
Bima semakin kesal dengan setiap ocehan dari mbak Raini. Ia benar-benar tidak memiliki uang, sedangkan Mbak Raini terus menagih.
"Pergilah, sebelum aku benar-benar marah!" omel Bima dengan kesal.
"kamu ini dasar aneh, cih.. Awas saja jika kamu ngemis-ngemis lagi mau ngutang minta makan!" balas Mbak Raini, kemudian beranjak pergi.
Wanita ortu mengendarai motornya dengan rasa kesal. "Eh, tapi mobil si Bima kemana? Kenapa dia nunggu tumpangan dihalte? Sudah seperti gelandangan saja!" Guman Raini, dengan penasaran.
Melihat hari semakin senja. Bima semakin gelisah. Ia harus mendapatkan tumpangan, sebelum malam tiba.
Dari kejauhan, tampak mobil Rendy baru keluar. Tak biasanya pria itu pulang setelat ini, sepertinya ia sedang lembur. Sebab terlihat para pekerjanya juga baru pulang. Bima baru mengingat, jika plant 2 hari ini emergency dan sedang mati mesin, dan pekerjaan diburu.
Ia ingin menumpang dengan Rendy, namun rasa gengsi lebih menguasai hatinya. Ia berdiam mematung menatap mobil Rendy yang sudah semakin dekat menuju kerahanya, jika ia tak menumpang pada Rendy, maka alamatlah ia tidak akan pulang ke rumah, dan menginap dihalte.
Hatinya terus berperang, antara gengsi dan membutuhkan, namun gengsi lebih menguasainya.
Rendy melihat Bima masih berdiri dihalte. Ia tahu jika pria itu sedang mencari tumpangan, sebab siang tadi ia menyaksikan jika mobilnya diambil paksa oleh Orang suruhan Anton, dan jelas jika ia akan mencari tumpangan untuk pulang.
Rendy merasa tak tega, dan ia berhenti tepat didepan Bima. Ia membuka kaca mobilnya, dan mencoba menawarkan tumpangan kepada Bima.
"Bro, naiklah.. Hari semakin gelap, dan tidak ada lagi tumpangan!" ucap Rendy mengingatkan, sebab mobil tanki pengangkut minyak CPO sudah habis jam operasionalnya.
Bima berlagak jual mahal, dan ia mencoba menolaknya. "Emm.. Duluan saja, tidak usah berlagak baik. Aku tau kamu pasti sedang mengejekku karena mobilku sudah disita!" ucapnya dengan nada ketus.
__ADS_1
Rendy mendenguskan nafasnya dengan berat, lalu ingin menutup pintu mobilnya.
"Terserah kamu, namun aku tidak seburuk yang kamu sangkakan," ucap Rendy setenang mungkin.
Lalu menutup pintu mobilnya dan mengemudikannya. Rendy sudah menjauh sejauh 5 meter. Bima masih berperang dengan keegoannya. Akhirnya ia tak memiliki pilihan lain, lalu ia melambaikan tangannya dan berlari mengejar mobil Rendy.
Rendy melihat Bima berlari mengejarnya melalui kaca spion. Akhirnya ia menghentikan mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk pria itu.
Dengan prasaan malu bercampur gengsi, ia akhirnya masuk kedalam mobil dan duduk tanpa mengatakan apapun.
Sementara itu, Nora sedari tadi menonaktifkan phonselnya setelah melihat unggahan Andini yang membeli mobil baru. Ia sangat kesal, sebab hanya hitungan jam saja, tiba-tiba Andini sudah dapat membeli mobil yang menjadi kebanggannya.
Bahkan yang membuat Nora menjadi kejang-kejang ialah, mobil yang diberi oleh Andini adalah mobil baru dengan cara cash, auto panas, dong.. Hareudang...
Ia sengaja menonaktifkan phonselnya karena ia baru saja mengomentari unggahan itu dengan caption "Idiiiih... Keliatan banget, orang baru kaya, noraak..!" tulisnya dengan kesal.
Nora semakin panas dan juga ingin membalasnya, namun banyak komentar yang mengucapkan selamat atas mobil baru mereka, dan semoga diberi keberkahan.
Tidak sanggup lagi mengetik apa untuk membalas Andini, dan kepalanya merasakan mulai pusing, ia lalu menonaktifkan phonselnya.
