
Hari berganti. Syahfitri sudah melewati masa nifasnya dan kini Ia membuat acara aqiqah untuk buah hatinya.
Yamink mengundang sahabatnya Andini dan Ningrum serta keluarga besar mereka lalu para tetangga terdekat. Semuanya merasa ikut berbahagia dengan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh pasangan tersebut.
Andini tampak membawa begitu banyak kado, begitu juga dengan Ningrum.
"Selamat, Ya Kang.. Semoga menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orangtua serta agamannya, aamiin.." doa Ningrum dan Andini.
"Aamiin.." balas Yamink.
Acara berlangsung dengan hikmat dan lancar. Tampak Andini begitu lekat memandangi anak Yamink yang diberi nama Afiif.
Rendy menghampiri Andini, dan memegang pundaknya.
"Seminggu lagi kita kemari untuk mengangkat Afif," ucap Rendy sembari berbisik.
Andini menolehkan wajahnya, menatap Rendy. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Acaranya sudah mau selesai, kita pulang, yuk!" ajak Rendy dengan setenang mungkin. Ia tidak ingin membuat suasana hati Andini menjadi tidak nyaman.
"Ayo.." jawab Andini singkat, dan tak lupa mereka berpamitan kepada tuan rumah, lalu Andini menyempatkan mengecup keninng Afif.
"Kami, pulang, ya Kang, Mbak!" ucap Andini dan Rendy berpamitan.
Yamink dan Syahfitri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sumringah. "Terima kasih sudah mau datang ya, Mbak, Kang.." ucap Yamink.
"Sama-sama, Kang," balas Andini, lalu keduanya berpamitan pulang.
Seminggu kemudian...
Andini dan Rendy datang berkunjung ke rumah Yamink. Sebelumnya mereka sudah mengabari terlebih dahulu jika mereka akan datang.
Sesampainya di rumah Yamink, keduanya disambut dengan begitu hangat.
__ADS_1
"Wah.. Mimpi apa ini dikunjungi Mbak Andini!" ucap Yamink berkelakar.
"Halaah.. Meski pakai mimpi segala saya datang kemari," jawab Andini, dan dibalas dengan tawa dari Yamink.
Lalu keduanya duduk di sofa dan Syahfitri menghidangkan makanan dan minuman seadanya.
"Ya, ampun, mbak. Tidak usah repot-repot segala." ucap Andini kepada Syahfitri.
"Namanya juga tamu, Mbak.. Wajar dong dimuliakan," jawab Syahfitri dengan ramah.
Andini membalas senyum manis. Sebenarnya Ia sudah tidak sabar untuk mengungkapkan apa yang berada di dalam hatinya. Ia melirik ke arah Rendy, memberi isyarat agar Rendy yang memulai mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Emmm... Kang.. Sebenarnya kedatangan kami kemari memiliki sebuah tujuan, dan saya harap Kang Yamink dapat menerima apa yang menjadi niat bagi kami," Rendy berusaha menata kalimatnya, berharap Yamink tidak akan tersinggung dengan niat yang mereka rencanakan.
Syahfitri dan juga Yamink saling bertatapan satu sama lainnya dan mereka masih tampak penasaran dengan apa yang menjadi tujuan Andini dan juga Rendy datang ke rumah mereka.
"Kami datang dengan tujuan ingin mengangkat Afif sebagai anak angkat kami, itupun jika Kang Yamink memperkenankannya," ucap Rendy dengan hati-hati.
Syahfitri menatap Yamink-suaminya. Keduanya seperti sedang mengungkapkan perasaan mereka dengan bahasa tubuh.
"Iya.. Saya sih tidak masalah, semoga saja dengan mengangkat Afif, Mbak Andini-nya segera diberikan momongan lagi, aamiin..." Yamink menimpali ucapan istrinya.
"Beneran, Mbak, Kang?" tanya Andini seolah tak percaya. Lalu Syahfitri dan Yamink menganggukkan kepalanya.
Seketika Andini menjadi haru. Ia tak dapat membendung air mata bahagianya, sebab Yamink dan istrinya menyambut niat mereka.
Andini menatap Rendy dengan tatapan yang sulit ia ungkapkan, penuh kebahagiaan.
