SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-121


__ADS_3

Subuh menjelang. Luccy menggeliatkan tubuhnya, dan memandang wajah Ningrum yang masih terlelap dengan wajah lelah.


Luccy mengecup hidung bangir Ningrum, dan membuat Ningrum tersentak, lalu memandang gadis tersebut.


"Heei.. Sudah bangun?" tanya Ningrum dengan nada lirih sembari membelai lembut ujung kepala gadis itu.


Luccy tersenyum manis, lalu menganggukkan kepalanya.


Ningrum beranjak dari tidurnya, lalu menuju lamar mandi dan bersuci, sebab waktu subuh hampir tiba.


Luccy ikut bangun dan membangunkan papanya.


"Pa.. Bangunlah, waktu subuh hampir tiba" ucap Luccy sembari mengguncang tubuh papanya.


Gibran terbangun dari tidurnya, lalu mengucek matanya dan menyipitkan mata memandang pada puteri kecilnya.


"Hoaaam.." Gibran menguap dan menggeliatkan tubuhnya. Ia tersentak kaget melihat Ningrum keluar dari kamar mandi dengan berhanduk saja. Ia bahkan lupa jika saat ini Ia sudah menikahi wanita itu dan belum sempat berbulan madu karena si bocil yang ikut menganggangu bulan madu mereka.


Ningrum sudah mengenakan pakaiannya dan menggunakan mukena untuk shalat subuh berjamaah, dan subuh ini adalah pertama kalinya mereka shalat subuh berjamaah.


Luccy sudah terlebih dahulu masuk ke kamar mandi dan hanya berwudhu saja sebab hari masih dingin.


Gibran memandang wajah ayu rupawan tersebut yang kini sudah duduk diatas sajadah menanti adzan subuh dan juga Gibran untuk menjadi imam dalam shalatnya.


Gibran beranjak dari ranjangnya dan kemudian ke kamar mandi untuk bersuci, sebab dua wanita beda generasi itu sudah menunggunya untuk menjadi imam dalam shalat mereka.


****


Pagi ini Luccy masih ijin libur sekolah, dan esok baru akan mulai lagi masuk.


Ningrum sudah berada didapur dan membuat sarapan untuk keluarga barunya.


Gibran sudah masuk ke kantor oagi ini. Sebab Ia hanya mengambil cuti satu hari saja karena cuti panjangnya akan Ia ambil saat Luccy libur sekolah kenaikan kelas dan digunakan untuk liburan serta bulan madu mereka.


Ningrum selain ahli dalam kecantikan, Ia juga ahli dalam hal kuliner alias masak-memasak dari makanan kuliner hingga modern.


Pagi ini karena ada Syarifah dan Latif ia mencoba memasak nasi lemak atau uduk dengan sambal teri kacang, telur balado dan tumis buncis.

__ADS_1


Aroma gurih dari nasi lemak buatannya tercium hingga ke kamar Syarifah dan membuatnya untuk turun ke lantai dasar.


Latif mengikutinya dan bertemu dengan Gibran yang juga sama untuk menuju dapur.


"Lho.. Kamu sudah masuk kerja?" tanya Latif menyapa anak menantunya.


Gibran tersenyum sopan " Iya , Pak.. Sebab banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan dan semuanya harus segera saya selesaikan, Pak! Ayo pak sarapan" Jawab Gibran.


Latif menganggukkan kepalanya. Ya setidaknya Latif bangga dengan menantu barunya yang seorang pekerja keras dan memiliki jabatan tinggi dan bukan penggerogot seperti Bima.


Keduanya tiba didapur bersama dengan Syarifah "Eh. Ayah, Ibu, Mas.. Ayo sarapan!" ucap Ningrum sembari menata hasil masakannya pagi ini dimeja makan.


Tak lama Luccy juga turun dan menuju meja makan. Ia mendekap pinggang ramping mama barunya dan Ningrum memberikan kecupan lembut diujung kepala Luccy, dan membuat gadis itu tersenyum sumringah.


"Ayo duduk dekat Oma dan sarapan" ucap Ningrum dan membuat gadis itu menoleh ke arah Syarifah lalu duduk disisi Syarifah.


"Pagi, Oma" sapanya ramah.


"Pa-pagi Luccy.." balas Syarifah gugup.


"Emmm... Enak banget nsai lemaknya, Ma!" ucap Luccy dengan nada tulus.


Ningrum mengulas senyum bahagia dengan keluarga barunya.


Luccy membalas senyum kehangatan.


Gibran sudah menyelesaikan sarapannya, dan Ia ingin kembali bekerja karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 oagi dan Ia tamoak terburu-buru.


"Pak, Bu.. Saya permisi mau berangkat bekerja, nanti sore kita main kerumah saya, Ya" ucap Gibra kepada ke duanya, sembari menyalim tangan keduanya.


Latif dan Syarifah menganggukan kepalanya dan mereka memberikan senyum bahagianya.


Ningrum menghampiri Gibran dan menyalim punggung tangan pria itu "Hati-Hati ya, Mas"ucap Ningrum kepada Gibran yang kini sudah menjadi suaminya.


"Iya, Sayang" jawab Gibran dengan hati yang berbunga lalu pergi meninggalkan dapur dan beranjak ke depan salon untuk mengambil mobilnya dan sudah siap dibawanya karena sudah dipanaskan sejak tadi.


Ningrum mengantarkan Gibran hingga batas pintu kembali masuk ke dalam rumah hingga mobil Gibran diperempatan jalan.

__ADS_1


Luccy sudah selesai sarapannya dan gadis kecl mencuci piringnya di washtafell.


Syarifah memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh Luccy.


Saat Ningrum sudah tiba di dapur, Ia melihat dapur bersih.


"Sayang.. Mengapa dibersihkan semua, kan ada Mama" ucap Ningrum sembari menatap pada Luccy.


"Tak mengapa, Ma.. Dirumah Luccy diajarkan sama Papa untuk mencuci sendiri piring bekas makan" jawab Luccy yang sebenarnya tidak begitu sampai karena washtafell itu letakknya tinggi.


Ningrum merasa bangga melihat didikan Gibran kepada Luccy yang walaupun seorang duda namun dan Luccy puteri sematang wayangnya, tidak membuatnya harus bermalas dan bermanja.


setelah selesai mencuci piring, Luccy berpamitan untuk mandi dan bergegas ke kamar Ningrum.


"Nak.. Ibu mau berpamitan pulang. Tolong besok pagi antarkan Ibu sama Bapak, Ya" ucap Syarifah kepada Ningrum.


Ningrum tersentak kaget mendengar Ibunya meminta diantar pulang "Kenapa buru-buru, Bu, Pak? Menginaplah beberapa lagi dirumah ini" ucap Ningrum mencoba menahan kedua orangtuanya agar menginap beberapa hari lagi.


"Bapak mau mengurus kebunmu, Nak. Lusa akan masuk waktu panen kelapa sawit. Kalau tidak dipanen, kasihan para tukang panen sawit yang mengharapkan dapat uang dari hasil pannen Sawitmu " ucap Latif menjelaskan.


"Apa gak bisa diundur hasil panennya, Pak?" ucap Ningrum dengan hati yang masih merindukan ke duanya orangtuanya.


"Gak bisa, Nak.. Sebab para tukang panen sudah memiliki jadwal masing-masing di kebun para warga. Jika harimu diundurkan sampai Lusa, maka mereka akan bentrok waktunya bersamaan panen di temat Bu Salamah" jawab menjelaskan.


Dengan berat hati akhirnya Ningrum menuruti permintaan ke dua orangtuanya, meski dalam hatinya Ia ingin ayah dan Ibunya menginap 2 hari lagi.


sementara itu, Gibran sudah sampai diruang kantornya. Setumpuk pekerjaan sudah menunggu didepan matanya. Ia meraih berkas-berkas yang sudah berada diatas mejanya dan memeriksanya satu persatu.


Tampak Bima memasuki ruangan kerjanya. Ia menyodorkan berkas penandatangan BA yang mana perkejaan yang waktu itu terbengakalai dan terkena denda.


Melihat kehadiran Bima, Gibran bersikap santai dan tak begitu ambil peduli dengan sikap Bima yang Justru merasa gugup.


"Emm...Pak. tolong tandatanganka BA ini" ucap Bima lirih dan hanya merunduk saja.


Gibran dengan segera meraih berkas yang disodorkan oleh Bima dan memeriksanya.


Sebenarnya BA tersebut juga sudah tidak ada lagi keuntungannya bagi Bima, sebab Ia sudah terkena denda akibat pekerjaanya yang tidak tepat waktu.

__ADS_1


__ADS_2