
Ningrum menapaki anak tangga dan turun ke lantai dasar menuju ruang tempat acara ulang tahun itu digelar.
Ia menghampiri Luccy untuk mengucapkan selamat ulang tahun, sebab Ia akan segera pulang karena ada sesuatu hal yang akan dikerjakannya.
Para tamu undangan sudah tampak berkumpul dan mereka memandang kepada Ningrum yang berjalan menghampiri Luccy.
Gadis itu tertegun saat Ningrum mengenakan dress almarhum mamanya "Tante.."
"Ya.. Sayang! Selamat ulang tahun, Ya.. Semoga diberi keberkahan umur. Ini kado buat kamu" Ningrum menyerahkan sebuah kado yang telah Ia persiapkan.
"Tetapi acaranya belum dimulai, karena menunggu papa" jawab Luccy.
"Maaf, Sayang.. Tante gak bisa temanin kamu sampai acara selesai, sebab masih ada yang harus tante kerjakan" jawab Ningrum.
Namun Luccy mencengkram pergelangan tangan Ningrum, menatapnya sendu dengan sebuah isyarat agar tetap tinggal.
"Kali ini saja, tante.. " ucapnya dengan penuh permohonan.
Ningrum menghela nafasnya, dan akhirnya tatapan itu melukuhkan hatinya.
Tak berselang lama, Gibran datang dan acara ulang tahunpun dimulai dengan pemandu acara yang telah disewa jasanya oleh Gibran.
Gibran merasa kikuk saat bertatapan dengan Ningrum yang ternyata ikut memeriahkan ulang tahun puterinya.
Dan tanpa sadar, mereka melakukan potong cake bersama untuk Luccy dan menyuapkan cake tersebut dengan bidikan camera dimana-mana.
Luccy tampak begitu senang dan acara ulang tahunnya begitu sangat berkesan dengan kehadiran Ningrum.
Setelah acara selesai, Ningrum berpamitan "Sudah ya, Sayang tante sudah janji temenin sampai acara selesai, tante balik dulu, ya.. Lain kali kesempatan kita ketemu lagi" ucap Ningrum sembari memegang lembut unung kepala gadis kecil tersebut.
Luccy menganggukkan kepalanya, meskipun hatinya tampak berat, namun Ia tak dapat menahan Ningrum lebih lama.
"Makasih buat kadonya, Tante"
"Iya, Sayang.. " jawab Ningrum yang berpamitan kepada Luccy dan dan juga Gibran, sedangkan para tamu menikmati hidangan yang disediakan.
Luccy menatap kepergian Ningrum dengan perasaan yang tak dapat Ia lukiskan.
__ADS_1
Gibran menatap puterinya dengan penuh makna. Ia belum pernah melihat Luccy begitu cepat akrab dengan teman wanitanya apalagi orang yang baru dikenalnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Ini hari bahagiamu, mengapa bersedih begitu?" tanya Gibran dengan nada lembut.
"Luccy mau tente itu, Pa.. Bawa Ia tinggal bersama kita" pinta gadis kecil itu yang seolah permintaannya adalah hal paling gampang dipenuhi.
Seketika Gibran terperangah. Bagaimana mungkin Ia mewujudkan keinginan puterinya, sedangkan saat ini Ningrum masih bertatus istrk orang.
"Sayang.. Nanti kita pergi ke wahana permainan, Ya" ucap Gibran yang mengalihkan pembicaraan dengan puterinya.
Seaat Luccy memandang Papanya dan menatap sendu. Namun semuanya tercairkan karena teman-teman Luccy yang datang memberikan hadiah dan ucapan doa yang terbaik buat gadis kecil itu.
Akhirnya Gibran bernafas lega karena puterinya sejenak melupakan perbincangan mereka yang sangat mustahil dapat diwujudkannya.
Ningrum mengendarai mobilnya menuju salon. Ia mendapatkan orderan jasa decor bulan ini sebanyak 6 tempat dan ini menyita waktunya. Ningrum menambah karyawannya untuk membantu pekerjaaannya.
Sesampainya disalon, Ia bergegs menuju ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa catatan penting dan menghubungi para karyawannya untuk memulai memasang decor pada acara resepsi yang diadakan digedung hotel untuk seorang pengusaha.
Sebagai seorang WO yang sudah dikenal banyak kalangan, Ningrum selalu memberikan hasil yang terbaik agar para penyewa jasanya merasa pu-as dan tentunya tidak merasa jera.
