
Yudi memperhatikan seluruh isi kamar yang tampak mewah. Ia tampak memikirkan sesuatu yang hanya Ia tau apa yang bersemayam dibenaknya.
Setelah semua orang tertidur lelap, Ia meraih tad kecil miliknya, lalu memperhatikan beberapa bungkus kecil plastik transfaran yang berisi bubuk berwarna putih dan juga sebuah timbangan electrik.
pemuda membuka lemari pakaian yang cukup besar, lalu menyimpan semua benda-benda itu dibalik lipatan pakaian yang tampaknya milik mantan suami Ningrum yang masih tersusun rapih.
Setelah merasa aman, Yudi kembali menutupnya, lalu beranjak ke ranjangnya dan berbaring tertidur bersama Ady.
Pagi menjelang, Ningrum terbangun dan menggeliatkan tubuhnya. Beranjak kekamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia melihat Bima masih tertidur pulas karena menghajarnya malam tadi habis-habisan.
Ia turun ke lantai dasar dengan rambut tergerai yang masih tampak setengah basah. Saat melintasi kamar tamu, Ia berpapasan dengan Yudi yang juga baru keluar dari kamar dan tampaknya juga sudah mandi.
Tanap menyapa, Yudi hanya melirik kepada Ningrum yang pagi itu sudah terlihat sangat cantik.
Ningrum menuju dapur, dab melihat Ady sedang mencuci piring di washtafel "Kamu.. Ngapain kamu cuci piringnya?" tanya Ningrum kepada Ady.
"Gak, apa, Mbak.. Biar Mbaknya masak nyaman gak ada piring kotor bertumpuk" jawab Ady, dan terus melanjutkan mencuci piringnya yang hampir kelar.
Ia juga memasak air panas dan sudah mendisih.
"Mbak mau dibuatin minum apa?" tanya Ady yang mengambil teko keci untuk membuat kopi creamer instan untuk minum mereka bertiga.
"Udah.. Samain saja" jawab Ningrum.
Ady menganggukkan kepalanya lalu membuat 4 porsi kopi creamer untuk mereka berempat.
Sementara iru, Yudi terus melirik Ningrum yang masih sibuk memasak untuk sarapan dengan tatapan tak biasa.
Ady meletakkan satu teko kecil kopi creamer dan 4 buah gelas di meja makan, Yudi menuangnya dan menyeruput kopinya.
Sementar itu, Ady kembali masuk kekamar untuk mengganti pakaian kerja proyeknya.
__ADS_1
Bima sudah tampak turun dari kamarnya dan bergabung dimeja makan menunggu sarapan yang dibuat oleh Ningrum.
Setelah selesai, Ningrum menghidangkannya dimeja makan, dan Ady juga sudah bergabung di meja makan, lalu mereka sarapan.
"Masakan kamu enak, Sayang" puji Bima yang selalu dilontarkannya dan membuat Ningrum selalu merasa tersanjung dengan segala sikap romantis yang diperlihatkan oleh Bima kepadanya.
"Aku dari kecil hobby masak, Mas. Ibu yang ngajari" jawab Ningrum dan menghabiskan suapannya.
"Pantas saja Kamu pinter masak" ucap Bima.
"Aku sedikit pulang telat malam ini, Mas. Ada pekerjaan orderan sangat banyak" Ningrum memberi tahu.
"Iya.. Gak apa-apa, jangan terlalu capek kali ya, Sayang" jawab Bima dan mengecup ujung kepala Ningrum, lalu berpamitan akan pergi bekerja.
Ady membantu membereskan piring kotor, dan mengambil wadah makanan di rak piring.
"Mbak.. Sisanya aku bawa buat bekal makan siang, Ya" Ady meminta ijin.
Ningrum mengerutkan keningnya "Emang di sana gak ada kantin?" tanya Ningrum kepada Ady.
Lalu Ningrum menganggukkan kepalanya, dan menambahkan ayam goreng sambal ijo sisa malam tadi. Ningrum melihat jika Ady pemuda yang berbeda dan sikapnya lebih mempertimbangkan setiap hal yang akan dilakukannya.
