
6 bulan kemudian..
Yamink tampak terburu-buru menuju rumah sakit. Ternyata istrinya syahfitri sedang mengalami kontraksi dan akan melahirkan.
Sebuah troli ranjang pasien didorong menuju ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan. Seorang bidan dan perawat datang ikut membantu. sebuah alat pengukur tekanan darah diletakkan dilengan kirinya Syahfitri yang tampak meringis menahan sakit.
Lalu perawat membawa alat pemeriksa detak jantung untuk janin dan semua dalam kondisi baik-baik saja.
Saat Bidan memeriksa kondisi kepala janin, sudah memperlihatkan buka 5, dan kontraksi semakin kuat.
Bidan dan perawat terus mengawasi kondisi Syahfitri yang terus meringis sembari mengucapkan lantunan doa disetiap rintihannya. Mereka membawa Syahfitri ke ruang bersalin, dan dengan sigap memasang tabung oksigen dan juga infus sebagai penambah tenaga bagi Syahfitri.
Sementara itu, Yamink mengurus administrasinya dan setelah menyelesaikannya, Ia bergegas menghampiri Syahfitri-istrinya dan berdiri disisi kanan Syahfitri yang tampak menahan rasa sakitnya kontraksi.
Yamink menggenggam jemari tangan sang istri sembari mengecup lembut ujung kepala sang istri.
Saat mentari berada ditengah bayang manusia, kontraksi semakin kuat dan Syahfitri akhirllnya merasakan kontraksi yang semakin hebat dan dengan cepat sebuah dorongan dari dalam dan meluncurlah si jabang bayi yang berjenis kelamin laki-laki dengan tangisnya yang sangat kuat dan membahana diruang bersalin.
"Allahamdulillah..." ucap Yamink yang meneteskan air matanya saat melihat kelahitan putera mereka dan mengecup kening Syahfitri yang sudah berjuang untuk melahirkan puteranya ke dunia.
Bidan membawa bayi mungil itu untuk dibersikan setelah dipotong tali pusarnya dan yang lainnya berusaha mengeluarkan placenta dan stosel yang masih tertinggal didalam rahim.
Setelah berusaha dengan begitu sabar, akhirnya petugas medis berhasil mengeluarkan placenta dan juga stosel dengan lancar.
Yamink merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Setelah ibu dan bayi selesai mendapatkan perawatan dan dibawa ke ruang inap, dan tak lupa Yamink meng-adzankannya.
Lalu Yamink menghubungi Andini dan Ningrum sahabatnya untuk mengabarkan berita bahagianya.
Karena hari kelahirannya hari minggu dan berketepatan Rendy tidak masuk proyek dan Gibran juga libur karena hari minggu dan tanggal merah, maka tanpa janjian, mereka menjenguk Yamink.
"Mas.. Kita lihat anak Kang Yamink, yuk.!!" rengek Andini.
Rendy melihat wajah Andini yang begitu bersemangat. Ia tak ingin melihat wajah yang penuh harap itu harus terbias, maka Ia dengan cepat menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Semenjak kegiguran waktu itu, Andini belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Ketika mendengar istri sahabatnya melahirkan, Ia tampak begitu sangat senang sehingga Ia merengek untuk menjenguk.
Rendy segera mengeluarkan motor dan Andini dengan bergegas menunggu dengan tak sabar disisi motor.
Ada rasa sedih dihati Rendy melihat sikap Andini seperti itu, namun semua yang terjadi adalah kehendak-Nya yang mengatur jalan kehidupan manusia, Ia hanya dapat mengikuti alurnya seperti apa.
Rendy mengunci pintu dan menghampiri Andini.
"Mas. Kita singgah ke toko perlengkapan bayi, Ya!" ucap Andini.
Rendy tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Ditengah perjalanan, Andini menunjuk sebuah toko perlengkapan bayi yang memiliki koleksi bahan lengkap dan juga mutu yang sangat baik.
Rendy mengarahkan motornya ke arah toko yang ditunjuk oleh Andini.
Setelah sampai didepan toko, Andini dengan bergegas masuk ke dalalm toko dan memilih beberapa pasang pakaian yang akan dibawa sebagai hadiah untuk baby sahabatnya itu.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Andini kemudian membawa paper bag tersebut dengan perasaan tak sabar.
Sesampainya mereka dirumah sakit, ternyata Ningrum juga baru sampai dan sedang memarkirkan mobilnya.
