
Andini diam-diam telah mengunggah foto mobil barunya diakun media sosialnya, dan tentunya ia membuka kembali pemblokiran akun media Nora, dengan sengaja agar wanita itu melihatnya, saat ini ia sedang menunggu komentar dari Nora, rasanya sangat tak sabar.
Rendy masih memperhatikan istrinya yang senyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu.
Tadinya ia sudah melihat chat istri Bima kepada Andini-istrinya, namun senyum sang istri membuatnya semakin cemburu saja.
"Kamu ini sebenarnya senyum dengan siapa, sih?" tanya Rendy dengan penasaran.
Andini melirik sang suami yang tampak sangat pencemburu. "Balas komen-lho, Sayang!" jawab Andini sedikit geli yang melihat sikap suaminya semakin lama semakin pencemburu setelah usia pernikahan mereka memasuki kurang lebih delapan tahun.
Rendy seolah tak percaya dengan apa yang dinyatakan oleh Andini. "Berbalas dengan siapa? Laki-laki apa perempuan?" cecar Rendy kepada istrinya.
Dengan membolakan matanya, Andini menatap suaminya. Mengapa suaminya seakan begitu posesif terhadapnya.
"Isssssh.. Tuduhanmu sangat membagongkan, Mas.. Masa iya aku berbalas chat dengan pria lain. Dimana lagi ku temukan pria sebaik dan setampan dirimu," ucap Andini, yang kali ini membuat Rendy bersemu merah.
"Benarkah?" tanyanya cepat.
Andini menganggukkan kepalanya, meskipun ia tahu jika kalimatnya barusan terlalu lebay, tetapi sukses membuat suaminya tidak terlalu banyak bertanya.
Kemudian Rendy menghampiri Andini. " Ya, sudah.. Mas mau balik lagi ke proyek!" ucap Rendy, kemudian mengecup ujung kepala sang istri dan beranjak pergi.
Andini nyengir melihat tingkah suaminya, ternyata tidak sulit untuk menaklukkan omelam dan rasa curiga suaminya.
Sesaat datang pembeli yang harus ia layani, sehingga membuatnya terpecahkan konsentrasinya.
*****
Rendy mengendarai mobil barunya ke proyek. Kalimat pujian yang dilontarkan oleh Andini membuatnya begitu terngiang ditelinga dan ingatannya. Hari ini ia mendapatkan mood booster dari sang istri, sehingga membuat harinya terasa begitu mendebarkan.
Saat tiba diparkiran, tanpa sengaja ia bertemu dengan Bima yang juga memarkirkan mobilnya. Mata Bima membola melihat Rendy yang mengendarai mobil, dengan warna yang masih sangat mengkilap, dengan plat toko yang masih sangat baru.
"Emmm... Mobil baru, kredit-ya?" sindir Bima dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
Rendy nyengir mendengar ucapan dari Bima. "Alhamdulillah, dapat uang proyek, jadi belinya cash."jawab Rendy. Sebenarnya ia begitu sangat malas untuk melayani pria itu, namun karena Bima seolah merendahkannya, ia sepertinya sesekali harus memberikan syok therapi.
Seketika Bima terperangah. Ia berharap jika pendengaran salah, sebab ia tidak ingin tersaingi.
"Hellleeeh.. Masa iya, Cash. Yang ada kamunya cuma pamer dan tidak ingin tersaingi," balas Bima semakin kesal. Ia tidak ingin tersaingi, ini sangat membuatnya begitu iri.
Tak berselang lama, dua orang pria berpakaian hitam datang menghampiri Bima. "Anda bernama Bima?" tanya salah satu pria berpakaian preman.
Bjma melirik ke arah pria yang menyapanya. Ia merasa tidak mengenal mereka, namun ada urusan apa mereka mencarinya, sehingga membuat obrolan ia dan Rendy terjeda.
"Kami orang suruhan pak Anton, diperintahkan untuk mengambil mobil Anda, sebab hutang Anda yang sudah mencapai 300 juta sebab dari bunga modal yang diberikannya, tidak pernah kamu bayar sedikitpun.
Seketika Bima membolakan matanya. Mau diletak dimana wajahnya karena saat bersamaan Rendy mendengar jelas semua apa yang diucapkan oleh kedua pria itu padanya.
Rendy mengerutkan keningnya. Ia tidak menduga jika Bima memiliki hutang sebanyak itu kepada Anton, dan ia tidak membayarnya hingga 8 tahun lamanya, lalu masih bersikap tenang.
Tak ingin membuat Bima malu, Rendy terburu-buru pergi, ia tidak ingin menyaksikan pengambilan paksa mobil itu oleh kedua orang suruhan Anton.
Langkah Rendy dipercepat, ia tidak ingin melihat apalagi terlibat didalamnya, sebab itu bukan urusannya. Ia berjalan menuju plant 2 sebagai lokasi pekerjaaannya.
Salah seorang dari mereka merapatkann tubuhnya kepada Bima. "Jangan mempersulit tugas kami!" geram Pria tersebut, sembari menodongkan pucuk senjata api dibagian perut Bima, sebagai sebuah ancaman.
Bima tak berkutik, sebab pria satunya lagi juga merapatkan ke tubuhnya dengan sebuah badik yang berada dipinggang kirinya.
Mendapatkan ancaman dari kedua pria tersebut, ia sangat ketakutan dan akhirnya bersikap pasrah.
Bima dengan terpaksa menyerahkan kunci mobilnya, dan memandangi keduanya saat membawa paksa mobil yang dibanggakannya.
Disaat Rendy membeli mobil baru, ia justru kehilangan mobilnya, dan ini sangat merendahkan martabatnya.
Pria bertubuh tinggi itu mendengus kesal dan juga kecewa. Ia mengacak rambutnya hingga berantakan seperti hidupnya yang kini sangat mengenaskan.
"Siaaal!! Awas kau, Anton." gerutunya dengan geram.
__ADS_1
****
Waktu menunjukkan pukul 17.30 wib. Lembayung menggantung dilangit senja.
Bima sedang duduk dihalte menunggu tumpangan, sebab hari ini mobilnya ditarik paksa oleh orang suruhan Anton.
Ia sudah berulang kali menghubungi Nora, namun phonselnya tidak tersambung.
Bima semakin menggerutu, sebab ia sangat kesal, dan sudah beberapa kali menghentikan mobil tanki dan juga dum truck yang melintas membawa CPO dan juga pupuk, tetapi tidak satupun yang memberikannya tumpangan.
Hari semakin meremang. Pergantian shif karyawan sudah dimulai , itu terlihat dengan adanya bus-bus karywan yang melintas dengan membawa para karyawan dari pintu gerbang perusahaan.
Bima menyesap nikotinnya, lalu menghembuskan karbon monoksida ke udara dengan cepat, kemudian membuang puntung rokoknya dengan kasar, lalu menginjaknya.
"Kemana lagi si Nora! Jam segini phonselnya juga belum aktif!" gerutnya dengan kesal.
Tak berselang lama,tampak Mbak Raini menaiki sepeda motornya. Ia sepertinya ingin pulang, sebab anak lelakinya akan menjaga kantin untuk shif malam.
Saat melihat Bima berdiri dihalte, ia pun menghentikan sepeda motornya, sebab hutang makannya waktu itu belum dibayarnya, tetapi Bima menghilang begitu saja, dan kini saat mereka bertemu, Bima membuang pandangannya dengan cepat, seolah mereka tidak saling mengenal.
Mbak Raini turun dari sepeda motornya, dan menghampiri Bima.
"Eh, Bim.. Kenapa kamu buang muka? Seperti gak kenal saya lagi!" sindir Mbak Raini, sembari berkacak pinggang mentap Bima.
Bima mendengus kesal. Ia sangat pusing dengan permasalahan hidupnya, kini Mbak Raini datang dengan menagih hutang-tentunya.
Pria menoleh ke arah Mbak Raini yang mirip dengan polisi memergoki maling, langsung tangkap.
"Mbak! Bisa gak sih, kasih saya waktu untuk nafas, sebentar saja.?! Mbak ini cuma hutang segitu saja ditagih mulu!" ucap Bima dengan nada kesal.
Dengan geram mbak Raini menatap tajam pada Bima.
"Eh.. Bimo! Enak bener kamu bilang hutang cuma segitu. Sedangkan yang segitu saja kamu gak mau bayar, apalagi yang segunung! Hutang tetaplah hutang, meskipun cuma seratus perak, sebab semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak." Sergah Mbak Raini dengan kesal.
__ADS_1
~Nanti dilanjut, dek bayi rewel~