SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 38


__ADS_3

Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung jika para pekerjanya tidak kembali bekerja dan pekerjaannya terbengkalai, maka Ia akan mengalami kerugian dan ini akan membuatnya gagal untuk mendapatkan proyek lagi.


Ady tampak membantunya dan mulai mengukur plat besi yang masih banyak belum dipotong.


Dengan terpaksa Ia membantu Ady mengerjakan pekerjaannya. Selama ini Ia berlagak sebagai bos besar dan kerjanya memandori para pekerjanya, namun kali ini Ia terpaksa ikut mengerjakannya.


Saat bersamaan, phonselnya berdering dan tampak satu nama pekerjanya menelefonnya. Hatinya sedikit senang, sebab tebakannya adalah jika pekerjanya itu akan kembali masuk untuk bekerja kepadanya.


Bima mengangkatnya dengan terburu-buru "Hallo.." ucap Bima cepat.


"Hallo.. Pak Bima.. Saya mau ijin resign dari bapak, dan tolong keluarkan sisa gaji saya yang selama seminggu bekerja dengan bapak, sebab anak saya sakit dan juga untuk bayar hutang di warung" ucap salah seorang pekerjanya.


Seketika wajah Bima menjadi kesal "Heeei.. Enak saja minta bayaran.. Uang kamu hangus, dan saya tidak mau membayarnya" jawab Bima kesal.


"Pak.. Itu hak saya selama seminggu bekerja dengan bapak, dan Bapak harus mengeluarkan hak saya" ucap pekerja itu dengan penuh penekanan.


Bima mendenguskan nafasnya kesal "Pesetaaan..!! Saya tidak mau membayarnya dan itu saya anggap hangus" jawab Bima.


"Jangan suka makan keringat orang, Pak.. Karma berlaku..!!" ucap pekerja tersebut.


Bima memutuskan sambungan telefonnya, Ia sangat kesal dengan ucapan pekerjanya dan ini akan membuat pekerja lainnya yang mogok kerja akan menuntut hak yang sama.


Namun seorang Bima bukanlah orang yang perduli, Ia tidak akan mengabaikan orang yang menuntut hutang padanya.


Bima menendang stang las yang ada didepannya. Ia bingung harus mencari kemana lagi pekerjanya. Namun jika ingin memasukkan pekerja baru aturan diperusahaan itu sangat ketat dan membuat kartu tanda pengenal saja memakan waktu satu minggu, sedangkan pekerjaannya harus selesai sesuai jadwal yang ditentukan.


"Yudi juga brengsek..!! Sudah tau tidak ada pekerja pakai libur segala, awas saja kalau Dia sampai libur lagi" omel Bima, lalu mengambil stang las dan memakai kaca matanya untuk menghindari cahaya api dari las tersebut yang dapat membuat mata menjadi sakit.


Sementara itu, Rendy sudah mengerjakan pekerjaannya yang hampir mendekati sempurnah. Para pekerjanya juga bekerja dengan baik, sebab Rendy membayar upah pinjaman pekerjanya sesuai Hari Kerjanya dan Ia juga memikirkan jika para pekerjanya itu sudah berumah tangga dan tentunya membutuhkan pemasukan untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangganya.


Perbedaan siakp Rendy dan Bima sangatlah jauh, bagaikan langit dan bumi. Rendy selalu menghargai setiap orang bahkan terhadap Andini sang istri, Ia begitu sangat memuliakannya. Meskipun Andini bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, namun belum pernah Rendy meminta uang gaji Andini untuk hal-hal pribadi, andaipun Ia terjepit butuh bantuan uang, Ia akan menggantinya.


Ditempat lain, sepuluh orang pekerja yang pernah bekerja dengan Bima selama seminggu itu saling berpandangan dan terlihat gusar.


"Ini bagaimana kang? Kemaren saya dijanjikan perhari 120 rb, dan yang dibayar hanya 200 ribu, mana hutang warung menumpuk lagi.." ucap seorang helver yang bekerja pada Bima.

__ADS_1


"Lha saya? Dijanjikan 15 ribu per harinya karena sebagai kepala tukang juga masih dibayar 200 ribu" pria itu menimpali.


Mereka saling pandang dan tampak bingung, apalagi salah satu dari mereka anaknya ada yang mengalami demam.


