SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 68


__ADS_3

Ningrum tersenyum simpul melihat apa yang baru saja dialaminya. Ia mengingat jika Gibran adalah sosok pria pendiam, tidak terlalu banyak bicara dan juga sosok yang baik.


Ia tidak pernah menduga dapat bertemu dengannya hari ini secara kebetulan dan membuatnya tertawa lepas meski hanya sebentar.


Ningrum melirik jam diphonselnya. Waktu menunjukkan pukul 3 siang, Ia beranjak dari cafe, dan menuju parkiran. Namun Ia ingin bersantai sejenak untuk menghilang rasa galaunya. Ia pergi menuju taman kota. Ia duduk kursi taman dan menikmati kesendiriannya.


Sementara itu, Bima masih memantau para pekerjanya. Ia harua menyelesaikan pekerjaan sebelum waktu yang ditentukan habis.


Tampak para pekerjanya sedang bekerja dibawah tekanan, sebab mereka tidak dapat beristirahat meski sejenak.


Bima yang sedari tadi mendapat telefon dari pihak pendana yang mana Ia menggadaikan BPKB mobil milik Ningrum, dengan sengaja memblokirnya sehingga membuat nomor-nomor baru menghubinginya. Karena kesal, Bima menonaktifkan phonselnya.


Bima mengeluarkan rokoknya, Ia melihat jiak isinya hanya tinggal sebatang saja. Ia bingung harus mencari hutangan kemana lagi.


Uangnya hilang sia-sia saat di ruang karaoke yang tanpa sadar Ia berikan kepada pemandu lagi karena sedang mabuk.


Ia harus dapat memanfaatkan Nora untuk memberikannya rokok. Bukankah mereka sore ini berjanji akan bertemu? Maka kesempatan ini digunakan oleh Bima untuk memoroti Nora.


Bima mengirimi pesan kepada Nora agar nanti membelikannya sebungkus rokok jika Ia menginginkannya singgah ke rumahnya.


Tak berselang lama, Nora membalasnya dan mengatakan ya. Hal tersebut tentu membuat Bima merasa senang.


Nora yang mendapatkan pesan tersebut, memandangi sekitar kantin. Ia melihat Mbak Raini sedang masuk ke toilet. Lalu dengan cepat Ia mengambil sebungkus rokok dan menyelipkannya kedalam tas sandangnya.


Setelah itu Ia berpura-pura tidak terjadi apapun dan mencoba untuk bersikap biasa saja dan kembali melayani pembeli.


Hari menunjukkan pukul 5 sore, Bima meminta kepada Ady dan juga Yudi untuk menumpang kepada beberapa pekerja yang searah rumahnya. Sedangkan Ia akan menyinggahi Nora yang sudah menungunya dipintu gerbang.


Bima menghentikan mobilnya saat melihat Nora sudah menunggu di halte dekat pintu gerbang. Dengan cepat Nora memasuki mobil dan tersenyum sumringah melihat kehadiran Bima.


Setelah memasuki mobil, Bima melajukan mobilnya menuju rumah Nora. Wanita itu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tas sandangnya.

__ADS_1


Bima meraihnya dengan cepat dan tersenyum sumringah. Lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Nora.


Sesampainya dirumah Nora. Bima buru-buru masuk kedalam rumah dan memarkirkan mobil disamping rumah Nora agar tidak terlihat oleh orang lain.


Bima membuka bungkus rokoknya, dan menyulutnya dengan pemantik api, lalu menghisapnya dengan sangat dalam.


Nora menuju kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sangat menggoda. sebuah daster tanpa lengan dan sangat pendek.


Ia sengaja tidak mengenakan daleman karena sudah sangat merasa gatal ingin dijamah oleh Bima.


Ia beranjak ke dapur dan menyeduh secangkir kopi untuk Bima.


Setelah menghidangkannya, Ia tanpa sungkan sudah naik kepangkuan pria itu dan seakan tak sabar untuk menyodorkan dirinya secara gratis.


Bima yang merupakan pria yang tak pernah menolak daging mentah, dengan cepat mematikan rokoknya, dan beranjak dari kursi dengan menggendong tubuh janda aduhai tersebut.


Saat bersamaan, sebuah mobil pickup memasuki gang tersebut dan membawa barang pindahan. Mobil itu adalah yang membawa barang pindahan milik Andini dan Rendy yang dua hari lagi akan pindahan.


Saat melintasi gang, Andini melihat mobil yang dikendarai Bima terparkir disamping sebuah rumah seseorang.


Andini mengerutkan keningnya "Mas.. Itu mobil yang dikendarai oleh Bima suaminya Mbak Ningrum kenapa parkir disitu, Ya?" tanya Andini dengan penuh penasaran.


Rendy melirik apa yang dikatakan Andini, Istrinya "Biarkan saja. Suatu saat, sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga" Jawab Rendy.


Andini mendenguskan nafasnya dengan kasar.


"Dasar laki-laki gak ada gunanya sama sekali! Sudah main tangan, suka selingkuh pula" omel Andini.


Rendy menghentikan motor maticnya dihalaman depan rumah baru mereka.


"Maksudnya? Main tangan seperti apa?" tanya Rendy yang tiba-tiba penasaran.

__ADS_1


"Itu, tadi Aku waktu ke salon Mbak Ningrum tiba-tiba Kang Yamink lihat pipi Mbak Ningrum biru lebam. Saat ditanya dia cuma nangis doank" ukar Andini dengan ketus.


Rendy hanya terdiam "Ayo masuk, kita harus membereskan barang-barang ini" ucap Rendy, sembari menarik pergelangan tangan Andini dan membawa masuk kerumah baru mereka.


Suasananya sudah bersih, hanya memindah barang-barang yang tidak terlalu banyak, hanya lemari pakaian, ranjang tidur, lemari es dua pintu, dan mesin cuci tabung 10 kg hadiah dari Ningrum serta kompor gas dan sebagainya.


Setelah dibantu sopir dan kenek mobil pickup menurunkan barang dan memasukkan barang-barang tersebut kedalam rumah, maka Andini dan Rendy mulai berbenah.


Sementara itu, Bima dan juga Nora sedang bermandi peluh didalam kamar. Nora bagaikan wanita ****** yang tak lagi memikirkan dengan siapa yang menjadi temannya bercinta.


Janda tanpa anak itu terus membuat Bima melenguh dan menghabiskan energinya untuk membuatnya puas.


Sebungkus rokok sudah membuat Bima menjadi begitu memanjakan Nora, sedangkan Ningrum yang sudah menghabiskan banyak uang dan juga fikiran, harus mendapatkan sebuah tamparan yang begitu dengan mudahnya menorehkan luka yang mendalam.


Setelah dua insan yang bercinta tanpa ikatan pernikahan itu mencapai puncak surgawinya, keduanya berpelukan diranjang dan seakan tanpa beban.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Rendy dan Andini sudah selesai menata barang-barang mereka. Lalu keduanya akan kembali kerumah orangtua Andini terlebih dahuli, sebelum esok benar-benar pindah.


Keduanya keluar dari rumah baru mereka, dan mengunci pintunya, lalu menuju motor matic mereka dan menuju kejalan utama.


Saat berada didepan rumah Nora, secara bersamaan, Bima juga baru keluar dari rumah Nora dan diantar oleh sang janda.


Saat itu, mata Andini beradu dengan mata Bima. Seketika Bima tersentak kaget dan sama halnya dengan Andini.


Bima seketika berpura-pura tidak melihat Andini, meskipun sebenarnya saat ini Ia merasa gusar dan takut jika sampai Andini membeberkannya kepada Ningrum.


Bima berfikir untuk mencari cara agar membungkam mulut Andini agar tidak membeberkan masalah ini pada Ningrum.


"Ya Rabb... Pengen rasanya si Bima itu aku karungin dan ku buang ke laut!" gerutu Andini yang berada diboncengan belakang Rendy.


Rendy hanya diam saja mendengar Andini mengomel, sebab Ia sendiri juga masih kesal atas sikap Bima waktu ketika hendak meminjam tabung gas elpiji. Bukan Ia pelit atau tidak bisa meminjamkan, namun jika Ia memberikannya lagi, maka Bima akan terus memanfaatkannya.

__ADS_1


__ADS_2