
Ningrum terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam diphonselnya menunjukkan pukul 11 siang. Ia bergegas beranjak dari kamar mandi. Tubuhnya terasa lemah karena digarap habis-habisan oleh Bima.
Ia membersihkan tubuhnya dan bergegas menyalin pakaiannya dengan pakaian yang akan dipakainya untuk menghadiri acara syukuran sahabatnya.
Ia merasakan turut bahagia atas apa yang dicapai oleh sahabat karibnya, sehingga Ia tampak bersemangat.
Ningrum meraih dompet dan kunci mobilnya menuju salon untuk mengambil cake buatannya yang akan dibawah sebagai buah tangan.
Ia mengemudikan mobilnya menuju toko yang menjual berbagai bahan dan perlengkapan khusus cake.
Ia membeli 5 kotak kosong sebagai wadah cake yang dibuatnya.
Saat akan membayarnya, Ningrum merasa bingung karena isi dompetnya mengempis. Lalu Ia mengambil selembar seratusan ribu rupiah untuk membayar belanjanya.
"Kemana uangku? Seingatku tidak ada berbelanja apapun" Ningrum berguman lirih dalam hatinya lalu membawa kotak kosong yang dibelinya, sehingga Ia tersadar dari lamunannya setelah pedagang tersebut menepuk bahunya karena tidak dengar saat dipanggil.
"Mbak.. Oh, Mbak!! Ini kembaliannya" ucap Sipedagang yang berhasil mengejar Ningrum saat sudah hampir masuk ke dalam mobilnya.
"Haaah!!" Ningrum tersentak kaget saat pedagang itu menepuk pundaknya.
Ia menatap bingung pada pedagang itu, dan debaran didadanya yang bergemuruh karena Ia sangat terkejut.
"Ya ampuuunn, Mbak.. Jangan sering melamun, apalagi menyetir mobil, bahaya tau!" ucap Pedagang itu mengingatkan.
Ningrum tersenyum miris mendengar ucapan dari pedagang tersebut.
"Mih, Mbak.. Kembalian uangnya, jangan melamun lagi"
Ningrum meraih kembalian uangnya dengan masih terlihat kacau.
Ia mencoba menarik nafasnya dengan dalam dan menghelanya.
Ningrum masih bingung memikirkan kemana uangnya yang Ia ambil dari penghasilan salon dan juga uang muka dari Gibran sebagai tanda jadi pemesanan jasa decor dan cake ulang tahun puterinya.
"Apakah sudah aku transfer ke rekeningku, ya?" Ningrum mencoba menduga saja, bisa jadi Ia lupa lalau uang itu sudah ditransfernya.
Ningrum memasuki mobilnya dan mengemudikannya melaju membelah jalanan.
Setelah sampai disalon miliknya, Ia bergegas memasuki dapur dan memasukkan cake kedalam kotak kosong berbahan mika dengan pita diatasnya.
Ningrum lalu menaburkan berbagai topping yang berbeda disetiap cake yang dibuatnya.
Tak berselang lama, Bima menghubunginya, dan Ningrum mengangkatnya.
__ADS_1
"Iya, Mas"
"Sayangku, cantikku, tungu Mas, ya nanti kita bareng perginya" ucap Bima serkmantis mungkin.
"Ya.. Sudah dulu ya, Mas.. Masih ada yang dikerjain" ucap Ningrum.
"Oke, Sayang.. " jawab Bima, lalu mematikan sambugan teelfonnya.
Ningrum kembali menaburkan topping di cakenya.
Setelah selesai, Ia memanggil Jenny untuk membantunya membawa Cake yang dibuatnya masuk kedalam mobil.
Jenny datang membantu. Tampak raut wajahnya sangat begitu murung dan tidak bersemangat.
"Kamu kenapa akhir-akhir terlihat begitu sangat lesu dan murung? Kamu sedang ada masalah?" tanya Ningrum mencoba memperhatikan karyawatinya tersebut.
Jenny tersenyum datar "Tidak, Bu.. Masa sih saya tampak begitu, perasaan biasa saja" jawab Jenny mencoba menghindari tatapan Ningrum padanya.
Mereka keluar dari dapur dan membawa dua cake masing-masing ditangan mereka dan meninggalkan satunya untuk dijemput ulang.
Saat keluar dari pintu salon, Bima tiba secara bersamaan. Seketika wajah Jenny bersemu merah dan ceria, Ia tersenyum sumringah melihat sosok Bima berada didepannya.
Seketika organ intinya berdenyut melihat kehadiran Bima. Sudah sangat lama Ia tak dijamah pria itu hingga membuatnya uring-uringan.
Lalu Ia bergegas menuju dapur, namun Ia mengirimkan pesan kepada Bima untuk menemuinya didapur saat ini juga. Ia sudah tidak tahan lagi menahan ledakan hasratnya yang Ia pendam selama ini.
"Mas ikut naik mobil kamu saja ya, Sayang" bisik Bima yang saat ini sedang berada dibelakang Ningrum.
Tiba-tiba Bima mendapat notif pesan teks dari Jenny, yang berisi meminta dirinya menemui didapur salon.
Bima membacanya dan segera mengahpusnya.
"Sayang, tunggu bentar ya, perut Mas tiba-tiba mulas" ucap Bima beralasan.
Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu Bima bergegas menuju salon dan memperhatikan jika tak ada karyawati yang melihatnya memasuki dapur salon.
Bima membuka pintu dapur salon dan segera menutupnya.
Tampak Jenny menyambutnya dengan sesapan bibirnya yang terbakar hasrat menggebu.
Melihat gadis itu yang tampak kehausan akan cumbuan dan kecanduan akan sentuhannya. Bima dengan cepat memberikan apa yang diinginkan oleh gadis itu.
Ia membawa jenny keatas meja dan mengeksekusi sang gadis hingga memenuhi tuntutan hasrat sang gadis.
__ADS_1
Ningrum merasa mengapa Bima begitu sangat lama, Ia melirik jam diphonselnya sudah pukul 12 siang.
"Kenapa Mas Bima lama sekali, Sih?!" gerutu Ningrum yang tak sabar, bahkan Ia merasa Jenny juga belum muncul.
Ningrum mencoba menghubungi Jenny untuk membawakan segera cakenya yang tertinggal satu didapur.
Namun saat mencari nama Jenny, satu panggilan masuk dari Gibran.
Ningrum mengangkatnya "Hallo"
"Holla, Ningrum.. Kamu jadi gak menghadiri acara syukuran temen kamu?" tanya Gibran dengan seramah mungkin.
"Jadi.. Ini masih mempersiapkan sesuatu untuk dibawa kesana" jawab Ningrum dengan ramah, sebab bagaimanapun Gibran adalah teman kampus sekaligus seseorang yang memesan jasa decornya.
"Oh.. Okelah, Sampai bertemu disana, Ya" ucap Gibran penuh semangat.
"Oke.!" jawab Ningrum cepat, dan sambungan telefon terputus.
Sementara itu, Jenny sedang melenguh dan merintih saat pelepasan terjadi yang kedua kali setelah hampir 2 minggu tidak disentuh oleh pria.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya Jenny tersenyum sumringah dan wajahnya kini kembali ceria.
"Makasih, Pak Bima.. Kamu bagaikan candu buatku" bisik Jenny yang bergegas merapikan pakaian dan rambutnya, lalu meraih cake yang ada diatas meja dan tidak sempat membersihkan organ intinya karena takut kelamaan dan Ningrum mencurigainya.
Bima merasa bangga jika para wanita memuji pesonanya diatas ranjang, dan itu sebuah prestasi baginya, prestasi menjadi pria murahan.
Ningrum sedikit mulai merasa jengah dengan menunggu kedua orang yang tiba-tjba tidak muncul dari dalam salon.
Ia ingin menghubungi Jenny, namun saat akan menekan nomor Jenny, gadis itu keluar dari pintu salon dengan wajah sumringah dan tampak begitu ceria.
Sepertinya ia sedang mendapatkan moodbooster dengan secara tiba-tiba saja. Ningrum mengerutkan keningnya yang melihat perubahan Jenny secara tiba-tiba.
"Kamu mengapa lama sekali?!" tanya Ningrum sedikit kesal, karena waktu hampir siang.
"Maaf, Bu.. Tadi Ibu saya menelefon, dan ngobrol sebentar" jawab Jenny berbohong.
Ningrum menganggukkan kepalanya. Ia menebak jika Jenny tiba-tiba ceria karena mendapat telefon dari keluarganya.
"Apakah Ibumu baik-baik saja?" tanya Ningrum dengan serius.
Jenny mengamggukkan kepalanya "Alhamdulillah baik, Bu.. Saya permisi dulu, Bu. Ada langganan salon yang harus ditangani" ucap Jenny berbohong dan mencoba menghindari tatapan dan pertanyaan Ningrum berikutnya.
Ningrum menganggukkan kepalanya, dan membiarkan Jenny beranjak memasuki salon.
__ADS_1