SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 56


__ADS_3

Bima sudah sampai dilokasi proyek. Ia mengantarkan 2 kotak kawat Las kepada Ady dan meminta para pekerja menyiapkan pengelasan.


Setelah itu berjalan menuju kantin Mbak Raini untuk mengutang rokok dan minuman dingin.


Sesampianya di warung mbak Raini, Ia disambut dengan tatapan kesal oleh Mbak Raini yang sudah lamanya menantinya.


"Apaan si, Mbak.. Wajahnya ngeselin begitu" ucap Bima yang mencomot satu bungkus kerupuk yang tersangkut di lemari etalase jus.


Mbak Raini menarik nafasnya dengan kesal "Eh.. Kang.. Hutang kamu itu sudah menumpuk.. Mau nambah hutang lagi? Kalau gak bisa bayar semua yang dicicil keq.." ucap Mbak Raini kesal.


Seketika Bima menatap Mbak Raini dengan wajah tak suka "Mbak.. Kan sudah saya bilang, kalau nanti uang proyek saya keluar akan saya bayar" jawab Bima tak kalah kesal.


Mbak Raini terperangah mendengar jawaban Bima, Ia sudah banyak bersabar apalagi hutang Bima sudah sangat banyak sekali, dan ini sudah tidak bisa ditolerir.


"Saya ini berdagang, Mas.. Perlu perputaran modal" keduanya beradu mulut dikantin dan menjadi pusat perhatian para pelanggan yang merupakan kayrawan perusahaan dan juga kontraktor lainnya.


Tak ingin menjadi perhatian pelanggan lainnya, Bima memilih untuk pergi dan pindah ke kantin sebelah. Lalu Ia membeli sebungkus rokok dikantin sebelah dan untuk sebagai permulaannya.


Setelah kepergian Bima, Mbak Raini yang merada sangat kesal, apalagi Ia melihat Bima menuju ke kantin sebelahnya, dan tentu hal ini membuat Mbak Raini semakin kesal dan rasanya ingin melabrak Bima.


Sesaat Mbak Raini kehilangan kesabarannya. Ia membuka phonselnya, lalu mencari satu nama yang dulu pernah Ia ambil dari phonsel Bima.


Mbak Raini yang terbakar emosi segera menghubungi nomor tersebut.


Nomor itu berdering, dan menandakan jika pemiliknya sedang aktif. Lalu panggilan itu tersambung.


"Hallo.." suara seorang wanita dari seberang sana, dengan begitu lembutnya.


Sesaat Mbak Raini menarik nafasnya dengan perlahan dan mencoba mengontrol degub jantungnya saat ink sedang dalam kondisi oenuh amarah.


"Hallo.." jawab Mbak Raini mencoba setenang mungkin.


"Iya.. Dengan siapa ya?" tanya wanita dsri seberang telefon disana.


Sesaat Mbak Raini terdiam, namun Ia sudah kehabisan akal menghadapi Bima.

__ADS_1


"Apakah ini istrinya Kang Bima?" tanya Mbak Raini dengan nada yang sangat hati-hati.


Sesaat suara diseberang telefon terdiam dan tampak hening.


Terdengar satu tarikan nafas panjang dan helaan yang sangat begitu berat.


"Ya.. Sekarang saya istrinya, ada apa ya, Mbak?" jawab wanita tersebut yang tak lain adalah Ningrum.


Mbak Raini merasa lega, sebab Ia tidak salah menelefon orang.


"Sebelumnya saya meminta maaf, Maaf ya, Mbak.. Tapi saya tidak memiliki pilihan lain lagi, saya sudah kehabisan akal menghadapi Kang Bima.." ucap Mbak Raini dengan nada lirih.


Seketika Ningrum merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi dan pastinya ini sangat penting. Hati Ningrum mulai tak nyaman dan merasa jika ini semua sangatlah membuatnya akan terkena imbas dari perbuatan atau masalh yang diciptakan oleh Bima.


"Begini, Mbak.. Kang Bima ngutang rokok dan makan dikantin saya yanh sudah mencapai hampir 3 juta rupiah, sedangkan saya membutuhkan uang tersebut untuk perputaran modal saya" ucap Mbak Raini menjelaskan.


Deeeeeeeegh..


Jantung Ningrum seakan berhenti berdetak. Bukan satu atau dua kali Bima selalu membuat masalah dan pasti semuanya akan berurusan dengan uang dan menyeretnya kedalam masalah tersebut.