Keturunan Bima memiliki postur tubuh tinggi kekar. Namun Ady memiliki kulit yang sedikit cerah dibanding Bima dan Yudi.
Dan hal yang paling beda, Ady itu memiliki dua pasang bulu mata yang lentik, Ningrum tak sengaja memperhatikannya "Mungkin anak ini waktu dalam kandungan mau jadi cewek tetapi tidak jadi" guman Ningrum dalam hatinya, dan tersenyum geli.
"Makasih, Ya Mbak.. Saya berangkat kerja dulu" ucap Ady berpamitan, dan bergegas menuju keluar rumah karena Bima dan Yudi sudah menunggunya.
Ningrum memperkejakan asisiten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah dan laundry hingga waktu sore saja, setelah selesai dengan pekerjaannya, asisten rumah tangga itu akan kembali pulang kerumah.
Ningrum kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian, dan Ia akan berangkat ke salon untuk menyiapkan semua orderan yang ada, sebab esok akan dijemput oleh pemilik orderan.
__ADS_1
Saat melintasi kamar tamu yang kini ditempati oleh Ady dan juga Yudi, Ningrum berinat hendak masuk, karena Ia akan mengambil sisa baju Riffky yang tertinggal dan akan memberikannya kepada para pemulung yang sering lewat dari depan salonnya.
Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci dan memasuki kamar tersebut. Ningrum mengambil satu kotak kardus yang terdapat disudut kamar, lalu membuka lemari dan mulai mengambil pakaian Rifkky yang masih tertinggal.
Dan..
Praaanng..
Suara benda terjatuh ke lantai saat Ningrum tanpa sengaja menarik pakaian milik Rifky. Ningrum memungutnya, dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat jika itu adalah timbangan elektrik dan beberapa bungkus kecil plastik transfaran berhamburan dilantai.
Jantung Ningrum berdetak kencang, meskipun Ia bukan pengonsumsi atau pengedar, tetapi Ningrum sangat kenal benda apa yang kini sedang dipegangnya.
Dengan perasaan kesal, Ia membawa timbangan electrik dan juga bungkusan kecil yang berjumalh 20 buah paket tersebut.
Ningrum membuka semua isi paket tersebut dan membuangnya kedalam toilet dengan perasaan jengkel.
"Dasar breengsek..!! Baru lagi uangku terkuras dua hari yang lalu untuk membebaskannya, dan kini kembali berulah" maki Ningrum dengan kesal dan ingin rasanya Ia menghajar Yudi saat ini juga, namun Ia mencoba menahan emosinya.
Ningrum membakar sisa plastik bungkus tersebut, lalu beserta dengan timbangan elektriknya.
Setelah itu meninggalkannya di tong sampah dan berangkat ke salon.
Perasaannya bercampur aduk, jika sampai Yudi tertangkap lagi, Ia tidak ingin ambil pusing untuk mengeluarkan anak itu dari tahanan, karena tidak ada juga manfaatnya dan tidak ada jeranya.
Kalau bukan karena ibu mertuanya yang menangis waktu itu karena memintanya untuk membantu menebus Yudi, mungkin Ia tidak akan mengeluarkan uang sebanyak itu begitu saja.
Kini Ningrum merasa jika Yudi adalah ancaman dan Ia tidak ingin pemuda itu ada dirumahnya, Ia harus berbicara kepada Bima dan meminta Bima untuk mengeluarkan Yudi dari rumahnya.
Perasaan Ningrum masih sangat kesal, Ia tidak konsentrasi dengan apa yang sekarang sedang dirasakannya, sepertinya Ia sangat tidak bersemangat untuk melakukan apapun hari ini.
Ningrum mencoba menarik nafasnya dalam, lalu menghelanya dengan sangat berat, Ia tidak mengerti dengan apa yang ada didalam benak pemuda tersebut.
__ADS_1
Ningrum akan mencari cara agar pemuda itu keluar dari rumahnya, jika untuk Ady Ia sepertinya tidak memiliki masalah, karena pemuda itu tidak banyak tingkah dan ulah seperti Yudi.
Ningrum mencoba menetralkan degub jantungnya yang tadi bergemuruh, rasa syok dihatinya masih begitu terasa saat melihat benda haram tersebut.