
Ningrum masih berada diacara resepsi karena Ia yang diminta untuk merias secara langsung pengantinnya.
Keringat membasahi pelipisnya, Ia mengganti pakaian sang pengantin sesuai jadwalnya.
Sebagai wanita pekerja keras, Ia selalu mengutamakan kepua-san pelanggannya sebagai penyewa jasanya.
Namun terkadang Ia berfikir Ia bekerja begitu keras untuk apa dan siapa. Sebab sampai saat ini Ia juga tidak diberikan keturunan hingga menikah untuk yang kedua kalinya Ia juga tetap tidak memiliki keturunan.
Terkadang hatinya begitu nelangsa. Ia melihat mantan suaminya yang telah menikah lagi kini iatri barunya sudah mulai mengandung dan hal ini membuatnya merasa sangat gagal menjadi wanita.
Namun Ia menepis semuanya, Ia tidak boleh berprasangka buruk terhadap Rabb-Nya, karena apapun yang terjadi padanya adalah atas kehendak-Nya.
Hari sudah malam dan waktu menunjukkan pukul 10 malam. Ningrum mengemasi barang-barangnya dan akan segera pulang ke rumahnya.
Meskipun sudah sangat lelah, namun semuanya akan terbayar saat pundi-pundi uangnya kian bertambah.
Sementara itu, Bima menyeka keringatnya yang mengalir di pelipisnya.
Ia mengenakan pakaiannya, lalu dan beranjak akan meninggalkan Nora yang terkapar diranjang tidur tak berdaya.
"Terimakasih, Pak Bima.. Kamu hebat" ucap Nora dengan nada genitnya. Bima hanya tersenyum bangga, dan pergi begitu saja.
Bima harus segera sampai dirumah sebelum Ningrum sampai terlebih dahulu. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Disisi lain, Ningrum telah sampai dirumah dan memasukkan mobil ke dalam garasi. Ia lalngsung bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Ia tak melihat mobil Bima di garasi, Ia mencoba berfikir jika Bima sedang berada di luar dengan urusan pekerjaannya.
Karena tubuhnya yang sangat lelah, Ia mencoba menepis semua hal tentang Bima. Ia memilih untuk segera membersihkan dirinya dan mandi menggunakan air hangat.
Sedangkan Bima baru saja sampai, Ia terperangah melihat mobil Ningrum sudah terparkir digarasi. Ia segera mempercepat laju mobilnya dan memarkirkannya di sana.
Bima bergegas naik ke lantai dua kamarnya dan melihat kamar dalam kondisi sepi dan Bima meyakini jika Ningrum sedang berada dikamar mandi membersihkan diri.
Dan benar saja, Ia mendengar Ningrum sedang membuka handle pintu kamar mandi, lalu dengan berbalut handuk Ia keluar dan melihat Bima yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Dengan segala jurus tipu muslihatnya, Bima tersenyum begitu sangat manisnya "Baru pulang, Sayang?" tanya Bima yang menghampiri Ningrum dan mendekapnya dari arah belakang.
Untuk menghilangkan dan mengelabui Ningrum, Ia memberikan kecupan dipipi dan bibir Nkngrum, seolah Ia begitu sangat merindukan istrinya.
"kamu pasti capek sekali ya, Sayang.. Biar Mas pijatin" ucap Bima yang langsung membopong tubuh Ningrum.
"Tapi Ningrum belum pakai pakain, Mas.." ucap Ningrum lirih, tubuhnya sangay lelah. Sebab make up itu harus berdiri beberapa jam lamanya.
"Tapi yang namanya juga dipijat tidak perlu pakai pakaian, Sayang" jawab Bima seromantis mungkin dan mencoba memanjakan Sang ATM berjalannya dengan segala pesonanya.
Ningrum hanya pasrah saja, sebab Ia sungguh sangat lelah.
Namun Ningrum mencium arkma parfum yang berbeda dipakaian Bima, dan itu bukan milik Bima. Namun karena rasa lelah yang menderanya, membuatnya sangat malas untuk berfikir.
Bima meletakkan tubuh Ningrum di atas rannang dengan selembut mungkin, lalu meraih botol minyak zaitun dan menarik handuk yang dikenakan oleh Ningrum dan meminta sang ATM-nya untuk bertelungkup agar memulai proses pemijatan.
