang harus kehilangan motor maticnya. Selain itu, ia memiliki motor milik Nora, namun kondisinya sudah sangat memprihatinkan, dan tentunya ia sangat malujika sampai harus menaiki motor tersebut ke proyek, apa kata dunia??
Nora memasuki kamar, ia melihat Reza yang masih meringkuk disudut ranjang. Karena emosi dengan pertengkarannya bersama Bima barusan, ia melampiaskannya pada Reza.
__ADS_1
"Reza.. Makan malam kamu, jangan terlalu manja!" hardiknya dengan nada tinggi, aehingga mmebuat anak itu menjadi syok parah.
Reza yang tidak ingin melihat ibunya bertambah parah mengomelnya, beranjak dari ranjangnya, kemudian bergegas ke dapur, sebelum Nora-ibunya berubah menjadi singa jadi-jadian.
Reza kecil beralari ke dapur, ia belajar mandiri dan memakan nasi putih dengan telur omelet yang sudah diiris dengan tipis-tipis. Sedangkan Nora, menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, ia memijat kepalanya yang sangat sakit.
Setelah merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya, ia mencoba untuk memejamkan matanya, ia mencoba tidur, unruk melepaskan segala beban.
Disisi lain, Bima menggaruk kepalanya. Ia semakin sangat pusing, jika ia pulang kerumah, maka amukan Nora akan semakin menggila.
Bima harus mencari tempat menginap malam ini. Ia akan menghubungi Ady, maka ia mencari nomor phonsel Ady dan berusaha menelefonnya. Namun sialnya paket datanya habis, sehingga ia tidak dapat mengirimkannya.
Bima terperangah. Ia tidak menduga sama sekali, jika nasibnya begitu sial sedari pagi tadi.
"Aaaaaargh.." Bima mengacak rambutnya hingga berantakan, sama halnya dengan hidupnya saat ini, sangat... Sangat berantakan.
Bima terpaksa mencari tumpangan mobil pick up yang melintas. Namun mereka tidak berani memberikan tumpangan, sebab tubuh Bima yang tinggi kekar, serta rambutnya yang acak-acakkan, membuat sopir merasa harus mewaspadainya, bisa saja ia seorang rampok.
Karena tidak mendapatkan tumpangan, akhirnya ia berjalan menyusuri trotoar layaknya seperti gelandangan yang terlunta-lunta.
Ia menyalakan sebatang ro-kok, kemudian menghi-sap nikotin itu dengan dalam, dan menghembuskan karbonmonoksida itu ke udara dengan sangat kesal.
Kriiiiiiiuuuk...
Tiba-tiba perutnya sangat lapar, ia belum makan dan sangat lelah juga.
Bima mendenguskan nafasnya. Ia melihat penjual mie ayam yang tak jauh darinya. Ia memilih duduk dikursi yang sediakan, namun tidak memesan apapun, sebab ia tidak memiliki uang.
Bima tiba-tiba teringat akan wanita paruh baya yang waktunitu menyewa jasa pelayanannya, dan ini juga sangat kebetulan jika saja wanita itu mau membayarnya, sebab ia belum menuntaskannya saat bersama Jenny barusan.
Bima menghubungi wanita itu, dan tersambung. Wanita itu menyambut ramah, dan kebetulan juga ia sedang kebelet, maka temu janji mereka adakan, dan ingin memadu kasih di sebuah penginapan.
Bima bernafas lega, sebab jagungnya ada yang mau menyewanya,.sehingga ia tidak mati kelaparan.
__ADS_1