Setalah mengkoordinir pekerjanya, Ningrum beranjak menuju sofa dan menyandarkan tubuhnya di sofa sembari memejamkan kedua matanya.
Ningrum tersenyum sendiri membayangkan wajah ceria sang gadis kecil tersebut, bahkan saat menatapnya barusan, membuat Ningrum tak berdaya.
Sesaat terdengar suara notif pesan masuk kedalam chat aplikasu WA-nya. Ningrum membuka pbonselnya, dan ternyata ada banyak pesan masuk dari nomor Gibran.
Pria itu mengirimkan hasil foto ulangtahun barusan. Ningrum membukanya dan Ia tersenyum melihat wajah ceria Luccy.
Setelah itu, Ningrum memberikan balasan emot suka dengan semua foto yang dikirimkan.
Ditempat lain, Bima sedang mengurus semua berkas untuk pencairan proyeknya. Ia sibuk dengan segalanya. Setelah mendapatkan tanda tangan dari semua staf yang menangani persetujuan finishing tersebut, Bima tersenyum sumringah, lalu Ia mengajukan proyek berikutnya.
Bima menuju ke lokasi proyek yang akan Ia ajukan. Lalu melakukan pengukuran dan mencatat semua material dan memperhitungkan apa saja yang dibutuhkan dan akan mengakumulasi penawaran untuk pekerjaan yang akan dikerjakannya.
Setelah selesai melakukan pengukuran, maka Ia memperhitungkan segalanya dan kemudian mengirimkan surat penawaran kepada perusahaan dan staf yang menanganinya.
Ternyata surat penawaran itu masuk kedalam email milik Gibran. Saat ini Gibran masih berbalas chat dengan Ningrum dan akan mentransfer uang sisa dari jasa yang diberikan oleh Ningrum.
__ADS_1
Gibran mempelajari setiap detail yang diberikan oleh Bima dan akan memperhitungkan apakah harga penawaran yang diajukan oleh Bima sesuai atau sebaliknya.
Suasana ulang tahun Luccy hampir berakhir dan beberapa tamu sudah berpulangan. Salah satu tamu yang merupakan rekan kerjanya datang bersama dengan anaknya untuk mengantarkan kado kepada Luccy.
"Selamat ulang tahun ya, Cantik.. Semoga panjang umur dan penuh keberkahan"
"Aamiin" jawab Luccy
"Terimakasi ya, sudah mau datang" ucap Gibran kepada rekan kerjanya tersebut.
"Iya.. Sama-sama.. Eh.. Temenmu itu tadi cantik..! Jangan kelamaan sendiri, ntar rudalmu berkarat" ledek sahabatnya.
Seketika Gibran menatap sahababt sekaligus rekan kerjanya "Siaalaan, pakai ngatain berkarat lagi!" maki Gibran yang sesaat membuat mereka tertawa.
"Itu istrinya Bima"
Sesaat rekan tersebut mengerutkan keningnya "Bima yang kontraktor itukah?"
"Ya.."
"Kasihan sekali..!" jawab rekannya dengan cepat.
Gibran merasakan sesuatu yang tifak beres, dan rekannya itu mengetahui sesuatu hal. "Maksudmu?!" Gibran sangat penasaran.
Rekannya mendenguskan nafas berat "Gibran itu pecundang! Sebaiknya kau segera merebut wanita itu jika kau benar mencintainy" ucap rekan kerjanya.
Gibra menatap penuh keheranan "Gila, Lu!! Masa Iya bini orang harus aku rebut..!"
"Maksudku itu, cari bukti kebusukan si Bima, dan jadikan itu sebagai alat untuk merusak hubungan mereka.. Percayalah! Wanita itu hanya dimnafaatkannya saja"
Gibran menggaruk kepalanya yang tak gatal "Aku pernah melihatnya memasuki rumah si Nora janda yang bekerja dikantin Mbak Raini" ucap Gibran mengingat sesuatu.
"Itu belum seberapa, Bos..!! Selain tukang selingkuh, dia jago menipu!" pria itu menimpali ucapan Gibran.
Seketika Gibran terperangah, Ia tidak menyangka jika Ningrum mendapatkan suami yang sangat payah. Ia semakin bersemangat untuk mendapat Ningrum.
"Baiklah.. Aku akan memikirkan apa yang Kau katakan!!"
__ADS_1
"Nah.. Gitu, dong!!. Ayo semangaat!!" ucap pria dengan penuh penekanan.