Ningrum hanya mematuhinya, dan Bima mulai bergerak memijat seolah pemijat profesional.
"Mas, kenapa jam segini baru balik? Dari mana saja?" tanya Ningrum disela-sela rasa kantuknya.
"Ooo.. Apakah kawat lasnya sudah ketemu?" tanya Ningrum penasaran.
"Sudah, Sayang.." jawab Bima yang memulai memijat dibagian pergelangan kaki Ningrum.
Semakin lama Ningrum tak mampu menahan kantuknya dan akhirnya tertidur lelap.
Bima yang menyadari Ningrum tertidur, mencoba membalurkan mjnyak zaitun itu keseluruh tubuh istrinya, agar jika Ningrum terbangun Ia merasa jika Bima benar-benar memijatnya.
Setelah selesai, Ia mengubah posisi Ningrum menjadi terlentang dan dan menarik selimut menutupi tubuh Ningrum yang kini sudah terlelap dalam menjemput mimpinya.
Bima bergegas menyalin pakaiannya, lalu melemparkannya di dalam keranjang pakaian kotor dan segera mandi lalu ingin beristirahat segera.
Sementara itu, Yudi sudah kehabisan sabunya. Ia uring-uringan karena tidka mengonsumsi barang tersebut. Ia tidak dapat tenang dan juga gelisah. Sementara Adi sudah tertidur lelap karena kelelahan bekerja.
Yudi beranjak dari kamarnya. Ia keluar kamar dan celingukan mencari sesuatu barang yang dapat dijual dan untuk dijadikan sebagai membeli barang haram yang dibutuhkannya saat ini.
__ADS_1
Ia pergi memeriksa dapur, dan melihat lemari kitchen set. Ia membukanya satu persatu dan berharap menemukan barang yang dapat digadaikannya sebagai penebus satu bungkus sabu.
Ia melihat sebuah mesin pencincang daging berupa cooper yang dibeli Ningrum dengan harga satu juta rupiah.
Ia langsung meraihnya, lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek dan menyelinap keluar rumah.
Ia berjalan menyusuri kompleks dan sudah bertemu janji dengan seorang pemuda ceking.
Sebuah motor matic tampak menuju ke arahnya. Hari sudah sangat malam, dan Leli juga tutup berjualan, sehingga tidak ada yang melihat aktifitasnya.
"Mana barangnya?" tanya Yudi dengan tak sabar.
Pria ceking itu memberjkan satu bungkus kecil berisi sabu yang dimintanya.
"Mana uangnya?" tanya Pria itu dengan nada gak suka.
Yudi menyerahkan kantong plastik kresek berisi mesin cooper tersebut.
Pria itu memeriksanya, lalu tercengang dan menatap Yudi.
"Heeei.. Kamu fikir aku ini emak-emak..?! Barang ini buat apaan?!" ucap pria ceking itu dengan kesal.
Yudi yang sudah galau karena belum mengonsunsi barang haram itu, hanya tersenyum nyengir.
"Itu mahal tau..!! Barang berkualitas.. Kamu beri saja sama istrimu, pasti dia suka.." jawab Yudi seenaknya.
"Brengseeek, Lu.. Aku belum nikah..!!" aku butuh uang, bukan barang ini..!!" ucap Pria itu penuh penakanan.
"Anggap saja itu jaminannya, kasihkan ke emak, lu , deh.. Ntar kalau aku sudah punya uang Aku tebus" jawab Yudi yang saat ini sedang sangat kacau sekali.
Pria ceking itu sangat kesal, namun Ia tak dapat berbuat apa-apa sebab jika mereka terus ribut akan menimbulkan kecurigaan pada security yang menjaga portal kompleks tersebut.
Dengan perasaan kesaal Ia menarik tali gas motornya dan pergi meninggalkan Yudi dan mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan Yudi kembali pulang ke rumah Ningrum dengan membawa barang haram tersebut untuk segera di konsumsinya dan Ia berjalan dengan sedikit sempoyongan.
__ADS_1
Sesampainya didalam kamar, ia dengan tak sabar mengonsumsi barang haram tersebut, dan reaksinya ialah membuat Ia tak dapat tidur sepanjang malam dan mengoceh tak jelas.