"Ada, Mbak... Ntar saya fotokan dan saya kirim via WA ya.." ucap Mbak Raini.


"Iya, Mbak.. Maaf ya, Mbak jika suami saya sudah merepotkan Mbak-nya.." ucap Ningrum mencoba terus untuk bersabar.


"Sama-sama, Mbak.." ucap Mbak Raini, lalu memutuskan sambungan telefonnya dan membuka buku nota bon-nya dan mencari nama Bima yang menjadibsalah satu pengutang dengan rekor terbanyak.


Setelah menemukan nama Bima dibuku tersebut, Ia memotretnya dan mengirimkannya kepada Ningrum.


Mbak Raini berharap jika Ningrum dapat menyelesaikan masalah hutang piutang tersebut.


Ningrum menerima notifikasi dari pesan gambar di WA-nya.


Ia sudah dapat menebak jika pengirim pesan tanpa nama itu adalah si Mbak kantin yang mengaku jika Bima telah banyak mengutang makan dan rokok yang sudah menumpuk.


Saat Ia membaca pesan itu, benar saja, itu adalah rincian dari pesanan Bima yang tidak pernah dibayarnya.

__ADS_1


Wajar saja hingga menumpuk seperti itu jika rokok sehari dua bungkus dan itu sangat memberatkan pemilik kantin yang juga memerlukan perputaran modal.


Ningrum tak mengerti mengapa Bima sangat senang berhutang dan sulit membayarnya.


"Apakah itu merupakan hobby atau juga penyakit yang sudah menjadi kebiasaannya.


Ningrum tidak dapat lagi mengatakan apapun tentang prilaku Bima yang entah sudah berapa kali membuatnya kerepotan untuk menutupi hutang-hutangnya yang terus saja berdatangan tanpa henti.


Saat Ia mencoba menenangkan dirinya, tiba-tiba saja Sary mengetuk pintu ruang kerjanya dan mengatakan jika Ibu mertuanya menunggunya dibawah.


Ningrum kembali merasa pusing dengan kedatangan ibu mertuanya, Sebab Ia sudah dapat menebak apa yang akan dikeluhkan oleh wanita itu.


Karena masih menghargai itu seorang wanita yang masih berstatus mertuanya, maka Ningrum mencoba untuk turun ke lantai dasar untuk menemui sang ibu mertua.


Sesampainya dilantai dasar, Ia melihat jika ibu mertuanya tampak bola matanya memerah seperti habis menangis.


Ia menduga jika Ibu mertuanya baru saja menangis entah apa sebabnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Ningrum mencoba setenang mungkin.


Wanita itu menoleh ke arah Ningrum dengan wajah yang tampak begitu sangat sedih.


"Maaf, Ningrum.. Kedatangan ibu mungkin merepotkan kamu, namun Ibu tidak memiliki pilihan lain.. Sudah dua hari Ibu tidak memasak karena ke habisan beras, ayahmu bermain judi dan tidak memberi Ibu uang belanja" Ucapnya dengan mengadukan masalahnya.


Ningrjm mengjela nafasnya. Ini bukan tanggung jawabnya. Bukankah ini lebih tepat tanggungjawab ayah mertuanya, Bima dan saudaranya yang lain? Lalu mengapa harus Ia yang menjadi tempat pengaduan?


Ningrum merasakan jika dirinya seolah-olah bagaiakan mesin ATM yang dapat menghasilkan uang kapan saja.


Disisi lain, air mata yang keluar dari sudut mata ibu mertuanya membuat Ia merasa tak tega dan merasa iba. Namun ini tidak bisa terus dibiarkan terus-menerus, karena Ningrum itu adalah tulang rusuk bukan tulang punggung yang harus memikul setiap beban permasalahan hidup keluarga suaminya.


Masalah Bima saja belum selesai, kini Ibu mertuanya datang membawa masalah baru lagi.


Lalu dengan perasaan yang tak dapat lagi Ia gambarkan, Ningrum memberi dua lembar ratusan ribu rupiah kepada sang ibu mertua.


"Ini, Bu.. Untuk beli beras dan lauk.." ucap Ningrum mencoba mengontrol hatinya.

__ADS_1


Wanita itu menyeka air matanya dan meraih uang tersebut "Makasih, Nak Ningrum" ucapnya sembari berpamitan pulang.


__ADS_2