Kemudian ia memilih untuk pergi ke mini market membawa Reza yang kini sudah berusia 8 tahun dan ia ingin membeli minuman dingin dan segar untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas dan terasa sangat berat, seperti ingin meledak saja.
Saat akan memasuki pintu mini market. Ia dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang.
__ADS_1
Nora mencoba menoleh ke arah seseorang tersebut. Saat ia melihatnya, ternyata Mbok Inem yang tidak seksooy, sebab ia kini sudah bertubuh tambun dengan rambut yang tampak mulai memutih dibeberapa bagian rambutnya.
Nora tersentak kaget. Si mbok Inem sudah lama pindah kontrakan semenjak mengalami kebangkrutan setelah warungnya mendapat serangan Bon dari para tetangganya, termasuk Nora yang hingga delapan tahun juga tidak membayarnya.
"Mbak, Nora.. Kebetulan kita ketemu disini. Bagaimana dengan hutang mbak waktu itu?" mbok Inem yang tidak seksooy mencoba mengingatkan.
Nora mencebikkan bibirnya, dan menatap sinis. "Yaelah, Mbok.. Hutang segitu doank, nagihnya gak habis-habis dan masih diingat saja sampai hampir delapan tahun!" jawab Nora bengis.
Mbok Inem mengerutkan keningnya. "Lha.. Yang namanya hutang mau sampai kaapanpun tetap hutang dan wajib dibayar, lho!" jawab Mbok Inem.
"Halaaah.. Sudah delapan tahun tu hutang, maka dianggap lunas," jawab Nora ketus.
Mbok Inem yang tidak seksooy akhirnya tertawa karena mendengar ucapan dari Nora. "Ya sudahlaha, Mbak.. Semoga jadi berkah, ya Mbak.. Tapi lain kali jangan diulang, karena semakin kita banyak berhutang dan berniat tidak untuk membayarnya, maka Rabb juga akan menyempitkan rezeki kita." ucap Mbok Inem mengingatkan, kemudian ia pergi sembari menenteng kantong plastik berwarna putih dengan sablon nama moni market tersebut. Ia tersenyum geli dengan apa yang dikatakan oleh Nora.
"Ah.. Buku dosa.. Bahkan aku sudah membakarmu, bersama mereka yang berhutang dan tidak ingin membayarnya. Semoga dosa mereka ikut terbakar bersama dengan terbakarnya buku dosa itu," Guman Mbok Inem dengan lirih, kemudian menuju parkiran.
Ternyata kedua insan itu merupakan dua sejoli yang sangat serasi. Dimana mereka terlalu menganggap enteng dengan hutang. Sehingga mereka tidak mengingat jika hutang membuat hisab seseorang yang pertama kali menjadi sesuatu yang ditanyai diakhirat kelak.
Maka dari itu, jangan pernah menyepelekan hutang. Jangan marah jika ditagih hutang, sebab pemberi hutang masih menyayangimu dengan mengingatkannya dengan cara ditagih, namun jika kau mengabaikannua, maka habislah kewajiban pemberi hutang diakhirat kelak, dan kau akan mendapatkan dari apa yang kau perbuat. Selalu dalam kesempitan rezeki karena hutang yang tidak terniat untuk membayarnya.
Nora memandang Mbok Inem dengan pandangan kesal. Ia sangat tidak suka jika ditagih masalah hutang, apalagi jika hutang itu sudah sanagt lama dan bertahun, maka baginya hutang itu hangus tidak perlu dibayar.
"Menyebalkan," ucap Nora yang memandang kepergian Mbok Inem dengan tatapan sini. Kemudian ia memasuki minimarlet untuk membeli miniman penyegar yang dapat membuat adem kepalanya yang puasing karena unggahan Andini dan juga tagihan Mbok Inem.
__ADS_1
Setelah mendapatkan minuman yang ia cari, ia menuju kasir dan membayarnya. Kemudian ia menenguknya hingga habis. Nakun ia meraskan kepalanya tak juga adem, tetapi bertambah membuatnya vertigo.
"Siaal.. Kenapa kepalaku jadi pusing seperti ini?" guman Nora lirih, sementara Reza menatap ibunya dengan heran, karena ngomel sendiri.