Lalu Rendy beranjak keluar dari rumah Yamink, dan tak berselang lama ia kembali dengan membawa satu rakit rantang dan paper bag kedalam rumah Yamink, kemudian meletakkannya diatas meja.
Ternyata Andini sudah memepersiapkan segalanya sejak dari rumah, meskipun ia belum mengetahui apakah niat akan diterima atau tidak.
Andini membuka isi rantang berbentuk segi empat yang terbuat dari bahan plastik berkualitas.
__ADS_1
Andini memperlihatkan isi rantang tersebut yang terdiri dari nasi pulut yang dimasak kuning dengan topping kelapa inti yang merupakan parutan kelapa yang dimasak dengan gula aren dan gula pasir hingga tanak.
"Mbak, ini hanya syarat adat istiadat saja. Saya mengangkat Afif menjadi putera kami, semoga Afif sehat, panjang umur, murah rejeki dan menjadi anak Sholeh," ucap Andini, lalu mencolek inti dan nasi pulut kuning dan meletakkan dibibir Afif.
Bayi mungil itu mengecap sari inti dan nasi pulut kuning sembari tertidur.
"Aamiin... doa yang sama buat, Mbak Andini, semoga diberi keturunan dengan segera, aamiin..." balas Yamink, lalu meletakkan nasi pulut kuning beserta wadahnya diatas kepala Andini dan juga Rendy sebagai syarat adat istiadat.
Kemudian ke dua-nya saling bertukar kain. Andini memberikan kain gendong, sedangkan Yamink beranjak ke kamarnya mencari kain sarung yang masih baru dan memberikannya kepada Andini.
Lalu mereka memakan nasi pulut kuning itu bersama, dan sisa tiga rantangnya, mereka bagikan ke pada para tetangga dan pemulung yang sedang melintas.
~Apa yang dilakukan oleh Andini hanya sebuah tradisi dari sebuah adat istiadat disuatu daerah, tepatanya bagian Sumatera Utara, dan jangan dijadikan sebuah perdebatan ya, Reader...~
Setelah itu, Andini menggendong Afif, dan memberi nama baru 'Althaf'.
Andini mengecup lembut ujung kepala Afif dengan rasa penuh kasih sayang. Andaikan kandungannya tidak gugur waktu itu, maka anaknya akan berusia sama dengan Afif, sebab saat Andini mengandung, Syahfitri juga sama sedang mengandung dengan usia yang kandungan yang sama.
Yamink dan Syahfitri dapat merasakan betapa Andini begitu berharap menantikan kehadiran sang buah hati.
Setelah selesai dengan segalanya, ke duanya berpamitan pulang, dan akan mengunjungi Afif setiap minggunya.
Andini merasakan kelegaan dalam hatinya. Akhirnya apa yang diinginkannya tercapai dan mendapatkan sambutan yang baik dari Yamin dan juga istrinya. Semoga saja dengan mengamgkat Afif, akan ada keajaiban buat Ia dan Rendy untuk diberi kepercayaan mengandung kembali.
"Mas.. Andaikan waktu itu kandungan Andin tidak gugur, pasti usia anak kita sama dengan Afif," ucap Andini saat mereka sedang berada diperjalanan.
Hati Rendy begitu terenyuh mendengar ucapan sang istri. Ia dapat merasakan betapa hati Andini saat ini sedang dalam kondisi masih labil. Ternyata sang istri masih belum dapat melupakan peristiwa kehilangan janinnya.
"Bersabarlah, Sayang... Dan ikhlaskan apa yang sudah pergi. Kita hanya di beri titipan, jika yang memiliki hak datang mengambilnya, maka kita harus rela dan ikhlas memberikannya," ucap Rendy.mencoba menguatkan hati sang istri.
Andini tak menjawab ucapan Rendy. Ia mengeratkan dekapannya dipinggang Rendy, lalu menyandarkan kepalanya dipunggung sang suami.
Sedangkan Rendy berusaha membelai lembut punggung telapak tangan istrinya yang melingkar dipinggangnya, lalu menambah laju kendaraan motornya.
__ADS_1
Rendy berharap jika kelak mereka akan kembali diberi kesempatan untuk memiliki momongan. Dan jika Sang Rabb berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin.