
Ningrum hanya membawa beberapa helai pakaiannya untuk pindahan le rumah Gibran. Sebab Ia pada siang harinya berada disalon dan malam hari saja baru berada dirumah Gibran.
Minggu pagi ini mereka resmi pindahan ke rumah Gibran. Luccy tampak begitu senang karena akhirnya kembali ke rumahnya dan Ia juga rindu akan kamarnya.
Mereka akhirnya tiba dirumah dan tidak ada perubahan yang signifikan dari pindahan mereka karena semua barang yang ada dirumah Gibran sudah sanvat lengkap dan tidak ada yang perlu ditambah.
Salon Ningrum juga tutup hari ini sebab Ia ingin bersantai dan merehatkan tubuhnya yang lelah.
Ningrum membawa satu koper pakaian yang seadanya saja, dan Ia pakaian sehari-sehari Ia tinggal dirumah salonnya.
Ningrum memasak makan siang mereka dengan bahan yang masih tersisa dilemari es. Sedangkan Luccy memperhatikannya karena perjanjian mereka akan memasak bersama saat hari libur.
Ningrum memasak ayam saus asam manis. Luccy mencoba membantu dengan ikut memotong daging ayam yang sudah di fillet menjadi potong dadu dan dalam pengawasan Ningrum.
Setelah itu Ningrum menyiapkan bumbu yang akan digunakan.
Tampak Luccy terus dengan fokus melihat semua yang dilakukan oleh Ningrum dan ikut membantunya.
Sementara itu, Andini dan Rendy sedang berada di ruko mereka yang baru. Keduanya sedang menunggu bahan material bangunan yang telah dipesan oleh Rendy untuk merenovasi ruko tersebut.
Andini membawa makanan dari rumah yang sudah dipersiapkannya dari rumah. Ia melirik salon Ningrum, terlihat tulisan dari dalam pintu ruko yang terbuat dari kaca 'Closed'.
"Salon Mbak Ningrum sedang tutup. Mungkin sedang liburan bersama dengan keluarga barunya" Guman Andini dalam hatinya.
Tak berselang lama, mobil material datang membawa pesanan Rendy. Lalu Rendy mulai mengerjakan renovasi rukonya yang mana akan dimualai dengan pengerjaan lantainya yang tampak banyak mengalami kerusakan dan harus di perbaiki.
Setelah mengukur lantai dan menarik benang untuk memasang keramik, Rendy yang dibantu oleh satu orang kernet mulai melakukan pengerjaan.
Tadinya Andini akan bermain ke salon Ningrum, namun Ia tidak tahu jika Ningrum sedang tutup.
Ia hanya bisa menjadi mandor bagi Rendy dan satu kernet tersebut.
Ningrum dan Luccy kini sedang menyelesaikan masakannya. Tampak keduanya begitu sangat bahagia setelah berhasil menyelesaikannya.
Luccy mencobanya. "Emmm.. Enak banget, Ma!" puji Luccy saat merasakan hasil masakan mereka.
"Oh, Ya.. Kamu mau belajar memasak lagi minggu depan?" tanya Ningrum kepada Luccy.
"Mau, Ma!" jawab Luccy dengan cepat.
Ningrum tersenyum dengan hangat, lalu memeluk tubuh mungil tersebut. Ia merasakan begitu indahnya memiliki seorang buah hati, ada tempat Ia ajak untuk bercerita dan bercanda, serta bermain.
Gibran yang melihat ke akraban antara Ningrum dan juga Luccy membuatnya begitu bahagia. Ia merasakan jika Luccy tidak salah dalam memilih ibu sambungnya.
"Wah, masak apa ini?" tanya Gibran basa-basi.
__ADS_1
"Lihat Nih, Pa.. Kami masak ayam asam manis" ucap Luccy sembari memperlihatkan piring diatas meja makan, lalu mengambil garpu dan menusukkan daging ayam tersebut dan menyuapkannya kepada Gibran agar mencobanya.
"Waaah.. Enak banget! Anak papa pinter masak," Puji Gibran.
"Siapa dulu donk kokinya? Mama..!" jawab Luccy sembari menengadakan kepalanya menatap pada Ningrum.
Lalu Ningrum mengusap lembut ujung kepala Luccy "Kamu juga kokinya.. " jawab Ningrum.
"Berdua!" ucap Luccy cepat.
Ningrum tersenyum hangat dan membuat Luccy mendekap tubuh wanita itu.
"Ya sudah, yuuk kita main ke pantai, bawa makanan dari rumah yang kalian masak" ajak Gibran tiba-tiba.
Keduanya terperangah dan tidak menduga jika Gibran akan mengajak liburan ke pantai meski berjarak 1 jam dari kediaman mereka.
Keduanya bergegas untuk menyiapkan bekal mereka disana. Luccy berlari masuk ke kamar untuk mencari pakaian renangnya dan mengemasi sendiri keperluannya.
Setelah mempersiapkan segalanya, kemudian mereka pergi menuju pantai untuk liburan. Luccy tampak bernyanyi sepanjang jalan karena merasa sangat bahagia. Sudah sangat lama Papanya tidak membawa Ia liburan ke pantai meskipun dekat dari rumah, sebab terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dinas luar kota.
Sementara itu Andini merasa bosan memandori Rendy dan juga kernetnya.
Melihat hal tersebut, Rendy menghampiri Andini. "Kamu bosan, Ya?" tanya Rendy kepada istrinya.
Andini menganggukkan kepalanya.
Andini terdiam sejenak. "Anterin ke rumah ibu saja, Mas.. Lagian sudah lama gak berkunjung ke sana" jawab Andini. Lalu Rendy berpamitan kepada keneknya untuk mengantarkan Andini ke rumah ibunya.
"Kang.. Kalau mau istrihat ya istirahat saja dulu. Saya mau anterin istri saya ke rumah ibunya" ucap Rendy kepada sang kenek.
Kenek itu menganggukkan kepalanya, dan mengambil kesempatan untuk merokok.
Rendy mengantarkan Andini ke rumah ibunya. Saat sampai didepan pintu pagar rumah ibunya, aia melihat keributan yang ada didepan rumah paling penghujung yang tak lain adalah runah orangtua Bima.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Andini merengek untuk diantar ke sana, sebab Ia melihat banyaknya para warga yang berkumpul dan Ia merasa takutnya jika ada yang meninggal dunia atau apalah.
Dengan terpaksa akhirnya Rendy mengantarkan Andini untuk melihat keramaian yang terjadi didepan rumah tersebut.
Sesampainya disana, Andini terperangah melihat begitu banyaknya barang milik orangtua Bima yang berada diluar.
Karena merasa penasaran membuat Andini menyibak kerumunan yang ada. Dan tampak Yudi sedang terluka parah karena para emak-emak ada yang menimpuk Yudi memakai panci dan sebagainya.
Sebab selama ini Yudi menyimpannya didalam sebuah lemari dan akan dijual jika nanti dalam kondisi tidak memiliki uang sepeserpun.
Dan hari ini Yudi merasa sial karena ketahuan mencuri sebab rumah yang dicurinya menggunakan cctv dan sengaja membiarkan Yudi masuk ke dalam rumah untuk memancingnya.
__ADS_1
Setelah masuk dalam perangkap, maka pemilik rumah menangkap basahnya dan mengaraknya didepan warga. Setelah diinterogasi, akhirnya mengakui ada beberpa barang yang masih Ia simpan untuk dicari pembelinya. Bahkan mereka menemukan 5 buah tabung melon dan 3 buah tabung gas pink.
Yang merasa kehilangan langsung mengambil barang milik mereka.
Setelah itu ada emak yang tersulut emosi karena barangnya sudah dijual dan pastinya uang ya sudah habis untuk membeli barang haram sabu.
"Mbak.. Ini ada apa, Sih?" tanya Andini yang sembari mencolek lengan seorang warga wanita yang tampaknya sedari tadi berada di depan rumah Orangtua Bima
"Lha.. Emang Mbak Andini gak tau kalau Mbak Sumi sudah pindahan karena rumahnya sudah dijual oleh Yudi secara diam-diam, biasalah mbak masalah sabu, dan kini Bu Sumi terpaksa tinggal dirumah kontrakan Bima" Ucap wanita itu menjelaskan.
Andini terperangah mendengar ucapan tetangganya itu. Ia tidak menduga jika hukum karma itu berjalan begitu cepatnya. Melihat hal tersebut, membuat Bima sendiri yang akan menanggung segalanya sebab pastinya Bima dan orantuanya pasti tinggal dirumah kontrakannya dan tentunya Nora tidak akan menyetujui ibu mertuanya berlama dirumahnya, dan tentunya akan ada perang antara Nora dan Sumi.
Andini merasakan jika Bima tengah menuai karma dari apa yang dilakunannya terhadap Ningrum-sahabatnya.
Andini merasakan ini adalah cerita panas yang akan menjadi topik perbicangan yang akan dijadikan bahan ghibah nantinya bersama Ningrum.
Bukannya Ia senang diatas penderitaan orang lain, tetapi Andini sudah sangat gerah sejak mengetahui Bima berselingkuh saat berada di hotel waktu itu.
Lalu saat Bima menjual rumah Ningrum secara diam-diam dan itu sangat menyakitkan hatinya.
melihat yudi digetok panci dan sebagainya oleh para emak-emak tersebut, Andini tersenyum mencibir
Lalu Ia meminta Rendy untuk membawanya ke rumah ibunya., dan Rendy lagi-lagi mengikuti segala keinginan Andini.
Sesampainya dirumah ibunya, Andini bergegas masuk ke rumah dan disambut oleh Ke dua orangtua yamg sudah merindukannya, sedangkan Rendy berpamitan untuk kembali ke ruko karena akan meneruskan pekerjaannya.
Ningrum dan Gibran sudah sampai dipantai. Mereka sedang menikmati liburan yang membuat mereka sangat senang dan bahagia dengan kehidupan baru mereka, tanpa derita dan air mata.
Gibran memilih tempat bersantai dengan sebuah pondok yang berada tidak jauh dibibir pantai.
Luccy merengek untuk berenang dan Ia mengeluarkan pelampungnya. Ia mengengakan leging panjang dan juga pakaian karet.
Gibran mengijinkan Luccy berenang dan masih mencoba mereka pantau daro dalam pondok yang disediakan oleh pengelola.
Setelah mendapatkan iijin dari papanya. Luccy berlonjak girang dan segera berlari menuju bibir pantai berenang dengan begitu bahagia.
Sedangkan Gibran dan Ningrum bersantai di dalam pondok sembari menikmati angin pantai dan panoramanya serta es kelapa yang dipesan dari gerai tersebut.
Ningrum merasakan sebuah kedamaian dan cinta yang luar biasa saat bersama dengan Gibran. Sebuah sikap perhatian dan tindakan nyata yang tidak terduga sebelumnya.
Gibran meraih pundak Ningrum dari arah belakang, dan Ningrum menyandarkan kepalanya dipundak Gibran Ia ingin meresapi kebahagiaan yang selama ini Ia nantikan.
Begitu halnya dengan Gibran, kebahagiaannya tak dapat Ia ungkapkan sehingga Ia hanya dapat terdiam sembari mendekap Ningrum yang kini sudah menjadi pujaan hatinya.
Disisi lain, Nora merasakan hidupnya bagaikan didalam neraka. Ia sangat malas untuk bangun pagi.
__ADS_1
Kini rumahnya bagaikan kapal pecah yang sangat berantakan karena banyaknya barang milim ibu mertunya yang belum ditata sebab ruangan mereka juga sangat sempit.