"Aku ada solusinya.. Ada yang mau ikut gak?" salah satu dari mereka tampaknya memiliki ide cemerlang.


Rekan lainnya saling pandang "Apaan.?" tanya kepala tukang tersebut.


Lalu sang pemilik ide itu meminta teman-temannya merapat dan membisikkan sesuatu kepada yang lainnya dengan membentuk formasi lingkiran.


mereka saling pandang dan sepertinya setuju dengan ide temannya.


"Boleh juga.. Kapan?" tanya yang lain.


"Ya sekaranglah.. Masa iya besok" jawab sipemilik ide.


Lalu yang lainnya mengangguk dan segera naik motor masing-dan ada juga yang berboncengan .


Ningrum masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia mencoba menjadikan pekerjaannya sebagai penghilang dari keresahannya yang kini tampak menjadi beban baginya. Namun Ia tidak dapat berbuat apapun jika Bima menantapnya dan Ia hanya tampak luluh.


Terdengar suara ketukan pintu diluar ruang kerjanya.


"Masuk.."


Tampak kepala Sary menyembul dari balik pintu "Bu.. Ada yang mencari Ibu" ucapnya dengan cepat.


Ningrum mengerutkan keningnya "Siapa?"


Sary mengangkat kedua bahunya "tidak tahu, Bu.. tetapi katanya sangat penting" jawab Sari singkat.


Ningrum menghela nafasnya dengan berat "Baiklah.. katakan tunggu sebentar" ucap Ningrum.


Lalu Sary menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi dari ruangan kerja Bos nya.


Ningrum menghentikan pekerjaannya, lalu mencoba menemui siapa yang sedang mencarinya.

__ADS_1


Ia turun menapaki anak tangga. Sebenarnya saat ini Ia lagi tidak ingin di ganggu dan rasanya ingin healing ke suatu tempat yang dapat membuat fikirannya tenang.


Namun entah dorongan apa Ia ingin menemui orang yang sudah menunggunya.


Ia melihat dua orang pria berpakaian biasa saja sedang menunggunya di ruang tunggu. Sesampainya ditempat tersebut, Ningrum duduk disofa yang berhadapan pada ke dua orang tersebut.


"Ada apa lagi ini?" Guman Ningrum dalam hatinya, namun hatinya mengatakan jika ini ada hubungannya dengan Bima.


Ningrum memandang kepada kedua pria itu "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ningrum dengan nada sesopan mungkin.


"Apakah benar Ibu istrinya pak Bima?" tanya pria itu tampak memastikan.


Deeeeegh.. Jantung Ningrum seolah berhenti berdetak, Ia menangkap sesuatu yang sangat tidak baik dalam pertanyaan pria itu.


"Ya.." jawab Ningrum lirih.


kedua pria itu tampak menggerakkan phonselnya, sepertinya sedang memberikan isyarat.


Lalu tampak 8 orang pria masuk secara bersamaan ke dalalm salon dan menuju ruang tunggu tempat Ningrum dan dua orang pria yang sedari tadi berbicara padanya.


Sesaat masuknya para pria itu menjadi perhatian dari pelanggan salonnya yang merasa bingung dengan kehadiran rombongan para pria berpakaian sederhana itu.


Sebagian diantara pelanggan mencoba berfikir posifif dan mengira jika mereka adalah para pria yang akan melakukan perawatan salon.


Namun tidak bagi Ningrum, Ia mendapatkan signal buruk dari masuknya para sepuluh pria yang memasuki salonnya.


mereka terlihat sangat sebagai pria pekerja keras yang tergambar dari rahang keras diwajahnya, kulit kusam dan juga lusuh. Bahkan dua diantaranya tampak sudah berusia 60 tahun dan itu sangat memprihatinkan.


Mereka duduk di sofa dengan berhimpitan dan tampak soapn terhadap Ningrum.


"Maaf, Pak.. Ini ada pa ya?" tanya Ningrum mencoba setenang mungkin, meskipun hatinya bergemuruh karena menghadapi 10 orang pria dihadapannya.


Salah seorang diantaranya yang merupakan kepala tukang mulai angkat bicara.


"Begini, Bu.. Kami datang kemari untuk menagih hak kami" ucap Kepala tukang tersebut.

__ADS_1


Seketika Ningrum terperangah mendengar ucapan seorang diantara mereka karena masih belum mengerti hak apa yang dimaksudnya.


__ADS_2