
"Emm... Aku mau cari pakaian ganti dulu" ucap Ningrum karena hari sudah mulai sore dan Ia harus membersihkan diri juga.
"Biar aku bawakan pakaian ganti Almarhum istriku saja, sekalian aku mau pulang dan membeli makan malam" ucap Gibran dan beranjak bangkit dari tempatnya.
Ningerum tercengang dan belum sempat Ia mencegah Gibran, pria itu sudah lebih dulu keluar dari ruangan rawat inap Luccy.
Ningrum menghela nafasnya dan memandangi wajah Luccy yang sedang tertidur. Entah apa yang membuat Ia begitu peduli pada gadis itu dan merasakan nyaman saat memandang wajahnya.
Ningrum beranjak dari duduknya dan menuju ke sofa. Ia menghempaskan bokongnya disana dan menyandarkan tubuhnya, lalu merauh phonselnya dan berselancar di dunia maya menggunakan akun media sosialnya.
Tampak unggahan dari Riffky yang kini sedang menapaki biduk rumah tangganya bersama tiga anak sambungnya dengan begitu sangat bahagia.
Bahkan kini istrinya sudah tampak mulai membesar kandungannya.
Ningrum melirik ke arah Luccy, lalu kembali melihat profil mantan suaminya dan melihat unggahan yang semuanya tampak begitu memeprlihatkan wajah ceria Riffky dengan keluarga barunya.
Bahkan tampaknya Riffky dengan begitu mudahnya melupakan dirinya yang sudah 10 tahun menjalin pernikahan dengannya. Semudah itukah kehadiran seorang anak dapat melupakan seseuatu? Ningrum menghela nafasnya.
Namun jika itu benar, ternyata Ia merasakannya. Ya.. Luccy yang bukan siapa-siapanya mampu mengubah dirinya menjadi seorang sosok Ibu dadakan yang begitu rela harus berjaga malam untuk merawat puteri dari sahabatnya sewaktu dikampus tersebut.
Hari hampir senja. Gibran sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa pasang pakaian Luccy dan juga Almarhum istrinya dan juga dirinya.
Bahkan Gibran sampai membawa pakaian dalam untuk Ningrum.
"Mandilah.. Aku akan keluar mencari makan malam, dan jangan lupa kunci pintu dari dalam" titah Gibran, sembari beranjak dari ruang inap tersebut.
Setelah Gibran pergi, Ningrum mengunci pintu dan memilih salah satu pakaian yang akan dipakainya.
Ningrum menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia memilih satu stelan pakaian piyama tidur dengan celana panjang, lalu berias seadanya dan kembali duduk disofa.
Tampak Luccy menggeliatkan tubuhnya, dan mengerjapkan kedua matanya. "Tante.." ucapnya lemah.
"Iya, Sayang.. Tante disini" Jawabnya sembari beranjak dari duduknya dan menghampiri ranjang troli, namun suara ketukan dipintu mengurungkannya untuk menghampiri Luccy dan membuka pintu.
Tampak diambang pintu petugas rumah sakit bagian pengurus makanan pasien membawakan satu porsi makan malam untuk Luccy dan Ningrum menerimanya, lalu kembali menutup pintu dan membawa nampan berisi berbagai lauk dan nasi yang penuh gizi dan meleyakkannya diatas meja nakas.
"Yuk.. Makan ya, Sayang? Biar kamu lekas sembuh" ucap Ningrum.
__ADS_1
Luccy menggelengkan kepalanya "Luccy lagi tidak selera makan, Tante" jawab Luccy.
Ningrum menghela nafasnya" kalau Kamu mau Tante tidur temani Kamu, maka kamu hafus dengarkan Tante. Makanlah, meskipun hanya tiga suap saja, dan setelah itu makan obatnya. Sebab jika kamu tidak makan, nanti lambung kamu akan perih, dan demam kamu belum sembuh, tetapi penyakit lain datang" ucap Ningrum selembut mungkin dan memberikan pengertian kepada Luccy.
Luccy menatap pada Ningrum dengan tatapan sayu dan wajahnya yang pucat. Kemudian Ia menganggukkan keplaanya, dan meminta untuk disuapkan.
Ningrum tersenyum tipis, lalu meraih nampan tersebut dan mulai menyuapkan makanan itu ke mulut Luccy.
perlahan gadis kecil itu mulai mengunyah makanannya dan sangat lemah. Saat suapan ke tiga, perutnya mulai menolak dan Ia meminta Ningrum menghentikan suapannya.
"Sudah, Tante.. Perut Luccy seperti mual" ucapnya sembari menngangkat tangannya.
Ningrum menghentikan suapannya, sebab Ia juga tahu jika dipkasa maka Luccy akan muntah. Ningrum memberi jedah waktu beberap menit dan memberikan obat yang telah tersesia sesuai aturan.
Setelah meminum obatnya, Ningrum membaringkan tubuh Luccy dan membelai ujung kepala Luccy agar tertidur.
"Tan.." ucap Luccy dengan pandangan yang begitu sangat menyentuh hatinya.
"Ya.."
"Tante mau jadi Mama Luccy" ucapnya dengan penuh harap.
Luccy meraih jemari tangan Ningrum, dan menggenggamnya dengan penuh erat.
Ningrum tergugup mendengar permintaan gadis itu. Ia bingung harus memberikan jawaban apa.
"Tan.. Luccy mohon.. Jadilah mama Luccy, dan Luccy janji akan menjadi gadis yang baik untuk tante" ucap Luccy meyakinkan hati Ningrum.
Bagaimana mungkin seorang gadis kecil dapat berjanji seperti itu? Bukankah biasanya calonIbu baru yang menjanjikan untuk menjadi Ibu sambung yang baik bagi calon anak sambungnya?
Hati Ningrum berdegub kencang dan Ia merasa dilema dengan semua yang terjadi. Haruskah Ia menyanggupi permintaan gadis kecil itu? Lalu bagaimana jika nantinya Ia tidak dapat menajadi ibu yang baik bagi gadis itu? Ningrum belum dapat menjanjikan apapun untuk Luccy.
"Tan.." ucapnya dengan lemah, dan tatapannya penuh pengharapan.
Haruskah Ia mematahkan harapan itu? Sedangkan Ia sendiri belum siap untuk menikah lagi.
"Jadi anak angkat Tante saja, Ya?" jawab Ningrum bingung dan asal jawab.
__ADS_1
Luccy menggelengkan kepalanya "Jika anak angkat, Tante tidak akan tinggal dirumah Luccy, dan tante hanya datang sekedarnya. Namun jika Tante menikah dengan Papa, pastinya Tante setip hari dan setiap saat berada disisi Luccy" jawab Gadis itu.
Ningrum semakin bingung. Ia harus menjawab apa? Perceraiannya baru saja terjadi. Haruskah Ia menikah lagi secepat itu? Seolah pernikahan adalah permainan untuknya.
"Tante.. Please.. Aku menginginkanmu menjadi mamaku" pinta Luccy dengan sangat memohon.
Dengan lemah Ningrum mengangaggukkan kepalanya, Ia tidak tahu apakah keputusannya akan membawa kebahagiaan untuknya atau sebaliknya.
Seketika wajah gadis itu berubah menjadi cerah dan tersenyum sumringah.
"Makasih Tante.." ucap Luccy sangat senang dan tersenyum bahagia.
Ningrum hanya tersenyum datar, Ia tidak tahu apakah keputusan yang diambilnya sudah tepat.
Tanpa mereka sadari, Gibran sudah berdiri diambang pintu sedari tadi. Gibran juga tidak tahu apakah Ningrum menyetujui permintaan Luccy karena terpaksa atau sebaliknya.
Ia juga tidak ingin memaksa Ningrum dalam situasi sulitnya, sebab Ia berharap Ningrum mau menikah dengannya karena dari hatinya, bukan karena sebuah paksaan ataupun hal lainnya.
"Papa.." ucap Luccy yang melihat Gibran berdiri diambang pintu.
"Ya, Sayang.. Kamu sudah makan?" jawab Gibran dan menghampiri puterinya.
"Sudah, Pa.. Tante yang suapin.." jawab Luccy antusias.
Gibran tersenyum.
"Terimakasih, Ya." ucap Gibran.
Ningrum tersentak kaget karena tidak menyadari jika Gibran sudah berada disana sejak tadi, dan kemungkinan sudah mencuri dengar pembicaraan Luccy dengannya.
Jantung Ningrum berdegub kencang dan Ia merasa gugup dengan apa yang barus saja Ia sanggupi untuk permintaan Luccy.
Namun, Gibran bersikap seolah tak mendengar apa yang dibicarakan oleh keduanya.
Lalu Ia mengajak Ningrum untuk makan malam dengan membawa 2 buah kantong kresek berisi makan malam.
"Makanlah.. kamu pasti lapar" ajak Gibran dan meletakkan makan malam itu diatas meja sofa. Ningrum merasakan deguban jantungnya seolah menderu kencang.
__ADS_1