"Mbak Ningrum..!"Sapa Andini senbari memeluk sahabatnya. Semenjak Ningrum menikah dengan Gibran, mereka sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Keduannya melepaskan rindu.
"Bagaimana toko kamu yang baru? Mbak lihat sudah selesai di renovasi. Kapan rencana akan buka toko phonselnya?" cecar Ningrum.
"Ntar, Mbak.. menunggu proyek Mas Rendy kelar baru bisa buat modal. Yang kemarin habis buat renovasi," jawab Andini, semabri mereka melangkah menuju ruang bersalin.
"Semoga dipermudah urusannya, Ya.. Aamiin.." ucap Ningrum.
"Aamiin.. Makasih doanya, Mbak.." jawab Andini.
"Sama-sama!" dan obrolan mereka terhenti saat mereka berada tepat dipintu ruang rawat inap.
__ADS_1
Mereka membukanya, dan tampak kang Yamink hanya berdua saja dengan Syahfitri, sebab keluarga mereka jauh dikampung halaman, sedangkan ibunda Yamink sedang sakit stroke, sehingga tidak dapat merawat sang menantu yang baru saja melahirkan.
Kemudian mereka memasuki ruangan tersebut. Tampak Luccy dan Andini orang yang paling heboh dengan bayi tersebut.
Ningrum tersenyum melihat raut wajah Andini-sahabtnya yang tampak begitu ceria saat menggendong bayi mungil tersebut.
Luccy tak ketinggalan terus mengajak bayi mungil itu berbicara, meskipun mata bayi itu lebih sering terpejam karena masih berumur sekian jam karena baru saja dilahirkan.
"Selamat ya, Kang Yamink.. Semoga menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orantua serta agamanya!" ucap Andini sembari mengecup kening sang bayi yang masih dalam bedongan.
"Aamiin.. Makasih untuk doanya, semoga.kamu juga segera mendapatkan momongan, Ya!" Jawab Kang Yamink tulus.
"Aamiin.. Allahumma Aamiin.." jawabnya bersemangat, sembari membelai lembut ujung kepala bayi mungil itu sembari berdoa "Rabbi habli minasshalin.." ucapnya dengan begitu dalam.
Bahkan terlihat Andini sepertinya tak memberikan kesempatan bagi Ningrum untuk menggendong bayi mungil itu. Hal itu membuat Ningrum merasa jika Andini benar-benar menginginkan kehadiran seorang buah hati dalam kehidupannya.
Sorot mata Andini yang terus menatap anak Yamink memperlihatkan begitu jelas jika Andini menginginkan kehadiran sosok anak untuk mengisi hari-harinya.
Setelah puas menjenguk Yamink dan Syahfitri serta bayi mungilnya, mereka berpamitan pulang dan tak lupa memberikan cindera mata untuk sang baby mungil.
Disepanjang perjalanan pulang, Andini hanya diam dalam keheningan. Hal itu membuat Rendy merasa khawatir akan kondisi Andini.
Sesampainya dirumah, Andini bergegas memasuki kamar, lalu duduk ditepian ranjang, tatapannya nanar lurus ke depan.
Rendy menghampirinya. "Ada apa, Sayang? Kamu bisa cerita tentang masalah kamu," ucap Rendy sembari membelai lembut rambut Andini.
Andiji menengadahkan kepalanya. "Mas.. Aku mau mengangkat anak kang Yamink boleh?" tanya Andini dengan tatapan menghiba.
Rendy menarik nafasnya. Lalu menghelanya dengan berat.
"Kita tanya Kang Yaminknya dulu, Ya..? Jika diperkenankan kita angkat mengangkatnya, tetapi Kita hanya sebatas mengangkat saha, tidak untuk mengurusnya dalam kata lain kamu membawanya, sebab itu hal tidak mungkin, karena kedua orangtuanya tentu tidak akan memberinya, kecuali kamu mengadopsi anak yang berasal dari panti" Rendy mencoba menjelaskan.
Andini menganggukkan kepalanya. "Tetapi setiap hari libur kita ke rumah kang Yamink untuk menjenguk anaknya dan membawa hadiah!" pibta Andini.
__ADS_1
Rendy menagngguk setuju. "Iya.. Apapun yang kamu inginkan akan Mas usahakan untuk memwujudkannya. Percayalah.. Kamu akan memiliki anak, dan perlakukan anak yang kamu rawat dengan baik, maka Ia akan mengingat jasamu suatu hari nanti," ucap Rendy penuh ketenangan