
Pagi menjelang. Ningrum sedang berada didapur bersama asisten rumah tangga Gibran.
Ningrum memasak sup untuk Sarapan Luccy. Orang yang sedang sakit pasti tidak selera makan. Maka Ningrum mencoba memasak sup untuk menggugah selera Luccy yang sedang menurun.
Ia membawa semangkuk mie soun sup dan suwiran ayam goreng ke kamar Luccy.
Gadis kecil itu ternyata sudah terbangun, dan suhu tubuhnya mulai mereda. Lalu Ningrum membawa soup itu menggunakan nampan dan memberiaknnya kepada Luccy.
"Tante.. Ternyata tante beneran tidur bersama Luccy?" tanyanya seolah tak percaya.
Ningrum menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Iya, Sayang.. Ayo sekarang dimakan soupnya, dan kamu harus sembuh. Oh, ya.. Papa kamu sebentar lagi pulang, dan tante tidak dapat lama-lama temani kamu, sebab tante ada pekerjaan" ucap Ningrum menjelaskan.
Seketika raut wajah Luccy berubah. Ia tampak begitu sedih. Namun Ia juga tak memiliki hak untuk menahan Ningrum.
Ningrum memahami perasaan gadis itu, namun Ia tak memiliki pilihan lain, sebab pekerjaannya masih menumpuk.
"Jangan sedih, Donk.. Ntar tante rajin jenguk kamu, ok!" ucap Ningrum, mencoba memberikan pengetian kepada gadis itu.
Luccy hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah. Bagaimanapun Ia harus merelakan Ningrum pulang hari ini, meskipun Ia masih ingin bersama dengan wanita itu.
"Ayo, makan, biar perut kamu tidak kosong dan lekas sembuh" ucap Ningrum.
Luccy mulai menyendokkan sarapannya. Rasanya sangat segar sekali saat kuat soup itu melewati tenggoraknnya.
Ia menyeruputnya beberapa kali, dan mulai menyendokkan mie soun itu kemulutnya.
Setelah memakan soupnya beberapa sendok, Ia merasakan sudah merasa mual dan menghentikannya.
"Sudah, Tante.. Rasanya perut Luccy mual banget kalau dilanjutin" ucap Luccy yang merasakan perutnya enegh.
Ningrum tak ingin memaksa, sebab akan membuat Luccy muntah dan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya bisa saja Ia muntahkan kembali.
Ia meraih nampan tersebut dan meletakkannya diatas meja nakas.
Ningrum membalurkan minyak kayu putih ke perut Luccy untuk mengurangi rasa mualnya.
Setelah merasa mualnya mereda. Ningrum memberi obat penurun panas dan antibiotiknya.
Tak berselang lama, terdengar suara derap langkah kaki yang membuat keduanya menoleh ke arah pintu.
"Papa.." teriak Luccy yang melihat ternyata Gibran yang datang.
Pria itu bergegas menghampiri puterinya dan memeluknya.
__ADS_1
"Maafin Papa ya, Sayang.. tidak bisa nemani kamu saat sakit begini" ucap Gibran penuh penyesalan. Namun apalah dayanya, sebab Ia seorang karyawan perusahaan yang harus tunduk patuh pada perintah perusahaan.
Luccy menganggukkan kepalanya.
"Untung saja tante Ningrum temani Luccy malam tadi" ucap Luccy yang melirik kepada Ningrum.
Seketika Gibran menoleh kepada Ningrum. "Terimakasih untuk segalanya" ucap Gibran dengan penuh ketulusan.
Ningrum menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum tipis.
"Luccy.. Papa sudah pulang, Tante masih ada pekerjaan, nanti jika ada waktu senggang Tante akan menjenguk Luccy" ucap Ningrum kepada gadis kecil itu.
Luccy memandang dengan tatapan tak rela, namun Ia tak dapat mencegahnya.
"Benar, Ya Tan.. Janji" ucap Luccy yang mengulurkan jemari kelingkingnya. Lalu Ningrum menautkan jemari kelingkingnya.
"Insya Allah ya, Sayang" jawab Ningrum dengan senyum penuh keteduhan.
Lalu Ningrum mengusap lembut ujung kepala Luccy dan berpamitan lalu beranjak pergi.
"Ningrum.. Ucap Gibran.
Wanita itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Gibran.
"Terimakasih.." ucapnya lirih.
Luccy menatap kepergian Ningrum, lalu menoleh kepada Gibran.
"Bawakan Tante Ningrum untukku, Pa" ucap Luccy kepada Gibran.
Pria itu hanya dapat tersenyum getir sebab terlalu dini bagi Ningrum untuk menikah lagi setelah perceraiannya dengan Bima.
"Sabar, Ya Sayang.. Karena Tante Ningrum masih ada seauatu yang harus diselaikannya" jawab Gibran mencoba memberi pengertian kepada puteri semata wayangnya.
Luccy hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
****
Bima menemui Anton pagi ini setelah pertemuannya malam tadi mengalami ke gagalan karena Anton memiliki tamu lain yang datang tiba-tiba.
Anton baru saja keluar dari kamarnya saat Bima menghubunginya. Ia menemui Bima yang sudah menunggunya di kursi teras.
"Eh, Bos.. Baru bangun tidur saja ini?" ucap Bima yang sedari tadi sudah merafalkan mantra pengasihnya yang ditujukan kepada Anton.
"Sudah lama nunggunya?" tanya Anton sembari mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, lalu menyulutnya menggunakan pemantik api dan menarik zat nikotin itu dengan dalam, lalu menghembuskan asapnya.
__ADS_1
Melihat rokok yang menganggur, Bima langsung saja menyambarnya dan menyulutkan pemantik api tersebut.
"Apa yang kamu bahas?" tanya Anton to the point.
"Aku ingin Bos jadi pemodal diproyekku. Systemnya 15%/100%" ucap Bima tanpa basa basi.
Anton menoleh ke arah Bima, dan tersenyum datar.
"Aku mau 25%/100%" jawab Anton.
Bima merasa itu terlalu besar dan akan merugikannya, namun Ia membutuhkan pemodal untuk saat ini.
Ia tersenyum licik dan masa bodoh, yang penting baginya pagi ini Ia harus mendapatkan modal untuk biaya proyeknya.
"Oke, Lah.. Deal..!!" ucap Bima menyetujui.
Anton mematikan puntung rokoknya dan masuk ke dalam rumah. Lalu Ia mengambil uang sejumlah 100 juta dengan kwitansi dan materai 10 ribu.
Bima merasa sangat bahagia, dan senang sekali melihat uang tersebut. Ternyata tidak sia-sia yang Ia lakukan dengan merafalkan mantra pengasih yang dimintanya dari pamannya.
Setelah mendapatkan uang tersebut, Bima bergegas pergi meninggalkan rumah Anton dengan perasaan senang yang tak terkira.
Ia mengendarai motor bebek bututnya dan Ia segera pergi ke showroom memesan motor matic gede secara Cash dan berasa paling keren.
Ia pulang ke rumah, lalu mencoba memberi kejutan kepada Nora dengan motor barunya.
Sesampainya di rumah, Ia bergegas masuk dan menemui Nora yang masih terbaring karena masih merasakan tubuhnya sakit karena terjatuh saat terjadi begal waktu itu.
"Darimana saja sih, Bang.. sudah siang belum juga balik, sudah lapar ini" ucap Nora kesal.
"Jangan marah-marah donk, Sayang.. Abang punya kabar gembira buat kamu" ucap Bima dengan wajah ceria.
Nora mengerutkan keningnya "Emang ada apaan?" tanya Nora dengan penasaran.
"Abang beli motor gede baru" jawab Bima.
"Uang darimana?" tanya Nora.
"Abang dapat pemodal baru, dan proyek ini pasti akan berjalan lancar" Bima meyakinkan.
Namun Bima mungkin lupa, jika Ia pernah mengejek Rendy pemborong proyek pakai motor matic, tetapi sekarang Ia memakai motor matic.
Tak berselang lama, mobil showroom datang membawa motor yang dibelinya dari uang yang dimodalkan oleh Anton.
Nora yang tampak masih merasakan sakit ditubuhnya berusaha beranjak bangkit dengan berjalan tertatih karena merasa penasaran dengan motor barunya yang baru dibeli oleh Bima.
__ADS_1
Meskipun dengan tertatih, Ia merasa senang dengan motor barunya, lalu dengan cepat memotret motor tersebut dan mengunggahnya.
"Wiiihh.. Beli motor baru, cuuuy.. Langsung dari showroom" tulis caption Nora yang ditujukan untuk seseorang.