SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 71


__ADS_3

Ningrum telah menyelesaikan cakenya untuk dibawa ke acara syukuran Andini esok. Tak terasa sudah pukul 5 sore, Ia bergegas membereskan semua peralatannya dan memyimpan cakenya dalam lemari pendingin.


Sesaat panggilan masuk dari Bima. Ningrum memandangnya lalu mengabaikan panggilan tersebut.


Bima merasa kesal karena Ningrum tampak belum mau berbicara kepadanya. Ia sedang berada didalam mobil dan mencoba kembali memejamkan matanya untuk membayangkan wajah Ningrum.


Kemudian Ia merafalkan mantra pengasihnya dan menyebut terus-menerus nama Ningrum. Namun ritualnya berakhir saat Ady dan Yudi mengetuk pintu mobil untuk masuk.


Bima mendengus kesal dan membuka pintunya, lalu kedua pemuda itu memasuki mobil dan Bima menghidupkan meain mobil lalu menuju pulang.


Bima sedang ketar-ketir, karena dia hari lagi para pekerjanya akan pinjaman uang. Sedangkan uang membeli bahan bakar mobilnya saja sudah menipis.


Sepanjang perjalanan menyetir, Bima terus merafalkan mantra untuk meluluhkan hati Ningrum.


Saat ini, Ningrum sedang berbelanja diminimarket. Ia menyetok kebutuhan pokok, sebab Ady sangat gemar memasak, dan Ia berinisiatif membeli keperluan sehari-hari, karena Ady membantunya menyiapkan sarapan pagi dan makan malam.


Saat mengambil ikan kalengan, Ningrum merasakan hatinya kosong. Bayangan wajah Bima hadir didalam benaknya, Ia begitu sangat bingung.


Mengapa Ia tak dapat membenci pria itu? Ini sangat diluar nalarnya dan terkadang selalu bertentangan dengan akal sehatnya.


Ningrum memasukkan ikan kalengan, nugget, daging ayam dan telur kedalam kernjang trolinya.


Bayangan wajah Bima terus saja terlintas dengan jelas dibenaknya, meskipun Ia mencoba membenci dan mengabaikannya, nakun tetap saja hadir.


Ningrum buru-buru membayar dikasir dan kebetulan sedang tidak begitu ramai. Ia bergegas menuju parkiran, dan memasukkan berbagai barang belanjanya, bahkan tak lupa Ia membeli sekarung beras sebagai bahan stok. Sungguh aneh, ternyata tanpa sadar jika Ningrum yang memberi makan Bima dan kedua adiknya.


Setelah memasukkan semua barang-barang miliknya, Ningrum kemudian melajukan mobilnya menuju pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, Ia melihat mobil yang dikendarai oleh Bima sudah terparkir dihalaman rumah, dan ini tak biasanya, sebab terkadang Ia pulang hingga pukul 10 malam.


Ningrum memasukkan mobil ke garasi dan mengeluarkan semua barang belanjaannya.


Ady yang kebetulan saat itu melihatnya datang menghampiri dan membawa barang-barang tersebut masuk ke rumah dan menatanya didapur.


Ningrum menuju lantai dua kamarnya, tampak Bima baru saja selesai mandi dan menatap Ningrum yang memasuki kamar.


"Baru pulang, Sayang?" sapa Bima seromantis mungkin.

__ADS_1


"Heeem.." Ningrum hanya menjawab dengan deheman. Entahlah hatinya saat ini sedang dilema.


Ningrum meletakkan dompet dan kunci mobilnya dengan malas diatas meja nakas, lalu Ia bergegas mandi untuk membersihkan diri.


******


Waktu Isya berlalu, Ningrum masih diam membisu, lalu Ia menuju ke lantai dasar untuk melihat apa yang sedang dimasak oleh Ady malam ini.


Bima yang masih duduk ditepian ranjang memandangi kepergiannya.


Ningrum melihat Ady menyiapkan makan malam, dan Ia bergegas menghampiri meja makan "Masak apa kamu, Di?"


"Ikan kalengan, Mbak" jawab Ady.


"Oh.. Ya sudah, makan yuk" ucap Ningrum sembari mengambil piring kosong dan menyendokkan nasi kepiringnya serta sepotong ikan kalengan.


Ady menarik kursi kosong dan ikut makan malam bersama Ningrum.


"Kamu pinter masak, suatu saat kamu bisa buka warung kuliner" ucap Ningrum menyarankan.


"Masa sih, Mbak..?" Ucap Ady dengan polosnya.


Tampak Bima menuruni anak tangga dan menuju kedapur untuk makan malam.


Ningrum mempercepat makan malamnya, dan Ia meneguk air minumnya. "Mbak udah selesai, Mbak duluan Ya, Di?" ucap Ningrum bergegas beranjak meninggalkan meja makan dan tanpa menoleh kearah Bima.


Ia bergegas kembali ke kamar. Ia masih sedikit kesal dengan mobil yang digadaikan oleh Bima.


Ia menuju tepian ranjang, lalu membuka phonselnya dan Ia melihat notif pesan teks dari Gibran yang menanyakan kepadanya apakah esok akan jadi menghadiri acara syukuran dirumah baru Rendy.


Ningrum mencoba membalasnya "Iya.. Insya Allah aku jadi datang. Kamu datang apa tidak?" balas Ningrum.


Entah mengapa Ia merasa iseng membalas chat dari Gibran, mungkin karena Ia masih galau menghadapi sikap Bima yang membuatnya harus terbelenggu dalam hutang piutang yang diciptakan oleh Bima.


"Kalau kamu datang, Aku usahain datang" balas Gibran dengan emot tertawa.


Sedikit hati Ningrum merasa bahagia dengan berbalas chat kepada Gibran.

__ADS_1


Tak berselang lama, Bima memasuki kamar, Ningrum menyudahi chatnya dan menghapus riwayat chatnya dengan Gibran.


Bima menghampirinya. Lalu duduk disisi kiri Ningrum. Pria itu meraih jemari Ningrum dan memasang wajah memelas.


"Sayang.. Mengapa masih mendiamkanku? Maafin Aku, ya?"


"Ningrum menghela nafasnya dengan berat. Entahlah, jika sudah berdekatan seperti ini hati Ningrum mulai goyah.


Ningrum merasakan hatinya begitu hampa. Saat ini hanya ada Bima dalam hatinya, padahal tadinya Ia merasa kesal.


"Besok Andini ada acara syukuran pindahan rumah baru, kamu ikut tidak?" ucap Ningrum mengalihkan percakapan mereka.


Bima yang merasa mendapat kesempatan jika hati Ningrum mulai terkena rafal semar mesem pengasihnya, dengan cepat menyahuti.


"Iya.. Besok Mas masuk kerja dulu, dan setelah itu akan ikut kesana" jawab Bima dengan penuh semangat.


Ia berharap jika kepergian mereka esok akan membuat hubungan mereka kembali membaik.


Sebenarnya Ia pergi menemui Nora agar berpura-pura tidak mengenalnya jika bertemu esok.


"Ya sudah, Aku mau tidur dulu, Mas..aku lelah" ucap Ningrum sembari menarik badcover dan mencoba memejamkan matanya. Meskipun sulit, namun Ia akhirnya tertidur lelap.


Bima yang memandangi Ningrum dari arah belakang merasa senang. Ia berharap esok pagi dapat meminta uang kepada Ningrum untuk mebeli bahan bakar mobilnya dan juga membayar pinjaman gaji pekerjannya.


Untuk semakin membuat hati Ningrum luluh, Bima terus membacakan rafal mantra tersebut agar Ningrum tak dapat menolak apa yang diinginkannya esok pagi.


Setelah membacakan rafal mantra itu, Ia membuka aplikasi akun media sosialnya.


Ia mulai berselancar didunia maya untuk membalas chat para wanita yang mengangumi ketampanannnya.


Tak jarang mereka bertukar fhoto yang tak senonoh dan jika merasa cocok, mereka akan berjanji temu untuk memadu kasih.


Segala pesona yang ditebarkan oleh Bima dengan tujuan untuk memorotin setiap pengagumnya.


Saat bersamaan, masuk sebuah notif pesan yeks dati aplikasi WA-nya yang berasal dari satu nomor tak dikenal yang tak lain adalah Mbak Raini.


Wanita itu menyatakan untuk menagih hutang Bima yang sudah lewatasa tenggang.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Bima kembali memblokir nomor Mbak Raini agar tak dapat menghubunginya.


"Siaaalaann..!! Nagih hutang terus tu si Mbak Raini, sekalian gak aku bayar baru tau rasa dia!!" omel Bima dengan sangat kesal.


__ADS_2