SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
epidode 66


__ADS_3

"Mbak.. Aku pamit pulang juga, Ya.. Mau anyar barang ke salon lain. Kalau sampai Bima main tangan lagi, jangan takut untuk melaporkan ke kantor polisi" Ucap Yamink menyarankan.


Ningrum menganggukkan kepalanya, dan Yamink beranjak pergi dari ruang kerja Ningrum.


Setelah kepergian ke dua sahabatnya, Ningrum membereskan sisa wadah makan yang dibawa oleh Andini barusan dan memasukkannya ke dalam tong sampah.


Ningrum menuju sofa, lalu duduk bersandar disandarannya dan memejamkan kedua matanya.


Tak berselang lama, Ia mendengar suara pintu ruang kerjanya dibuka, dan Ningrum mencoba mengintainya melalui ujung matanya, dan ternyata itu adalah Bima.


Ningrum sedikit tersentak, sebab ini masih jam kerja dan Bima sudah pulang. Ia tau jika pasti Bima ingin merengek meminta maaf padanya.


Bima melangkah menghampiri Ningrum, lalu duduk disisi wanita itu, sedangkan saat ini Ningrum berpura-pura untuk tidur dan tidak menggubris kedatangan Bima.


Bima meraih jemari tangan Ningrum yang mana tampak jemari itu penuh dengan cincin berlian yang berkilauan yang membuat Bima terperangah melihatnya.


"Sayang, maafin Mas, ya. Mas khilaf kemarin sampai menampar kamu" ucap Bima sembari mengecup lembut jemari tangan Ningrum dan melirik berlian yang tampak berkilauan itu.


Ningrum masih terdiam, berpura-pura tidak mendengarnya, dan Bima yang merasa diabaikan kemudian mengambil benda pipih di didalam dompetnya, lalu menggenggamnya dan kemudian merafalkan mantra yang terus menerus Ia baca sembari menatap Ningrum dan menyebut nama Ningrum berulang kali.


Seketika hati Ningrum berdesir. Ada rasa kasihan dan juga iba yang tiba-tiba hadir didalam hatinya dan merasa tak tega melihat Bima yang menghiba meminta maaf kepadanya.


"Sayang, maafin Mas, ya" rengek Bima yang penuh kepalsuan.


Lalu Bima turun dari sofa, memegang kedua lutut Ningrum dan menangkupkan wajahnya dilutut wanitanya.


Aktingnya yang sungguh luar biasa membuat siapa saja akan percaya jika Ia benar-benar meminta maaf.


Entah dorongan dari mana yang membuat Ningrum membuka matanya dan mencoba melihat pria yang menghiba meminta maaf kepadanya.


Ia menatap pria itu, dan seketika Bima menengadahkan wajahnya dan menatap tajam pada Ningrum yang membuat hati Ningrum semakin terenyuh dan merasa kasihan.


"Maafin, Mas ya? Mas janji tidak akan melakukannya" ucap Bima dengan wajah palsunya.

__ADS_1


Ningrum akhirnya luluh juga dan mencoba menganggukkan kepalanya.


Seketika Bima tersenyum sumringah, lalu menghujani jemari Ningrum dengan kecupan yang sesekali menyentuh cincin berlian milik Ningrum.


"Mas balik ke proyek, Ya?" ucap Bima yang menatap lekat ke retina Ningrum hingga meluluh lantakkan pertahanan Ningrum.


Ningrum kembali menganggukkan kepalanya, dan membuat Bima kembali tersenyum licik.


Lalu Bima mengecup ujung kepala Ningrum, sebagai tanda jika Ia bersungguh dalam kepalsuannya.


Lalu Bima beranjak pergi, dan menuruni anak tangga. Tanpa sengaja Ia berpapasan dengan Jenny yang juga menapaki anak tangga.


Dengan sengaja Ia mere-mas bokong Jenny saat akan melintasinya, membuat gadis itu tersenyum sumringah, lalu Bima berlalu begitu saja.


Bima menuju kembali ke proyek. Sesampainya diparkiran, Ia bergegas menuju lokasi proyeknya dan Ia melintasi plant-2 tempat proyek Rendy.


Ia melihat para pekerja Rendy sedang menarik katrol untuk menaikkan plat besi yang sudah dirancang dan siap pengelasan.


Bima mengerutkan keningnya, bagaimana mungkin Rendy dapat secepat itu mengerjakan pekerjaannya dan itu hanya tinggal pengelasan akhir dan pengecatan.


Lalu Ia memepercepat langkahnya menuju plant-4 tempat proyeknya berlangsung. Saat bersamaan, seorang peninjau perusahaan yang mengawasi bagian kontraktor datang melihat pengerjaan Bima pada proyeknya.


Ia melihat kondisi pekerjaaan yang terbilang belum cukup untuk sesuai target.


"Ini bagaimana, Pak Bima? Waktu tinggal seminggu lagi, dan pekerjaan progresnya hanya segini saja?!" tanya pengawas tersebut.


Bima menggarukkan kepalanya "Ini akan siap, Pak. Saya pastikan sebelum tanggal habis pengerjaan akan selesai" janji Bima kepada pengawas perusahaan.


Pengawas itu mendenguskan nafasnya "Jangan sampai lewat dari hari yang ditentukan!" ucap pengawas itu dengan penuh penekanan.


Bima menganggukkan kepalanya dan mencoba meyakinkan pengawas itu jika pekerjaaanya sesuai target.


Pengawas itu beranjak pergieninggalkan lokasi tersebut. Lalu Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Ayo, cepat!! Besok malam kita lembur dan bawa bekal untuk makan malam sekalian!!" ucap Bima dengan lantang.


Para welder cadangan dan juga Ady kemudian kembali melakukan pengelasan. Namun hati mereka merasa sedikit janggal, masa iya lembur makan malam harus bawa bekal double, bisa basilah lauk yang dibawa dari pagi.


Namun sepertinya mereka tak memiliki pilihan lain dan harus menerima kenyataan jika bos proyek mereka adalah orang yang pelit.


Setelah mendapatkan penekanan dari pihak perusahaan, Bima akhirnya memandori para pekerjanya. Ia berkacak pinggang untuk melihat para pekerjanya yang sedang bekerja.


Sementara itu, Ningrum diam termangu disofa. Mengapa setiap kali bertemu dengan Bima Ia tidak dapat menolak permintaan maaf pria itu.


Padahal sebelumnya Ia sangat marah dan rasanya ingin mengakhiri pernikahannya. Apalagi bekas tamparan diwajahnya masih membekas dan meninggalkan noda lebam.


Entah apa yang membuatnya begitu terpedaya oleh pria bernama Bima. Segala bentuk ucapannya membuatnya luluh lantak.


Ningrum mengehela nafasnya dengan berat, Ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan sejenak fikirannya, hingga suatu saat nanti Ia akan menemukan petunjuk tentang hidup yang akan dijalaninya.


"Ya, Rabb.. Berilah aku petunjuk-Mu tentang pernikahanku yang selalu dalam dilema. Berilah cahaya kebenaran yang dapat membuatku dapat melihat apakah pernikahan ini baik untukku atau sebaliknya" doa Ningrum dalam hatinya.


Sesaat phonselnya berdering. Satu panggilan dari nomor tidak dikenal.


Ningrum mengangkatnya "Hallo.." ucap Ningrum lirih.


"Ya, Hallo. Dengan saudari Ningrum?" ucap suara dari seberang telefon.


"Ya.. Saya sendiri. Ada perlu apa, Ya?" tanya Ningrum dengan sedikit malas.


"Maaf, Bu! Kapan tunggakan angsuran dari mobil ibu yang digadai akan dibayar? Ini akan datang waktu tangga jatuh tempo" ucap seorang wanita dari seberang telefon.


Ningrum tersentak, Ia merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, sebab Ia tidak pernah merasa menggadaikan mobilnya.


"Maaf, Bu. Ini darimana, Ya? Sebab saya tidak merasa pernah menggadaikan mobil saya" ucap Ningrum dengan tegas.


"Kami dari pusat pembiayaan yang berada dikantor pusat, Bu. Dan mobil ibu atas nama Ningrum dan plat nomor bla bla bla.. Telah digadaikan suami ibu atas nama Bima Anggara dan itu atas ijin dengan nomor pegadaian yang tertera dengan tenor 10 juta rupiah" ucap suara wanita yang bertugas sebagai operator tersebut.

__ADS_1


Seketika Ningrum merasa lemah, Ia terdiam dan tak mampu menjawab apapun dari segala ucapan sang operator.


__ADS_2